Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 5 : Awal Survival


__ADS_3

Hari ini adalah waktunya kami untuk melakukan survival bertahan hidup dan juga aku pastinya akan melihat secara langsung bagaimana Hasasi menjalan tugas sebagai ketua mafia. Malam sebelumnya, Hasasi mengajariku menggunakan senjata dengan serius.


Sore ini setelah aku dan Hasasi makan bersama dan mempersiapkan semuanya perlengkapan kami. Hasasi menggenggam erat tanganku dengan tatapan khawatir.


"Ada apa sayang?" gumamku pelan.


"Aku takut kamu terluka...."


"Tenang saja sayang, selama ada kamu disampingku aku tidak akan terluka kok."


"Hmmm kalau kamu sampai terluka aku akan membalas orang yang sudah menyakitimu sayang, aku berjanji kepadamu."


"Hasasi sayang dengarkan aku, kamu jangan khawatir kepadaku seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri, jangan terluka ataupun terbunuh..."


"Kalau terbunuh itu adalah hal yang terburuk sayang apalagi disini tidak diperbolehkan membunuh lawan sayang. Jadi pastinya aku mungkin akan melukai saja dan aku mengajakmu agar aku bisa menahan diriku tidak membunuh orang lain sayang dan juga agar aku bisa melakukan melindungimu..." gumam Hasasi pelan.


"Oh hmmm jadi tidak boleh membunh?"


"Sebenarnya terbunuh tidak apa - apa tapi kalau sengaja membunuh baru tidak boleh, tapi gak tahu kepastiannya seperti apa."


"Ohh..." desahku mengerti


"Baiklah apa kamu siap sayang?" gumam Hasasi dan aku menganggukkan kepalaku.


"Baiklak mari kita pergi sayang" gumam Hasasi menarik tanganku keluar kamar.


Di luar kamar aku melihat banyak orang yang menggunakan tas di punggungnya, tas mereka seperti sangat berat sampai mereka membungkukkan badan mereka.


Setelah menuruni tangga, aku melihat banyak sekali orang yang berkerumun di lantai bawah. Terlihat bahwa kali ini akan banyak mafia yang mengikuti acara ini, diantara mafia itu aku melihat orang - orang yang menjadi musuh Hasasi di masa lalu bahkan mantan kekasihku Kwan Liang juga ada disini.


Teesstt.. Teeeesstt


"Selamat sore, selamat datang di acara tahunan kita. Survival ini tidak memiliki peraturan yang ketat hanya saja kalian dilarang saling membunuh satu sama lain..." ucap seorang pria di depan podium.


"Kalau ada yang terbunuh bagaimana?" tanya seorang pria di belakang.


"Kalau terbunuh tidak masalah, tapi kalau membunuh orang tidak masalah juga."


"Tunggu... Bagaimana maksudnya?" tanya seorang wanita mengangkat tangannya.


"Peraturan dilarang saling membunuh dengan sengaja karena dendam, tapi kalau kalian tidak sengaja melawan lawan tapi dia terbunuh itu tidak masalah anggap saja memang takdirnya. Apa kalian paham?" teriak pria itu serius.


"Paham..."


"Baiklah karena peta sudah kalian bawa jadi silahkan berkumpul dengan organisasi masing - masing dan kalian bisa memulainya. Semangat kalian!!" teriak pria itu senang dan semua orang berjalan meninggalkan tempat itu.


"Apa kamu siap sayang?"


"Iya Hasasi..." gumamku tersenyum.


"Hei kalian berdua, aku sudah mencari kalian dari tadi!" gerutu Dennis berjalan ke arah kami. Di belakang Dennis aku melihat Hansol, Anjel, Jiwon, Octa, dan lima orang pria tampan.


"Oohh kami dari tadi disini" gumam Hasasi santai.


"Hay cantik, tidak aku sangka kita bertemu lagi..." gumam Octa tersenyum kearahku sambil menjabat tanganku.


"Iya tuan Octa."


"Hei kau jangan mengambil kesempatan Octa!!" gerutu Hasasi kesal.


"Tidak masalah, lagi pula masih banyak yang mengejarnya bahkan mantannya saja masih mengejar Fifiyan..." gumam Octa santai.


"Heeeh tidak akan aku biarkan!!!" gerutu Hasasi kesal.


"Sudahlah Hasasi..." desahku menepuk pelan bahunya.


"Oh ya cantik aku perkenalkan orang yang ikut organisasi ini.. Ini Feri, Farkhan, Putra, Danu dan Dimas.."


