Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 187 : Pulang ke Rumah


__ADS_3

Setelah semua barangku telah dimasukkan ke dalam mobil selain itu perban dan infusku di lepas oleh dokter. Karena aku hari ini sudah diperbolehkan pulang maka Angel dan Hansol juga pulang ke rumah masing - masing sedangkan aku dan Hasasi pulang ke rumah orang tua Hasasi. Selama perjalanan Hasasi merangkulku dan sesekali mengelus rambutku dengan lembut sambil sesekali menatapku dan tersenyum gak jelas


"Kamu ngapain sih?" gumamku menatap mata Hasasi


"Tidak ada, aku cuma menatapmu saja emang tidak boleh?"


"Tidak apa - apa sih, tumben aja menatapku dengan senyum seperti itu"


"Ya aku sedang senang saja, akhirnya kakakmu merestui kita menikah" gumam Hasasi senang


"Oh ya? Aku juga senang sih, emang kakak dari kecil agak keras kepala" desahku


"Jadi kalau aku ingin bertemu kakakku tidak perlu ada syarat - syarat dan izin darimu" gumamku menatap Hasasi dingin


"Ehh ... Hmm baiklah" desah Hasasi mengalah


"Nah gitu dong, apalagi dia kan emang kakakku sendiri jadi tidak perlu lah kamu membatasinya"


"Iya - iya sayang, cuma itu kemarin kan perjanjianku dengan Steven"


"Udah gak usah perjanjian - perjanjian" gummaku kesal


"Iya - iya sayangku"


"Tuan kita sudah sampai" gumam sopir menatap kami berdua


"Baiklah, ayo kita turun" gumam Hasasi menggandeng tanganku


Saat aku turun dari mobil, aku melihat Tuan Stun dan Nyonya Stun serta Lisa berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir


"Aku pulang" gumam Hasasi


"Akhirnya kamu pulang nak" ucap Tuan Stun menatap kami


"Ini titipan ayah" ucap Hasasi menyerahkan giok dari pelelangan kepada Tuan Stun


"Oh terimakasih"


"Kak, aku dengar Kakak Fifiyan terluka ya?" gumam Lisa memanasi Nyonya Stun


"Tidak kok, dia baik - baik saja kan" gumam Hasasi berbohong


"Emang kamu kita aku tidak tahu Hasasi" protes Nyonya Stun menjewer telinga Hasasi


"A... Ampun, tapi kan Fifiyan pulang dengan selamat" rengek Hasasi mengusap telinganya yang memerah


"Kan sudah ibu beritahu, jangan sampai Fifiyan terluka. Kamu malah teledor meninggalkan dia jadi dia di culik" protes Nyonya Stun

__ADS_1


"Ta.. Tapi kan aku juga yang menyelamatkannya kok" rengek Hasasi


"Sudah - sudah, ayo masuk ke dalam" gumam Tuan Stun melerai pertengkaran kecil ibu dan anak itu


"Baiklah" desah Hasasi berjalan masuk ke dalam rumah dan kami semua duduk di ruang keluarga


"Kak Fifiyan sudah sehat kan?" tanya Lisa menatapku


"Iya sudah kok" gumamku tersenyum


"Hmmm syukurlah, ayah dan ibu sangat khawatir saat mendengar kakak diculik"


"Benarkah?"


"Iya pastilah, kamu sudah aku anggap anakku sendiri. Seorang ibu yang kehilangan anaknya juga merasa sangat hancur walaupun bukan anak kandung" gumam Nyonya Stun menatapku


"Maaf sudah membuat ibu khawatir" gumamku menundukkan sedikit badanku


"Tidak apa nak, yang penting kamu selamat. Kalau kamu kenapa - napa aku akan memarahi Hasasi habis - habisan dan harus mencarimu sampai ketemu" gumam Nyonya Stun menatap Hasasi dingin


"Hal itu tidak terjadi lah, dia istriku. Aku tidak akan memaafkan siapaun yang menyakiti istriku"


"Jadi keluarga Hann kamu musnahkan semua?" tanya Tuan Stun kaget


"Iya..."


