
Perjalanan kali ini cukuplah jauh kira – kira menempuh 5 jam perjalanan, aku terus memandangi keluar jendela ... aku melihat banyaknya laut yang biru berkilauan terkena cahaya matahari dan juga melihat awan tipis yang sedang menari dibawahku.
Saat aku menikmati pemandangan indah ini tiba – tiba bahuku terasa sangat berat dan saat aku meliriknya ternyata Hansol tertidur di bahuku, aku mencoba menggeser kepalanya tapi dia kembali lagi di bahuku, aku terus menggeser kepalanya Hansol dan lama kelamaan tangannya memegang erat tanganku sehingga aku tidak bisa menggeser kepalanya lagi.
Setelah beberapa jam melakukan penerbangan akhirnya aku sampai juga di bandara Australia
“Hoaaammm ... emmm ... nyenyak sekali tidurku ... udah beberapa hari ini aku sulit tidur” gumam Hansol dan dia tersadar kalau dia memegang tanganku sampai tanganku kaku
“Mmmm bagus ya tidur nyenyak di bahu orang tanpa permisi” protesku dingin
“Amm ... ampun ... aku pikir itu tadi bantal hehehe”
“Dasar ketua pembunuh yang mesum” protesku dan tiba – tiba dia membungkam mulutku
“Hussstt ...jangan keras – keras ... jangan sampai orang tau identitasku” bisik Hansol saat dia sadar orang – orang
yang ada di dalam pesawat melihat kami dengan tatapan yang dingin
“Eee ... eeee tidak – tidak kami hanya bergurau saja” ucapku terbata – bata dan para penumpang pun satu persatu dari pesawat
“Huuuuhh ... kamu ya... untung saja aku tidak di gebukin” protes Hansol
“Habis kamu juga... tidur sampai badanku kaku semua” protesku
“Ehhh iya maaf ... aku beberapa hari ini rapat sangat penting dengan Hasasi...” ucap Hansol dan aku kaget dia hampir membocorkan sesuatu
“Rapat tentang apa?”
“Ehhh tidak – tidak ... aku rapat dengan orang – orangku ... hehehe” ucap Hansol hampir keceplosan
“Hiiii kamu berbohong ya” ucapku sinis
“Ti ... tidak... serius”
“Iya deh terserah” ucapku dingin
Kami langsung turun dari pesawat dan ternyata Hansol sudah memiliki mobil pribadi yang menjemputnya
“Ayo masuk “ ucap Hansol santai
“Ini mobilmu?” ucapku kaget
“Iya lah kamu kira bohongan”
“Mewahnya” ucapku kaget
“Iya lah Hasasi kalah ... udah ayo masuk ke dalam” ucap Hansol tertawa
Aku dan Hansol pun masuk ke dalam mobil bersama sama dan betapa kagetnya aku saat aku melihat didalam mobil itu terlihat sangat mewah dengan kursi yang empuk, gorden berwarna emas, karpet berwarna emas dan juga terdapat mini kulkas yang terdapat di dalamnya
“I ... ini mobil atau hotel berjalan” ejekku
“Loh ini ya mobil ... masa ya hotel berjalan”
“Tapi ini mewah banget sumpah” gumamku
“Ya dong ... kalau gakmewah bukan Hansol namanya” ucap Hansol tertawa
“Dasar sombong” gumamku kesal
“Oh ya ngapain kamu mau ke rumah kontrakanmu itu?”
“Aku mau naruh koperku tadi”
“Halah bawa aja lah ... aku juga gak ada baju buat wanita ... takut kalau kamu gak mau pakaian pembantuku”
“Emang kamu kira aku pembantumu apa” gumamku kesal. Bagi orang kaya baju pembantu itu berbeda dengan baju orang biasa, mereka mempunyai seragam khusus yang setiap hari mereka pakai dan itu berlusin – lusin baju yang sama
__ADS_1
“Hahaha ... jangan marah makanya langsung aja ke rumahku”
“Baik ... baiklah”
“Nanti aku akan kenalkan kamu ke adikku” ucap Hansol santai
“Adikmu?”
“Iya ... dia pria tampan ...mungkin umurnya selisih 2 tahun denganmu”
“Adik kandung?”
“Yups...”
Setelah sekian lama berkendara akhirnya kami sampai di rumah mewah milik Hansol, tempatnya jauh di pinggiran kota, rumah mewah yang memiliki halaman luas, ada taman bunga yang ditengahnya ada air mancur, dan juga ada penjagaan ekstra ketat dari penjaga – penjaga pribadi Hansol
“Itu penjagamu?”
“Yups ...”
