Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 121 : Dibelikan Restoran Oleh Steven


__ADS_3

Selama sarapan aku memandangi layar handphoneku sampai Steven menghabiskan makanannya dan memandangku kesal


"Handphone tuh nanti, waktunya makan ya makan bukannya mainan handphone" tegur Steven yang membuatku kaget


"Mmm baik kak" gumamku kaget dan langsung menutup handphoneku


"Kamu lagi baca apa di handphone?"


"Tidak ada.."


"Jangan bohong Fifiyan, kakak tau apa yang kamu perbuat"


"Gak ada"


"Lalu kamu meminta tolong Naian buat apa?" tanya Steven membuatku kaget


"Kenapa kakak tau?"


"Hei aku kakakmu jadi tahu apa yang dilakukan adiknya!!"


"Dia memberitahukan ke kakak?"


"Tidak... kakak tau sendiri"


"Kakak tahu dari mana?" protesku


"Kan kakak ketua organisasi pengawas perusahaan di dunia jadi kakak tahu apa yang di perbuat pejabat - pejabat perusahaan" gumam Steven mengelap mulutnya dengan tisu


"Oh begitu"


"Kenapa kamu meminta tolong Naian?"


"Ada deh" gumamku sambil mengambil sushi dengan sumpit


"Apa yang kamu tutup - tutupi ke kakak"


"Rahasia kakak... please lah ini gak ada hubungannya dengan kakak" protesku


"Hmmm kamu masih kecil udah punya rahasia" gumam Steven


"Ya biarin lah"


"Hmmm dasar" desah Steven sambil geleng kepala


"Teman kakak yang akan datang siapa?"


"Datang kemana?"


"Kesini lah!!!"


"Si Hasasi sama Alex"


"Kenapa mereka berdua?"

__ADS_1


"Ya kan hari ini hari terakhirmu untuk berfikir"


"Ya gak bisa gitu lah kan perjanjiannya setahun ini masih setengah tahun!!!!" protesku


"Ya bisa lah.. aku kakakmu dan aku yang ngatur semua ini... setahun itu kelamaan tahu!!"


"Kenapa kakak yang mengatur hidupku?"


"Karena aku kakakmu dan keluargamu jadi aku disini selain kakak juga sebagai ayah penggantimu tahu!!"


"Iihhh tapi aku masih berfikir kak!!"


"Tidak ada kata berfikir... kamu sendiri sebenarnya kamu sudah punya jawaban Fifiyan... jangan mengundur waktu"


"Kenapa sih kakak seakan memaksaku untuk cepat menikah... kakak aja belum nikah"


"Semua sudah kakak rencanakan Fifiyan... kamu jangan protes!!" bentak Steven dan aku hanya diam tanpa kata


Aku tidak menyangka Steven akan bernad tinggi ke aku karena masalah sepele seperti ini. Perasaan takut, kecewa, marah berkumpul menjadi satu. Tapi emang sih bagaimanapun dia kakakku dan aku hanya punya dia satu - satunya keluargaku


"Sudah paham!!"


"Iya kak, aku paham... maafkan kak" gumamku mengalah


"Kakak lakukan ini karena kamu adalah adik aku yang aku sayangi dan keluarga yang kakak milikki jadi kakak gak mau kalau kamu sampai salah melangkah"


"Dan kamu tahu Fifiyan kenapa aku menyuruh Hasasi menyampaikan kepadamu tentang pilih antara Hasasi dan Alex ... karena dulu saat kedua orang itu bertemu dalam rapat mereka sering berdebat masalah kamu, karena kesal kakak sebagai kakakmu menyuruh kamu dan memberikan kamu wewenang untuk memilih satu di antara dua orang itu yang cocok buatmu dan buat masa depanmu, apalagi kakak percaya apapun pilihanmu kamu akan memilih yang terbaik diantara yang terbaik" gumam Steven dan aku hanya terdiam


"Mau tambah makanan lagi?" tanya Steven mengagetkanku dari lamunanku


"Ini ... ini kan masih banyak kak makananya kenapa harus beli lagi... kan kartu kakak jadi milikku"


"Emang kamu kira kartu kakak ada satu itu aja, kartu kakak ada 5 kartu dan semua unlimeted satu tingkat lebih tinggi dari kartu kakak yang kamu ambil itu... hahaha" tawa Steven mengangkat 5 kartu di tangannya


"Iihh dasar, aku mau semuanya kak!!"


