
"Lalu bagaimana ini? Berarti aku juga?" Tanya Yuri ketakutan.
Tiba-tiba lampu ruangan kedap kedip begitu juga semacam ada gempa, semua lemari berderet dan buku-buku berjatuhan.
"Lapsound lagi?" Tanya Yuri menatap semuanya.
Iran menangkap Yuri supaya tidak terjatuh atau terbentur. Eris waspada, kedua tangannya siap dengan sihirnya.
"Berpegangan semuanya! Jangan sampai terlepas!" Teriak Mila.
Suara gemuruh sangat keras mereka semua terpelanting, entah ada apa saat itu. Mila, Eris, Chris dan Rio membuat pelindung dengan Sisna yang melafalkan sesuatu.
Suatu energi terbentuk mengelilingi mereka semua dan serentak suara gempa itu pun terhenti.
Tidak ada barang yang berjatuhan seperti yang mereka lihat tadi. Aneh sekali! Lampu kembali normal, semua histeris dinding ruangan dipenuhi tulisan warna merah dan hitam.
"Jangan ada yang keluar dari lingkaran," kata Eris dengan suara yang tegang.
"Eris!" Teriak Yuri melihat majikannya keluar dari lingkaran itu.
Eris mencoba memegang tulisan yang ternyata masih baru. Bukan tinta karena bau itu... darah.
"Ini darah dan masih segar," kata Eris memandangi Yuri.
"Tidak tidak," kata Mila.
"Darah siapakah?" Tanya Rey.
Mereka semua terdiam, tahu siapa pemilik darah.
"Tulisannya," kata Iran menunjuk.
"Pergi! Secepatnya dari rumah terkutuk!"
"Mereka akan menghabisi kalian!"
"Apakah Panca atau yang lainnya?" Tanya Mila berkeliling menatap semua tulisan yang berbeda.
"Bukan. Ini para pelayan," kata Eris.
"Aku yakin yang menulis di kertas sebagian juga sebenarnya mereka. Mereka berusaha berkomunikasi dengan kita," kata Sisna.
"Ya aku rasa begitu," kata Chris setuju.
Sisna senang sekali pendapatnya sama dengan Chris. Chris mengeluarkan api suci dan menuangkannya ke luar lingkaran.
Sisna juga mencoba keluar dan kakinya seperti tersengat sesuatu yang panas. "Aw!" Jeritnya.
"Aku sudah bilang jangan keluar. Air suci dan pelindung ini akan membakar siapapun yang berani masuk," jelas Eris.
"Tapi panas sekali," kata Sisna memegang kakinya.
"Kamu taruh apa?" Tanya Mila.
"Pelindung api siapapun yang masuk atau keluar akan terbakar. Apalagi kalau orang biasa," kata Eris.
"Aku menuangkan air suci yang berusaha masuk akan hancur. Jadi kamu lebih baik diam di dalamnya, Sisna. Sasaran mereka orang biasa," kata Chris.
"Kamu juga orang biasa," kata Sisna membuat Chris senyum.
"Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi," kata Chris membuat Sisna diam.
"Mila, kamu tumben tidak protes," kata Sisna.
"Aku juga orang biasa. Miko yang tidak hebat dari mereka," bisik Mila duduk dengan tenang.
Sisna menatap perempuan yang lebih tua darinya, kedua matanya berubah datar. "Setiap ada kasus seperti ini kamulah yang lebih tidak berguna,"
"Hei!" Teriak Mila sebal ternyata mengasihani Sisna yang berusia 14 tahun, tidak membuatnya terlihat dewasa.
"Aku kecewa padamu. Rio sendiri?" Tanya Sisna yang menatap laki-laki berusia 25 tahun itu.
Rio menghela nafas dan mengangkat bahunya. "Aku juga sama apalah aku ini hanya seorang biksu nakal yang kekuatannya jauh di bawah dengan mereka berdua,"
Sisna kesal tidak Mila tidak juga Rio semua sama! Sisna terduduk menatap Chris dan Eris yang berkolaborasi.
Ya dirinya juga hanya orang biasa akhirnya memilih hanya duduk dan menunggu. Hanya cenayang yang melihat penampakan dan sesuatu di masa lalu.
Iran memiliki kesempatan untuk lebih mengenal Yuri, begitu juga dengan Rey. Mereka mengobrol bilamana selamat dari kurungan rumah.
__ADS_1
Mereka semua mendengar suara langkah yang tengah berlari ke arah ruangan. Chris dan Rio melafalkan mantra, segel pelindung pun lenyap.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Yoshi yang terlihat tidak begitu lelah.
Mereka merasa aneh kenapa ekspresi Yoshi berubah-ubah. Tadinya tidak ada ekspresi, lalu berubah cemas, nantinya akan kembali datar dan dingin.
