Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
31


__ADS_3

Raven kemudian terbang dan bertanya pada teman-teman gagak nya. Mereka selalu mencium bau mayat tapi tidak bisa memasuki vila tersebut.


"Semuanya terpental begitu saja sampai ada yang terluka," kata gagal berjambul.


"Nona, aku mohon bertahanlah," pikir Raven menatap gerakan dalam vila.


Raven terbang menuju tempat dimana Ares dirawat serta kedua peserta lainnya. Dia berjaga saat Arae yang seharusnya berjaga.


Yuri tidur di samping Eris, sebelahnya ada Rio yang berjaga bergiliran dan membuat simpul.


Dalam mimpi Yuri, dia melihat rumah dalam keadaan siang hari. Dia penasaran rumah itu yang pernah mereka masuki namun saat itu gelap gulita.


Kini semuanya terlihat jelas. Peralatan makan dan semuanya tertata rapih dengan desain yang indah. Tiba-tiba dirinya merasa diseret oleh seseorang.


Dia sebisa mungkin melihat siapa, yang ternyata Yoshi menjambak kepalanya. Di sisinya Yuna yang tersenyum riang.


Yuri merinding, seringai Yuna tidak seperti manusia. Giginya bertaring seperti vampir. Yuri berteriak bahwa ini hanya mimpi.


Tidak tidak! Lepaskan! Aku mohon!


Keduanya hanya tertawa dan terus menyeretnya. Dia tahu yang sebenarnya tertidur di samping Eris, jadi mana mungkin dia bisa berada disini?


Yuna memerintahkan Yoshi untuk membius Yuri. Yoshi mematuhinya dan bergerak lalu mem bekam mulut Yuri. Namun anehnya, kepalanya masih bisa bergerak.


Ini pasti mimpi. Tapi kenapa te...ra...sa...


Seluruh tubuhnya lumpuh secara serentak. Yuri diletakkan di atas sebuah altar berbentuk bulat. Dia sempat melihat ada begitu banyak tong besar.


Tidak, dia tidak ingin berpikir ada sesuatu di dalam tong itu. Dia hanya ingin bangun, hanya itu! Eris! Ares! Suaranya tidak keluar.


Yuna tertawa mengerikan dengan membawa gergaji tajam dengan silauan kilat. Yoshi siap dengan alat bedah dan suntikan sesuatu.


Kalian mau apa!? HENTIKAN! Aku ingin hidup! Aku tidak mau mati!


Gergaji itu terasa sangat dingin menyentuh lehernya dan sesuatu memasuki nadi tangannya.


Gergaji menekan lehernya dan...


"KYAAAAAAAA!!!!" Teriak Yuri yang ternyata semua orang sudah bangun dan berada di sampingnya.


Eris yang wajahnya sangat cemas meneteskan air mata, menepuk wajah Yuri. Dia terbangun dan Eris memeluknya.


"E...r....is," kata Yuri sambil menangis.


"Yuri, syukurlah kamu melawan. Kalau kamu menyerah bisa jadi kamu mati dalam mimpi," kata Sisna yang menangis juga.


"Kamu dirasuki karena kamu terlalu lembut," kata Mila dengan mata yang sembab.


Yuri bernafas lega, dia yakin memang itu hanya mimpi. Yuri memeluk Eris yang juga cemas ketakutan.


Kedua tangan Yuri masih bergetar hebat kedua tangannya memegang leher. Mereka melihat ada semacam tanda merah melintang kemudian menghilang.


"Jadi itu..." kata Yuri berusaha bersuara.


"Pengalaman dari salah satu pelayan jadi kita semua tahu kalau memang mereka, tertahan lama di sini," jelas Mila dengan wajah yang sedih.


Yuri menangis ketakutan sambil memegang lehernya. Eris saat itu berpikir semuanya harus terselesaikan secepatnya.


"Ada gunanya juga tali mantra yang kamu buat, Mila," kata Iran bersyukur lega.


"Tentu saja. Kalau Yuri tidak memakainya mungkin dia sudah menjadi mayat tanpa kita ketahui. Dimana Chris dan Rio?" Tanya Mila mencari.


"Di sini," kata Rio yang baru menutup pintu.


Chris membawakan teh hangat dan Rio cemilan. Pasti tenaga Yuri berkurang saat melawan mimpi akan mereka berdua.


"Chris sudah melakukan pembersihan pada sang pelayan. Jadi kamu tidak perlu takut lagi," kata Eris.


Saat Eris merasa Yuri bermimpi buruk dan juga tidak bangun saat Eris menamparnya. Saat itulah telah terjadi sesuatu.


Eris melihat ada roh yang menempati tubuh Yuri, saat teriakannya membangunkan yang lain. Mereka berusaha sebisanya membangunkan Yuri.


