
Yuri bekerja sampai sore lalu pulang. Dia bekerja dalam toko Eris tidak terasa menuju 2 bulan, soal gaji Yuri meminta Eris untuk langsung mengirimkannya ke rumahnya.
Yuri pikir Eris akan mengirimkan via transfer ternyata, Eris mengirimkan box kardus ukuran sedang dan disimpan di depan pintu rumahnya dengan catatan Gaji Bulan Ini.
Yuri tidak pernah menanyakan berapa dia dibayar, semuanya terserah Eris saja. Pekerjaan dalam toko cukup banyak, Yuri pun dipercaya untuk mengatur bubuk-bubuk sihir yang ada di ruang bawah tanah.
Tanpa tahu sistemnya, Yuri sama sekali tidak keberatan saat tahu gajinya berada dalam kotak kardus, orang tuanya lah yang sudah pasti akan terkejut.
"Eris, aku pulang dulu ya," kata Yuri sambil memakai jaketnya.
"Ingat kalau kamu bertemu wanita itu lagi jangan mendekat!" Kata Eris.
Yuri mengangguk sebelum pulang, dia teringat kakak laki-laki yang juga memperingatkannya. Dan menceritakannya pada Eris.
"Laki-laki? Dia bisa melihat asap itu dan memperingatkan kamu?" Tanya Eris berpikir.
"Iya, dia bilang kalau aku berada di dekatnya akan sangat berbahaya. Kenapa?" Tanya Yuri.
"Tidak apa-apa beberapa orang memang bisa melihatnya karena kekuatan spiritual mereka tinggi. Hati-hati," kata Eris kemudian membukakan pintu untuk Yuri.
Dalam rumahnya Yuri mengobrol dengan orang tuanya dan beberapa temannya datang. Mereka membicarakan mengenai tugas kuliah, meskipun Yuri bekerja dalam toko Eris tugasnya sebagai mahasiswa tidak pernah absen.
Kalau tidak ada pembeli, dia bisa menggunakan cermin Eris untuk mengikuti pelajaran di kampus. Lumayan serasa belajar privat. Ujian atau tugas tidak ada yang ketinggalan.
Pagi hari selanjutnya, Yuri bersiap-siap untuk berangkat kerja. Tugas kuliah sudah dia serahkan pada teman-temannya karena kampusnya membebaskan kerja sambilan, jadi aman.
"Yuri, bawa makanan ini untuk teman kamu di toko ya. Kalian makan bersama," kata Ibunya yang sudah menyiapkan banyaaaaaak makanan.
"WAAAAAAH! Mama masak sebanyak ini? Ada acara apa?" Tanya Yuri yang mengambil satu atau 3 makanan.
"Ingin saja karena berkat teman kamu, Mama bisa menebus semuanya," kata Mamanya sambil tersenyum dan memasukkan semuanya ke dalam tas besar Yuri.
"Ah, Mama. Mereka pasti senang terutama Arae," kata Yuri yang membawa tasnya. "Aku pergi ya!" Teriak Yuri melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Salam untuk mereka semua ya," kata Mamanya juga membalas lambaian tangan anaknya.
Setelah Yuri pergi, Mamanya melanjutkan membersihkan dapur dan rumah sederhana mereka. Semenjak peristiwa Yuri yang hampir tidak bisa kembali, segalanya berubah.
Saat Mamanya hendak mengepel lantai, dia melihat kotak kardus sedang berada di samping pintu. "Kardus apa ini? Sejak kapan ada disini?" Tanyanya lalu menyimpan pel nya.
Saat diperiksa terdapat tulisan "Untuk Mama" dan "Gaji bulan ini". Mamanya mengerti tapi... kenapa harus kardus?
Papanya yang mengenakan baju santai memandang istrinya keheranan. Semenjak peristiwa itu pula, Papa Yuri diberhentikan dari pekerjaannya.
"Apa itu, Ma?" Tanya Papanya sambil duduk.
"Entahlah. Mama menemukannya di samping pintu," kata Mamanya berusaha membuka kardus itu.
"Coba sini," kata suaminya mengambil kardus itu. "Gaji?" Tanyanya menatap istrinya.
Mama mengangkat bahunya. Papa lalu mengambil pisau dan membukanya. Berisi bungkusan plastik cokelat lalu mereka buka.
"YA AMPUN!!" Teriak keduanya.
