
Setelah keluar dari Menara Eiffeel, kami bertiga menaiki mobil meninggalkan menara Eiffeel yang indah itu. Hasasi yang duduk di sebelahku dengan santai meneguk minuman ringan yang ada di tangannya sedangkan Hansol sedang sibuk bermain handphone, dan aku sendiri bingung mau berbuat apa karena aku sendiri tidak tahu mau berbuat apa saat ini
"Kamu kenapa sih? Dari tadi gak bisa diem " gumam Hasasi melihatku gelisah
"Aku tidak kenapa- napa, cuma bingung aja mau berbuat apa"
"Ya udah tidur aja kalau bingung mau berbuat apa, biasanya juga tidur" gumam Hasasi meletakkan kaleng minumannya
"Nanti aja deh, takutnya aku gak bisa tidur lagi" gumamku
"Tidak masalah kamu masih bisa tidur pulas"
"Nanti aja" gumamku
"Ya udah terserah kamu"
"Oh ya Hasasi aku ada kabar" gumam Hansol menyerahkan handphone miliknya kepada Hasasi
"Mmmm begitu ya?" desah Hasasi mengembalikan handphone itu
"Ya begitulah, jadi mau melakukan rencana B dan rencana C?
"Lakukan!!" ucap Hasasi dingin sambil menatapku
"Kenapa menatapku seperti itu ??" gumamku bingung
"Tidak ada, pokok kamu harus tetap bersamaku"
"Emang ada apa?"
"Udah kamu bersama denganku aja biar kamu aman dan gak usah protes"
"Iya ... Iya, tapi aku penasaran"
"Nanti rasa penasaranmu akan segera terjawab, intinya kamu tidak boleh sampai jauh dari aku" ucap Hasasi serius
"Ada apa sih sebenarnya?"
"Udah turutin aja perkataan Hasasi" ucap Hansol dingin
"Hmm baiklah aku mengerti" desahku mengalah, aku takut menatap dua wajah yang menakutkan ini
"Huufftt Bagus... Anak cerdas" desah Hansol menghembuskan nafasnya
"Oh ya kamu sudah mempersiapkam semuanya untuk pertemuan nanti?" tanya Hasasi menayap Hansol
"Sudah, semua yang dibutuhkan sudah siap, semut juga sudah dalam perjalanan"
"Baguslah, yang penting jaga orang itu jangan sampai terluka" gumam Hasasi meminum minumannya
"Kalau ada yang berani membuatnya terluka jangan beri ampun" ucap Hasasi serius
"Iya - iya aku tahu itu" desah Hansol bersandar di jendela mobil
"Orang itu? Siapa?" tanyaku penasaran
"Ya adalah, kamu gak perlu tahu" gumam Hansol menatapku
"Iihh siapa sih? Apa yang kalian katakan aku tidak mengerti!!" protesku
"Kamu tidak perlu mengerti" gumam Hasasi mengelus rambutku
"Hmmm kalian berdua selalu seperti itu" gumamku kesal
"Oh ya Fifiyan, kamu ingat tidak siapa musuh dari keluarga Shinju?" tanya Hansol serius
"Musuh? Mmm aku gak tahu" gumamku
"Masa dulu orang tuamu tidak memberitahukanmu?"
__ADS_1
"Tidak tahu, dulu aku masih kecil banget saat orang tuaku meninggal"
"Begitukah?"
"Ya begitulah, mungkin kakak tahu" gumamku
"Oh ya? Nanti aku tanyakan" gumam Hansol
"Emang kenapa?"
"Enggak ada, aku hanya bertanya aja"
"Emang keluargaku punya musuh?"
"Punya" jawab Hasasi menatapku
"Siapa? Keluarga Guan?"
"Bukan"
"Keluarga Liang?"
"Bukan"
"Keluarga Stun?"
"Hei kalau keluarga Stun gak mungkin kita di jodohkan!!" protes Hasasi
"Iya - iya gitu aja marah, lalu keluarga siapa?" gumamku
"Keluarga Hann"
"Keluarga Hann? Siapa itu aku belum pernah mendengarnya"
"Keluarga Hann dan keluarga Shinju sama - sama keluarga kuat. Dua keluarga ini dulunya berhubungan baik, namun persahabatan dua keluarga ini retak karena persengketaan bisnis dan keinginan keluarga Hann meminang setiap anak perempuan keluarga Shinju. Ya itulah kenapa ayahmu berusaha menjodohkan anak perempuannya"
"Tapi di mimpiku ayah dan ibu tidak menceritakannya dan di wasiatnya juga tidak disebutkan"
"Oh ya? Kenapa begitu?
"Karena ayahmu tidak ingin kamu tahu tentang Keluarga Hann"
"Iya alasannya apa?"
"Alasannya orang tuamu tidak ingin kamu menderita" gumam Hasasi
"Menderita?"
"Karena saudaramu yang lain disiksa sampai meninggal" jawab Hansol
"Disiksa?"
"Ya disiksa seperti hewan peliharaan, dan mungkin saat ini Keluarga Hann sedang mencarimu" ucap Hansol manatapku
"Mencariku?"