“Emang ada berapa penjaga?” tanyaku
“Ya mungkin ada .... 100 penjaga di dalam dan 50 penjaga di luar” ucap Hansol sambi menghitung di jari
“Seriusan?... sebanyak itu?” tanyaku kaget
“Iya lah ... Ya udah kita turun dulu” ucap Hansol saat mobil berhenti di depan pintu rumah
Saat aku turun keluar mobil aku melihat sosok pria tampan lebih tampan dari Hasasi, berkulit putih, tinggi, manis, alis yang tebal, muka bersinar tanpa jerawat sama sekali, dari baju yang dipakainya sepertinya perutnya seperti roti sobek yang siap di sobek – sobek, sangat menawan... rasanya aku ingin pingsan sekarang
“Kamu kenapa?” tanya Hansol kaget saat jalanku tidak seimbang
“Eee ... ti ... tidak ada, tadi tersandung” ucapku menipu
“O aku kira kenapa ... ini aku perkenalkan adikku Jiwon Min”
Oh tuhan inikah berkat yang kamu berikan padaku, malaikat yang sangat menawan ... boleh jadi istrimu gak? gumamku dalam hati
“Eee ... a ... aku Fifiyan Shinju” ucapku terbata – bata
“Kamu melamun ya Fifiyan?” sindir Hansol
“Eeee ... tidak kok”
“Kamu terpesona ya dengan ketampanan adikku”
“Hampir ... “ didalam hatiku berkata padahal iya.... aku terpesona sekali sungguh tampan seperti malaikat yang turun dari surga
“Ahhh bohong ... itu tadi buktinya kamu sampai melamun” ejek Hansol
“Ti .. tidak .. aku cuma berfikir kenapa beda denganmu” ejekku balik
“Dasar kamu ya ... kalau bukan karena Hasasi memintaku menjagamu aku gak mau mengajakmu kemari” gumam Hansol tanpa disadari dia membocorkan semuanya
“Oooo... jadi kamu mengajakku ke rumahmu karena di suruh Hasasi ... ya udah aku pulang” ucapku kesal
“Ehh tunggu Fifiyan ... bukan kok... aku hanya asal bicara aja” ucap Hansol memohon
“Ahh... bodo amat lah” ucapku kesal, tiba – tiba ada tangan halus yang memegang erat tanganku
“Kakak jangan pergi” ucap Jiwon Min memelas
“Hmmm baik ... baik panggil aku Fifiyan aja jangan panggil kakak ... masih tuaankamu” ucapku kesal
“Nah gitu dong anak baik” ucap Hansol sambil menepuk – nepuk bahuku
“Tapi ... jangan gangguin aku apalagi mengucapkan kata tentang Hasasi” ucapku dingin
__ADS_1
“Nah .. itu kamu barusan ngucapin” ucap Hansol polos
“Itu aku contohin” gumamku kesal
“Oh baik – baiklah .. kapan nikah sama Hasasi?” ejek Hansol
“Aku udah bilang jangan ngomongin tentang Hasasi lagi” ucapku sambil mencubit lengan Hansol
“Nah itu ngucapin lagi”
“Ah bodo amatlah ... aku mau pulang aja” ucapku kesal tapi Jiwon malah memelukku dari belakang
“Kakak jangan pergi, aku butuh temen” ucapnya dengan mata berkaca – kaca
“Ba ... baikah, jangan nangis” ucapku sambil mengelus rambutnya yang halus. Tiba – tiba aku di tarik Jiwon masuk ke dalam rumah
“Ohh ... bye ... bye ... selamat bersenang – senang ya” ucap Hansol dan berlalu meninggalkan kami menggunakan
mobilnya
Saat aku berada di dalam rumah tersebut betapa mewahnya desain rumah Hansol ini, walaupun tidak seperti rumah Hasasi yang semua berwarna emas, di rumah Hansol ini semuanya berdesain klasik modern yang mewah
“Ayo aku antar kamu ke kamarmu” ucap Jiwon sambil menarikku
“Emang ada kamar untukku?”
“Ada aku sudah mempersiapkannya... silahkan masuk” ucap Jiwon dengan tersenyum
Desain kamarku sangat mewah berbeda dengan ruang tamunya, kamar ini sanagt luas dan juga nyaman. Dinding kamar berwarna biru muda dengan jendela yang menghadap ke laut, membuat kamar ini seperti vila berharga milyaran
“Bagaimana kamu suka?” tanya Jiwon khawatir
“Aku suka ... ini kamu yang desain?”
“Iya” ucapkua dengan tersenyum
“Kakak disini aja ya jangan kemana – mana, aku gak ada temen, aku kesepian” rengek Jiwon di depan jendela kamar
“Kenapa kesepian?”
“Aku tidak punya keluarga, Hansol juga sibuk dengan urusannya, jadi aku gak ada teman”
“Kamu mirip denganku”
“Benarkah?” tanyanya kaget
“Iya ... keluargaku dibunuh oleh seseorang, tinggal aku dan kakakku yang masih hidup tapi aku bertemu dengan
kakakku pada akhir – akhir ini... dulu waktu kecil aku selalu kesepian” ucapku sedih
“Kita sama” ucap Jiwon lalu meneteskan air mata
“Eehh ... jangan nangis, aku mau kok jadi temanmu” ucapku menghibur Jiwon
“Benarkah? Kakak mau jadi temanku” ucap Jiwon senang
“Iya .. tentu saja”
“Terimakasih kakak ... ucap Jiwon sambil memelukku
“Oh ya kok kalian tidak mirip? ... dan nama marga kalian berbeda”tanyaku
“Ya ... sebenarnya aku adik angkatnya, umur kami sama...aku asli orang Korea makanya aku bermarga min” ucap Jiwon memandangku
“Oh begitu...”
“Kakak istirahat aja dulu .. kalau sudah bangun temui aku didapur kita makan bareng” ucap Jiwon senang lalu meninggalkanku sendiri di kamar
__ADS_1
Aku senang bertemu dengan seseorang yang memiliki penderitaan seperti aku, tidak punya keluarga, kesepian, sendirian.... ternyata di dunia ini masih ada yang lebih menyedihkan dari pada aku.