Chris bahkan membacakan kitabnya serta Rio yang melawan bola api yang muncul. Mereka semua saling melindungi hingga Yuri tersadarkan.

__ADS_1


Yuri dengan mata yang sembab mengucapkan terima kasih pada pendeta dan biksu.


"Aku yakin tengah bermimpi, syukurlah aku masih bisa terbangun," kata Yuri menangis.


"Tenanglah, semua sudah baik-baik saja," kata Sisna menepuk lembut.


"Pelakunya memang Yoshi dan Yuna," kata Yuri terus menangis. Mereka semua terdiam.


"Apa kamu bisa ceritakan?" Tanya Sisna.


"Hei hei, apa kamu tidak merasa keterlaluan? Dia baru saja bermimpi buruk masa sudah ditanya bagaimana?" Tanya Rio.


"Mau bagaimana lagi, keadaan kita pun sudah di bawah krisis. Tenaga kita habis mengusir bola api. Ini satu-satunya harapan, semoga Yuri dalam mimpi mendapat petunjuk," kata Sisna.


"A-aku mengerti. Ti-tidak apa-apa. Aku juga merasa ini sudah semakin buruk," kata Yuri.


Yuri meminum teh hangat yang rasanya luar biasa. Chris tersenyum sebagai pendeta, Chris juga bisa membuat racikan teh.


Mila dan Sisna melafalkan doa sesuatu untuk menciptakan pelindung untuk Yuri, agar tidak mudah dirasuki lagi. Karena Yuri yang paling lemah di antara Rey, Iran dan Key.


"Menyedihkan ya ternyata sasaran mereka adalah irang-orang yang tidak memiliki kemampuan," kata Sisna.


"Setelah habis, tingkat perburuan naik dan orang-orang cenayang dihabisi," kata Rio.


"Kalau benar seleb itu yang membunuh semua penghuni termasuk pelayan, jangan-jangan darah segar mereka memang untuk membasuh tubuhnya?" Tanya Key menduga.


"Bisa jadi karena Yuri melihat Yuna seperti itu. Yoshi juga ada bukan? Yuri, apa kamu melihat sesuatu yang aneh pada Yoshi?" Tanya Mila.


"Hanya raut wajahnya seakan datar dan dingin seolah tidak ada jiwa yang hangat. Benar-benar seperti robot," kata Yuri.


"Orang itu juga jarang menampakkan batang hidungnya lagi. Sebenarnya dia masih hidup atau bagaimana?" Tanya Rio pada Chris.


Tidak ada yang bisa menjawabnya bahkan Eris.


"Yoshi juga tubuhnya basah oleh sesuatu tapi bukan darah. Aku yakin sebenarnya Yoshi terpaksa," kata Yuri.


Iran menenangkan Yuri dengan duduk di sisinya.


"Kalau begitu jelas sudah tampaknya Yuna mengikuti cara hidup vampir. Itu pemikiranku awalnya ternyata bukan," kata Rio.


"Kalau vampir kan seharusnya menghisap bukan memutilasi korban. Sampai memeras darah mereka," kata Eris yang kemudian terlintas sesuatu, menatap Rio.


"Tunggu kalau benar memeras korban. Bukan itu yang dilakukan oleh..." kata Mila menutup mulutnya.


"Elizabeth Bathory," ucap mereka semua bersamaan kecuali Yuri dan Iran.


"Ini bohong," kata Mila. Sisna dengan wajah yang pucat.


"Buktinya sudah ada dan banyak dan kita juga menemukan bau bangkai menyengat," kata Rio.


Eris sudah tahu isi gudang yang mereka tidak bisa masuki. Bertumpuk kerangka manusia yang rapih, kemungkinan Yoshi dan supir itu yang menghiasnya.


Sekitar ada ratusan manusia yang terbunuh dari tahun-tahun Yuna remaja. Mungkin orang tuanya pun sudah tahu dan tidak bisa berbuat apapun.


"Kenapa Elizabeth? Karena dia sangat ketakutan dirinya menjadi tua.


Karena itu dia sengaja menjebak gadis-gadis muda untuk bekerja di rumahnya.


Namun tanpa mereka ketahui, ada perangkap mengerikan yang menanti mereka," jelas Chris.


Yuri menangis bila memang benar begitu. Meski bukan seorang Ratu, tapi motifnya sama. Yuna membuat acara menantang maut untuk dirinya memangsa mereka.


"Darimana dia mendapatkan pengetahuan itu?" Tanya Yuri.


"Itu mudah didapatkan hanya dengan menggugah web," kata Rey.


"Kemungkinan dia pernah membaca suatu cerita atau mencari mengenai Usia Panjang.


Seperti vampir yang menghisap darah untuk memanjangkan usia atau nyawa.


Dia pasti berpikiran sama bila melakukan itu, tubuh dan wajahnya akan abadi.


