
Disaat aku menikmati tidur nyenyakku ini aku mendengar suara orang yang sedang bermain game di sebelahku, aku membuka kedua mataku dan melihat Hasasi yang sedang asik bermain game dengan Jiwon. Aku mencubit pipi Hasasi dan membuatnya terkejut.
"Eee... Mmmm kamu sudah bangun istriku..." gumam Hasasi mengusap pipinya yang memerah.
"Kamu tidak tidur?"
"Tidur kok."
"Tidur apanya, dia habis rapat langsung main game sama Jiwon!!" gumam Hansol bersandar di dinding gua.
"Kamu menyuruhku tidur tapi kamu tidak tidur Hasasi!!" gerutuku mengambil handphonenya.
"Eeeh ntar kalah loh sayang!!"
"Tidur gak?"
"Sekali permainan ini aja loh aku mohon.. " gumam Hasasi menatapku dengan tatapan manja.
"Huufftt baiklah sekali ini..." desahku mengembalikan handphonenya dan melanjutkan permainannya.
"Kamu itu udah tua, udah punya istri, udah punya dua anak malah tapi masih saja bermain game!!"
"Biarlah, lebih baik bermain game dari pada mempermainkan wanita sepertimu!" sindir Hasasi dingin.
"Kok aku, tuh si Octa bukan aku" gerutu Hansol kesal.
"Aku? Aku kenapa?" gumam Octa terkejut.
"Kau tuh yang suka bermain wanita.."
"Ya jelas dong, enaklah bermain wanita dapat sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Selain itu aku ingin merasakan Fifiyan juga."
"Eeh ku potong kau nanti Octa!!" gerutu Hasasi kesal.
"Potong saja, pasti aku akan merebut Fifiyan dari kau Hasasi hahaha!!!" tawa Octa keras.
"Hilih bacot!!!" gerutu Hasasi memelukku erat sambil terus memainkan game di handphonenya.
"Kamu memainkan handphone masih bisa saja memeluk Fifiyan seperti itu?" gumam Hansol pelan
"Iya lah, aku gak mau istriku di ambil pria lain. Kalau itu terjadi aku gak mau jadi duda muda!"
"Kau kan sudah hampir jadi kakek - kakek Hasasi!"
"Mana ada, anakku saja masih kecil kok dan umurku masih muda kok!"
"Masih muda apanya kalau umur hampir 40 tahun!"
"Eeh mana ada aku hanya 30 an aja ya!" gerutu Hasasi kesal.
"Udah ah, ayo kita selesaikan ini. Dua organisasi itu sudah bergerak ke target sasaran!!" gumam Dennis memasukkan senjatanya.
"Ohh.. Oke.." desah Hasasi mematikan gamenya dan memasukkan handphonenya ke dalam pakaiannya.
"Loh udah selesai?" gumam Hansol menatap Hasasi.
"Udah menang kok tanya tuh si Jiwon..." gumam Hasasi beranjak dari tempat duduknya dan Jiwon memasukkan handphonennya.
"Oh ... Kalau gitu ayo kita berangkat.."
"Hey Hasasi.. Jangan lupa Hasasi kamu harus fokus. Kamu akan bertemu dengan Cindy Wu dan beberapa mantan selingkuhanmu yang lain loh" gerutu Hansol dingin
"Selama ada Fifiyan, itu tidak masalah buatku. Aku juga sudah berjanji kepada Fifiyan kalau aku akan berusaha!"
"Mantan selingkuhan?" tanyaku terkejut.
"Mmm ya... Mantan selingkuhanku dulu kok sayang..."
"Heheeeh lalu? Pasti sekarang juga iya kan?" gerutuku dingin
"Eehh... Eemm... Tidak sayang, aku bersumpah aku tidak melakukan hal itu setelah menikah..." gumam Hasasi memegang tanganku erat.
__ADS_1
"Hilih gak percaya!"
"Tanya tuh sama yang lain, apa pernah aku punya selingkuhan setelah menikah denganmu!"
"Jangan percaya Fifiyan, Hasasi punya banyak selingkuhan.. Hahaha!!" tawa Octa yang membuatku kesal.
"HEEEIII!!!" teriak Hasasi kesal tapi Octa menjulurkan lidahnya kearah Hasasi.
"Jangan percaya Octa, sayang. Dia seperti itu..."
