Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 20 : Meminta Pendapat Steven


__ADS_3

Memikirkan penjelasan Angel benar-benar membuatku sedih tapi namanya juga menikah dengan seorang ketua mafia pasti kematian bisa datang tiba-tiba. Tapi aku masih belum rela jika harus kehilangan Hasasi, aku benar-benar tidak rela.


"Sayang..." gumam Hasasi mengagetkanku.


"Eehh mmm ya..."


"Kenapa kamu menangis?" tanya Hasasi bingung.


"Eehh mmm tidak ada kok sayang..."


"Apa yang membuatmu sedih?" tanya Hasasi pelan, aku hanya terdiam dan menggenggam erat tangan Hasasi, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Hasasi di ruang informasi.


"Mmm ti... tidak ada, ya sudah mari kita masuk sayang..." gumamku mengusap air mataku dan mendorong kursi roda Hasasi pelan.


"Selamat datang tuan muda... nona muda..." ucap dokter itu sedikit membungkukkan badannya.


"Terimakasih dokter..." gumamku pelan.


"Baiklah tuan muda mari ikut saya..." gumam pria yang merupakan seorang asisten dokter mendorong kursi roda Hasasi masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Dokter boleh diberitahukan, apa penyakit yang di derita Hasasi sebenarnya?" tanyaku pelan.


"Mmm kenapa nona muda ingin tahu?" tanya dokter serius.


"Dia suamiku dok, anda dokter pribadinya sedari Hasasi kecil jadi aku hanya ingin tahu."


"Tapi tuan muda tidak mengijinkannya nona muda."


"Beritahu aku dok, aku mohon!!" ucapku sedih.


"Haish mmm baiklah, mmm tuan muda memiliki penyakit bawaan sejak lahir."


"Penyakit bawaan? Penyakit apa itu?" tanyaku penasaran.


"Kekurangan darah khusus."


"Darah khusus?" tanyaku terkejut.


"Ya, sebenarnya perjodohan anda dengan tuan muda karena darah anda dibutuhkan oleh tuan muda, tapi tuan muda enggan memberitahukan hal itu dan menyimpannya sendiri bertahun-tahun. Saya sudah katakan kepada tuan muda, jika tuan muda tidak benar-benar mendapatkan darah anda pasti pungungnya yang akan bermasalah..."


"Apa bisa sekarang darahku untuk..."


"Itu... sudah terlambat nona muda, penyakitnya sudah menggerogoti sebagian tubuhnya. Jika tuan muda bisa sembuh itu merupakan suatu keajaiban..."


"Dokter, apa ada cara lain untuk menyelamatkan nyawanya?" tanyaku serius.


"Ada tapi saya tidak yakin apakah akan berhasil."


"Apa cara itu?" tanyaku terkejut.


"Memberikan darah anda setiap hari dan pengangkatan hati dan ginjalnya yang telah rusak."


"Rusak?" tanyaku terkejut.

__ADS_1


"Ya, dua ginjal dan hatinya tuan muda sudah tidak berfungsi lama karena penyakit tuan muda yang sudah berpuluh tahun dan harus menggunakan milik anda, saat saya menyarankan hal itu tuan muda menolak dan tidak mengijinkan saya melakukannya."


"Oh mmm kalau begitu... pakai saja dokter."


"Ta...tapi...saya tidak yakin apakah anda masih hidup atau tidak jika hal itu dilakukan..." gumam dokter serius.


"Aku akan tetap hidup demi suamiku dok, jangan khawatir."


"Tapi kalau tuan muda menolaknya bagaimana?"


"Katakan saja dari orang lain, jangan katakan dariku."


"Tapi... apa anda yakin?"


"Ya dok, saya yakin!" ucapku serius.


"Oh mmm baiklah, beberapa bulan lagi saya akan melakukan operasi itu nona muda. Nona muda harus menjaga kesehatan nona muda agar berhasil."


"Yaah baiklah dokter..." gumamku pelan, aku menggenggam erat pakaianku dan menundukkan kepalaku. "Ayah... ibu... maaf... mungkin hanya ini yang bisa Fifiyan lakukan demi Hasasi bisa hidup lama..." gumamku dalam hati.


Setelah berjam-jam akhirnya Hasasi keluar dengan muka yang sangat lelah, mungkin karena terapi yang harus dia lakukan demi bisa sembuh walaupun sebenarnya dia tahu dia tidak akan mungkin bisa sembuh jika tidak diganti organ tubuhnya.


