
Tiba-tiba Emi keluar dari dalam tubuhnya dan bersorak senang namun saat hendak terbang, dirinya tersedot kembali.
Dokter dan suster kembali tenang namun tidak dengan Nana yang harus kembali bersabar. Dia lalu memeriksa semua tempat saat dokter dan suster tidak ada.
"Sedang apa?" Tanya Taro berbisik.
"Sssst, Emi masih belum sadar. Kita harus secepatnya menemukan kunci itu," kata Nana menempelkan jari telunjuk di mulutnya.
Taro mengerti, mereka berdua menatap Emi yang belum sadar. Semua lemari, laci bahkan baju Emi dibuka lalu memeriksa lemari bawah.
Emi kemudian membuka matanya dia agak kecewa ternyata dirinya tidak jadi meninggal. Lalu menatap Nana dan Taro yang mencari sesuatu.
"Kalian benar-benar mencari kunci itu ya," kata Emi melepaskan masker nafasnya.
Nana dan Taro berhenti karena sudah ketahuan.
"Nak, kunci itu tidak berharga untukmu. Dimana kamu menyembunyikannya? Kalau tidak nyawamu hari ini akan habis," kata Taro mengancam.
"Silakan, aku sudah menyerah dengan penyakit ini. Kalian tidak akan mendapatkan apapun," kata Emi melawan.
Nana yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya langsung menggebrak meja. "Ugh! Aku sudah tidak tahan dengan kamu! Sudah, kita cari saja mana mungkin disini ada ruang rahasia," katanya.
Emi yang masih lemah hanya bisa menatap mereka berdua mengobrak-abrik lemari dan koper.
Emi teringat apa kata Eris saat dia menyembunyikan kuncinya waktu itu.
"Jangan katakan dimana kamu menyimpannya. Mereka sedang mengawasi kita dari balik pintu," kata Eris waktu itu.
Setelah itu Emi mengerti dan mengubah persembunyiannya lalu dokter datang saat Nana pergi dan memberitahu Emi untuk diperiksa. Eris menunggu disana lalu berjalan ke sebuah tempat dimana Emi meletakkan kunci sebelumnya.
Eris membuat kunci yang sama dengan kekuatan kegelapan nya. Asap ungu kehitaman muncul lalu membentuk sebuah kunci dengan ukiran yang sama namun, terbuat dari tulang.
Setelah itu diletakkannya di dalam lemari itu dan Eris kembali duduk di sofa menunggu Emi. Setiap hari Eris menaruh makanan yang berbeda di meja karena kondisi Emi yang buruk, Dokter tidak mengijinkannya meninggalkan kamar.
Emi selalu senang dan penasaran makanan apa ya g akan dibawa oleh Eris.
Suatu hari Nana dan Taro memasuki ruang dokter.
"Dok, apakah Minggu kemarin ada yang aneh dengan keponakan saya?" Tanya Taro.
__ADS_1
"Aneh? Maksudnya?" Tanya Dokter tidak mengerti.
"Ya mungkin selalu pingsan atau tertidur lama," kata Taro.
"Ah, semuanya normal," jawab Dokter.
Taro terdiam mendengarnya. "Normal?" Tanyanya meyakinkan.
"Iya. Kemarin beberapa hari dia bermain dan mengobrol dengan beberapa remaja. Kesehatannya membaik juga. Baguslah," kata Dokter tersenyum.
Nana bertanya dan Taro menjelaskan setelah mereka keluar dari ruangan Dokter.
"Aku sudah menukarkan beberapa obat tapi kenapa tidak ada efeknya?" Tanya Taro keheranan.
Seperti itulah lini kembali lagi dimana merek berdua masih sibuk mencari. Emi tidak menampilkan wajah yang tahu persembunyian sebenarnya.
"KETEMU!" Teriak Nana mendapatkan kunci ukiran yang dibuat oleh Eris. Nana lalu memperlihatkannya pada Taro. Mereka bersorak girang.
Emi kaget bukan main, bagaimana bisa? "Ja..ngan! JANGAN!" Teriak Emi yang berusaha bangun tapi kemudian dia batuk darah.
