Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 43 : Malaikat Penyelamat


__ADS_3

Naian tetap saja menarik tanganku untuk keluar dari mobil. Aku merasa malu karena aku tidak secantik wanita – wanita lain yang mengikuti pesta ini


“Fifiyan kenapa tanganmu dingin?” tanya Naian serius


“Takut” ucapku lirih


“Udah santai aja... biar wartawan yang aku hadapi, kamu senyum aja” ucap Naian santai dan aku hanya ikut perkataan Naian


Kami bertiga keluar dari mobil dan benar dugaanku wartawan langsung berebut merekam, memfoto, bahkan berebutan untuk mewawancarai kami berdua


 “Apakah benar anda putus dengan Bunga Mo dan langsung mendapatkan penggantinya?” ucap reporter di belakang gerombolan reporter


“Apakah anda memiliki hubungan spesial dengan wanita lain?”


“Apakah tuan Naian akan melangsungkan pernikahan di Amerika?” ucap salah satu reporter di depan Naian


“Eee... tunggu, bertanya satu persatu ya” ucap Naian gelagapan menjawab pertanyaan reporter


“Tuan Naian, apakah benar ini calon istri anda?” ucap salah satu reporter di depan kami


“Oh ... dia... iya benar dia calon istriku” ucap Naian santaii sambil melirikku


“Apakah benar anda sedang ada konflik dengan perusahaan Stun karena masalah Bunga Mo?” tanya reporter di sebelahku


“Tidak... itu tidak benar”


“Apakah Tuan Naian akan melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihan orang tua?” ucap reporter yang sedang berdiri di depan Naian


“Eee.. i.. itu tidak benar... aku tidak ada wanita lain, sudah dulu ya” ucap Naian dan menarik tanganku untuk menerobos gerombolan reporter


Kami langsung berjalan cepat menuju ke dalam ruangan acara tersebut sehingga kami bisa terbebas dari pertanyaan wartawan yang menyebalkan


“Kamu kenapa bilang aku calon istrimu?” ucapku kesal


“Eh ... emang kamu calon istriku” ucap Naian santai


“Sejak kapan?” protesku


“Sejak kamu hadir dalam hidupku”


“Kamu kan belum meminta persetujuanku” gumamku kesal


“Apa ada laki – laki lain?” ucap Naian dingin


“Eee..eee tidak ... tidak ada” ucapku terbata - bata


“Bagus... jangan sampai kamu ada laki – laki lain” ucap Naian dingin


“I... iya kamu tenang aja”


“Ayo kita masuk ke ruangan” ucap Naian sambil menggandeng tanganku


“Baiklah... eehh dimana Hassan” ucapku melihat sekitar


“Dia sudah beraksi cari wanita” ucap Naian santai


“Oh...”


“Ya udah kita masuk” ucap Naian dan kami berdua masuk ke dalam ruangan acara


Di dalam ruangan tersebut terdapat kain hias berwarna putih di rumbai – rumbaikan di atas, deretan makanan yang sangat mewah, serta tamu undangan yang memakai gaun dan juga jas yang mewah jadi terlihat elegan


“Banyak juga yang datang” gumamku lirih


“Iya pastilah, namanya juga pesta mewah menghabiskan uang triliunan”


“Serius?”


“Iyaps... itu udah biasa di kalangan elite”


“Oh begitu...” gumamku mengerti


“Oh ya ayo kita ke lantai atas” ucap Naian


“Untuk apa?”


