Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 33 : Ke Australia


__ADS_3

Hari ini aku berniat untuk kembali ke Australia karena kemarin aku tidak jadi pergi gara – gara Hasasi yang super


duper menyebalkan itu. Tiba – tiba saat aku sedang membereskan pakaian – pakaianku Handphoneku berbunyi keras


Tiiinngg


Aku langsung melihat ada sebuah pesan kakakku


Fifiyan kamu sekarang dimana? Hasasi mencarimu saat kamu pergi meninggalkan pesta Dennis ... apakah ada hal yang membuatmu marah ... ceritakan ke kakak


Steven


Tidak ada... aku hanya ingin sendiri


Fifiyan


Setelah membalas pesan kakak aku kembali mempersiapkan barang yang akan aku bawa kembali ke Australia, tiba – tiba handphoneku berbunyi dan aku langsung melihat pesan tersebut


Tiiiinnggg


Katakan apa sebenarnya yang kamu tutupi, kakak  tau kamu sedang ada di Jepang, kakak juga tau kalau kamu pasti sedang berada di rumah kan ... kakak sudah ada di depan rumah, cepat temui kakak dan jelaskan semuanya


Steven


Gak mau


Fifiyan


Aku langsung membanting handphoneku, aku malas menjelaskan semuanya kepada kakak, dan ujung – ujungnya kakak akan membela Hasasi seperti dahulu


Tooookkk ... tttoookk... tttttoooookkk


“Nona, tuan Steven sedang menunggumu” ucap paman di depan kamar


“Bilangin dia, aku gak mau” teriakku kesal


“Tuan, nona tidak mau bertemu denganmu” ucap paman dan tiba – tiba pintuku dibuka paksa oleh kakak dan dengan wajah marah kakak masuk ke kamarku


“Kakak kenapa sih mengganggu aku...” ucapku dingin


“Kamu kenapa gak mau bertemu dengan kakakmu?” ucap kakak dingin, itu pertama kalinya kakak bersikap dingin kepadaku dan tanpa sadar aku menangis sekeras – kerasnya


“Ehh ... nona jangan menangis” ucap paman khawatir melihatku menangis


“Paman tunggu aja di luar ya biar aku yang menenangkannya” ucap Steven dan paman meninggalkan kami berdua


“Ada masalah apa ceritakan” ucap Steven membelai rambuku yang bergelombang


“Ka ... kakak pasti tau kan a... aku kenapa menangis” ucapku sesenggukan


“Tidak ... makanya kakak bertanya kepadamu?”


“Ya ... hmm ... gara – gara adik tirimu yang menyebalkan itu” ucapku dingin


“Gara – gara Hasasi?”


“Ya”


“Mmmm masalah sama mantannya itu?” tanya Steven


“Itu kakak tau kenapa nanya lagi” ucapku kesal sambil mencubit pipi kakak


“Aduh ... aduh sakit” rintih Steven


“Mmmm ... sebenarnya kakak tau apa yang terjadi tapi kakak tidak bisa memberitahukanmu” ucap Steven lirih


“Ya udah lah gak perlu di beritahu aku mau pergi”


“Kemana? ... kamu tidak perlu pergi jauh – jauh” ucap kakak menahan tanganku melarangku pergi


"Pergi jauuuuuhhhh sekali, dan tidak akan kembali ... weeellkk" ejekku dan Steven langsung mencubit pipiku


"Aduuh sakit lah" protesku


"Kamu ditanya sungguh malah mengejek kakak" gumam Steven kesal


“Aku mau kembali ke Australia... kakak jangan mengganggu” ucapku kesal


“Kemana?”


