
"Jangan-jangan menurut kamu roh aku bertemu dengan Miu, itu termasuk ke Astral sesuatu? Hahaha jangan bercanda," kata Panji tertawa.
Sato menatap kawannya dengan tatapan serius. "Roh kamu meninggalkan tubuhmu dan bergerak bebas ke tempat Miu karena kamu selalu merindukannya. Tanpa terasa kamu terus melakukannya," jelasnya.
"Hei, Sato. Miu itu..." kata Panji yang berusaha menjelaskan keadaan.
"Di sekolahku ada murid pindahan bernama Miu Matsuragi," kata Sato menegaskan.
"Apa?" Tanya Panji tidak jelas. "Kamu bercanda kan? Sato," kata Panji menepuk pelan tangannya.
"MIU ITU BENAR-BENAR ADA! MULANYA AKU PUN TIDAK PERCAYA TAPI, ITU MIU!" Teriak Sato yang akhirnya gembira dan memegang bahu Panji.
Mendengar itu kedua tangan Panji bergetar dan dia menunduk seakan tidak percaya. Panji tidak bisa berkata apapun dan memegang selimutnya.
"Tidak, tidak. Miu itu hanya khayalanku, di dalam mimpi aku bisa bergerak bebas, bisa memeluknya. Bisa..." kata Panji berhenti berkata dan menundukkan wajahnya.
Masih dalam suasana mengharukan dan gembira, Sato terus bercerita. "Dia kemarin bercerita kalau kalian pertama bertemu di atas kapal putih saat dia menjemput Ayahnya kan?" Tanya Sato tersenyum.
"Itu..." kata Panji tidak bisa mengatakan apapun.
"Dia ceritakan itu kepada semua anggota klubnya dan kebetulan klub aku juga berada tepat di sebelahnya. Kamu mengambilkan topinya yang terjatuh ke laut kan, kamu juga menceritakan hal yang sama. Dia bilang nama laki-laki itu Panji Hermawan. Itu kan nama kamu," kata Sato.
Tidak dengan Panji, dia semakin erat memegang bajunya sendiri dan mulai agak pusing. "Ti-tidak," katanya dengan pelan.
"Kamu paham kan, Panji? Mungkin kamu tidak percaya tapi ini kenyataan! Kamu harus bergembira akhirnya bisa menemuinya," kata Sato menepuk bahunya agak iri.
"Sato," kata Panji yang enggan mendengarnya lagi.
"Entah keajaiban atau apa, aku telah bertemu dengan Miu yang nyata! Kamu paham kan? Itu bukan sekedar mimpi. Sekarang aku mengerti kenapa Miu yang kamu ceritakan seakan kebingungan. Karena kamu sebenarnya telah lama mencintai Miu di dunia nyata. Bergembiralah, kawan," kata Sato memegang kedua tangannya.
"Kenapa harus?" Tanya Panji memalingkan wajahnya. Ada raut wajah yang menyiratkan kekecewaan atau tepatnya ketakutan sayang Sato masih terbawa suasana kegembiraan.
"Sepanjang yang aku dengar, dia hanya mencintaimu. Besok aku akan ajak dia kemari, aku yakin kamu akan senang sekali setelah melihatnya," kata Sato dengan bangga.
Mendengarnya, jantungnya semakin sakit. Dia tahu pasti bila Miu benar datang akan sangat menyakitkannya. Entah langsung pergi meninggalkan Panji yang sudah menyayanginya atau... Miu menangis meraung-raung.
"Ja..." kata Panji yang mulai berkeringat.
"Apa?" Tanya Sato tidak jelas mendengar.
"Jangan!" Kata Panji menahan rasa sakit.
"Lho? Kenapa? Bukankah kamu... Panji?" Tanya Sato yang akhirnya menyadari sesuatu.
"TIDAK! AKU TIDAK INGIN BERTEMU DENGANNYA!" Teriak Panji sambil menangis.
"Panji," kata Sato yang akhirnya tersadarkan bahwa dirinya sudah cukup keterlaluan.
Sambil terengah-engah Panji masih berusaha bicara. "Sato, ja...jangan... bawa," kata Panji yang tiba-tiba pingsan.
"Pan.. PANJI!!!" Teriak Sato lalu memeriksa tubuhnya. Agak panas.
Karena panik, Sato memanggil ibu kawannya itu lalu mereka semua masuk ke dalam kamar Panji. Dokter telah dipanggil dan menyuruh ibunya untuk membawanya ke Rumah Sakit. Kondisinya menurun drastis, Sato hanya terdiam di luar rumah tatkala Panji dibawa pergi.
Malam itu Panji demam sangat tinggi, rumah Sato yang hanya berjarak 2 rumah, masih menatap lampu rumah Panji yang masih menyala sampai keesokan harinya.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu tanpa ada kabar dari rumah Panji. Sato ke sana tapi rumahnya terkunci rapat dan menuju sekolah. Ibu Sato yang menanyakan kabarnya mendengar bahwa Panji masih demam tinggi lalu menangis.
