
"Yang benar saja makhluk menjijikkan itu menjadi manusia," pikir Eris tidak suka.
"Eris, apa yang kamu rasakan?" Tanya Sisna tumben bertanya.
"Seperti?" Tanya Eris.
"Penampakannya mungkin karena kemampuan kita sama," kata Sisna meski agak malu sekali.
Eris menghela nafas. "Seperti itulah yang aku lihat. Aku tidak mengatakan wujudnya karena kalian pasti akan bertindak seperti anak bodoh tadi," kata Eris melirik Iran.
"Aku tidak mengerti kamu bilang awalnya kita jangan ada yang sendirian. Sekarang? Berdua saja bisa hilang. Bagaimana kamu akan menjawab itu?" Tanya Fuji.
"Dia bertambah kuat dan marah, karena pemikiran kita mampu menebak. Siapa dalang di balik ini semua," kata Eria.
Ya mana mungkin dia mengatakan telah menyerang markasnya. Sudah tentu mereka akan sangat penasaran siapa Eris sebenarnya.
"Siang hari lho dia bisa bergerak bebas yang awalnya hanya menampakkan saja. Apalagi sekarang mulai memasuki malam," kata Chris dengan serius.
"Kita harus bagaimana? Pintu ditutup palang?" Tanya Yuri.
Semua orang saling memberikan pendapat. Chris, Rio serta Dani berpikir cukup keras. Eris pun sama.
Bagi Eris keluar dari vila itu sangat mudah hanya dengan pintu dimensi. Tapi tidak mungkin itu ditunjukkan pada mereka.
"Menurutku, malam ini tidak akan ada penculikan karena sudah ada dua orang lain yang mati kan," kata Kay menghitung.
"Bagaimana kalau tim Ares dan Chris bersatu saja? Mungkin saja kalau banyak orang, zombie itu tidak berani datang," usul Dani.
"Hmmm masuk akal sih," kata yang lainnya. Hanya tim Ares yang jumlahnya masih utuh.
Malam pun tiba, mereka makan malam yang kedua sambil merencanakan sesuatu. Ketiadaan Ara dan Dio semakin membuat mereka waspada.
Yoshi pun tidak terlihat, benar apa kata Kay ada kemungkinan dia sedang sibuk memutilasi.
Malam semakin larut waktu menunjukkan pukul satu malam. Tim yang direncanakan bergabung dalam satu ruangan.
Yuri, Ares dan Eria berbagi kasur serta lainnya. Laki-laki di sesuaikan terdapat tiga bagian. Ares mendapat tengah karena paling aman.
Sani, Fuji serta Dani. Karena Dani nampak tidak aman, dia menyarankan tidur berenam saja.
"Tenang aku dan Ares di tengah sisanya ada yang di pinggir kan. Kita bergantian meronda," kata Dani.
Mereka memutuskan tidur di aula tamu yang luasnya mencukupi empat tim yang masih tersisa.
Eris tidak perlu tidur, dia membuat batasan dengan para laki-laki. Eris diberi kertas jimat oleh Mila dan Sisna.
Eris tidak butuh dia meletakkan kertas itu di punggung Yuri. Yang mereka tidak ketahui bahwasanya Sani, Rika dan Tora telah membuat janji.
Mereka semua tertidur termasuk Eris yang mau tak mau harus tidur juga. Dia telah memasang pagar pelindung.
Sang Otuber Sani, Rika dan Tora pun bangun bergiliran setelah meyakinkan, mereka semua lelap.
Sani keluar pintu ruangan dengan sangat hati-hati. Eris tentu tahu dan dia tidak akan berbuat apapun. Mungkin dengan ke kepo an manusia bisa membantunya.
"Aman?" Bisik Rika di luar.
Sani mengangguk dan menutup pintu lalu bernafas lega. Tora juga keluar dengan aman mereka ber tos tanpa suara.
"Kalian sudah siap kamera?" Tanya Sani.
"Sudah. Ayo kita agak menjauh dari ruangan ini," kata Rika mengajak.
Tidak jauh dari aula, mereka bernafas lega dan tertawa.
"Akting kalian bagus juga dari awal," kata Sani.
"Iya dong. Sayang Fuji terlalu penakut. Kita mau kemana? Cari ruangan yang seru," kata Tora berdandan rapi.
"Kita dari depan pintu saja yuk kita harus memberi salam pembukaan kan," kata Sani.