"Yuri, dia bekerja sebagai apa sih? Gajinya sebanyak ini?" Tanya Papanya yang memegang 4 tumpuk uang.
"Katanya toko itu isinya ajaib. Entahlah yang penting bukan uang haram kan. Papa bisa buka toko seperti yang dulu dicita-citakan," kata Mama.
"Tapi ini kan uang Yuri," kata Papanya tidak tega.
Istrinya memberikan secarik kertas bertuliskan "Untuk Papa dan Mama". Papanya menangis, ternyata Yuri selalu kepikiran mengenai Papanya.
Di tempat lain, Yuri tengah bernyanyi dan melewati suatu toko. Saat hendak berbelok, tanpa sengaja dia melihat di seberang jalan. Wanita itu.
Lira keluar dari tempat toko Laundry Pakaian. Yuri langsung menahan langkahnya dan bermaksud bersembunyi.
"Ups! Hampir saja aku harus hati-hati jangan sampai..." kata Yuri yang mulai berjalan mundur.
Lira melihat Yuri, dia ingat itu adalah anak yang tiba-tiba batuk di hadapannya. "Hei, kamu kan yang kemarin sakit, apa sudah tidak apa-apa?" Tanya Lira dari kejauhan.
__ADS_1
"Aku sudah tidak apa," seru Yuri kepadanya. Mau sembunyi akhirnya malah ketahuan.
Sesaat Lira termenung dan menatap toko dimana dia bekerja sesungguhnya, lalu terpikirkan suatu ide. "Tunggu disana," katanya.
Yuri bimbang dia tidak mau lagi merasakan lehernya tercekik asap darinya dan memutuskan lari seedan-edannya
Lira yang sudah menyeberang dan agak berlari, mencari keberadaan Yuri setelah agak lama dia mencari dan tidak ketemu, Lira menggigit jarinya.
Dia kembali lagi ke toko Laundry itu tapi tidak masuk hanya mondar mandir gelisah di depannya. Yuri yang sebenarnya langsung sembunyi menatapnya dari kejauhan.
"Hah? Jadi dia bekerja di sana sebenarnya? Jangan-jangan kalau aku menunggu kedatangannya akan diancam sama dia," kata Yuri merinding.
Di seberang tempat Lira berdiri yakin bahwa dia dengan jelas melihat Yuri. Dan menjadi agak gelisah karena sudah pasti Yuri melihat sendiri dimana dia bekerja.
"Anak itu melihat aku keluar dari tempatku bekerja kalau dia menyebarkan semuanya, hancur aku! Aku harus temukan anak itu dan bagaimanapun caranya membuat dirinya tidak banyak bicara," kata Lira kemudian menghubungi teman-temannya.
Sejak Lira terus datang menemui Eris, ketiga teman anggota penipuannya secara mendadak pada hilang. Bukan diculik atau dibunuh Eris, tapi mereka ketakutan setelah melihat keadaan Lira.
Lira sama sekali tidak tahu hal itu kalau mereka sebenarnya sudah saling berpencar satu sama lain. Tentu saja Arae tahu dan berpura-pura menjadi salah satu teman Lira.
"Ada apa, Lira?" Tanya Arae dengan suara laki-laki teman 2 Lira.
"Fred, cari anak perempuan yang aku pernah temui. Ini fotonya, cari nama, rumah dan semua mengenainya," kata Lira dengan gelisah.
"Lho, kenapa kamu ingin tahu info anak itu?" Tanya Arae.
"Dia tadi melihat aku keluar dari tempat bekerja yang asli! Kalau dia sampai menyebarkan, semua usaha kita akan hancur. Jelas?" Tanya Lira dengan suara marah, kesal, stres begitulah.
"Baik baik tenang saja. Nanti kalau sudah dapat, aku hubungi lagi ya," kata Arae lalu menutup telepon. "Berhasil," katanya menatap Eris.
"Yuri dalam bahaya jangan biarkan dia pulang cepat hari ini," kata Eris dengan wajah serius.
Arae tersenyum tidak biasanya Eris begitu mencemaskan Yuri, setidaknya rasa peduli kini tengah mendiami relung hati Eris.
Yuri masih berada di tempat persembunyiannya, dia melihat Lira masuk toko lalu keluar lagi dan pergi entah kemana.
__ADS_1
Bersambung...