"Haha lihat kan? Anak itu sudah sekarat. Hei Nak, terima kasih ya selama ini selalu menjaga harta keluargamu. Sekarang Nana yang akan menjadi pewarisnya," kata Taro memeluk Nana dengan manja.
"Sayang, aku masih ada perlu di sini. Kamu keluarlah dan panggil keluarga kita untuk merayakan ini," kata Taro memberikan kunci warisan pada Nana.
Emi menatap kakak kandungnya itu dan tersenyum. Dia memang tidak mungkin bisa bertahan lama, dan sudah pasrah ketika melihat kunci yang mereka pegang bukanlah kunci yang dia miliki.
Sekarang, hanya tinggal meneruskan sandiwaranya dengan nafas tersengal-sengal.
Malam itu, Rumah Sakit sudah setengah kosong para perawat berada di gedung sebelah untuk memberikan obat pada pasien gedung sebelah. Taro keluar lalu kembali sambil membawa jerigen setelah melihat Nana keluar dari Rumah Sakit.
Emi yang melihatnya agak ketakutan, Taro memang benar-benar ingin membunuhnya.
"Kem..ba..likan," kata Emi berusaha untuk bangun.
Taro tidak menjawab lalu menekan badan Emi untuk berbaring di kasur. Dia lalu membuka jerigen dan menuangkan isinya ke atas kasur Emi dan badannya. Lalu ke semua ruangan.
"Aku tidak menyukaimu sejak awal Nana kenalkan. Untuk apa kamu masih hidup? Lihatlah, aku akan membantumu agar lebih cepat dijemput dewa kematian," kata Taro.
Di tempat yang terpisah, Poi merasa tidak enak dia sangat gelisah. Ares yang melihatnya bertanya, "Ada apa?"
__ADS_1
"Entahlah perasaanku buruk sekali. Aku agak mencemaskan anak itu, Emi," kata Poi.
Mereka mengheningkan cipta lalu bergegas menuju tempat Emi berada.
"Semoga dia tidak apa-apa," kata Ares menenangkan Poi.
"Ya," jawab Poi menangkan hatinya lalu mereka berlari kencang.
Dalam kamarnya Emi melihat Taro dengan wajah penuh dendam. Dia takut melihat korek api yang dinyalakan olehnya.
"Selamat tinggal, anak malang," kata Taro melemparkan korek itu ke bawah kasur dan kemudian api membesar melalap kasur Emi. Emi menjerit sekuat tenaga.
Dari luar, Raven melihatnya dan langsung melesat memecahkan kaca jendela. Taro berlari keluar kamar. Api berusaha melahap Emi yang ketakutan.
Raven menyihir sayapnya menjadi besar dan melambaikan supaya api menyebar ke arah lain. Dengan sihir Eris, dia berubah menjadi burung gagak yang besar.
Dengan paruhnya dia menarik baju Emi untuk menaikinya. Emi memuntahkan banyak darah dan berusaha dengan kepayahan menaiki punggung Raven.
"Bertahanlah. Kamu akan aku bawa menemui Nona," kata Raven.
Emi hanya bisa berbaring. Tenaganya sama sekali tidak ada setelah naik ke punggung berburu itu. Dan mereka terbang.
Ares dan Poi sampai dan terperangah melihat keadaan yang panik di sana.
"Emi. EMIIIII!!" Teriak Poi emosi dan berusaha masuk.
"Jangan! Api sudah meledakkan kamar atas. Ada sanak saudara yang kalian kenal?" Tanya petugas.
"Anak itu, Pak. Emi!! Dia berada di kamar itu," kata Poi menangis meratapi kamar itu mengeluarkan asap hitam dan api yang sangat besar.
"Nak, dalam kamar itu kosong. Kami tengah mencari keberadaan Emi. Tenanglah," kata satpam menenangkan.
"Dia tidak ada?" Tanya Poi.
"Bro, itu," kata Ares menunjuk ke arah burung gagak besar.
Poi memandangi arahan yang dikatakan Ares. "Itu jangan-jangan anak buahnya Eris?" Tanyanya.
Ares mengangguk. "Kalau dia, kamu tidak perlu cemas," katanya.
__ADS_1
Poi mengusap air matanya dia sangat cemas sekali. Kesal karena ternyata Eris sudah lebih dahulu menjaga Emi.
Bersambung ...