"Aku sudah buat judulnya Red House. Dan banyak penonton yang sudah menanti liputan kita," kata Rika dengan senang.
"Tampaknya Olive pernah ke suatu tempat, dia ceritakan hal itu pada Anita," kata Tora.
"Dan kamu mendengarnya. Bisa menjadi tempat kita Live," kata Sani senang sekali.
Mereka juga sudah menyiapkan senter yang cahayanya kuat. Cahaya mereka memantul ke beberapa area dinding, termasuk ke dalam area dimana Chris tidur.
Dia terbangun berpikir tadi melihat cahaya dan membuat Rio bertanya.
__ADS_1
Setelah memastikan ternyata dia hanya merasa salah lihat dan kembali tidur.
Di tempat lain, mereka bertiga mengobrol. Siaran mereka tentu sudah On, dan para penonton bertanya dimanakah mereka berada.
Rika memberitahukan lokasi itu dan mereka sangat tertarik. Sebagian penonton memberikan kabar bahwa lokasi itu tidak ada di dalam peta.
"Malam semuanya! Hari ini sesuai janji kami akan menayangkan Live secara langsung, dimana kami berada," kata Rika dengan antusias.
"Lokasinya tidak ada dalam peta"
"Kalian serius? Kabarnya banyak yang menghilang"
"Benarkah ada iblis di jaman Now?"
Banyak sekali komentar yang berurutan muncul membuat Rika semakin tertantang.
"Asli sih mengerikan tapi tempat ini memang jadi sarana penasaran. Tapi hati-hati tidak disarankan datang sendirian," kata Sani.
"Sudah ada empat orang yang menjadi korban. Mereka semua menghilang secara kasat mata. Yang pertama kami menemukannya diseret sesuatu," jelas Tora.
"Hentikan sikap sok!"
"Kalian ini senang mengantar nyawa sendiri ya,"
"Lebih baik kalian keluar secepatnya! Bukan Live,"
"Ya kami setengah gila demi rating! Kami di sini memang untuk menantang maut dan membuat konten," kata Rika dengan centil.
"Meskipun banyak peserta yang memutuskan keluar, tapi aku tidak akan melewatkannya! Mungkin saja kan kami menemukan petunjuk, mohon kalian juga memberikan komentar ya," kata Tora.
"Demi lima puluh juta! Gila sekali kan kita," kata Sani.
Mereka bertiga mengangkat ponsel kamera dan melakukan gaya sambil sengaja memperlihatkan lorong belakang.
"Apa kalian sudah melihat sesuatu? Lorong itu gelap sekali"
"Aku yakin saat kalian sibuk Live, monster itu akan muncul! Aku tidak sabar!"
Di dalam rumah kegelapan zombie tersenyum. Dia menanti ketiganya mengarah ke jalan dimana dia berada.
Mereka kembali dan berjalan menuju lorong yang paling gelap.
Banyak juga yang meminta nomor telepon Chris dan juga Sisna. Namun Rika, Sani dan Tora sama sekali tidak berminat.
"Kalian siap?" Tanya Tora. Mereka melihat lorong yang katanya sangat berbahaya.
Ponsel diarahkan, sangat gelap banyak komentar meminta mereka kembali saja.
"Wah parah! Gelap sekali. Siapkan senter!" Kata Sani.
Mereka bertiga melangkahkan kaki memasuki pe nyegel yang Eris ciptakan dan tentu saja langsung aktif.
Eris tersentak bangun dan merasakan tanda bahaya. Ares berbalik dan melihat Eris melayang dengan wajah yang waspada.
"Eris, apa yang..." kata Ares.
"Ada yang memasuki wilayah terlarang," kata Eris.
Sontak Ares membangunkan yang lainnya. Yuri juga terbangun, mereka semua ketakutan. Para laki-laki mulai memeriksa.
Di sisi lain Arae sudah tentu langsung tahu kehadiran Sani, Rika dan Tora.
"Mereka manusia yang sama sekali tidak punya rasa takut. Hanya demi konten, mereka menyerahkan nyawa," kata Arae melayang di tengah jendela.
Eris muncul di sisi Arae dalam bentuk transparan.
"Bila waktunya berbahaya keluarkan mereka dari sana dan buat tidur," kata Eria kemudian lenyap.
"Baru kali ini mendapatkan kasus yang mengerikan," kata Arae terbang menuju vila.