“Kamu harus ganti baju”


“Kan katanya gaun ini untuk pesta”


“Ya niatnya tadi begitu, tapi sekarang aku berubah pikiran” ucap Naian dan menarikku


“Emang ada gaun untukku?” tanyaku penasaran


“Ada... “ ucap Naian dan membuka ruangan yang ada di lantai dua


“I... ini gaun siapa?... bagus – bagus sekali” ucapku kagum saat melihat gaun – gaun berjejeran di kiri dan kananku


“Udah kamu pilih aja apapun yang kamu mau... lalu cepat ganti baju” ucap Naian dan aku langsung memilih gaun yang dipajang di ruangan itu, dan akhirnya aku menemukan baju yang sesuai dengan keinginanku. Aku memilih gaun berwarna biru muda yang mempunyai panjang selutut dan berenda serta aksesoris rambut yang berupa penjepit rambut berwarna biru muda. Setelah menemukannya aku langsung berganti baju dan keluar menemui Naian


“Aku udah selesai” ucapku saat membuka pintu ruangan


“Wah kamu terlihat cantik sekali, ya udah kita turun ya” ucap Naian lembut dia langsung merangkulkan tangannya di pinggangku dan kami melangkah turun ke lantai bawah

__ADS_1


Saat kami berdua menuruni tangga, tanpa aku duga banyak tamu yang memandangi kami. Sebenarnya aku tidak suka dipandang seperti itu karena aku merasa malu jika dipandang banyak orang.


“Hey Naian” sapa seseorang didekat tangga


“Oh kamu Dison”


“Bagaimana kabarmu? Kamu jadi tampak gemuk begitu?” ejek Dison


“Hey ... kamu yang gemuk” ucap Naian kesal


“Hahaha... oh ya ini pasanganmu yang baru?” tanya Dison


“Ah kepo” ucap Naian kesal


“Hahaha... hay cantik ... aku Diwon Wang, siapa namamu?” ucap lmbut Diwon


“Hi .. aku Fifiyan Shinju”


“Oh keluarga Shinju ya”


“Iya... kamu tau?”


“Tau lah, Steven Shinju itu sahabat baikku... gak tau dia dimana sekarang” ucap Diwon sedih


“Oh ... dia kakak kandungku”


“Serius?”


“Iya...”


“Dimana dia sekarang? Setelah pembantaian hari itu aku idak pernah mendengarkan kabarnya sama sekali”


“Dia masih hidup, sekarang berada di keluarga Stun”


“Kenapa jadi keluarga Stun?” tanya Naian tiba – tiba


“Aku juga tidak tau, aku bertemu dengannya saat masih bersama dengan Hasasi” ucapku bohong


“Oh aku kira kamu tau, apakah dia akan datang?” tanya Diwon penuh harap


“Aku tidak tahu kalau itu”


“Yah... penonton kecewa” ucap Diwon sedih


“Ehh ... tuan Diwon jangan sedih, nanti aku sampaikan kepada kakak kalau kamu merindukannya” ucapku menghiburnya


“Oh baiklah, terimakasih Fifiyan, silahkan mencicipi hidangan ya... aku mau bertemu dengan tamu lain” ucap Diwon dan pergi meninggalakan kami


“Kamu mau makan apa?” ucap Naian menatapku


“Baiklah, tapi dimakan loh ya jangan protes... oh ya jangan kemana - mana” ucap Naian pergi meninggalkaanku


“Baik...”


Aku melihat disekelilingku banyak orang tidak aku kenal, aku ingin mengajak mengobrol tapi aku takut di abaikan jadi aku hanya berdiri dan melihat sekeliling saja. Diantara tamu – tamu bergerombol aku melihat Kwan Liang dan Sari Lie sedang mengobrol di pojok ruangan.


“Hey sayang” ucap Hasasi bahagia tapi aku langsung membungkam mulutnya


“Kamu ngapain kesini?” ucapku lirih dan melihat ke arah Naian


“Loh aku kan tamu disini, kamu ngapain kesini?” tanya Hasasi balik


“Tuh..” ucapku menunjuk Naian yang sedang mengambil makanan


“Kamu sama dia ada hubungan apa?” tanya Hasasi serius


“A... aku..”


