
Sudah dua hari setelah Hasasi memiliki urusan di luar tanpa kabar, padahal kan besok hari pernikahan kita tapi Hasasi mahal tidak ada kabar sama sekali. Aku memegang handphoneku berharap Hasasi mengabariku tapi tidak kunjung menghubungiku
"Kak Fifiyan kenapa?"
"Nungguin pesan Hasasi, dari dua hari yang lalu tidak menghubungiku"
"Kakak tenang aja jangan khawatir"
"Bagaimana aku tidak khawatir Lisa, besok pesta kami berdua"
"Udah jangan dipikirkan, kakakku baik - baik saja kok"
"Kenapa kamu bisa yakin Lisa? Apa kamu berkomunikasi dengan dia?"
"Tidak kak, aku tahu aja karena aku tahu kakakku seperti apa" gumam Lisa duduk di sebelahku
"Emang kakakmu sedang ada tugas apa sih?"
"Mmm dia itu sedang menjalankan misi"
"Misi apa?"
"Misi melawan keluarga Guan dan Liang"
"Haaah? Serius?" gumamku terkejut
"Ya, kakakku pernah bilang kan dia akan menikahi kakak kalau waktunya tepat, maksudnya waktunya tepat itu setelah dia menghabisi seluruh keluarga Guan dan keluarga Liang"
"Ke... Kenapa dia melakukannya?"
"Iya emang itu udah rencananya dari dulu"
"Hmmm kalau dia kenapa - napa bagaimana? Kekuatan dua keluarga itu besar"
"Tidak akan kak, percaya denganku"
"Hmmm baiklah" desahku mengalah
"Udah pokok jangan khawatir kak, dari pada mikirin kakakku mending kita ketaman bermain yuk mumpung masih sore"
"Ke taman bermain? Mau ngapain?"
"Makan es krim sambil duduk - duduk di taman"
"Tumben kamu mengajak ke taman"
"Ya aku sekalian ingin curhat ke kakak"
"Curhat tentang apa?"
"Ada deh, ayolah" gumam Lisa menarik tanganku keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya
Tidak menunggu waktu lama, sopir menekan gas mobil dan melaju meninggalkan rumah mewah orang tua Hasasi. Padahal aku masih pakai pakaian santai belum memakai pakaian yang seharusnya
"Lisa, seharusnya beri aku waktu untuk mengganti pakaianku"
__ADS_1
"Tidak apa kak, biar kita tidak terlihat dari keluarga Stun"
"Emang kenapa?"
"Ya, malas saja menjadi pusat perhatian" desah Lisa menatap keluar jendela
"Hmmm iya juga sih"
"Oh ya jadi apa yang ingin kamu obrolkan?"
"Mmm nanti saja di taman bermain kak"
"Hmmm baiklah" desahku menyandarkan kepalaku ke kaca mobil
Tidak beberapa lama berkendara, akhirnya kami sampai di taman bermain yang berada di tengah kota. Taman bermain itu terlihat sangat ramai oleh orang - orang yang sedang bermain dengan keluarganya masing - masing. Setelah sampai di taman bermain, Lisa langsung mendaangi kedai es krim di dalam taman bermain itu
"Kakak mau es krim rasa apa?" tanya Lisa menatapku
"Mmm aku vanila saja"
"Mmm baiklah. Pak vanila satu sama campur satu ya" ucap Lisa memberikan beberapa uang cash kepada penjual es krim
"Baik, tunggu sebentar nona" gumam penjual es krim itu membuatkan kami berdua es krim, setelah beberapa menit berlalu, penjual es krim itu memberikan kami es krim itu
"Ini es krimnya nona" gumam penjual es krim itu memberikan kami es krim
"Terimakasih pak" gumam Lisa menerima es krim itu dan berjalan meninggalkan kedai eskrim itu
"Mau duduk dimana Lisa?"
"Ini es krimmu kak" gumam Lisa menyerahkan es krim vanila kepadaku dan duduk di kursi itu
"Terimakasih Lisa" gumamku menerima es krim itu
"Mmm jadi apa yang ingin kamu katakan?"
"Aku bingung kak"
"Bingung kenapa?"
"Aku kemarin kan dijodohkan dengan putra mahkota Min tapi sekarang aku disuruh menikah dengan Candra. Aku bingung kak"
"Bingungnya kenapa?"