Ruangan lain pun sama, semua tim terbangun dan memeriksa. Tora dan Rika tidak ada di tempat tidur. Mereka beramai-ramai melaporkan.
Ah ya ruangan mereka dibuat menjadi dua karena tim empat agak risih kalau harus tidur bersamaan.
"Dani tidak ada," lapor Fuji dengan wajah pucat.
"Hahhh dasar pembuat masalah," kata Rio bangun.
"Permisi," kata Rey sambil melihat ke sekeliling.
__ADS_1
"Ada yang hilang pasti," kata Eris.
"Ya. Rika dan Tora tidak ada. Kalian?" Tanya Rey.
"Sani," jawab semuanya.
"Mereka bertiga ternyata Otuber ya. Mereka melakukan Live Streaming," kata Mila memperlihatkan buku jadwal Sani.
"Aku juga tapi aku menolak," kata Fuji.
"Bagaimana ini? Kalau dibiarkan..." kata Kay cemas.
"Kalian semua masuk ke sini dan tidur bersama. Aku akan mencari mereka," kata Chris yang bangun dan berganti baju dan membawa kitab.
"Tapi, Chris..." kata Mila agak keberatan.
"Jangan sampai kalian semua ikut. Rio, Mila dan Sisna buat jimat pelindung dan buat pelindung di lantai. Jangan sampai ada yang keluar," kata Chris membuat garis putih di samping pintu.
"Kami akan tunggu kalian di sini, tidak akan kami buka," kata Sisna ketakutan.
"Jaga lampunya," kata Eris.
Eris, Ares, Chris, Dani, Kei dan Iran bergegas berlari mencari ketiganya. Masing-masing telah diberikan jimat.
Mereka menyalakan senter dan juga memasang masker karena bau dari lorong tersebut pasti tercium hebat.
Mereka sudah siap kemungkinan paling buruk. Rio menyusul karena berpikir tidak mungkin hanya Chris dan Eris yang mampu.
"Rio!" Teriak Chris senang.
"Hehehe maaf aku berubah pikiran. Mereka bertiga sangat keterlaluan membuat siaran langsung di kondisi genting," kata Rio.
"Ares, jangan terlalu maju. Ingat kamu hanya manusia biasa," kata Eris.
Ares mengangguk.
"Mereka ada di lorong itu!" Kata Eris dengan nada waspada.
Saat mereka menyadari tanda bahaya, mereka sudah memasuki jalan setapak menuju rumah.
"Hei, kok bau sekali sih?" Tanya Tora menutup hidungnya.
"Perasaan pertama kemari tidak bau begini," kata Sani.
Mereka menyoroti kamera ke depan terlihat jalan setapak dan sebuah rumah. Dan ada sesuatu di tengah.
Para penonton memberitahukan bahwa tampaknya mereka memasuki area yang memang berbahaya. Tanpa mereka sadari, beberapa penonton menangkap sosok aneh itu.
"Seakan-akan... lorong ini dipenuhi darah atau mayat busuk," kata Rika yang mual.
"Kembali! Jangan kesana!"
"Ada sesuatu di depan kalian. Hei, aku rasa siaran ini akan menjadi hari terakhir mereka"
"Kalian gila! Kembalilah cepat! Sebelum terlambat"
Mila yang memberikan komentar tersebut karena dia pun melihat sekelebat makhluk yang mengerikan.
"Hahaha kak Mila ternyata menonton juga. Ayolah, makhluk itu harus jelas kami tangkap," kata Rika.
"Kami tidak mau ya diremehkan sebagai manusia biasa yang tidak punya kekuatan," kata Sani.
"Apapun yang kalian lihat, bertahan dan lari. Bantuan menuju arah kalian!"
"Hei, serius? Mila sang Miko dari Arien?"
"Ini serius! Aku pikir lebih baik kalian kembali saja dan sudahi acara ini,"
"Kalian hentikan. Kita harus selidiki ada apa di sini," kata Sani.
Dia menyorotkan kamera dengan infra merah dan mendapatkan sebuah gambar. Langkahnya terhenti sambil menarik Rika.
"Berhenti," kata Sani membuat Tora berbalik.
Tora berada di depan Rika, sedangkan Rika di tengah. Dia juga berbalik karena jaketnya di tarik Sani.
"Ada apa? Kamu melihat sesuatu?" Tanya mereka berdua.
Bersambung ...
__ADS_1