“Hay sayang ngapain kamu disini?” ucap Bunga sambil memeluk Hasasi


“Tidak ada cuma mengobrol saja”


“Kenapa mengobrol dengannya?” tanya Bunga serius


“Emang tidak boleh?” ucap Hasasi dingin


“Tidak boleh... dia milikku”ucap Naian tiba – tiba


“Milikmu?... apa maksudmu?” protes Hasasi


“Dia calon istriku”


“Gak boleh seperti itu” protes Hasasi


“Kau kenapa marah – marah, kamu udah punya  Bunga ... apa itu kurang” protes Naian dingin dan hasasi hanya diam tanpa kata


“Ayo sayang kita pergi” ucap Naian menarikku pergi dari hadapan Hasasi


“Hasasi...” ucapku lirih dan meninggalkannya


Aku dan Naian berjalan menuju ke suatu ruangan lain yang ada di lantai 2  dimna ruangan tersebut tidak diketahui oleh orang lain dan tatapan Naian sangat menakutkan sepertinya dia benar – benar marah kali ini.


“Naian...” ucapku lirih dan Naian melirikku dengan tajam

__ADS_1


“Ka... kamu marah?” ucapku lirih tapi Naian hanya diam saja


“Ya tuhan bagaimana ini? Gumamku dalam hati


Aku hanya terdiam di depan Naian, aku tidak nafsu makan saat ini. Aku bingung menghadapi seorang pemimpin mafia yang satu ini, aku tidak tau apakah Naian akan gelap mata membunuhku atau dia akan membuangku. Aku cuma pasrah dengan apa yang kan terjadi selnjutnya


Aku tidak suka rasa canggung seperti ini akhinya aku memutuskan untuk keluar ruangan tersebut


“Aku mau keluar sebentar” ucapku dan meninggalkan Naian sendirian


Aku meninggalkan ruang tersebut dan ingin pergi menuju ke balkon lantai 2 untuk menenangkan diriku yang galau ini, aku bingung mau berbuat apa karena aku tidak mengenal siapa – siapa disini kecuali Naian, Hasasi, Kwan Liang, dan Hassan saja.


Saat aku melewati lorong sempit aku merasa ada yang mengikutiku, aku selalu berbalik arah dan melihat kebelakang tapi tidak ada siapa – siapa dan tanpa aku duga ada orang yang menarik tanganku masuk ke dalam ruangan gelap, sepertinya ruangan ini adalah gudang. Bau debu dan lembab menusuk di hidungku


“Si... siapa kalian” ucapku kaget saat melihat dua orang berdiri di depanku, aku tidak bisa melihat jelas karena ruangan itu hanya terdapat cahaya remang – remang lampu yang ada di luar ruangan.


Plook... pllookk


Aku mendengar ada salah satu orang yang menepukkan tangannya dan tiba – tiba lampu ruangan tersebut hidup


“Sari Lie... Bunga Mo” teriakku kaget saat melihat dua orang tersebut adalah mereka


"Oh ... ini ya yang namanya Fifiyan Shinju" ucap Bunga dingin dan Sari Lie hanya menganggukkan kepala


“Haaah... kenapa sih lu gak mati aja” protes Sari Lie kesal


“Cantik aja enggak tapi tingkah laku menyebalkan banget, udah berani – beraninya merebut Naian dan tadi udah berani – beraninya merebut Hasasiku” celoteh Bunga Mo


“A... aku tidak...”


Plaaaaak


Tamparan Bunga Mo yang sangat menyakitkan, dia menampar pipiku dengan sangat keras. Aku hanya bisa diam tanpa kata melihatnya menampar di pipiku


“Hei wanita jalang, apasih kelebihanmu kenapa banyak laki – laki yang suka sama kamu... mending mati aja kamu” ucap Bunga Mo marah sambil menarik rambutku


“A...aduh... apa sih salahku?” rengekku


“Kamu gak tau salahmu? Hahaha lucu... hei wanita jalang mending lu mati aja” ucap Sari Lie dan menamparku lagi


