
Tangis Hasasi semakin lama semakin kencang, aku mendengarkan tangisannya menjadi bingung apa yang harus aku lakukan untuk menenangkannya. Sudah aku coba berbagai cara tapi tangisan Hasasi sama sekali tidak berhenti.
"Sayang sudahlah...jangan menangis terus!" gumamku mengusap lembut rambut Hasasi.
"Huuaaa..."
"Haish sayang sudahlah!" gerutuku menaikan dagunya dan langsung menciumnya yang membuatnya terdiam.
"Sayang jangan menangis, kalau kamu menangis nanti aku juga ikutan menangis..." gumamku pelan.
"Ta...tapi a...aku..."
"Aku apa?"
"Aku gagal menjadi kakak, aku gagal mendidik adikku dan aku... huuuaaaa..."
"Eeeh hmmm kamu tidak salah sayang."
"Tapi Fifiyan..."
"Sayang, semua sudah terjadi jadi kita hanya bisa mendukung Lisa. Ya mana tahu Alan atau Fiyoni mau bertanggung jawab itu akan lebih baik dan..."
"Itu tidak mungkin Fifiyan! Mereka tidak akan mau menerima anak itu lagi pula mereka bertarung karena tidak mau mengakui jika mereka melakukannya! Kalau aku sehat, aku akan membunuh mereka semua!" gerutu Hasasi kesal.
"Hmmm ya aku tahu, tapi saat ini jaga kesehatanmu ya. Kata kamu kalau kamu akan di operasi kan? Jadi kamu harus semangat untuk hidup..." gumamku tersenyum manis.
"Ya! Benar! Aku harus semangat demi kamu dan kedua anak kita!" Ucap Hasasi tersenyum kearahku dan aku hanya tersenyum sambil mengusap air matanya. "Ya semoga aku masih hidup Hasasi..." gumamku dalam hati.
"Ada apa Fifiyan?"
"Eeh mmn tidak ada kok, hanya ingin selalu disisimu saja kok sayang..." gumamku pelan.
"Hmmm aku juga sama Fifiyan, aku sangat mencintaimu." Hasasi menatapku dan kembali memelukku erat.
"Oh ya, ngomong-ngomong kapan operasinya?"
"Kata dokter sih beberapa bulan lagi tapi aku meminta agar minggu ini segera di operasi agar aku bisa memikirkan apa yang akan aku lakukan mengenal masalah Lisa itu."
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Oh ya, Fifiyan... kalau aku operasi nantinya temani aku ya..."
"Baiklah, aku akan menemanimu Hasasi..." desahku pelan.
"Mmm Fifiyan boleh aku minta darahmu lagi?"
"Boleh, minum saja..." gumamku pelan dan Hasasi langsung menggigit leherku, terasa sangat sakit sebenarnya tapi aku berusaha menahan rasa sakit itu demi Hasasi.
Di atap rumah, aku melihat seorang wanita diam-diam mengamati kami. Aku menatap wanita itu dan mencoba mengamati dia tapi dia memakai topeng yang membuatku tidak bisa mengenalnya.
"Kamu siapa?" tanyaku dingin dan wanita itu langsung berlari memasuki hutan.
"Siapa itu?" tanya Hasasi bingung.
"Enggak tahu, dia memakai topeng wajah dan aku tidak mengenalnya."
__ADS_1
"Oh bentar..." gumam Hasasi mengambil handphonenya dan menelepon bawahannya sambil terus meminum darahku.
"Aku sudah menelepon bawahanku jadi tenang saja."
"Baiklah..." desahku pelan.
"Fifiyan, apa gigitanku sakit?" tanya Hasasi pelan.
"Tidak kok."
"Benarkah? Tapi selama aku meminum darahmu, tanganmu selalu bergetar."
"Oh benarkah... hmmm tidak terlalu sakit sih."
"Maaf ya sayang."
"Tidak apa kok, jangan khawatir..." gumamku pelan, Hasasi menggenggam erat tanganku dan terus meminum darahku.
"Tuan muda..." ucap seorang bawahan Hasasi di depan kami.
"Bagaimana, apa kalian menemukannya?
"Maaf tuan muda, wanita asing itu kabur melewati kerumunan orang dan kami kehilangan jejaknya..." gumam bawahan itu pelan dan Hasasi hanya terdiam tanpa kata.
"Ya sudah, terimakasih ya..." gumamku pelan.
"Baik nona muda, saya akan menyuruh yang lain untuk menjaga ketat area ini. Saya permisi dulu nona muda..." gumam bawahan Hasasi dan pergi meninggalkan kami. Aku melihat wajah Hasasi yang ternyata dia benar-benar tertidur pulas di pelukanku.
"Hmmm kamu sangat imut jika tidur suamiku..." gumamku mengusap darah di bibirnya dan menggendongnya masuk ke dalam kamar. Aku merebahkan tubuhnya dan segera mandi di sore hari ini.