"Ya, bagaimana aku gak bingung. Aku berusaha untuk menerima putra mahkota itu tapi tiba - tiba kau disuruh menikah dengan Candra teman kakak kuliah itu"
"Hmmm kamu inginnya menikah dengan siapa?" tanyaku serius
"Aku? Aku tidak tahu, menurut kakak aku harus menikah dengan siapa?"
"Eeehh, jangan meminta pendapatku!!"
"Kenapa?"
"Ya kan kamu yang menjalaninya jadi jangan bertanya kepadaku, karena apapun pilihannya yang kamu pilih itu akan menjadi pilihan terbaikmu"
__ADS_1
"Hmmm, iya juga sih tapi kak..."
"Udah tanyakan kepada hatimu, apapun yang hatimu katakan itulah yang terbaik untukmu" gumamku tersenyum
"Hmmm apakah kakak juga melakukan seperti itu?"
"Ya, aku dulu pernah di hadapkan situasi lebih parah dari kamu, dulu aku masih ada rasa dendam dengan Hasasi karena dia juga ikut membantai keluarga besarku dan juga dia sering menyakitiku karena selalu gonta ganti wanita. Tapi rasa dendamu terkalahkan oleh rasa cinta Hasasi yang tulus kepadaku jadi ya sampai sekarang aku tidak pernah ragu akan cinta Hasasi"
"Hmmm begitu kah? Ya kakak sebenarnya tidak suka bermain wanita, dia melakukan itu biasanya untuk kelancaran misinya sih"
"Iya aku juga tahu itu, dia juga pernah bilang begitu. Malah dia sering menangis di depanku dan berkata kalau dia tidak mau kehilanganku" gumamku tertawa
"Kakakku menangis? Waaah kesempatan langka itu" gumam Lisa tidak percaya
"Ya dia sering berkata kepadaku kalau dia takut kehilanganku bahkan dia berulang kali menangis"
"Hmmm seumur hidupku aku gak pernah melihat kakakku menangis seumur hidupku"
"Oh ya? Hahaha kesempatan langka berarti ya"
"Ya begitulah, kakakku itu orangnya dingin, cuek, bodo amat, tidak peduli, dan menyebalkan. Tapi semenjak dengan kakak, kakakku menjadi berubah mau ngomong walaupun beberapa kata, mau berkumpul dengan keluarga, dan mau berbaur dengan yang lainnya"
"Oh ya? syukurlah kalau seperti itu" desahku senang
"Ya apalagi kakak itu wanita pertama yang di sukai oleh kedua orang tuaku, padahal kakak tahu orang tuaku tuh kayak kakak keras kepala. Semua wanita yang di bawa kakakku ke rumah itu di usir semua dan wanita yang di bawa kakakku tuh kebanyakan wanita gak bener"
"Hmmm ya ibu juga sudah cerita sih"
"Ya begitulah, makanya kakak hidup serumah berpuluh tahun dengan kakakku mreka tidak memarahimu cuma sekali mengusirmu karena mereka tidak tahu kalau kamu jodohnya kakakku"
"Hmmm iya sih, tapi ya aku bersyukur sih aku dijodohkan seperti Hasasi, laki - laki yang menyayangiku, melindungiku, menjagaku seperti itu"
"Ya kakak beruntung banget lah bisa memiliki kakakku, aku aja berharap punya laki - laki seperti kakakku"
"Semoga kamu menemukannya Lisa" gumamku mengelus rambut Lisa
"Jadi kamu mulai sekarang bisa memilih diantara dua laki - laki itu yang pantas menjadi suamimu kelak itu siapa, jangan salah pilih ya"
"Mmm baiklah kak, makasih nasehatnya"
"Iya sama - sama Lisa" gumamku tersenyum
"Oh ya Lisa, mau memberitahukan rumah yang di bangun Hasasi tidak?"
"Mmm aku sih mau aja kak, tapi jauh"
"Dimana?"
"Di negara lain, nantilah setelah menikah kakak akan tahu sendiri"
"Oh ya? Hmmm padahal pengen tahu"
"Sabar kak, itu bakal menjadi rumahmu kok kak"
"Hahaha iya juga sih" desahku menatap beberapa anak yang bermain dengan senang di taman bermain. Aku juga tidak menyangka besok adalah hari pernikahanku dengan Hasasi
__ADS_1