"Jadi mereka ini..."


"Begini aku jelaskan, Hasasi dengan wakilnya Denis, Hansol dengan wakilnya Jiwon, aku dan wakilku Farkhan. Jadi Feri, Putra, Danu dan Dimas adalah anggota kami yang bisa dibilang sangat bermutu dari pada Hasasi."


"Hilih bacot" gerutu Hasasi kesal.


"Ya fakta membuktikan seperti itu, apalagi kau selalu terluka kalau melawan Cindy dan mantan - mantanmu yang lain!"


"Hal itu tidak akan terjadi lagi!" gumam Hasasi dingin

__ADS_1


"Hilih gak percaya aku!"


"Bukannya survival ini berpasangan ya?" gumamku bingung.


"Ya kami berpasangan. Hasasi denganmu, Dennis dengan Wulan, Hansol dengan Angel, aku dengan Feri, Farkhan dengan Dimas dan Jiwon dengan Danu..."


"Ohhh begitu...." desahku mengerti.


"Fifiyan, kamu beneran mau ikut survival ini? Kamu akan tahu kekejaman Hasasi loh.." gumam Angel menatapku serius.


"Aku sudah pernah melihatnya bersamamu dulu Angel" gumamku santai.


"Kamu gak takut?"


"Kalau aku takut, aku tidak akan mau menikah dengan Hasasi."


"Hmmm baiklah terserah kamu Fifiyan..."


"Oh ya kali ini karena kita tidak membawa bawahan jadi musuh kita sesama ketua mafia dan juga beberapa bawahan mafia pemberontak di sekitar wilayah itu..." gumam Jiwon serius.


"Berarti acara ini dilakukan untuk mengatasi mafia itu?"tanya Dennis serius.


"Yups benar sekali. Perang dunia akan dimulai sebentar lagi, organisasi mafia pusat mengadakan ini agar bisa mengetahui kemampuan kita dan juga mempersiapkan hal itu."


"Oh benarkah? Aku suka ini, pedangku sangat haus darah!!" gumam Hansol senang.


"Perilakumu tetap saja Hansol!!" gumam Dennis pelan.


"Iya lah mumpung boleh membunuh ye kan!!"


"Bukannya gak boleh ya tuan Hansol?"


"Boleh kalau tidak ada dendam dan di sengaja. Hansol pintar menutupi semua seakan - akan tidak ada unsur kesengajaan." gumam Hasasi pelan


"Oh hmmm..." desahku pelan.


"Tenang saja Fifiyan, mafia apa pernah mengikuti peraturan konyol itu dan lagi mereka berkata demikian karena banyak jurnalis mafia yang menyiarkan langsung pembukaan tadi. Kalau tidak di katakan seperti itu pasti pemerintah akan melarang kegiatan ini dari dulu!!" jelas Hansol santai.


"Bisa dikatakan yang kuat bertahan dialah organisasi terkuat kalau tidak bisa ya kamu akan mati." gumam Jiwon menambahkan.


"Jadi seperti itu ya. " desahku pelan.


"Bukannya ketuanya kamu ya Hasasi?"


"Ya, cuma kalau masalah penyerangan seperti ini Hansol selalu mendahuluiku."


"Kamu gak marah?"


"Tidak, aku sudah tahu dia seperti apa. Tapi kalau dia disuruh menjadi ketua dia selalu menolak katanya dia tidak bisa menjaga anggotanya nanti." gumam Hasasi menggandeng tanganku erat.


Aku dan Hasasi keluar dari gedung itu mengikuti langkah kaki anggota lainnya. Kami masuk ke dalam hutan yang lebat, tanah yang sedikit becek dan lembab ditambah kiri dan kanan kami banyak rumput ilalang yang sangat tinggi.


Aku menatap Hasasi yang menggandeng tanganku erat, aku tidak tahu kemana Para anggota ini membawaku pergi karena aku tidak mengetahui apapun. Sedangkan Wulan yang berada di depan kami terus berteriak karena takut dengan serangga.


"Kamu gak takut?" gumam Hasasi menatapku bingung.


"Tidak... Emang takut apa?"


"Ya takut serangga atau ular gitu"


"Serangga? Tidak, aku pernah hidup di alam bebas dulu."


"Kapan? Kan saat denganku, aku selalu mengajakmu ke pesta dan ke kota besar."


"Dulu saat aku melarikan diri dari pembantaian yang di lakukan mafiamu."


"Kamu hidup di hutan?"


