
Maryam duduk di depan teras,menunggu Alex yang pergi mengambil minum untuk nya.
"Nih"Alex memberikan secangkir susu kepada Maryam.
"Makasih mas"
Maryam segera meminum nya.Namun,ia terasa seperti sedang menahan sesuatu,sehingga membuat Alex bertanya.
"Ada apa ?"
"Eeem"Maryam menggelengkan kepala nya.
"Sayang,ada apa?Kamu terlihat seperti menahan sesuatu?"
"Aku merasa sesak!"Lirih Maryam,Alex segera berdiri.
"Caston,Ayin !"Teriak Alex dengan keras,tidak menunggu lama,kedua nya sudah sampai ke teras.
"Iya Tuan !"
"Caston,siapkan mobil,Ayin segera hubungi dokter Lauren,katakan Aku akan membawa istri Ku ke klinik!"Titah Alex,
"Baik Tuan !"
Alex meletakkan cangkir di atas meja besi yang ada disebelah Maryam.
"Sayang,Kamu bisa jalan?"
Maryam hanya mengangguk nya tanpa menjawab.
Namun,melihat netra Maryam yang berbinar-binar,Alex segera mengendong sang istri.Ayin sudah siap membuka pintu untuk ke dua nya.
Blam!
Alex duduk di sebelah Maryam,sementara Caston yang mengambil alih kemudi,Ayin,baru saja selesai menghubungi dokter Lauren.
"Eeemm"Maryam mende sah,merasakan sesuatu pada perut nya.Alex panik melihat istrinya yang begitu menderita.
"Sayang,are you oke?"
Maryam kembali mengangguk,Alex segera mengelus pelan perut Maryam,membuat wanita ini sedikit rileks.
Maryam menggigit bi bir bawah nya tanpa sepengetahuan Alex,ia menahan rasa sakit.Maryam merasa malu jika ia harus berteriak di dalam mobil,disana ada Caston dan Ayin.
Maryam mencengkram kuat lengan Alex,sehingga membuat Alex langsung sadar apa yang sudah di rasakan istrinya.
Alex menyentuh bi bir Maryam yang di tutupi cadar.
__ADS_1
"Sayang,Kamu bisa mengeluarkan suara,kenapa Kamu harus menggigit bi bir mu,itu akan melukai mu!"Ujar Alex.Namun,Alex baru sadar kalau Maryam malu kepada Ayin dan Caston.
"Nyonya,tidak apa-apa jika Anda ingin berteriak,maka lepas 'kan saja,jangan pedulikan Kami.Anggap saja Kami tidak ada disini!"Saran Ayin,
"A-Aku,tidak apa-apa!"Sahut Maryam dengan suara yang terbata-bata.
"Caston,bisa lebih cepat sedikit!"Tegas Alex,Caston segera menambah kecepatan nya.
Dua puluh menit berlalu,akhirnya,mereka sampai juga di klinik Xander.
Dokter Lauren,sudah menunggu mereka sejak tadi,dan segera mendorong,hospital bed ke arah mobil Alex.
Semua pengawal bersiaga di depan mobil Alex,dan berbaris,melihat kondisi yang darurat,mereka semua memberikan jalan untuk para dokter dan perawat.
Setelah membaringkan Maryam diatas hospital bed,Alex tidak melepaskan genggaman tangan nya dengan Maryam.
Sampai di dalam ruangan,dokter Lauren,meminta Alex untuk membuka cadar,agar bisa membuat pasien lebih rileks.
Di dalam ruangan hanya ada perawat wanita dan juga dokter Lauren,laki-laki selain Alex,tidak di perbolehkan masuk.
Alex terkejut melihat bi bir Maryam yang terluka.
"Sayang"Alex menyentuh bi bir Maryam,
"Aku baik-baik saja mas!"Ucap Maryam yang berusaha tersenyum dan terlihat tegar,di depan Alex.
Sementara dokter Lauren memeriksa keadaan Maryam.
"Dok,apapun itu,lakukan yang terbaik!"Ungkap Alex.Namun,mata nya masih menatap iba ke arah Maryam.
"Mas,Aku baik-baik saja!"Tutur Maryam,saat melihat Alex yang begitu khawatir.
