Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 123 : Maukah Kamu Menikah Denganku?


__ADS_3

Aku berjalan menuju keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju lift, tapi aku merasa ada yang memelukku dari belakang dan menarikku kembali ke ruangan makan dengan lembut dan ternyata dia adalah Hasasi


"Hasasi??" ucapku kaget


"Diamlah sebentar Fifiyan... izinkan aku memelukmu sekejap saja" gumam Hasasi memelukku dari belakang


"Tapi banyak orang yang melihat Hasasi" protesku


"Tidak ada orang Fifiyan... sudah aku booking semua seruangan ini" bisik Hasasi di telingaku


"Apa kamu tahu Fifiyan, aku sangat rindu padamu benar - benar rindu kepadamu... aku sampai gila memikirkan kamu tau gak Fifiyan" gumam Hasasi lirih


"Hasasi..." gumamku melepaskan pelukannya dan menatap matanya yang sudah basah dengan air mata


"Hasasi jangan menangis seperti ini Hasasi" gumamku sedih melihat Hasasi menangis


"Hasasi... jangan menangis lagi ya" gumamku mengusap air mata Hasasi dan langsung memeluk Hasasi dengan erat


"Hasasi ... maafkan aku ya, kamu menjadi menderita seperti ini" gumamku dan terus memeluk Hasasi


"Fifiyan jangan tinggalin aku ya" gumam lirih Hasasi


"Iya Hasasi, aku janji tidak akan meninggalkanmu... tapi kamu juga harus berjanji tidak akan meninggalkanku Hasasi" gumamku mengelus rambut Hasasi dengan lembut


"Iya Fifiyan, aku benar - benar serius kepadamu Fifiyan... aku ingin menikah kepadamu"


"Mmm oh ya Hasasi, aku akan memberi sesuatu kepadamu" gumamku melepaskan pelukanku dan mengambil sesuatu barang di dalam tasku


"Apa itu?" tanya Hasasi mengusap air matanya dan aku mengeluarkan sebuah kotak kecil warna merah yang telah usang


"Ini wasiat dari ayah" gumamku sambil membuka kotak itu dan terlihat tulisan Hasasi♡Fifiyan"


"I... ini?"


"Iya ini cincin yang dibelikan ayahmu dan ayahku saat kita masih kecil Hasasi... di dalam wasiat ayah ini cincin tunangan kita" gumamku memandang Hasasi


"Are you serious?"


"Yes... ini aku ketemu kotak ini saat membuka berankas milik ayah"


"Jadi... ini yang di bilang ayah"

__ADS_1


"Emang ayahmu bilang apa?"


"Ayahku bilang kalau ayahku dan ayahmu sudah membeli cincin buat kita tapi di simpan oleh ayahmu"


"Ohh... mmm... begitu ya" gumamku mengerti, ternyata ini benar - benar seperti yang dikatakan pada surat wasiat ayah


"Baiklah Fifiyan ..." gumam Hasasi mengambil salah satu cincin dan mulai berlutut di depanku


"Maukah kamu menikah denganku?" ucap Hasasi serius sambil mengarahkan cincin ke depanku yang membuatku terharu


"Mau... aku mau Hasasi" gumamku terharu sampai - sampai aku menangis bahagia dan memasukan cincin itu di jari manisku dan aku memasukkan cincin satu lagi di jari tangan Hasasi


"Terimakasih Fifiyan, I Love You"


"I Love You too sayang" gumamku bahagia sambil memeluk erat Hasasi


"Ya udah Fifiyan kamu temui kakakmu dulu nanti kakakmu cerewet lagi"


"Wkwkwk baiklah Hasasi... kamu jaga diri baik - baik ya... jangan sampai terluka seperti dulu" gumamku menatap mata Hasasi dengan serius


"Iya sayang, aku sudah mempersiapkan dengan matang kok kamu jangan khawatir"


"Hey kamu jadi nakal ya" teriak Hasasi sambil tertawa


"Weelllkk ..." ejekku dan pintu liftpun menutup


Aku memandang cincin yang ada di jari tangaku, aku tidak menyangka aku sudah memakai cincin pertunanganku dengan Hasasi bahkan aku juga sangat senang mendengar Hasasi mau menikah denganku nanti


Saat pintu lift terbuka, aku melihat Steven menungguku di depan restoran dengan wajah tampak bosan menunggu kedatanganku, aku langsung berjalan menemui Steven di luar restoran


"Hay kakak" ucapku mendekati Steven


"Hmmm ...LAMA!!!"


"Ya maaf atuh kak, namanya lagi ngobrol"


"Ngobrol tuh liat - liat kan kakak nungguin kamu lama banget" gumam Steven kesal


"Ya kan... aku lama tidak bertemu Hasasi kak... jadi wajar lah aku mengobrol lama dengan Hasasi"


"Hmmm baiklah kali ini kakak maafkan" gumam Steven memandang jari tanganku

__ADS_1


"Jadi... kalian sudah tunangan?" tanya Steven mengejekku


"Hehehe... iya begitulah" gumamku malu


"Asiik akhirnya kamu duluan nikahnya"


"Iih gak mau lah, kakak yang harus menikah dulu"


"Kenapa harus kakak dulu, kan kamu sudah tunangan... kakak belum ada"


"Iihh tidak mau lah... kakak yang harus menikah dulu"


"Kenapa kakak... kamu duluan lah" gumam Steven


"Tidak mau lah"


"Lalu kamu maunya apa?" tanya Steven kesal


"Pengenya kakak menikah dulu"


"Baiklah .. tapi kalau sudah punya calon ya" gumam Stevwn mengalah


"Oke siap... aku tunggu calon kakak iparku" gumamku menggoda Steven


"Aah dasar ini bocah... untung adek sendiri kalau gak ... hmmm.."


"Kalau gak kenapa kak?"


"Tidak ada... ayo masuk ke dalam mobil, malam ini ada pesta di pantai Sarang"


"Oh ya kak bentar jadi keinget... katanya aku harus mengatakannya saat di pantai sarang, kenapa sekarang diganti ke restoran"


"Karena pertimbangan keselamatanmu dan hal - hal lainnya maka di pindah tempatnya"


"Hmm.. kalau aku ikut ke pantai sarang apa tidak berbahaya kak? "


"Tidak... selama Hasasi melindungimu apalagi kamu tunangannya Hasasi pasti dia akan melindungimu"


"Hmmm baiklah kak" gumamku menatap ke luar jendela


Aku tidak tahu kenapa aku sangat senang sekali akhirnya bisa tunangan dengan Hasasi... padahal dia sering sekali mengucapkan " Maukah kamu menikah denganku?" perkataan itu sering terdengar keluar dari mulut Hasasi saat aku masih bersama dengan Hasasi, tapi entah kenapa hari ini perkataan itu sangat aku rindukan dan aku inginkan setelah sekian lama aku menunggu kejelasan Hasasi dan kejelasan orang tua Hasasi yang merestui kami menikah

__ADS_1


__ADS_2