"Lalu..."
"Aku benar - benar tidak berselingkuh..." gumam Hasasi serius tapi aku hanya diam menatap Hasasi.
"Hansol tolong aku..." gumam Hasasi memohon.
"Haish..." desah Hansol pelan.
"Dia tidak memiliki selingkuhan Fifiyan, kan sudah sering aku katakan kepadamu dulu Hasasi itu seperti apa..." gumam Hansol merapikan perlengkapannya
"Tapi kata tuan Octa?"
"Octa selalu seperti itu dulu juga sama kan. Percaya kepadaku, kalau Hasasi mempermainkanmu aku akan langsung membunuh Hasasi. Yang terpenting Fifiyan, jaga Hasasi. Jangan biarkan hasutan Cindy mempengaruhi Hasasi untuk melukaimu..." gumam Hansol menatapku serius.
"Ooh hmmm..." desahku pelan, "Tunggu? Hasutan? Hasutan apa?"
"Hasasi, bagaimana dengan strategimu nanti?" tanya Farkhan mengalihkan pembicaraan.
"Mmm ya mungkin akan berbeda dengan sebelumnya, aku ada rencanaku sendiri."
"Jangan bilang kau akan langsung membunuh mereka Hasasi?"
"Tidak, aku tidak akan membunuh mereka kecuali mereka melukai istriku. Aku tidak akan memberikannya kesempatan hidup..." gumam Hasasi merangkulku erat.
"Jadi kau akan melakukan rencana itu?" tanya Farkhan terkejut
"Yups benar."
"Hati - hati nanti istrimu akan takut ntar kau jadi duda muda!" sindir Angel dingin.
"Ya, aku sudah terbiasa dengan Hasasi."
"Jadi aku akan melindungi istriku apapun yang terjadi!!" gumam Hasasi mencium keningku lembut.
"Ya semoga Dennis bisa melakukan apa yang dilakukan Hasasi."
"Ya semoga saja..." desah Dennis santai.
Aku menarik pakaian Hasasi dan Hasasi mendekatkan telinganya kepadaku.
"Apa prediksi Hansol kalau Wulan akan terluka itu benar?" bisikku pelan.
"Sepertinya sih, tapi tidak tahu juga."
"Kenapa Dennis masih santai seperti itu?" bisikku pelan.
"Dulu istri pertamanya juga sama, calon istri keduanya sama, selingkuhannya juga berakhir sama jadi kami tidak heran."
"Kenapa dia bisa begitu santai Hasasi?"
"Gak tau, malah kalau sudah bertarung dan partnernya berisik seperti Wulan bisa saja Dennis yang langsung membunuhnya!!" gumam Hasasi pelan
"Oh benarkah? Padahal Dennis kelihatan lebih kalem dari pada kamu Hasasi."
"Jangan liat orang dari tampangnya saja sayang tapi liat dari hatinya."
"Hmmm iya juga sih sayang." desahku pelan.
"Tenang saja, aku akan menjagamu kok."
"Mmm iya Hasasi." gumamku pelan, aku mangambil pistol dari pakaianku dan memasukkannya kembali ke pakaian Hasasi tanpa Hasasi sadari.
__ADS_1
"Baiklah mari berangkat!!" teriak Hansol senang dan melangkahkan kakinya keluar gua.
Sinar matahari berada di atas kami, panasnya terasa membakar kulit, tapi semangat orang - orang ini lebih tinggi dari pada aku yang bukan anggota mafia manapun. Capek? Ya, aku sangat capek. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau mengecewakan Hasasi dan mengganggu Hasasi.
Siang berganti malam dan malam berganti siang kami berjalan menyusuri hutan yang lebat ini. Selama perjalanan kami tidak menemukan musuh sama sekali.
"Hasasi kenapa sepi?"
"Bukan sepi sayang cuma emang kita langsung ke markas cabang mereka jadi ya sepi seperti ini."
"Apa masih jauh lagi Hasasi?"
"Tidak kok, sebentar lagi sampai" gumam Hasasi pelan dan terus menggandengku melewati hutan.
Tapi tepat di hari - hari berikutnya kami menemukan beberapa orang berdiri di depan kami dengan tatapan dingin. Salah satu diantara mereka adalah Cindy Wu, wanita cantik mantan kekasih Hasasi.
