Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 19 : Penolakan Kerjasama


__ADS_3

Hari ini aku dengan Hasasi akan mengikuti pelelangan, dimana pelelangan itu hanya diikuti oleh para CEO yang kaya tak terkecuali orang – orang yang kaya di dunia, aku tidak tau dimana pelelangan akan dilakukan.


Pagi ini aku bangun lebih pagi karena dibangunkan oleh Emilia yang sedang membuka gorden emas di kamarku


“Morning nona” ucap Emilia


“Emm ... Morning Emilia ... pagi banget kamu bangunin aku”


“Ehh ... bukannya nona akan ikut bersama tuan muda?”


“Ah ... masih pagi, aku mau tidur dulu ... masih ngantuk” ucapku sambil tidur kembali


Beberapa menit kemudian ada tangan yang halus sedang mengelus rambutku dan aku sontak terbangun


“Mmmm ... “


“Bangun ... cepat siap – siap kita akan berangkat”


“Mmmm ... Pagi banget sih” gumamku


“Iya emang pagi loh”


“Kamu gak ngantuk apa?”


“Enggak ... udah cepat bangun “ ucap Hasasi sambil menarikku


“Iya – iya” jawabku dan aku menuju kamar mandi dengan malas – malasan


Aku segera mandi karena aku tidak mau Hasasi memarahiku kalau sampai dia telat, setelah mandi aku langsung ke lemari pakaian untuk berganti baju. Gaun yang akan aku pakai adalah gaun berwarna hijau muda dengan dihiasi mutiara – berwarna hitam yang indah dan tak lupa make up wajahku agar terlihat cantik


“Aku udah siap” ucapku seelah memakai make up


“Ayo ...” ucap Hasasi


“Emang kita akan kemana?”


“Kita akan ke Cina”


“Emang pelelangannya di Cina?”


“Bukan... kita akan pertemuan terlebih dahulu”


“Pertemuan apa lagi?”


“Pertemuan dengan Kwan Liang”


“Harus gitu?”


“Iya mau gimana lagi ... nanti ngobrolnya di dalam pesawat” ucap Hasasi dan kamipunnaik ke dalam pesawat pribadinya


Selama perjalanan aku melihat Hasasi tengah sibuk menelepon seseorang, entah dia menelepon siapa tapi sepertinya dia meminta teman – teman perkumpulannya untuk memata – matai kegiatan kami saat bertemu dengan Kwan Liang. Beberapa lama kemudian Hasasi selesai menelepon


“Kamu nelpon siapa?” tanyaku


“Dennis”


“Buat apa?”


“Ada deh...”


“Huft ... emang kenapa kamu bertemu dengan Kwan Liang?”


“Membahas kerjasama perusahaan”


“Harus gitu?”


“Ya ... bagiku tidak ... bagi dia iya”


“Kenapa tidak kamu tolak?”


“Aku tidak tega...”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Ya ... ingin tau apa yang dia akan ajukan untuk melakukan kerjasama itu”


“Oh ...”


“Kamu nanti yang akan melakukan kerjasamanya” ucap Hasasi


“Eh ...  mendadak banget pak ...” ucapku kaget


“Kamu ingat tugas yang kamu kerjakan saat sebelum ke Paris?”


“Iya aku ingat”


“Iya itu bahan yang akan kamu hafalkan untuk melakukan kerjasama itu”


“What? ... emang dasar jahat, gak ngomong semalam”


“Ya maaf aku lupa” ucapnya cengengesan


“Baiklah ...” ucapku sambil mengeluarkan laptop yang ada di sebelahku


“Oh ya ... buatlah kerjasama dengannya gagal”


“Terus aku harus apa?”


“Ya ... cari – carilah kesalahan dalam proposalnya atau apapun itu”


“Kenapa gitu?”


“Denis bilang, mereka ingin mengambil asetku” ucap Hasasi


“Oh baiklah”


Aku pun mempelajari materi yang aku buat beberapa bulan yang lalu, seperti anak sekolah yang akan ujian mendadak, aku menghafalkan, memahami materi, dan juga memikirkan cara yang tepat agar tidak mengecewakan Hasasi. Sedangkan Hasasi melihatku dengan gelas wine di tangannya


“Hei Hasasi...”


“Apa?”


“Tidak apa – apa”


“Serius... tapi kamu mau menjadi istri Kwan Liang?”


“Eh .. kenapa jadi begitu?”


“Ya ... dalam proposal ajuannya itu akan ada tulisan semua aset yang aku miliki ... termasuk kamu...” ucap Hasasi sambil memandang keluar jendela


“Aku akan berusaha” ucapku dan belajar dengan bersungguuh – sungguh


Tidak beberapa lama kemudian kami sampai di landasan pesawat, di sekitarnya aku melihat gedung yang menjulang tinggi


“Itu gedungnya siapa?”


“Kwan Liang”


“Oh ya? ... aku kok baru tau, emang pusatnya di Cina?”


