
Pagi ini aku berusaha untuk bangun lebih pagi karena aku juga harus mempersiapkan diri untuk membantu Hasasi yang hari ini akan pulang dari rumah sakit. Aku membangunkan Hasasi lalu membantu Hasasi berjalan menuju kamar mandi lalu mengganti perban di tubuhnya dan juga membantu Hasasi untuk mengganti baju nya karena Hasasi sulit untuk bergerak bebas. Setelah semua beres, aku menuntun Hasasi keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju mobil pribadi Hasasi yang telah terparkir di depan lobby.
"Fifiyan..." ucap Hasasi lirih
"Iya Hasasi"
"Aku berat kah?"
"Enggak kok ... kamu ringan banget, pulang harus makan yang banyak ya" gumamku sambil tersenyum
"Hihi ... iya aku nanti makan yang banyak banget" ucap Hasasi bertingkah seperti anak kecil
"Hasasi ayo naik ke mobil aku bantu kamu" ucapku membantu Hasasi menaiki mobil dan membantu Hasasi duduk di kursi empuknya tersebut
"Makasih ya sayang... kamu udah merawatku "
"Kan aku belum merawatmu, cuma membantumu masih beberapa hari aja"
"Iya itu sama aja ... kamu merawatku sayang"
"Tapi menurutku itu belum sayang"
"Iya kan menurutmu, tapi aku sebagai laki - laki tuh merasa bahagia jika di rawat oleh wanitanya pas dalam kondisi terluka" jelas Hasasi
__ADS_1
"Hmmm iya juga sih ... aku juga merasakan halĀ yang sama jika dirawat sama orang yang aku sayang"
"Hmmm ya begitulah rasanya ... terimakasih ya sayangku" ucap Hasasi lembut
"Sama - sama Hasasi" ucapku lembut
Selama perjalanan, Hasasi lebih sering bercerita tentang kejadian kemarin yang menimpanya dan Hasasi juga lebih sering untuk bercanda denganku jadi bisa dibilang agak sedikit berbeda dengan Hasasi yang kemarin aku kenal
"Fifiyan kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya Hasasi iba - tiba
"Enggak ada kok ... a ... aku cuma memandang wajahmu" ucapku terbata - bata
"Emang ada apa dengan wajahku?"
"Enggak ada ... cuma sedap di pandang aja"
"Hmmm Geer" gumamku dan Hasasi semakin keras untuk tertawa
Tidak lama kemudian, kami sampai di rumah milik Hasasi, rumah yang membantuku untuk bisa bangkit dari masa lalu yang kelam, dan juga rumah dari penyelamat hidupku. Setelah mobil berhenti di depan rumah, aku langsung menuntun Hasasi keluar dari mobil dan berjalan menuju dalam rumah.
"Hasasi "
"Iya sayang"
__ADS_1
"Tumben Lisa tidak menunggumu di luar rumah"
"Kata Steven dia sedang berada di rumah calon suaminya"
"Mau ngapain dia?"
"Ya ... mungkin mencari hari baik"
"Kesana sama siapa?"
"Sama orang tuaku aja... mungkin Steven ikut juga"
"Oh gitu ya" ucapku dan membantu Hasasi merebahkan badannya di kasurnya
"Kamu istirahat dulu sayang, aku bikinin makanan butamu dulu ya" ucapku berjalan meninggalkan Hasasi namun tangannya dengan cepat meraih tanganku
"Kamu disini saja, kamu gak usah membuat makanan untukku... biar pembantu yang membuatkannya untukmu"
"Terus aku disini mau ngapain?" tanyaku pada Hasasi
"Temani aku tidur" ucap Hasasi memejamkan matanya
"Baik - baik aku temani kamu, nanti kalau makanannya udah datang aku bangunin kamu ya" ucapku tersenyum
__ADS_1
"Iya ..." ucap Hasasi dan diapun tertidur
Aku memandangi wajah Hasasi yang polos dan sangat tampan jika sedang tertidur seperti itu, apalagi bentuk badan milik Hasasi masih tetap dijaga oleh Hasasi agar tidak merusak kualitas roti sobek diperutnya. Aku terkadang berfikir ... bagaimana seorang cowo bisa menjaga bentuk tubuhnya sedangkan aku yang cewe susah untuk mempertahankan tubuhkku dan malah badanku mulai sedikit gemuk.