"Kemana para pelayan?" Tanya Rey mencari.
"Ah, mereka juga panik di dapur," kata Yoshi tanpa ekspresi.
"Benarkah?" Tanya Rio yang sudah tahu.
Yoshi memandangi dinding, ternyata sampai kamar dan lainnya juga terdapat tulisan. Dia kebingungan bagaimana ini bisa terjadi.
"Tampaknya dia tidak tahu," bisik Chris pada Eris.
"Aku kira pelaku sudah membunuhnya tapi mungkin dia masih memiliki tugas lain," kata Eris.
"Menurut Anda kenapa ini bisa terjadi ya?" Tanya Sisna menatapnya.
"Ah saya kurang tahu karena di ruangan kerja kami pun semua dinding penuh tulisan," kata Yoshi memegang tulisan itu.
"Ngomong-ngomong ada berapa banyak roh sih dalam vila ini?" Tanya Rio menatap ke semua dinding.
Yoshi terdiam mendengarnya tentu dia tahu. Tulisan itu berbeda jenisnya ada juga tulisan Cina atau Jepang.
Chris berpikir dan memandangi Sisna yang sedang kesal. "Sisna, apa kamu bisa melakukan pemanggilan arwah?"
Sisna yang terkejut langsung menoleh, "Mu-mungkin. Kamu tidak?" Tanya Sisna yang senang ditanya.
"Aku bisa saja tapi tenagaku juga berkurang banyak akibat kejadian tadi," kata Chris. Dia melawan bola api yang menyerang Iran dan Rey.
Semenjak kejadian yang sudah lalu membuat Key terus berdiam diri, dia tidak mau berbicara banyak lagi. Saat Iran dan Rey diserang pun, Key memilih untuk diam.
"Baiklah, aku bisa. Aku sisa satu-satunya yang belum melakukan apapun," kata Sisna.
"Key, tenanglah kita pasti selamat," kata Rey menenangkan teman barunya.
Key mengangguk meski dia tidak kebagian kelompok tentu saja dia masuk ke dalam tim. Bicaranya tidak arogan, dia sadar semua bicaranya akan termakan oleh Karma.
"Sisna akan seperti kerasukan?" Tanya Yuri.
"Iya seperti itulah. Itulah yang disebut cenayang atau medium. Kami jarang melihat dia melakukan pemanggilan," kata Rio menatap Sisna.
"Apa dia tidak akan merasakan ketakutan ketika melakukannya?" Tanya Yuri cemas.
"Yuri, dia mengaku sebagai cenayang pro kalau memang seperti itu, inilah saatnya dia menunjukkan kemampuannya," kata Mila senyum.
"Kalau tidak mampu, biar aku saja," kata Eris melipatkan kedua tangannya.
"TIDAK! aku bisa! Aku akan melakukannya, Chris," kata Sisna dengan mantap.
"Baik, kita akan siapkan semuanya. Tidak apa kan, Yoshi?" Tanya Chris memandang tajam.
"Iya," jawab Yoshi dengan pelan kemudian pergi. Rasanya gelisah kenapa mendadak semua tulisan ini muncul.
Di sebuah tempat Yoshi tampak menghubungi Yuna namun tidak ada jawaban. Dia tutup dan merenung apa yang harus dia lakukan.
Sisna bersiap-siap dalam ruangan itu semuanya siaga. Eris memasang kembali pelindung dimensi yang tidak bisa dilihat oleh siapapun, termasuk Chris.
"Chris, aku tidak bisa memanggil yang sudah lama meninggal," kata Sisna.
"Lalu kamu bisa memanggil yang mana?" Tanya Chris.
"Yang baru-baru ini tapi aku tidak yakin siapa yang akan datang," kata Sisna.
"Usahakan saja Panca atau Fuji," kata Chris mempercayakan pada Sisna.
Sisna mulai melakukan upacara pemanggilan arwah. Dan suasana pun menjadi agak dingin, suhunya turun.
"Rio, memangnya berbeda pemanggilan arwah yang akan dilakukan oleh Sisna?" Tanya Iran.
"Iya juga ya kamu baru tahu kan. Pemanggilan arwah itu ada dua jalan sih karena Sisna ada keturunan Jepang juga, mungkin dia akan melakukan Kuchiyose.
Seperti kata Yuri kerasukan atau disebut Tamayobai. Memanggil roh untuk datang," jelas Rio.
"Lalu yang dilakukan oleh Sisna sekarang yakin Kuchiyose?" Tanya Yuri.
"Kalau kata aku ya itu," kata Milla.
__ADS_1
"Dengan cara mengumpulkan data seperti tadi, disebut Shuukon bukan?" Tanya Eris memperhatikan beberapa biodata yang sudah meninggal.
