
Akan ada takdirnya Eris pasti bertemu dengan Aiolos beserta para reinkarnasi dewa lainnya. Meskipun kini mereka semua terlahir dengan kepribadian yang berbeda. Sedikit lagi Eris akan mencapai pertumbuhan yang mereka kenal.
Bola-bola kehidupan berputar membentuk lingkaran, tampilan ketujuh pemuda tersebut lalu menghilang dan kembali menjadi cermin biasa.
Tiba-tiba angin hitam membukakan pintu tokonya dengan benturan keras. Bunga yang baru dia ambil dari kebun, berhamburan terbang. Saat Eris bermaksud menutupnya, datanglah roh perempuan yang masuk ke arahnya.
Eris terdiam menatap roh itu, tampaknya gadis itu pingsan. Gadis itu memakai seragam yang bukan dari dunianya. Eris lalu berjalan ke kamar yang ada di dalam tokonya. Gadis yang masih pingsan itu mengikuti Eris dan saat Eris membuka kamarnya, Roh gadis itu merebahkan dirinya di kasur.
Eris tidak bisa memikirkan kenapa roh gadis itu bisa datang ke tokonya kemungkinan dia mengalami suatu kecelakaan lalu rohnya terhisap entah ke dimensi mana.
Eris lalu meninggalkannya dan membawa nampan berisi secangkir teh harum dan juga kue cokelat. Eris menaruhnya di meja sebelah, lalu dia memasukkan tangan kanannya dan membuka jam saku pemberian Nenek.
Jam itu melayang lalu terbang menuju rak atas. Eris menunggu roh itu sadar sambil memperhatikannya. Rambutnya hitam panjang, dari model seragamnya kelihatannya dari negara Sakura. Wajahnya pucat, saat Eris memeriksa rohnya menolak energi Eris.
"Dia masih hidup sebenarnya," kata Eris lalu membuka buku sihir.
Beberapa jam kemudian, gadis itu menggerakkan sedikit tangan kirinya lalu mengeluh. Gadis itu terbangun sambil memegang kepalanya dan kemudian melihat sekelilingnya lalu melihat Eris.
"Permisi, ini dimana? Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya gadis itu kebingungan.
Eris melihat gadis itu tampaknya tidak sadar kalau dirinya sekarang berupa roh dan tersesat ke dalam dimensi lain.
"Ini dimana kau berada," jawab Eris dengan dingin. Eris lalu berdiri dan keluar kamar. Gadis itu bangun lalu menyusulnya.
"Tunggu! Ini berbeda dengan tempat aku berasal. Ini dimana? Kamar?" Tanyanya lagi sambil terus mengikuti Eris.
"Kalau tempat, kamu masuk tiba-tiba ke dalam tokoku. Kalau penjelasan lainnya, kamu masuk dan tersesat ke dalam dimensi," kata Eris menunjuk ke jendela.
Gadis itu berlari menuju jendela dan membukanya, angin hitam berseru memainkan rambutnya, yang dia lihat hanyalah ruangan yang seperti angkasa dengan bintang-bintang yang beterbangan secara spiral.
__ADS_1
Dia terpesona namun tersadar dirinya bukan berada di tempat seharusnya. "Kenapa..." katanya.
"Kamu... sepertinya tersesat meski aku tidak tahu ada apa denganmu. Aku juga tidak tahu dari gerbang mana kamu masuk saat ini, tokoku sedang dalam perjalanan menuju dimensi lain juga," kata Eris berpikir.
Kedatangannya diluar dugaannya untuk menariknya pun tidak mungkin karena waktunya belum datang.
Gadis itu menangis, ketakutan iya, ingin pulang juga dia takut melihat aliran deras dari dimensi. Lalu teringat sesuatu.
"Gerbang? Ah! Iya ya sepulang sekolah aku datang menuju sebuah taman lalu ada suatu peristiwa yang indah. Di atas langit ada hujan meteor dan saat itu secara tidak sadar, aku mengungkapkan keinginanku untuk sesaat saja menghilang dari aku berada. Lalu entah kenapa kepalaku pusing sekali," kata gadis itu mengingat-ingat.