“Tidak aku beri tahu, nanti kakak lapor ke Hasasi” ucapku dingin


“Tidak kakak janji tidak lapor ke Hasasi, kamu itu adikku jadi kakak harus tau kemana kamu pergi, kakak harus tau itu” ucap Steven sambil memelukku


“Baik – baiklah, aku mau ke rumah kontrakanku... kakak jangan sampai memberitahu Hasasi” ucapku dingin


“Nah gitu dong baru adikku” ucap Steven sambil menepuk kepalaku pelan

__ADS_1


“Apa mau kakak antar?, biar kakak tau dimana rumahmu itu” tanya Steven


“Tidak perlu”


“Ayolah .... Fifiyan kan cantik” ucap Steven menggoda


“Enggak” ucapku tegas dan berlalu meninggalkan Steven sendirian di kamar, saat akan keluar rumah aku bertemu dengan paman yang sedang membersihkan halaman rumah ini


“Loh nona mau kemana?” tanya paman dan mendekatiku


“Aku mau kembali paman”


“Oh ya sudah, hati – hati nona”


“Baik paman... oh ya paman ini untuk paman” ucapku lalu membuka dompetku dan memberikan sejumlah uang untuk paman


“Ti ... tidak usah nona, terlalu banyak uang ini” ucap paman menolak uangku


“Tidak apa – apa paman... anggap saja ini gaji paman selama menjaga rumahku” ucapku sambil tersenyum


“Ba ... baik nona, tapi jangan kebanyakan seperti ini”


“Tidak apa – apa paman, aku pamit dulu ya”ucapku dengan tersenyum


“Iya nona hati – hati”


Aku pergi dari rumah dengan membawa koper dan tas kecil yang aku selempangkan di bahuku. Aku bergegas menuju bandara agar aku tidak mau ketinggalan pesawat lagi. Kalau aku ketinggalan pesawat lagi aku bakal balik ke rumah lamaku lagi.


Setelah beberapa menit aku naik taksi, akhirnya aku sampai di bandara dan aku langsung berlari menuju loket tiket


“Permisi ...tiket menuju Australia masih ada?” tanyaku dengan nafas terengah – engah


“Sebentar ya nona ... mmm ... masih ada nona ... untuk berapa orang nona?” tanya penjual tiket tersebut


“Untuk satu orang aja”


“Keberangkatan kurang satu jam lagi nona”


“Baiklah ... 700 ribu dollar nona” ucap penjual tiket dan aku langsung memberikan uangnya kepada penjual tersebut


“Terimakasih” ucapnya kemudian dan aku pun berlalu pergi menunggu di ruang tunggu karena kurang satu jam lagi pesawat berangkat


Menunggu selama satu jam itu melelahkan bahkan membosankan, semua permainan sudah aku mainkan tapi rasa bosan selalu datang menghampiri. Saat aku membuka galeriku aku melihat fotoku bersama dengan Hasasi, ingin rasanya aku menelepon dia menanyakan kabar dia tapi aku keingat aku bukan siapa – siapanya lagi.Tiba – tiba aku terkejut dengan sebuah tangan yang menepuk bahuku


“Baaaaaa ... Hayo Fifiyan lagi liat apa?” ucap Hansol mengagetkanku


“Kok gak sama Hasasi?” tanyanya polos


“Enggak ... buat apa sama dia, aku bukan siapa – siapanya ... lagi ...” ucapku lirih


“Loh ... ada apa?” tanyanya kaget


“Ceritanya panjang” ucapku sedih


“Ceritakanlah mana tau aku akan menghukumnya” ucapnya sambil cengengesan


“Gak perlu lah Tuan Hansol... biarkan lah” ucapku lirih


“Ehhh jangan begitu loh ... bagaimanapun juga kamu calon istrinya”


“Itu dulu sekarang tidak”


“Ayo lah ceritakan ... aku kepo nih”ucapnya sambil mengupil


“Gak mau”


“Ayolah”


“Enggak”


“Ayolah ...ayolah”


“Enggak ya Enggak” protesku


“Ayolah cantik ... ceritakanlah” ucapnya langsung memelukku dari samping dan tiba – tiba aku menangis keras


“Ehh ... eee ... kok malah nangis ... adu ... du... duu... jangan nangis dong cantik” ucap Hansol menenangkanku


“Aku ada permen nih mau ? ... jangan nangis ya” ucapnya menghibur tapi aku tetap saja menangis


“Aduuuhh ... mau aku beliin mainan?... atau mau susu?...” ucap Hansol panik


Saat aku mendengar Hansol semakin meracau omongannya aku pun tiba – tiba tertawa keras


“Hahaha ... emang kamu kira aku anak kecil apa” ucapku dan tertawa keras


“Gitu dong jangan nangis – nangis loh ... kalau ketawa kan cantik” ucap Hansol dan mencium pipiku dengan lembut