"Ya, karena anak tertuanya itu dulu akan dinikahkan denganmu tapi ayahmu menolak dan berusaha mencari jodoh untukmu sampai memohon - mohon kepada keluarga lainnya yang lebih berkuasa seperti keluarga Guan dan Keluarga Stun padahal dulu kamu masih di dalam kandungan" ucap Hasasi
"Emangnya itu beneran terjadi?"
"Kalau kamu tidak percaya tanyakan kakakmu"
"Tapikan anak tertua itu tidak ada kan di kapal?" tanyaku harap - harap cemas
"Ada, seluruh penguasa dunia datang di kapal itu" gumam Hasasi dingin
"Penguasa dunia itu apa?"
"Ya Tuhan ku kira kamu tahu, penguasa dunia itu pemilik perkumpulan, mafia, dan organisasi internasional. Makanya kenapa disana itu semua kegiatan yang dilarang negara ada semua" gumam Hansol menepuk dahinya
__ADS_1
"Oh begitu ya Jadi kalau terjadi kepadaku bagaimana?" tanyaku cemas
"Tenang saja kamu, ada Hasasi" gumam Hansol santai
"Tapi kan penguasa dunia?"
"Emang kamu kira Hasasi bukan penguasa dunia?"
"Tapi kan Hasasi apa bisa mengalahkan keluarga Hann?" gumamku cemas
"Bisa lah, apa yang tidak bisa dilakukan Hasasi"
"Tapi kalau Hasasi kalah dan ... Dan terluka bagaimana?"
"Hasasi terluka? sekali dalam seumur hidupnya dia terluka"
"Sekali seumur hidupnya?"
"Ya, kejadian dulu itu saja dia pernah terluka karena kecorobohannya sendiri" gumam Hansol menatap Hasasi sinis
"Hei tapi kan aku menyelamatkan nyawa orang tahu!!" protes Hasasi
"Ya menyelamatkan orang sampai kamu tertembak, anda luar biasa bung!!"
"Ya itu bisa jadi pengalamanku" gumam Hasasi santai
"Hmmm terserah kau aja Hasasi"
"Jadi bagaimana kalau anak tertua keluarga Hann itu bermusuhan dengan Hasasi, sedangkan Hasasi kan hanya dengan Tuan Hansol saja" gumamku
"Kata siapa? Bawahan Hasasi dan bawahanku juga ikut ya!!"
"Oh ya? Hmmm jadi rame banget dong di dalam kapal pesiar itu"
"Ya begitulah"
"Tapi apakah Hasasi bisa menang melawan anak tertua itu?" tanyaku cemas
"Sebenarnya ya Fifiyan, Hasasi itu penguasa dunia terkejam, sadis dan ditakuti semua orang bahkan militer aja takut dengan Hasasi, Hasasi kalau sudah bertindak dia tidak akan membiarkan musuh mati dengan mudah tapi Hasasi lebih suka menyiksanya terlebih dahulu sebelum dibunuh sehingga musuh tahu rasanya kalau berurusan dengan Hasasi. Tidak hanya Hasasi yang ditakutkan perkumpulannya aja ditakuti itulah kenapa Hasasi di juluki raja kegelapan dan semua tunduk dengan Hasasi" jelas Hansol santai
"Jangan - jangan nanti Hasasi membunuhku dengan kejam" gumamku takut dan sedikit menjauh dari Hasasi
"Hasasi membunuhmu? Kalau benar begitu gak mungkin dia bisa bertahan bersikap baik denganmu selama 10 tahun" gumam Hansol santai
"Tapi kan?..."
"Tenang saja, Hasasi tidak akan membunuhmu apapun yang terjadi" gumam Hansol
"Tapi..." gumamku cemas dan sedikit menjauhi Hasasi kembali
"Hei kan aku sudah bilang jangan beritahu dia!!" protes Hasasi kesal
"Kau tidak melihat dia ketakutan seperti itu!!" protes Hansol kesal dan Hasasi menatapku yang terlihat sangat cemas
"Ya kalau dia takutnya denganku bagaimana? Kau selalu begitu Hansol!!" protes Hasasi
"Hahaha, ya baguslah kalau Fifiyan menjauh darimu, biar kamu jomblo sepertiku" tawa Hansol dengan keras
"Kamu takut denganku?" tanya Hasasi khawatir
"Mmm ya sedikit"
"Huuuh gara - gara Hansol kan dia jadi takut denganku" desah Hasasi duduk mendekatiku
"Sayang dengar ya, apapun yang terjadi aku tidak akan menyakitimu apalagi membunuhmu. Kan aku udah berjanji denganmu akan menjagamu dan membahagiakanmu, ingatkan" gumam Hasasi lembut sambil memelukku dengan hangat
"Hmmm baiklah, tapi keluarga Hann itu?" gumamku menatap Hasasi
"Udah pokok intinya kamu terus bersamaku... Oke!!" gumam Hasasi mengelus rambutku dan aku mengangguk pelan
__ADS_1
"Baguslah, kamu tidurlah dulu biar kamu tidak capek" gumam Hasasi terus mengelus rambutku dan aku memejamkan mataku dan bersandar di bahu Hasasi yang bidang itu