"Gak... kamu udah punya, jangan tamak Fifiyan"


"Iih mau yang itu... itu ... itu... itu... itu" gumamku menunjuk satu persatu kartu


"Tidak... kamu sudah punya satu ya sudah" gumam Steven memasukan kembali kartu - kartu tersebut


"Huuuh dasar kakak pelit" gumamku namun tiba - tiba Stevwn memanggil pelayan


"Pelayan.." ucap Steven sambil mengangkat tangannya


"Iya tuan... ada yang bisa saya bantu?"


"Panggil bosmu kemari"


"Ada kepentingan apa ya tuan?


"Ada suatu hal yang aku bicarakan, tolong panggilin kemari"

__ADS_1


"Baik tuan" ucap pelayan tersbut dan berlalu meninggalkan kami


Tiba - tiba tidak lama kemudian pelayan tersebut datang bersama seorang laki - laki yang agak sudah tua datang menghampiri kami


"Ini tuan bos kami" ucap pelayan itu dan Steven memandangi mereka berdua


"Silahkan duduk tuan" ucap Steven mempersilahkan laki - laki tersebut duduk


"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Mmm tidak ada, aku cuma ingin membeli restoranmu ini" ucap Steven santai


"Tapi tuan restoran ini tidak di jual"


"Aku Steven ketua organisasi pengawas perusahaan di dunia, aku akan membeli dan menanam saham ke restoran ini dan mengatas namakan restoran ini atas nama kepemilikan adikku"


"Tapi tuan saya hanya bekerja dengan pekerjaan ini saja"


"Udah jangan khawatir... walaupun nama pemilik perusahaan atas nama adikku, tapi kamu masih tetap bisa jadi bos restoran ini dan mempunyai wewenang penuh dengan restoran ini... jadi adikku mendapatkan 40 persen dari keuntungan restoran ini. Jadi kamu dapat uang dari aku atas pembelian restoran ini dan juga keuntungan 60 persen dari restoran ini... bagaimana? ya anggap saja ini adalah kerjasama bisnis"


"Mmm .... baiklah tapi harga restoran ini satu triliun "


"Tidak masalah asalkan adikku senang"


"Baiklah setuju" ucap laki - laki tersebut dan akhirnya perjanjian dan pergantian nama di setujui kedua belah pihak di atas materai


"Terimakasih atas kerjasama bisnis ini tuan Steven dan Nyonya Fifiyan, saya pamit" ucap laki - laki itu dan berlalu meninggalkan kami dengan senang


"Kakak jadi membeli restoran ini?" tanyaku kaget setelah mengerti apa yang sebenarnya terjadi


"Ya memang, jadi siapa yang pelit sekarang" gumam Steven


"Iihh tapi kan aku tidak mau"


"Mau tidak mau aku sudah membelikannya kepadamu, apalagi restoran ini bisa kamu jadikan tambahan uang saku buatmu"


"Tapi aku tidak bisa menjalankan bisnis kak"


"Udah tenang aja, kamu tidak perlu memikirkan hal itu... restoran ini tetap di jalankan oleh laki tua itu dan kamu hanya memperoleh keuntungan 40 persen tanpa berbuat apapun"


"Seriusan kak?"


"Ya seriusan"


"Waah ... kakak terbaik deh... makasih kakakku yang tampan"


"Heleh kalau kakak baik aja di puji kalau gak baik aja di bilang pelit" gumam steven kesal


"Iih kakak jangan marah - marah atuh kan kakak emang kakak tertampan dan terbaik, senang punya kakak sepertimu" pujiku kepada Steven


"Ya... ya... ya terserah apa kata kamu dek" gumam Steven mengambil satu makananku dengan sumpitnya


Aku tidak menyangka Steven sangat baik kepadaku, bahkan dia mau mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk kehidupanku nantinya. Aku bersyukur banget punya kakak terbaik seperti dia

__ADS_1


__ADS_2