Dia sudah menjadi terkenal kan pada masanya, hanya generasi sekarang karirnya meredup karena kehidupan masa lalunya terbongkar," kata Chris.

__ADS_1


Mereka semua setuju.


"Dia lalu memulai membuat banyak masalah dengan sengaja agar para pelayan bisa dihukum," kata Chris.


"Hukuman itu adalah mati," sambung Eris.


"Beritanya setelah darah memenuhi bak mandinya, Elizabeth masuk dan membasuh semua tubuhnya. Itu dia lakukan berkali-kali sampai akhirnya ketahuan dan dihukum mati," kata Rio.


"Yuna pasti mengikuti cara itu karena Elizabeth memang agak panjang usianya," kata Key.


"Motif utamanya ya, tapi ada yang lain. Menurutku Yuna sudah seorang psikopat sejak kecil. Dia senang menyerang orang dan membunuhnya, seakan itu menyenangkan," kata Mila merinding.


"Apakah tidak ada yang bisa menangkapnya?" Tanya Iran.


"Mereka tidak punya bukti. Yuna menyembunyikannya dengan rapi bahkan orang tuanya pun tidak tahu," kata Mila.


"Kelakuannya ketahuan saat remaja dan sekarang dia dikejar banyak media massa juga kepolisian," kata Sisna menunduk.


"Lalu.. dia bersembunyi di sini?" Tanya Yuri.


"Ini kan tanah milik orang tuanya, tidak heran dia lari kemari. Tidak ada yang tahu," kata Chris memandangi sekitarnya.


"Orang tuanya sendiri bagaimana? Apakah Yuna memang memiliki penyakit psikopat?" Tanya Yuri membuat mereka semua berpandangan.


"Bisa jadi orang tuanya sadar ada penyakit mengerikan pada Yuna dan... dia dikurung di rumah yang mereka terus renovasi," kata Eris.


Iran kemudian mencoba mencari tahu mengenai kenyataan mengerikan itu. Beberapa temannya pun ikut membantu, mereka menangis setelah unggahan video dari Rika.


"Aku dapat! Dengarlah," kata Iran dengan tangan gemetar.


"Katakan apa katanya," kata Rio mendengarkan.


"Aku mendapatkan info dari beberapa teman yang memang mengejar soal Yuna. Diketahui bahwa Yuna memang benar memiliki penyakit aneh.


Kelainan jiwa semenjak kecil di saat usianya memasuki empat tahun.


Dia pernah ketahuan mencopot kepala kupu-kupu, capung dan binatang kecil lainnya.


Namun disesali semua kerabat menganggapnya hanya perbuatan anak kecil pada umumnya.


Lalu di usia enam tahun, sepulang dari sekolah Yuna membawa baju berlumuran darah dengan senang.


Mengatakan bahwa dia baru saja memenangkan perburuan dalam permainan bersama teman lainnya," kata Iran memperlihatkan bukti baju.


Mereka histeris melihatnya dan bukti sebuah rambut dengan darah. Yuri enggan melihat dan Iran memeluknya.


"Mengerikan!" Kata Mila.


"Temanku mengatakan, saat ditanya dia mengatakan pada temannya akan lebih menyenangkan bila ketahuan persembunyian mereka, dia akan memenggal kepala.


Anak-anak menganggapnya sebagai candaan namun beberapa anak memandang senyuman Yuna yang menakutkan.


Saat satu ketahuan, di hadapan semua anak, dia memenggal dan dengan senang memperlihatkan kepala temannya.


Mereka berlari ketakutan meninggalkan Yuna lalu ya begitu.. dia pulang dan memperlihatkan bahwa dia menang," kata Iran.


"Apa keesokan harinya dia sekolah biasa?" Tanya Sisna.


"Iya. Dan dia mengejar anak kedua yang mengejeknya sebagai pembunuh.


Lalu dihujani banyak gunting dari setiap kelas. Orang tuanya mengetahui hal itu saat memeriksa, kepala sekolah dan lainnya tentu histeris.


Karena malu, mereka pun pindah," kata Iran memperlihatkan rumah yang ternyata mereka diami sekarang.


"Vila ini! Adalah tempat dia diasingkan bersama orang tuanya," kata Mila.


"Ya tidak heran. Keuntungan baginya juga," kata Eris menghela nafas.


"Dari kecil sudah ada bakat psikopat!" Kata Key.


"Beberapa tahun kemudian aksinya oun bisa dihentikan karena ayahnya mengajarinya dengan keras.


Yuna tumbuh menjadi gadis biasa yang baik dan penurut. Yuna tidak diijinkan keluar sampai usianya memasuki enam belas tahun.

__ADS_1


Vila yang kita diami adalah rumahnya yang dulu tapi tidak sebesar ini. Lihat rumahnya, sama dengan yang kita lihat di lorong gelap itu kan," kata Iran.


Bersambung ...


__ADS_2