Rio dan Mila mengangguk.
"Entah cara mana yang akan dia gunakan saat ini dengan arahan Chris pasti bisa," kata Rio.
Sebelumnya Mila sudah menempelkan beberapa kertas mantra pelindung takutnya ada sesuatu yang masuk.
Sisna bersiul dan dentingan keluar, suara yang lembut disertai asap yang lama kelamaan membentuk seseorang.
Tentu saja Sisna tidak dapat memanggilnya kalau bukan Eris yang melepaskan roh tersebut. Entah siapa, Eris hanya tersenyum.
Sani muncul sambil menangis, semuanya tentu kaget dan berduka. Jadi Sani pun sudah tidak ada.
"Chris, waktunya sempit," kata Sisna yang berkata sambil menutup kedua matanya.
"Tidak apa. Aku hanya akan bertanya saja," kata Chris berdiri. "Sani?"
Sani membuka tangannya menatap Chris kemudian mengangguk. Yuri merasa kasihan, begitu juga dengan yang lainnya.
Pendeta
"Kamu tahu kalau dalam vila ini nasih tersisa kami?" Tanya Chris dengan wajah sendu.
Iya tahu. Yang lainnya jangan-jangan...
"Mungkin sudah tidak ada. Ada yang selamat kan? Kamu tahu siapa?" Tanya Chris.
Yogi dan Fuji. Syukurlah mereka berdua berhasil diselamatkan.
"Kamu sadar kalau sudah mati? Bisa ceritakan yang terjadi saat di perjalanan semampu kamu?" Tanya Chris.
Sani mengangguk, mengetahui waktunya tidak lama lagi.
Saat kami pergi dengan bis, di pertengahan jalan tiba-tiba kami diserang oleh monster.
Supir membanting setir, aku terhimpit dan Rika sudah diseret oleh monster itu.
Aku tahu, aku pun tidak ada harapan karena itu, aku mendorong mereka berdua untuk jatuh.
Benar saja monster itu langsung menarik ku dan menebas tanpa ampun.Aku berharap kalian bisa datang, siapapun!
"Kamu yakin itu monster yang ada dalam vila ini?" Tanya Mila.
Iya, aku yakin. Anehnya dia bisa berbicara dengan aku. Dia mengatakan siapa dirinya, aku tidak percaya mendengar namanya.
Aku katakan sangat mengaguminya dan dia berkata, 'Aku senang mangsaku adalah penggemarku.', Dan semuanya gelap. A...k...u....
"Chris, sudah waktunya!" Kata Sisna menahan. Eris tahu sudan waktunya bola arwah Sani menghilang.
Y...u...na
Sisna habis tenaga dan terjatuh ke samping. Mila dengan sigap langsung menahannya.
"Na?" Tanya Key.
"Apa jangan-jangan Yuna? Sani kan memang fanatik dengan dia," kata Rio yang pernah melihat fotonya.
"Yu..na. Aku jelas mendengarnya," kata Eris berjalan ke tempat Sani berada. Dia memegang asap itu dan bola arwah terbang ke luar.
Lawan kali ini sepertinya manusia berwujud iblis tapi kenapa bisa? Eris termenung, kenapa sampai harus membunuh sebanyak ini?
Semuanya terdiam, Rio mengambilkan air minum dan Sisna istirahat dia sofa. Jam menunjuk pukul dua malam, tenaga mereka sudah habis.
Kegiatan itu berakhir begitu saja mereka pasrah bila saya tidur terjadi sesuatu. Namun tidak dengan Eris, dia masih bisa berjaga.
Di tempat lain yang gelap dan penuh bau bangkai dari mayat yang sudah membusuk. Yuna sang selebritis yang sudah kehilangan akalnya, menari-nari.
Dia membawa sebuah kepala dan membasuh tubuhnya dengan darah yang baru dia mutilasi.
Yoshi tampak senang sambil bertepuk tangan, di sampingnya tampak roh-roh yang memandangi sedih.
Teriakan tertahan ingin pergi namun tidak bisa. Jeratan tali rantai yang membelenggu leher dan kedua tangan. Mereka memohon pada Yoshi.
Para gagak berkumpul di sekitar vila termasuk Raven yang ber kaok memanggil Eris.
Arae kembali berpatroli namun dia kembali mabuk karena aroma darah yang terlalu pekat. Beberapa merpati dan gagak membawa Arae menuju toko.
"Pikirkan caranya supaya kita bisa memasuki vila itu," kata Arae dengan mata yang berputar-putar.
__ADS_1
"Tapi Nona, keadaan Anda saja begini. Kita membutuhkan bantuan yang lebih besar," kata Raven menghela nafas.
Bersambung ...