Eris lalu menghampiri bola kristalnya dan mencocokkan cerita gadis itu. Ternyata kepalanya yang pusing tiba-tiba itu karena dirinya tertabrak truk yang oleng.
Eris tidak menceritakannya sudah pasti gadis itu akan syok sekali. Dia mengaburkan semuanya dan mencari cara untuk mengembalikannya ke dunia asalnya.
"Bukan karena permintaanmu. Itu semua adalah takdir," kata Eris menatap gadis itu.
"Kamu ini sebenarnya siapa? Dan rumah ini," katanya masih menangis.
Lalu dimensi lain tiba, toko pintu terbuka dan memperlihatkan pemandangan yang sangat indah. Gadis itu terpana dan berjalan menuju pintu.
"Kamu bisa keluar kalau mau," kata Eris.
Gadis itu mencoba melangkahkan kaki saat keluar ternyata dia berada di dalam toko di belakang lemari. Eris pun mengerti.
"Kenapa aku tidak bisa keluar?" Tanyanya menatap dirinya sendiri.
"Tampaknya kamu melompati ruang waktu dan melebihi dari beberapa tahun yang akan datang. Dunia ini memang terlihat sama tapi sebenarnya berbeda, para dewa yang aku kenal, di dunia ini pun berbeda. Keberadaan negaramu bisa jadi berbeda masa dengan dunia ini," kata Eris.
"Bohong! Kamu pasti bohong! Mana mungkin berbeda dimensi? Aku harus cari tahu sendiri!" Katanya dengan mantap.
__ADS_1
"Kemarilah," kata Eris mengajaknya ke kamar yang terdapat bola kristal.
Gadis itu termenung, kamar orang yang ada di hadapannya pastilah sangat sengsara karena tidak ada apapun selain kursi dan bola kristal.
"Kamarmu?" Tanya gadis itu.
"Ya. Aku mencari tahu dimana kamu tinggal. Ini kan?" Tanya Eris menunjukkan tempatnya dalam bola.
Rumah besar tradisional Jepang khas Jepang. Dengan taman yang sangat indah penuh dengan bebatuan.
"Iya! Itu rumahku! Berarti aku hanya tinggal pergi ke sana saja kan?" Tanyanya dengan gembira.
Eris menunjukkan sesuatu padanya sebuah foto keluarga dan gadis itu tidak ada di dalamnya.
"Ini dimensi lain," kata Eris. "Kamu berharap sesuatu yang berbahaya. Tepat saat kamu mengalami kecelakaan," kata Eris.
Gadis itu lalu terduduk di lantai dan menceritakan sesuatu. semuanya.
"Harapanku yang menghilang itu mungkin memang jadi kenyataan. Kehidupan remajaku tidak sepenuhnya bahagia. Orang tuaku sangat membanggakan prestasi dan gelar. Saat aku mulai duduk di sekolah dasar, terutama ibu aku selalu menyuruhku untuk terus belajar agar selalu peringkat 1," kata gadis itu.
Eris berdiri dan terus mendengarkan keluhannya.
"Awalnya aku menerima dan bersemangat tetapi lama kelamaan aku baru sadar. Diantara teman-teman hanya aku sendiri yang terus mengejar peringkat tinggi dan menyadari tidak ada teman dekat yang bisa membuatku banyak bercerita," katanya menyeka air matanya.
Eris memberikan tisu dan gadis itu tersenyum. "Saat tersadar semua sudah terlambat. Bahkan lelaki yang menyukaiku pun, langsung melangkah mundur setelah dinasehati macam-macam oleh Ibu. Ayah sadar melihatku sangat tertekan dan menghentikan usaha penekanan ibuku," katanya.
"Aku yakin Ibumu tidak mengerti. Dia hanya tidak ingin malu di hadapan temannya," kata Eris.
Gadis itu mengangguk. "Ibu sama sekali tidak mau mendengar apa kata Ayah. Dia tidak menyerah dan berkata kalau itu semua baik untukku. Bahkan Ibu semakin ketat memberikan peraturan sampai hari itu... Sepulang sekolah setelah les, malam harinya memang aku sengaja pergi ke sebuah taman dan melihat meteor. Dan... mengucapkan harapan itu," katanya menunduk.
__ADS_1
Bersambung ...