"Oohh tidakku sangka tiga organisasi tertinggi ada disini..." gumam seorang pria tampan di depan.
"Kau tetap saja seperti Wanita Almar..." gerutu Hasasi dingin.
"Oh benarkah? Bukannya kau yang seperti wanita apalagi kalau berhadapan dengan Cindy."
"Gak usah banyak bacot kau!!" gerutu Hasasi dingin.
"Datang ke tempat musuh tidak membawa pasukan? Sungguh bodoh.." sindir seorang pria lainnya dengan dingin.
"Kesempatan yang bagus..." gumam pria lain mengangkat kedua tangannya dan datanglah pasukan yang berjumlah ribuan berlari kearah kami. Hasasi mengangkat salah satu tangannya dan beberapa pasukan mafia milik organisasinya yang jumlahnya lebih banyak dari pada milik mereka.
"Oohh tidak aku sangka ternyata kalian lebih pintar kali ini." gumam pria itu dingin.
"Heeh emang kau kira aku sebagai pemimpin organisasi tertinggi sebodoh itu..." gerutu Hasasi dingin.
"Hahaha emang kau setiap kita bertemu selalu bodoh Hasasi!!!" tawa pria itu kencang tapi Hasasi hanya terdiam.
"Udahlah kau bacot aja dasar almarhum!!" gerutu Dennis menyerang pria itu kesal.
"Kau!! Beraninya mendoakan aku mati!!" gerutu pria itu membalas serangan Dennis.
Aku melihat seluruh anggota organisasi Hasasi menyerang musuh dengan serius dan hanya tertinggal Cindy Wu dan Hasasi yang belum saling serang.
"Tidak ku sangka kita bertemu lagi sayang..." gumam Cindy tersenyum dingin.
"Heeh? Maaf aku tidak berselera denganmu lagi!" gumam Hasasi dingin.
"Oh benarkah? Apa karena wanita kampung di sebelahmu itu?"
"Menurutmu?"
"Ternyata level wanitamu menurun ya Hasasi"
"Tidak juga, malah level wanitaku melebihi kamu."
"Oh benarkah? Aku tidak percaya."
"Terserah kau, aku tidak peduli kau percaya atau tidak!" gumam Hasasi dingin.
"Aku masih ingat loh saat kita bersama Hasasi, kamu sangat menyayangiku bahkan kau tidak pernah berselingkuh saat bersamaku. Padahal kamu sangat bahagia kan saat bersamaku Hasasi, mungkin kau bersama dengan wanita kampungan ini sangat menderita kan? Buat apa kamu pertahankan dia coba?" gumam Cindy berdiri di depan Hasasi sambil mengelus pipi Hasasi dengan manja.
"Apa kamu tidak merindukanku Hasasi sayang? Apa kamu tidak ingin bercumbu denganku lagi Hasasi? Bunuh dia mari kita bercumbu sayang..." gumam Cindy terus merayu Hasasi. "Tunggu, apa ini yang dimaksud tuan Hansol tentang Hasutan Cindy?" gumamku dalam hati.
Aku merasakan tangan Hasasi kembali gemetar dan wajah Hasasi terlihat pucat, kalau aku tidak bertindak pasti Hasasi akan terpengaruh hasutan Cindy ini. Aku menarik Hasasi ke belakang dan menampar Cindy keras yang membuatnya terjatuh ke tanah.
Plaaaaaakkkk
"Beraninya kau menamparku wanita ******!!" protes Cindy kesal.
"Wanita ****** ya? Heeh bukannya terbalik ya, apa dirumahmu tidak ada kaca..." gumamku dingin.
"Mentang - mentang kau istri Hasasi jangan berlagak sombong kau!!"
"Kalau emang aku sombong kenapa? Itu sepadan karena aku istrinya sedangkan kau... Wanita hina enyahlah kau dari sini!!" gerutuku menatap Cindy dingin.
__ADS_1
"Kau itu yang enyahlah dari kehidupan Hasasi!!" teriak Cindy mengambil pedangnya dan berusaha menyerangku, dengan cepat aku mengambil pedang milik Hasasi dan menyerang balik Cindy.
Aku terus bertarung dengan Cindy, aku tidak ingin harga diriku diinjak - injak oleh wanita ini apalagi Hansol sudah memberitahukanku untuk menjaga Hasasi apapun yang terjadi.