"Tapi,Kami harus melakukan tindakan operasi secepat mungkin Tuan !"
Mendengar kata-kata operasi membuat air mata Maryam mengalir begitu deras,ia menangis tanpa suara.Tapi,Alex dapat merasakan betapa sakit nya saat ini yang di rasakan sang Istri.
"Sayang!"Panggil Alex,Maryam tersenyum.Namun,air matanya masih belum berhenti disitu saja.
"Lakukan dok,Aku ingin Anak-anak ku selamat!"Ujar Maryam,Alex tercengang.
"Dok,tidak ada cara lain kah?"
Dokter Lauren menggelengkan kepala nya.
"Baik lah,Sayang,Aku yakin Kamu kuat,dan Kamu dapat bertahan!"Alex mengecup kening Maryam berkali-kali,dan ia juga menci um kedua pipi Maryam.
Puk ! puk !
__ADS_1
Maryam menepuk pelan punggung Alex yang sedang memeluk nya.
"Tidak apa-apa Mas,Kita bisa melewati nya!"Pungkas Maryam.
Dokter Lauren mempersiapkan alat untuk melakukan operasi kepada Maryam.Dan ia mengambil suntikkan,Alex melihat benda yang ada di tangan dokter Lauren dengan pandangan yang tidak dapat ia bayangkan.
"Sayang!"Alex kembali menggenggam tangan Maryam,ia tidak melepaskan nya walaupun sebentar.
"Semua akan baik-baik saja,berdoalah mas!"Pinta Maryam,Alex mengangguk nya.
Alex berdiri di depan Maryam yang duduk di tepi ranjang,sudah siap dengan pakaian nya,dokter Lauren juga sudah siap dengan suntikan nya.
Alex melihat ke arah perawat dan juga dokter yang menangani operasi Maryam.Alex terpaku melihat ke arah Maryam yang tersenyum lemah ke arah nya.
Saat ini pandangan Maryam sudah terlihat samar-samar,bahkan matanya terasa begitu berat.
Alex duduk di sebelah kepala Maryam,dan mengelus nya,dengan lembut.Tanla terasa,air mata Alex ikut menetes saat melihat beberapa dokter dan perawat sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Oeek..Oeek..Oeek.."
Alex menoleh ke arah suara baby menangis,ia semakin terharu melihat kearah bayi itu,membuat tangisan nya semakin menjadi-jadi,hanya saja,ia tidak mengeluarkan suara nya.
"Oeek..Oeek..Oeek.."
"Oeek..Oeek..Oeek.."
"Oeek..Oeek..Oeek.."
"Alhamdulillah"Ucap Alex mengecup kening Maryam beberapa kali,dalam samar nya Maryam dapat mendengar suara tangisan itu.
Air mata nya kembali mengalir,Alex menyeka nya.
Beberapa perawat mengambil alih bayi dan membersihkan nya.
Alex juga menyimpan ari-ari yang di berikan dokter Lauren dengan baik,ia akan mengubur nya saat pulang nanti.
Jarum jam terus bergerak memutar waktu,beberapa menit telah berlalu,operasi nya sudah selesai.
Perawat membantu Alex untuk membenarkan posisi Maryam.Entah tertidur atau sengaja memejamkan matanya.Yang terlihat Maryam tidak membuka matanya setelah baby nya lahir.
Ceklek !
Pintu kamar ruang operasi terbuka,Alex tidak melepaskan tangan Maryam,yang terus ia genggam, sampai ke depan pintu ruang inap nya.
Sampai di dalam ruangan,bahkan Alex tidak bertanya,dimana dan bagaimana kondisi Anak nya.Saat ini yang Alex ingin tahu adalah keadaan sang istri.
Maryam belum membuka mata nya,dokter Lauren datang untuk memeriksa Maryam kembali.
__ADS_1
"Tidak apa - apa,biarkan pasien istirahat sebentar,nanti dia akan siuman dan segera membaik,Saya akan menyuntik obat penghilang rasa sakit,dan obat untuk membuat luka cepat membaik!"
Alex mengangguk nya.Namun, ia tidak bergeming untuk pindah posisi,Alex masih duduk di samping sang istri,menunggu Maryam sampai siuman.