"Ya sebelum ditemukan keluarga Liang aku hidup di hutan sendiri bahkan pernah hampir di gigit ular berbisa..." gumamku pelan.


"Apa kamu terluka?"


"Tidak, hanya lecet sedikit dan tubuh sama pakaian yang kotor terkena tanah basah saja."


"Hmmm..." desah Hasasi menggenggam tanganku erat.


"Ada apa Hasasi?"

__ADS_1


"Tidak ada apa - apa sayang." gumam Hasasi berusaha tersenyum di depanku.


"Hei kalian berdua lambat banget!!" gerutu Hansol kesal.


"Sabar lah ..." desah Hasasi terus berjalan santai.


Di belakang Hansol aku melihat dua pria bertopeng yang berlari mengarahkan pedangnya ke Hansol.


"Tuan Hansol awaaass!!" teriakku, tanpa aba - aba Hansol sudah membunuh kedua orang itu. Hansol membuka topeng itu dan mengambil pedang mereka berdua.


"Dari organisasi mana?" tanya Hasasi santai.


"Salah satu organisasi pemberontak. Pedang mereka sangat bagus."


"Pedang buruk seperti itu apanya yang bagus" gumam Octa dingin.


"Kalau dilihat memang biasa saja tapi lihat di sini... Ini dilapisi racun" gumam Hansol serius sambil menunjukkan mata pedangnya, Hasasi menyalakan senter laser di tangannya dan menyoroti pedang itu.


"Oh benar, sangat terlihat di sinar laserku..." gumam Hasasi memasukan kembali senter lasernya.


"Jadi bisa dikatakan mereka pengguna racun?" tanya Farkhan bingung


"Kemungkinan besar... Benar, tapi kita tidak tahu secara pastinya." desah Hasasi pelan.


Di saku salah satu pria itu aku melihat sebuah kertas yang terselip di saku celananya. Aku mengambilnya dan membacanya.


"Hasasi.. Lihat" gumamku menunjukkan sebuah peta di kertas itu.


"Hmmm peta yang hampir sama, hanya berbeda di titik - titiknya saja." gumam Hasasi mencocokan petanya.


"Tapi lihat tulisan dibaliknya Hasasi!" gumam Hansol dan Hasasi membalikkan kertas itu.


"I... Ini nama mafia pemberontak!!" gumam Hasasi terkejut.


"Memang kenapa Hasasi?" gumam semua orang bingung.


"Kita terjebak... " desah Hasasi memberikan kertas itu kepada Hansol.


"Oohh..." desah Hansol santai.


"Memang kenapa Hansol?" tanya Octa bingung.


"Itu tuh prediksimu benar" gumam Hansol santai.


"Prediksi yang mana?"


"Ya tentang pengkhianat itu ..."


"Oohhh, jadi?" tanya Octa bingung.


"Kan Hasasi tidak tahu rencanamu makanya dia terkejut."


"Rencana apa?" tanya Hasasi bingung.


"Ya aku sudah menyiapkan semua."


"Mempersiapkan apa?"


"Ya sebenarnya kan harus petinggi organisasi kan yang dibolehkan ikut tapi jangan salah semua anggota mafia dibolehkan ikut..."


"Jadi kalian membawa anggota kalian?"


"Ya anggotamu juga, Dennis sudah mempersiapkan juga."


"Ohh.. Hmmm" desah Hasasi pelan.


"Tenang saja Hasasi, kami tahu apa yang harus kami lakukan." gumam Octa santai.


"Tapi emang tidak akan ada yang tahu ya?" tanya Angel bingung.


"Semua ketua mafia yang ikut acara ini sama - sama mengajak seluruh anggotanya. Itu lihat saja langit berwarna merah, kamu tahu kan artinya!" gumam Hansol menunjuk langit.


"Oh... Jadi mereka semua tahu ya."


"Ya, ketua organisasi pusat yang memberitahukan salah satu disetiap anggota yang mengikuti kegiatan ini."


"Ohhh pantas saja." desah Angel pelan.

__ADS_1


"Baiklah mari kita lanjutkan." gumam Hansol kembali melanjutkan perjalanan.


Aku menatap Hasasi yang terlihat memikirkan sesuatu, aku menggenggam erat tangan Hasasi dan tersenyum kearahnya yang membuatnya kembali tersenyum manis kearahku. Aku tahu apa yang dipikirkan Hasasi tapi sebagai istrinya aku harus mendukung Hasasi apapun yang terjadi.


__ADS_2