"Waaah kakak melakukannya dengan Tuan Hansol saja?" tanya Lisa kaget


"Iya begitulah"


"Emang ya anakku satu ini tidak takut apapun" desah Tuan Stun menggeleng - gelengkan kepalanya


"Kenapa juga takut dengan mereka?"


"Ya, keamanan di keluarga Hann saja sangat tinggi dan mereka memiliki senjata lengkap tapi kamu bisa memusnahkan dengan singkat"


"Heeeh, persenjaaan lengkap apanya, tidak ada apa - apanya bagiku dan Hansol. Sebelumnya sudah aku peringatkan untuk menjauhi Fifiyan tapi malah menyiksanya seperti itu ya aku tidak terima lah" gumam Hasasi kesal


"Hmmm baguslah, jadi keingat masa muda" desah Tuan Stun menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Stun


"Ya kamu mirip ayahmu masa muda, yang tidak takut membunuh siapapun"


"Ya namanya juga aku anaknya" gumam Hasasi santai


"Jadi bagaimana persiapan untuk tahap kedua?"


"Aku sudah mempersiapkan dengan matang kok ayah, ayah tenang saja" gumam Hasasi santai

__ADS_1


"Baguslah, jangan lupakan titik - titik kelemahan mereka


"Iya ayah, terimakasih informasinya"


"Jadi Fifiyan bagaimana?" tanya Nyonya Shinju menatap Hasasi


"Ya biarkan dia disini terlebih dahulu" dia akan aman disini"


"Tapi apa Steven akan membantumu?"


"Ya  dia kalah taruhan denganku jadi mau tidak mau tidak akan membantuku ayah" gumam Hasasi snatai


"Baguslah, kamu malah mempunyai pasukan dengan kekuatan


"Iya ayah, ya untungnya begitu jadi keuntungan ada di pihakku"


"Mmm oh ya apa Steven mau menerima anak dari keluarga Shin?" tanya Nyonya Stun sambil menyeruput tehnya


"Tidak, si Angel juga tidak mau"


"Haduh, emang keras kepala" desah Nyonya Stun


"Ya memang kakak dari kecil keras kepala kok ibu" gumamku


"Makanya itu gimana caranya mereka bisa menikah, ini wasiat ayahmu soalnya"


"Ya kalau kakak dan Nona Angel tidak mau ya sudah gak apa - apa kok ibu, pasti ayahku akan mengerti " gumamku tersenyum


"Ya juga sih, sama seperti Hasasi, susah banget dibilangin" desah Nyonya Stun meletakkan cangkir di atas meja


"Kalau jodoh pasti kayak Hasasi kok sayang tenang saja" gumam Tuan Stun merangkul bahu Nyonya Stun


"Iya semoga saja sih, aku sendiri tidak masalah dia mau menikah dengan siapa saja tapi masalahnya surat wasiat Tuan Shinju yang menyuruh Steven menikah dengan Angel Shin"


"Ya sudah biarkan dia mencari wanita pujaan hatinya, apalagi kan Hasasi juga tidak tergesa - gesa untuk menikah. Benarkan Hasasi?"


"Iya, aku masih ingin menikmati berpacaran dengan Fifiyan" gumam Hasasi tersnyum


"Eehh, bukannya kalian sudah tercatat di kantor urusan pernikahan ya?" gumam Lisa menatap Hasasi


"Eehh.. Hmmm ya emangnya kenapa kalau udah tercatat disana, kalau belum merayakannya aku belum menganggapnya menikah" gumam Hasasi santai


"Hmmm terserah kau aja kak" gumam Lisa memainkan handphonenya


"Ya udah kalian istirahatlah dulu, jangan lupa nanti malam malam bersama ya" gumam Nyonya Stun berjalan meninggalkan kami


"Baiklah ibu, ayo Fifiyan" gumam Hasasi menggandengku meninggalkan ruangan itu berjalan menuju ke kamar kami

__ADS_1


Ya seenggaknya aku sudah pulang ke rumah, aku ingin merebahkan tubuhku di kasurku setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh


__ADS_2