Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 28 : Hasasi Bertemu mantan


__ADS_3

Hari ini aku harus kembali ke Jepang karena urusan Hasasi di Australia sudah selesai, karena aku tidak tahu kapan akan kembali lagi ke Australia jadi aku sempatkan untuk membersihkan rumah kontrakanku agar tidak sekotor dulu.


Aku membersihkan rumah mulai dari tempat tidur, dapur, kamar mandi, taman belakang rumah, bahkan sampai sudut – sudut rumah. Setelah menyelesaikan bersih – bersih rumah, aku langsung membawa semua sampah di depan rumah


“Hey sayang ...” ucap seseorang yang ada didepanku, karena terhalang kantung sampah yang besar aku berusaha melihat orang tersebut


“Oh Hasasi, sejak kapan kamu disini?” tanyaku kaget


“Mmm ... kira – kira ... 2 jam yang lalu, capek tau berdiri disini?” gumam Hasasi sambil melihat jam tangannya


“Kenapa gak mengetuk pintu?” ucapku sambil meletakkan kantung sampah di tempat sampah


“Mmm ... ya ... gimana ya ...”


“Lha gimana?”


“Ya .. kamu semalem keliatan marah banget, jadi aku gak berani mengetuk pintumu” ucap Hasasi lirih


“Wah ... tuan muda yang sangat dingin takut sama aku kalau marah ... hahaha” ejekku


“Ya bagaimana lagi ... aku gak mau kamu marah”


“Ya udah ... Sini masuk dulu, pasti kamu capek berdiri disini” ucapku lalu menarik Hasasi masuk ke rumah


“Tumben bersih – bersih?”


“Kan nanti ditinggal pergi lagi, kalau tetap disini gak aku bersihin ...” ucapku memberikan secangkir kopi untuknya


“Terimakasih kopinya ... oh ya semalem kamu bisa tidur sendiri?” tanya Hasasi


“Mmm ya bisa lah... kan aku biasa tidur sendiri, ya udah aku mandi dulu” ucapku dan bergegas mandi


Aku langsung mandi dengan air yang lumayan dingin ini, setelah mandi aku terasa sangat segar kembali setelah badan penuh dengan keringat yang keluar akibat bersih – bersih rumah


“Ini sayang gaun untuk kamu pakai” ucap Hasasi saat aku melewatinya


“Gaun untuk apa? ... gaun ini gaun pesta ya ... emang mau kemana?” tanyaku kaget


“Hari ini adalah pernikahannya Dennis jadi kita harus pergi kesana”


“Oh begitu ... mmm .. ngomong – ngomong kapan nih bosnya menikah” godaku


“Kamu pengen tau kapan? “ ucap Hasasi sambil mendekatiku


“Kalau kamu siap” bisik Hasasi dan langsung mencium bibirku


“Mmmm ... kamu ya” protesku malu


“Ya udah cepet ganti baju, apa mau aku gantiin” ucap Hasasi menggoda


“Enggak perlu”


“Serius?”


“Iya serius”


“Nanti nyesel loh” goda Hasasi


“Enggak buat apa nyesel ... wellk” ejekku dan langsung pergi ke kamar untuk ganti baju


Setelah aku berganti baju aku langsung keluar kamar untuk menemui Hasasi


“Kamu terlihat cantik memakai gaun itu ... mmm ... sini aku beri sesuatu” ucap Hasasi dan aku mendekatinya


“Mau memberikan aku apa?” tanyaku


“Sesuatu yang akan memperindah rambut gelombangmu” Ucap Hasasi dan mengeluarkan sebuah mahkota kecil dari jasnya


“Mahkota? ... buat apa?” tanyaku


“Dennis itu keturunan dari kerajaan, jadi banyak orang – orang penting bahkan bangsawan yang datang kesana. Jadi kenapa aku memberikanmu ini untuk menandakan kamu sudah ada yang punya” ucap Hasasi dan memasangkan mahkota itu di atas kepalaku


“Waw aku tidak menyangka ... dia keturunan kerajaan?”


“Yups bener banget” ucap Hasasi

__ADS_1


“Hayuk kita berangkat”


“Loh emang sore ini?”


“Nanti malam, tapi kita makan malam bersama dahulu ya” ucap Hasasi dan kamipun bergegas menuju bandara


“Oh ya sayang, kemarin apakah ada seseorang datang ke rumahmu?”  tanya Hasasi tiba – tiba


“Mmm ... kenapa kamu bertanya itu?”


“Kata anak buahku dia melihat mobil sport  hitam di depan rumahmu”


“Mmm ... oh mobil itu, punya tetangga kok” ucapku secara spontan


“Serius?”


“Yups serius ... kok anak buahmu tau?”


“Ya kan aku gak ada di sebelah kamu, jadi aku menyuruh anak buahku mengawasi kamu” ucapnya santai


“Ih ... kamu tenang aja loh, kan aku tidak kenapa – napa”


“Kan buat antisipasi aja” ucap Hasasi mengelus rambutku


Setelah lama berkendara, akhirnya kami sampai di bandara dan langsung masuk ke dalam pesawat pribadi Hasasi


“Kamu tunggu disini ya, aku akan berganti baju dulu” ucap Hasasi saat kami sudah berada di pesawat


“Gak mau aku gantiin bajunya” ucapku menggoda


“Oh kamu mau ... sini gantiin bajuku”  ucap Hasasi senang


“Tapi ... boongan ... weellk” ejekku dan Hasasi langsung menggigit bibirku


“Ih sakit lah” protesku


“Ya kamu sendiri sih mempermainkan aku, itu hukumanmu” ucap Hasasi dan pergi meninggalkanku


“Huuh ... dasar tukang marah” gumamku


“Waah ... tampan sekali” godaku


“Aku kan emang tampan”


“Ya ... ya ... ya ... kenapa kamu sangat bergaya seperti itu?”