“Iya disini” ucap Hasasi dan menggandengku menuju ke dalam gedung


Di luar gedung tampak penjaga dan juga Kwan Liang yang menyambut kami


“Pagi Hasasi ... eh Fifiyan juga ada” ucap Kwan Liang dengan senang


“Udah ah jangan bacot, cepatlah” ucap Hasasi kesal saat Kwan Liang mengedipkan matanya kearahku


“Silahkan masuk” ucap Kwan Liang dan mengajak kami masuk ke dalam


Di dalam gedung aku melihat banyak karyawan yang berlalu lalang, dan juga aku melihat Sari Lie yang sedang berdiri di depan suatu ruangan


“Selamat pagi, silahkan masuk” ucap Sari Lie dengan mata menunduk ke bawah

__ADS_1


Aku tidak tau dia melihat keberadaanku atau tidak karena Sari Lie terus memandang ke lantai. Aku, Hasasi, Kwan Liang, dan Sari Lie masuk ke dalam ruangan rapat yang didalamnya berisi meja bundar dan kursi yang didesain nyaman dan empuk.


“Sari Lie, ambilkan proposalnya” ucap Kwan Liang dan Sari Lie beranjak dari ruangan itu


“Mmmm ... bagaimana perjalanan kalian?” ucap Kwan Liang


“Biasa aja” ucap Hasasi dingin


“Kamu tetep saja dingin, lama – lama ogah sama kamu loh” ejek Kwan Liang tapi Hasasi tetep saja dingin. Tidak lama kemudian Sari Lie datang membawa setumpuk laporan


“Baiklah Hasasi kita mulai”


“Bentar, bukan aku yang akan membahas proposal yang membuatku mengantuk itu. Tapi Fifiyan yang akan membahasnya” ucap Hasasi dingin


Saat dengan Hasasi mengucapkan namaku Kwan Liang dan Sari Lie kaget, mereka tidak menyangka bahwa aku yang akan menjadi pembanding proposal tersebut


“Kau lagi ..” teriak Sari Lie


“Udah diamlah” protes Kwan Liang


“Eh ... maafkan sekretarisku” ucap Kwan Liang


“Eng ... enggak apa – apa kok” ucapku


“Kenapa bukan kamu aja Hasasi?” protes Sari Lie


“Oh ya suka – suka aku lah”


“Dia kan bukan pegawaimu” protesnya lagi


“Sorry ya ... dia adalah sekretaris pribadiku dan juga ... calon istriku” ucap Hasasi dingin


“Kamu ya ...” protes Sari Lie


“Udah lah, ini rapatku ... kamu bisa diam gak sih Sari “ protes Kwan Liang


“Kenapa kamu memarahi aku” protes Sari Lie


“Udah ah ... silahkan Fifiyan di baca proposalnya” ucap Kwan Liang sambil menyodorkan proposalnya


Aku melihat proposal itu tidak ada yang aneh, aku membaca dan membolak balik proposal itu juga tidak ada yang mencurigakan, disela aku membaca proposal tangan Hasasi berada di pahaku dan dia memberikan isyarat halaman yang akan diperdebatkan. Dan aku langsung membuka halaman tersebut.


“Bagaimana Fifiyan?” tanya Kwan Liang


“Mmm ... ini maksudnya apa? ... pembangunan hotel XY dari donasi masyarakat ... kenapa jumlahnya tidak dicantumkan berapa totalnya keseluruhan, masyarakatnya siapa aja dan perdonasi berapa?” ucapku dengan melirik Kwan Liang tajam


“Eh ... Emm ... maaf aku lupa” ucap Kwan Liang


“Dan ini lagi, kalian membangun hotel di tanah sengketa tapi tidak di jelaskan siapa pemilik tanah asli dan juga siapa pihak yang menyengketa lahan tersebut”


“Emm ... aku juga lupa” ucap Kwan Liang


“Dan di halaman terakhir ditulis, bila penandatangan kontrak kalah semua asetnya dimiliki oleh PT. Liang ... maksudnya pihak yang penandatangan kontrak siapa?” tanyaku


“Apa ada kata – kata itu?” protes Sari Lie


“Ada ... tulisannya diperkecil di taruh di pojokan bawah sendiri” ucapku santai


“Kau ...” protes Sari Lie dan Kwan Liang hanya diam


“Maaf tuan Kwan Liang, kami PT. Stun tidak bersedia untuk membantu anda dalam hal ini, bagaimana Hasasi?” ucapku santai


“Baiklah aku setuju dengan ucapan Fifiyan, banyak kata – kata porposal yang ganjil. Baiklah selamat siang” ucap Hasasi dingin dan menarikku keluar gedung


Saat aku akan keluar gedung aku melihat Kwan Liang memarahi Sari Lie habis – habisan dan menyalahkan Sari Lie atas kecerobohannya. Setelah aku keluar gedung perusahaan Kwan Liang, aku dan Hasasipun kembali ke dalam pesawat


“Huft ... akhirnya ... bikinku tegang” desahku, tiba – tiba Hasasi memelukku dari belakang


“Makasih ya sayang ... kamu menyelamatkan aku” bisiknya


“Iya kan demi kamu, aku juga ogah jadi istrinya Kwan Liang” ucapku dengan tersenyum

__ADS_1


“Baiklah kita menuju ke tempat pelelangan, tapi kita harus istirahat di hotel yang ada di pelelangan itu” ucap Hasasi dan pesawat ini pun lepas landas meninggalkan gedung Kwan Liang


Aku tidak percaya bisa berhasil membatalkan kerjasama antara PT.Stun dan PT. Liang, aku senang membuat Hasasi tetap bertahan di rangking pertamanya dan juga tetap mengalahkan Kwan Liang


__ADS_2