__ADS_1


“Huuuuaaaaa ...” tangisku lagi


“Eehhh ... kok nangis lagi sih ... jangan nangis dong ... aduhhh” ucap Hansol panik


Aku melihat Hansol panik membuatku tertawa lagi


“Hahaha kamu lucu kalau panik” ejekku dan Hansol lalu mencubit pipiku keras


“Huuuaaa sakiiittt” tangisku lagi


“Itu hukumanmu mengejek aku” ucap Hansol kesal


“Huuuaaa jaaahhhaaattt ... kayak Hasasi” teriakku dan terus menangis


“Aduh cup ... cup ... ma ... maaf jangan nangis lagi ya” ucap Hansol panik


“hmmm ... i ... iya deh ... kasihan kamu panik mulu” ucapku sesenggukan


“Hmmm kalau kamu tidak maumembicarakannya tentang masalahmu tidak apa – apa aku tidak memaksamu lagi” desahan Hansol lirih


“Aku ingin menceritakannya tapi ... pesawatku akan terbang 10 menit lagi”


“Kamu akan kemana?”


“Ke Australia”


“Loh sama”


“Serius?”


“Iya ... nih tiketku...” ucap Hansol menunjukkan tiketnya


“Loh kita sebangku” ucapku kaget


“Baguslah ... kamu harus ceritakan semuanya” ucap Hansol dingin


“Baik – baik nanti aku ceritakan”


“Ya udah kita naik ke pesawat aja dulu” ucap Hansol lalu memegang lembut tanganku


Naik pesawat dengan Hansol mengingatkanku dengan Hasasi yang kemanapun dan kapanpun selalu naik pesawat pribadinya berdua tidak ada orang lain selain kami berdua.


“Loh Fifiyan kenapa menangis?” tanya Hansol saat kami sudah sampai di tempat duduk kami


“Emmm ... ti ... tidak ada”


“Udah jangan bohong... sekarang ceritakan semuanya” perintah Hansol tegas


“Baiklah intinya aja ya ...”


“Oke lah”


“Jadi begini ceritanya... 3 hari lalu aku sama Hasasi mengikuti pernikahan Dennis tapi tidak tahu kenapa dia saat


turun dari pesawatnya dingin banget sama aku terus saat kami sedang makan sama Hwansa tiba – tiba mantannya datang dan tau gak mantannya meluk  meluk Hasasi dong ... siapa yang gak sakit hati” ucapku kesal


“Ya mungkin cuma manas – manasin kamu aja”


“Gak mungkin, tadi pagi aku bertemu dia di pasar dan dengan siapa coba ... dengan mantannya... kesel gak sih” ucapku dengan nada meninggi


“Ya kalau itu a ... aku tidak bisa memberitahukanmu” ucap Hansol gagap


“Kenapa sih semua bilang begitu ... aku gak bisa memberitahu mulu ... apa yang sebenarnya kalian sembunyiin dariku” protesku kesal


“Kamu tidak boleh tahu hal tersebut ... kalau kamu pengen tau ... tanyakan kepada Hasasi ... dia akan menjelaskannya kepadamu” ucap Hansol dan mengetuk dahiku


“Males ah buat apa ... aku bukan siapa – siapanya” gumamku kesal sambil mengelus dahuku yang sakit


“Kamu tetap calon istrinya ...tenang aja”


“Tidak ... cincin pemberiannya udah aku kembalikan”


“Lah kenapa?” tanyanya kaget


“Males ...”


“Udah jangan cemberut mulu ... lupakan saja kejadian dengan mantannya itu ... mmmm mau main ke markasku?”tanya Hansol


“Main mau ngapain?”


“Ya ... terserah kamu mau ngapain ... nginep pun gak masalah ... kamu biar tau markas pembunuh kelas atas seperti apa”


“Baiklah ... tapi aku harus ke rumah kontrakanku dahulu” ucapku


“Oh baiklah ... nanti aku temenin kamu cantik”


“Baiklah” ucapku sambil memandang keluar jendela

__ADS_1


Aku juga ingin tahu seperti apa markas pembunuh kelas atas, apakah lebih mewah dan ketat dari markas Hasasi atau biasa aja... aku juga tidak tahu ... lihat saja nanti.


__ADS_2