“Loh kan biar serasi denganmu gadisku” goda Hasasi sambil mencolek daguku


“Ih ... kamu suka banget menggoda” gumamku malu


“Oh ya acara itu dimana?” tanyaku


“Di Inggris”


“Kwan Liang dan Sari Lie akan datang?”


“Yups”


“Emang mereka kenal Dennis?”


“Iya kenal lah, kan kami dulu satu kelas”


“Oh ... kenapa sih mereka harus datang” guamku kesal


“Ya mau gimana lagi, dia kan termasuk lima besar CEO tertinggi di dunia, kalau dia tidak di ajak akan ada sesuatu hal yang akan terjadi lagi” jelas Hasasi


“Oh ... pembunuhan kan” ucapku cuek


“Iya semacam itu ... kok kamu tau”


“Ya ... tau lah”


“Kamu tau dari mana?”


“Hanya menebak”

__ADS_1


“Kamu masih memikirkannya?”


“lumayan ... yang terpenting aku tau fakta yang sesungguhnya” ucapku cuek sambil melihat keluar jendela pesawat


“Fakta? ... siapa yang memberitahukan kamu?”


“Seseorang”


“Apa Hansol kah yang menceritakannya?” tanya Hasasi dan aku hanya diam saja


“Kenapa kamu diam?”


“Enggak ada, aku lagi menikmati laut aja” gumamku dan Hasasi hanya menatapku terdiam


Setelah beberapa jam terbang di udara, akhirnya kami sampai di bandara di Inggris. Saat akan hendak turun aku melihat Hasasi tetap menatapku dingin


“Kamu kenapa menatapku seperti itu?” protesku, tiba – tiba Hasasi berjalan ke arahku


“Apa yang sedang kamu sembunyikan?” bisiknya dingin yang membuat bulu kuduk ku berdiri


“Na ... nanti aku beri tahu kamu” ucapku terbata – bata


“Jangan sampai ada yang kamu sembunyikan dariku ... “ ucap Hasasi dingin dan berlalu pergi dari pintu keluar, aku hanya berjalan pelan di belakangnya


Aku berjalan pelan di belakang Hasasi, aku tidak berani mengatakan sepatah katapun, apalagi bertanya dengan dia, rasanya ingin aku pulang lagi ke rumah kontrakanku. Di dalam mobil pun Hasasi cuma diam dengan tatapan dingin, apakah aku melakukan kesalahan yang membuat Hasasi semarah itu.


Setelah lama berkendara, kami sampai di sebuah gedung tinggi yang sangat mewah. Saat mobil berhenti Hasasi langsung turun tanpa berkata – kata apapun dan akupun mengikutinya dari belakang. Di depan kami terlihat seorang pemuda tampan yang sedang berdiri di depan pintu


“Selamat malam tuan Hasasi, silahkan masuk” ucap pemuda itu dan kamipun masuk ke dalam


“Tuan bagaimana kelanjutannya?” tanya pemuda itu


“Nanti aku kabari lagi” ucap hasasi dengan dingin


“Wanita ini siapa?” tanya pemuda itu dan Hasasi melirikku dingin


“Dia Fifiyan” ucapnya dingin


“Oh perkenalkan aku Hwansa Shi” ucap Hwansa sambil menjulurkan tangannya


“Mmmm ... aku Fifiyan Shinju” ucapku ramah dengan menerima jabatan tangan Hwansa


“Baiklah ... mari kita makan malam dahulu” ucap Hwansa dan kami duduk di sebuah meja yang di balut kain berwarna putih dan terdapat lilin di atasnya.


“Silahkan, ini menunya” ucap salah seorang pelayan dan kami menuliskan masing – masing dan Hwansa menyerahkan tulisan menu kepada pelayan


“Hasasi ... kamu kenapa sih?” tanyaku saat Hwansa tidak ada disni tapi Hasasi hanya diam saja tanpa mengatakan sesuatu dan tidak beberapa lama kemudian Hwansa datang membawakan makanan kami


“Ini makanan kalian” ucap Hwansa tersenyum


“Terimakasih Hwansa” ucapku senang


“No problem” ucap Hwansa dan kami langsung makan dengan lahap


“Oh ya Hasasi aku lupa, kamu di cari Cindy Wu”  ucap Hwansa sambil memegang handphonenya


“Dimana dia?”


“Di depan restoran” ucap Hwansa dan Hasasi langsung pergi menemui wanita itu sendirian


“Emmm ... Hwansa... siapa Cindy Wu?” tanyaku


“Oh ... Cindy Wu? ... dia mantan dari Hasasi ... dulu mereka sangatlah cocok sampai sekarang” ucap hwansa senang


“Ma ... mantan?” teriakku kaget


“Ada apa?”


“Ehh ... mmm ... tidak ada” ucapku sedih


“Kamu kenapa menangis?” tanya Hwansa kaget saat aku meneteskan air mataku


“Ti ... tidak ada” ucapku lirih dan menghapus air mataku ini


Mendengar hal itu, hatiku sangat sakit, rasanya seperti diiris – iris, aku tidak tahu kenapa mantannya ingin menemui Hasasai dan kenapa Hasasi menjadi dingin terhadapku. Tapi walaupun begitu aku tetap positif thingking mungkin ada urusan bisnis atau sebagainya.

__ADS_1


__ADS_2