“Ka...kalau kalian mau Naian atau Hasasi atau Kwan Liang, ambil – ambil sana mereka bertiga” teriakku dan tarikan Bunga di rambutku semakin kuat


“Hei kau... enak aja kamu ngomong ya, kalau masih ada kamu itu sangat susah untuk mendapatkan hati laki – laki kaya itu” celoteh Bunga Mo


“Betul, mending kamu mati aja hari ini” ucap Sari Lie sinis dan mengeluakan pisau tajam dari belakang punggungnya


“Ka... kamu mau ngapain?” ucapku kaget saat Sari Lie mendekatiku


“Aku mau membunuhmu” ucap Sari Lie dan terus mendekatiku


Aku tidak bisa melarikan diri mereka berdua karena rambutku di pegang erat oleh Bunga Mo sehingga aku tidak berbuat apapun, Sari Lie semakin mendekatiku dan mulai mengayunkan pisaunya ke arahku


“Naian... Hasasi tolong” teriakku dalam hati sambil memejamkan mataku


Brrraaaaakkk


Tiba – tiba aku mendengar suara tendangan dari arah pintu, aku tidak berani membuka mataku. Aku merasakan genggaman Bunga di rambutku telah melonggar dan tiba – tiba ada seseorang yang sedang memelukku. Aku membuka mataku dan aku kaget melihat Hasasi yang sedang memelukku


“Hasasi...” ucapku lirih


“Kamu tidak apa – apa kan?” ucap hasasi seperti orang yang sangat khawatir


“Kenapa kamu tahu aku ada disini?” ucapku lirih dan melihat Naian sedang berdiri di depanku


“Apa yang telah kalian berdua lakukan?” ucap Naian dingin


“A... aku tidak melakukan apapun” ucap Bunga ketakutan


“Terus... kenapa bawa pisau segala” ucap Naian dingin


Kloontaaangg


“Eee.. ii... itu bukan milikku ... ta... tadi Fifiyan yang membawanya dan tadi aku yang merebutnya, dia ingin membunuh kami” ucap Sari Lie membohongi Naian


“Jawab jujur” bentak Naian


“Itu yang sejujurnya” ucap Sari Lie


Tiba – tiba Hasasi berdiri di sebelah Naian dengan muka marah


“Fifiyan tidak akan melakukan hal semacam itu, yang selalu mencelakakan Fifiyan itu kamu. Dulu kamu hampir membunuh Fifiyan, sekarang juga melakukan hal seperti itu” ucap Hasasi dingin


Aku hanya diam tanpa kata dibelakang dua orang pemarah itu, sepertinya mereka berdua sedang marah besar.


“Kenapa kalian lakuin itu ke Fifiyan?” ucap Naian dingin dan mereka berdua hanya bisa diam


“Oh ya... aku inget, kan aku udah pernah bilang jangan pernah mencelakai Fifiyan lagi, kenapa tetap menyakiti Fifiyan lagi” ucap Hasasi dingin


“A... aku ti...tidak” ucap Sari Lie terbata – bata


“Kalian ... tangkap dua orang ini, bawa ke sel bawah tanah” ucap Naian dingin dan tiba – tiba banyak orang yang memasuki ruangan itu dengan memakai baju rapi , mungkin mereka bawahan Naian


“Fifiyan ... tolong kami” rengek Bunga saat melewatiku. Aku hanya diam karena aku tidak bisa melakukan apapun, apalagi menghadapi dua orang ketua yang dikenal dunia sebagai ketua perkumpulan terjahat didunia

__ADS_1


Aku hanya bisa diam tanpa kata, aku tak tahu kenapa mereka berdua bisa menemukanku disini, dan kenapa mereka bisa bersama – sama datang ke ruangan ini. Apa yang terjadi?. aku masih shock akan kejadian tadi, tubuhku hanya menggigil ketakutan, hampir saja nyawaku melayang untuk ke dua kalinya.


__ADS_2