Di dalam rumah saat Hasasi tertidur aku menceritakan apa yang terjadi dan keinginanku kepada Steven tapi dia malah menolak dan memarahiku habis-habisan.


"Tidak bisa! Kau bisa mati Fifiyan!" protes Steven kesal.


"Kakak aku mohon!"


"Tapi demi kesembuhan Hasasi!"


"Aku tidak peduli dengan dia! Aku lebih peduli denganmu!"


"Kakak walaupun aku tahu setiap orang akan mati tapi aku tidak mau kehilangan suamiku! Nantinya jika Hasasi mati aku juga akan ikut menyusulnya!"


"Fifiyan! Apa kau gila!" protes Steven kesal.


"Ya, aku gila kehilangan keluargaku dan aku juga akan lebih gila lagi jika kehilangan Hasasi."


"Dia pembunuh ayah dan ibu! Kenapa kamu melakukan ini semua? Untuk apa?" protes Steven dingin.


"Aku hanya ingin bahagia dengannya, aku tidak peduli dia pembunuh ayah dan ibu atau apapun, aku sudah memaafkan dia! Aku hanya ingin selamanya dengan dia kakak!"


"Astaga, emang gila-gilanya pemikiran kamu Fifiyan!" gerutu Steven kesal.


"Kakak aku mohon boleh ya..." gumamku terus memohon.


"Astaga kamu kok ngeyel banget! Sudah ku bilang enggak ya enggak!"


"Kakak aku tidak mau melihat kedua anakku sedih jika kehilangan ayah mereka dan..."


"Apa kamu tidak berfikir bagaimana mereka sedih saat kehilanganmu Fifiyan!" protes Steven kesal.


"Aku tahu, tapi kakak... aku berjanji padamu, aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan mati dengan mudah selama suamiku belum mati!"

__ADS_1


"Astaga kamu ini..."


"Kakak aku mohon!"


"Haish... baiklah, terserah kamu saja... yang penting kamu harus berjanji untuk tetap hidup Fifiyan!" ucap Steven beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu yang dari tadi bergerak sendiri. Saat pintu terbuka, aku melihat Lisa yang diam-diam mendengarkan perbincangan kami.


"Lisa?" gumamku terkejut.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Steven dingin.


"Eee... mmm tidak ada, aku hanya ingin bertemu dengan kakak ipar saja kok!"


"Ada apa Lisa?" tanyaku bingung.


"Tidak ada sih, aku hanya ingin bercerita denganmu saja kakak ipar."


"Bercerita? Bercerita tentang apa?" tanyaku bingung.


"Mari ikut aku kakak ipar!" ucap Lisa menarik tanganku pergi ke atas balkon yang terletak di atas rumah.


"Ada apa Lisa?" tanyaku bingung, Lisa langsung berbalik dan menangis dengan kencang.


"Eehh ada apa kamu menangis?" tanyaku terkejut.


"Kakak ipar, aku sangat sedih."


"Sedih kenapa? Apa yang membuatmu sedih?" tanyaku bingung.


"Aku kan pacaran dengan seseorang dan... dan..."


"Dan apa? Coba jelaskan baik-baik padaku!"


"Aku... aku sudah dinodai berkali-kali dengan beberapa pria..." gumam Lisa pelan.


"Eeh tunggu! Apa? Kenapa bisa? Siapa yang melakukannya?" tanyaku terkejut.


"Ceritanya panjang kakak ipar!" rengek Lisa kencang. "Oh astaga, masalah dengan Hasasi belum selesai ditambah ini anak membuat ulah disaat Hasasi tidak bisa berbuat apapun lagi... haduhh!!" gerutuku dalam hati.


"Hmmm tenangkan dirimu, coba cerita padaku semuanya Lisa."


"Tapi kakak ipar mau mendengarkan ceritaku?" tanya Lisa pelan.


"Ya tentunya, jadi Lisa ceritakan kepadaku ya."


"Tapi... Lisa takut kakak ipar."


"Takut apa?" tanyaku bingung.


"Takut kalau kakak, ayah dan ibu marah jika aku hamil..."


"Hmmm coba ceritakan dulu padaku ya..." gumamku pelan.


"Tapi..." desah Lisa menundukkan kepalanya dan hanya terdiam. Siapa dan bagaimana kejadian itu bisa terjadi benar-benar membuatku penasaran, aku harus mendapatkan cerita yang sesungguhnya dari Lisa.

__ADS_1


__ADS_2