Di sekolah, Sato terus murung, teman-teman menyemangatinya kabar soal Panji sudah tentu mereka pun dengar. Saat itu Miu belum datang lagipula Miu pun pasti beranggapan nama Panji itu banyak.
Saat pulang sekolah, langkahnya gontai menuju klub. Saat rapat pun apa yang ketuanya katakan tidak bisa dia dengar. Pikirannya hanya kepada Panji seorang karena dia merasa sangat bersalah.
Sato lalu meminta ijin menuju toilet dan keluar ruangan. Secara tidak sengaja dia mendengar beberapa pembicaraan dalam ruang klub Miu.
"Mungkin yang bernama Panji itu memang hanya imajinasi dalam mimpi saja," kata A.
"Tidak kok! Dia benar-benar ada," kata Miu yang tampak tidak setuju.
"Apa yang mereka bicarakan?" Pikir Sato yang bersembunyi.
"Ada apa sih ini?" Tanya Anggota lain.
"Pangerannya Miu sudah beberapa hari ini tidak muncul," kata C.
Mereka semua menggelengkan kepalanya. "Ya ampun! Hanya karena itu saja? Sadarlah Miu kamu terlalu lebay," kata yang lainnya menghela nafas.
Miu tidak perduli dia memang sedang menangis. "Habisnya selama ini tidak pernah begini biar tengah malam, menjelang sore, sampai shubuh pun tidak ada aturan kapan dia muncul. Tapi belum pernah tidak muncul sampai beberapa hari begini," kata Miu yang masih menangis.
Yang lainnya agak jenuh mendengar kisah Miu setiap waktunya Klub.
"Lebay sekali cerita kamu, mimpi disebut kenyataan. Sudah malas aku kalau harus masuk klub, lalu dengar kamu menceritakan kisah mimpi," kata A kemudian keluar diikuti sebagian anggota.
Sisanya saling berpandangan termasuk ketua Klub. Meskipun Miu baru bergabung tapi memang harus ada ketegasan.
"Sudahlah, Miu jangan menangis. Mungkin waktunya sudah dekat untuk kamu bisa ketemu dia," kata Ketua.
"Waktunya?" Tanya Miu berhenti menangis. Sadar beberapa anggota klub Kebun sudah memilih keluar, dia menjadi tidak enak.
Miu menyeka air matanya. "Iya ya betul juga. Maaf ya anggota klub jadi keluar gara-gara kisah aku," kata Miu meminta maaf.
Lalu Miu keluar ternyata para anggota sedang berdiri menunggu Miu selesai. Miu meminta maaf pada semuanya.
Suatu malam Sato dipanggil oleh ibunya Panji lewat telepon.
"Sato, kata ibunya Panji, Panji ingin bertemu denganmu. Cepat," kata Ibunya menghampiri Sato yang sedang melamun.
Dengan segera Sato berlari menuju rumahnya dam disambut sendu oleh semua keluarga. Sato berdebar ada perasaan jelek mengenai ini semua, dia memasuki kamar Panji.
Panji terbaring dalam kasurnya, wajah agak pucat dan Sato menangis saat itu juga. "Aku minta maaf! Aku lupa bagaimana keadaanmu" kata Sato memeluk sahabatnya itu.
Panji membelai kepalanya. "Hehehe ternyata jantungku memang bagai kaca ya. Sudah, tidak apa-apa alu mengerti," katanya tersenyum.
"Panji," kata Sato yang masih tersedu-sedu.
"Payah ya, karena begitu kesakitan jadi tidak bisa bermimpi. Pasti Miu cemas," kata Panji tertawa dengan lelah.
"Panji, Anu..." kata Sato ingin bertanya.
"Jangan katakan soal keadaanku pada Miu. Aku dengannya sangat sehat, saat bersamanya aku tidak perlu cemas mengenai kesakitan ku. Aku bisa berlari kemanapun aku suka, menaiki gunung seperti mimpi," kata Panji mengenang.
"Kamu pasti bisa! Aku selalu berdoa agar jantungmu sembuh," kata Sato dengan sedihnya.
__ADS_1
"Iya ya aku ingin sekali bisa pergi ke sekolah bersamamu. Berenang, berlari, apa saja. Kamu jangan kaget ya, aku bahkan bertengkar dengan preman yang mau mengganggu Miu. Karena itu bagiku mimpi, aku begitu kuat. Miu menyebutku Superman. Aku senang sekali, sungguh," kata Panji meneteskan air mata terakhirnya.
Sato memeluknya lagi, dia tidak mau memikirkan apapun meski tahu ini adalah kode akhir dari perjalanannya.
"Sato," kata Panji yang memeluk Sato.
"Apa?" Tanya Sato dengan suara lirih.