"Haaahh segarnya..." desahku melangkahkan kakiku keluar ruang ganti, di tempat tidur aku melihat Hasasi yang sedang tertidur sangat pulas. Melihatnya bisa tertidur pulas membuatku bingung, apa selama ini dia jarang tidur karena membutuhkan darahku? Apalagi Hasasi selama aku bersama dia, dia jarang sekali bisa tidur siang senyenyak ini.
Aku membuka satu persatu lemari dan kulkas untuk mencari bahan makanan agar aku bisa memasak makanan untuk keluarga kecilku.
"Ibu... ibu kenapa disini?" tanya Han berjalan kearahku.
"Ibu hanya ingin memasak makanan saja nak."
"Dimana ayah?"
"Ayah sedang tidur, jadi ibu ingin memasak makanan untuk makan malam nanti."
"Ohh mmm mari Han tolong ibu!" ucap Han mencuci sayuran yang telah aku keluarkan dari kulkas.
"Baiklah, mmm dimana Sasa?"
"Sasa sedang tidur juga ibu."
"Kenapa Han tidak tidur?"
"Han tidak mengantuk ibu, Han tadi ingin ke menonton televisi tapi ternyata Han bertemu ibu di dapur."
"Kalau Han ingin menonton televisi tidak apa kok."
"Mmm nanti saja ibu, Han ingin membantu ibu."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu..." desahku menumis bumbu dapur yang telah aku buat.
"Oh ya ibu, ini kali pertama Han melihat ayah yang begitu marah, apa ayah kalau marah seperti itu?" tanya Han pelan.
"Mmmm tidak sayang, marah ayah lebih menakutkan dari pada marah ayah tadi."
"Oh benarkah? Tapi bagi Han kemarahan yang tadi benar-benar menakutkan."
"Oh mmm tenang saja, ayah jarang marah kok."
"Tapi ibu, kenapa ayah sangat marah dengan tante Lisa?" tanya Han penasaran.
"Yaah tante Lisa melakukan kesalahan yang membuat ayah marah anakku."
"Kesalahan apa itu ibu?" tanya Han penasaran.
"Kesalahan yang sangat fatal bagi perempuan, Han kan punya adik perempuan nih, ibu berpesan kepadamu ya... jaga adikmu, jangan sampai adikmu menjadi mainan banyak pria. Apa kamu mengerti!" ucapku serius.
"Oh mmm baik ibu, Han mengerti!" ucap Han tersenyum kearahku.
Aku dan Han terus memasak sampai semua makanan siap disajikan, karena waktu sudah hampir malam jadi aku meminta Han segera membangunkan Sasa sedangkan aku kembali ke kamar untuk membangunkan Hasasi yang sedang tertidur pulas.
Kriiinnnggg...
Tiba-tiba handphoneku berdering dengan kencang di atas meja, aku mengambil handphoneku dan segera mengangkatnya.
"Hallo..." gumamku pelan.
"Sore nona muda, ini saya dokter pribadi tuan muda."
"Oh ya. ada apa dok?" tanyaku penasaran. aku melangkah pergi ke luar balkon dan mendengarkan ucapan dokter itu.
"Beberapa minggu lagi saya akan melakukan operasi kepada tuan muda."
"Oh mmm bukannya Hasasi ingin minggu ini saja ya?"
"Ya tapi saya ada banyak jadwal dan bisanya beberapa minggu lagi."
"Oh begitu ya, mmm baiklah dok..." gumamku pelan.
"Nona muda jangan khawatir, anda akan terus hidup kok."
"Terus hidup?" tanyaku terkejut.
"Ya kehilangan dua ginjal dan satu hati tidak akan membuat anda mati dengan mudah, yah mungkin akan membuat anda menderita saja."
"Oh mmm baiklah, kalau memang aku tidak bisa hidup ya tidak apa-apa kok dokter, aku rela kok asalkan suamiku sembuh!" gumamku serius.
"Oh mmm baik nona muda, saya akan melakukan semaksimal mungkin."
"Baiklah terimakasih dokter..." gumamku menutup telepon itu dan menatap matahari terbenam di depanku. Ternyata rasanya sebentar lagi mati itu benar-benar menegangkan, melihat matahari terbenam saja seperti terasa jiwa ini sangat tenang.
"Hmmm..." desahku kembali ke dalam kamar dan membangunkan Hasasi. Aku menggendong tubuhnya turun ke ruang makan yang telah dipenuhi Han dan Sasa.
"Ayah mari makan!" ucap Sasa senang.
__ADS_1
"Baiklah, mari makan bersama..." gumam Hasasi memakan makanannya dengan lahap.
Aku menatap kehangatan keluarga kecilku jika bersama membuatku sedih, kalau aku masih bisa hidup tidak akan terasa sedih tapi jika aku akan mati pastinya momen ini akan menjadi kenangan yang tidak bisa dilakukan kembali.