"Jangan sampai dia tahu bahwa Panji Hermawan yang sesungguhnya memiliki jantung kaca yang tidak bisa berbuat apa-apa," kata Panji memeluk erat kawannya.
"Jangan berkata begitu. Aku janji," kata Sato melepaskan pelukannya.
"Aku hanya laki-laki yang terbujur di tempat tidur. Aku tidak mau dia sampai tahu. Berjanjilah, jangan katakan apapun soal aku di hadapannya," kata Panji menatap sedih ke temannya itu.
"Aku berjanji. Pasti! Makanya jangan pergi! Hiduplah terus ya dan temui Miu lalu ceritakan kalian sedang apa saja," kata Sato menguatkan Panji.
"Dasar cengeng! Masih saja kamu menangis seperti ini. Alu berterima kasih pada Tuhan, bisa bertemu dan kenal kamu lalu Miu," kata Panji menerawang.
"Panji," kata Sato yang mulai merasakan tanda bahaya pada kawannya.
"Sato, tolong jaga Miu untukku ya. Hanya kamu satu-satunya yang aku tahi bisa lebih melindunginya. Lakukan itu untukku, kamu juga menyukainya bukan? Janji ya," kata Panji dengan suara yang perlahan mulai turun.
"Aku janji aku akan menjaganya demi kamu. Hei, bertahanlah aku mohon," kata Sato yang mulai menangis lagi dan memeluk kawannya. Sengaja mendengarkan detak jantungnya.
Panji memeluknya juga dan tertidur dalam keabadian. Semua keluarga sudah tahu bahwa waktunya hanya sampai malam ini saja dan menguatnya Sato.
"Sato terus berjuang meraih hati ku. Dia mencoba membuktikan dengan bertaruh denganku bahwa Panji tidak akan pernah kembali lagi. Bahwa pangeran impian itu telah pergi jauh dengan seorang putri yang sangat cantik. Dia membuatku menangis lalu... saat aku kuliah, Sato juga berada dalam satu kampus sampai akhirnya dia melamar ku. Aku tidak bisa berkata apapun dan terus menanti Panji. Aku hanya bisa berharap dengan sepenuh hati, tapi..." kata nenek Miu berbicara pada kabut putih.
"Mau sampai kapan kamu terus mengatakan mengenai mimpi? Sudah waktunya kamu menikah. Sato menunggumu dengan setia menurut kami dia sangat cocok menjadi pendamping mu. Sudahi perjuangan ilusi mu dan buatlah kami tenang," kata orang tuanya membujuk.
Waktu kemudian kembali semula, nenek Miu tengah berdiri dan menatap jam waktu itu yang telah berhenti berdetak, kembali ke arah jarum seperti awal. Nenek itu mencari Eris yang ternyata sedang meracik sesuatu.
"Ini...masih di dalam toko? Aneh sekali," ucapnya.
Yuri lalu mendatangi nenek itu. "Apa Anda akan memesan?" Tanyanya.
"Ah! Ya Tentu saja anu nak jam ini tadi membuat saya menjalani perjalanan yang mendebarkan," kata nenek itu menyerahkan jamnya pada Yuri.
"Tapi, Nek. Maaf jam ini sudah rusak jadi tidak mungkin bisa bergerak lagi," kata Yuri memperlihatkan sekrupnya tidak ada serta baterai.
"Apa? Tapi saya sendiri melihat jarum jamnya bergerak mundur dan... saya melihat diri saya di masa silam," jelasnya.
Yuri kebingungan begitu juga dengan sang nenek. Akhirnya sang nenek mengetahui bahwa toko ini bukan sekedar toko biasa lalu tersenyum.
"Tidak apa-apa Nak berkat jam ini saya bisa mengetahui sebuah kebenaran," katanya tertawa lalu duduk.
Yuri mengangguk. Nenek itu memesan sup ayam hangat beserta roti. Selesainya dia membayar dan tidur di dalam kamarnya dengan nyenyak.
Menjelang pagi, burung camar bersautan. Arae, Eris, Raven dan Yuri yang sudah kembali semangat untuk pulang. Nenek itu juga tengah bersiap untuk turun dihampirinya Eris.
"Nak, apa kamu akan pulang juga?" Tanyanya.
Eris menatap nenek itu. "Oya. Bagaimana perjalanan Anda?" Tanya Eris.
"Bagaimana... jam!" Kata Nenek itu teringat.
__ADS_1
"Jam pemundur waktu. Anda memiliki sesuatu yang ingin dibuktikan kebenarannya bukan? Meski agak menyakitkan," kata Eris dengan nada datarnya.
Nenek itu tersenyum kali ini dia bisa menerima suaminya setelah melihat masa lalunya dan kemudian pamit. Jam yang berada di tangannya kini pudar perlahan menjadi serpihan kilauan emas. Yuri menatap kagum. Tugas jam itu sudah berakhir.