
"Kamu kenapa Nak? Ayo, alu akan tunjukkan apa yang akan aku lakukan dengan semua ini," kata sang kakek mengajak anak itu masuk rumah.
Anak itu menatap kakek dan mengikutinya, nenek menangis sambil terus memohon. Anak berbalik memandangi nenek yang masih memohon di rerumputan, bagaimanapun dia ingin kakek berhenti melakukan hal menyeramkan itu.
Kakek dengan tangannya yang keriput memegangi bahu anak itu lalu tertawa sambil memegang kantong besar.
"Kakek akan membunuhku bukan?" Tanya anak itu berhenti di teras.
Sang kakek berhenti memutar kenop pintu dan terdiam. "Kenapa kamu berkata begitu?" Tanyanya menghentikan gerakan tangannya.
"Anak-anak itu kakek bunuh dengan kejam. Minuman yang kakek berikan kepadaku adalah kumpulan darah mereka, bukan?" Tanya anak itu masih menatap ke arah kaca.
Kakek terdiam, lalu membuka pintunya. "Masuklah kita bicarakan soal itu," katanya masuk dengan langkah yang berbeda.
"Katakan, untuk apa kakek melakukan hal keji itu? Apa salah mereka?" Tanya anak dengan tenang.
"Ayo, akan kubuatkan makanan yang enak," kata kakek itu tanpa berbalik menatap anak tersebut.
"Manusia ternyata lebih kejam dari bangsa kami," bisik anak itu.
"Apa yang kamu katakan?" Tanya kakek berbalik memandanginya dengan senyuman.
Anak itu memandangi di celah giginya terdapat daging sesuatu. Kedua matanya berubah menjadi hitam sepenuhnya membuat anak itu mundur.
"Masuk. MASUKKK!!!!" Teriak kakek dengan marah.
"Kakek tidak sadar sudah menjadi bagian dari setan? Apa yang kakek inginkan sebenarnya? Kenapa banyak tulang yang berserakan di kamar itu!?" Tanya Anak itu agak ketakutan padahal dirinya anak setan.
"HAHAHA apa maksudmu Nak?" Tanyanya menaruh alat gergaji dan mengambil pemukul kasti.
Anak itu melihat siluet dari kakek mengeluarkan gigi bertarung, keluarlah aroma sangat busuk. Melebihi orang yang tidak sikat gigi selama seminggu.
"Eris, kamu boleh menyalakan api. Bakar semuanya," kata Anak itu lalu melompat mundur dan berdiri di samping nenek.
__ADS_1
Kakek terkejut dengan yang dilihatnya, Nenek saat itu masih menutup kedua matanya. Belum sadar bahwa anak telah ada di sisinya menatap tajam.
"SIAPA KAMU!? Kamu... Iblis! Berikan berikan aku KEABADIAN! Aku ingin hidup lebih panjang dan melakukan hal yang aku sukai yang tidak bisa aku lakukan di usia ini. BERIKAAAAAN!!!" Teriaknya menggelegar.
Anak itu membalikkan badannya membantu sang nenek berdiri lalu memasuki mobil dan menunggu.
Nenek menangis meminta maaf kepadanya.
Eris muncul di hadapan sang kakek dengan kobaran bola api.
Kakek kaget lagi tapi dia merasakan hawa mencekam menatap kedua bola mata Eris yang tidak biasanya.
"Siapa!? Kamu dan anak itu apa kalian ini sebenarnya? Anak-anakku," kata kakek itu melihat kobaran api yang siapa menerkam siapapun.
Kakek lalu bermaksud berlari masuk ke dalam, Eris mengikutinya dengan melangkah.
"Hentikan bualan mu. Wahai manusia setan kamu bahkan tidak pantas disamakan dengan mereka sendiri. Anda pasti sudah sadar bukan? Kalau anak-anak itu sudah habis kamu bantai," kata Eris.
"Mereka sekarang hidup tenang berkat aku! AKU! Mereka kesepian karena ditinggal jadi aku hanya menemani mereka saja dengan..." kata kakek.
"Dengan cara yang tidak wajar. Keabadian?" Tanya Eris lalu mendengus teringat dirinya makhluk yang tidak bisa mati.
Kakek menatap Eris yang mendekatinya.
"Bahkan drakula sekalipun ingin berubah menjadi manusia dan menikmati hidup menjadi tua. Menjadi seperti mereka, kamu tidak pantas aku kirim ke dunia kegelapan," kata Eris perlahan rumah itu dipenuhi api.
Kakek itu berlari menaiki tangga dan Eris meniupkan sebuah glitter kemerahan ke sekelilingnya dan api berkobar besar. Eris tertawa puas dan menghilang.
"APA YANG KAMU LAKUKAN!? ANAK-ANAKKUUUUU," teriakannya bergema disusul dengan api yang ber balapan dengannya menuju kamar atas itu.
Dia menjadi lebih gila, lebih histeris menghantamkan pemukul ke arah tulang belulang para anak-anak sampai berhamburan. Tawanya menyeramkan sudah bukan manusia.
Rumah semakin lama terbakar termasuk memakan sang kakek yang terus tertawa. Nenek bersyukur anak itu masih hidup dan Eris menjadi supir mengamankan mereka ke tempat lain.
__ADS_1
"Eris, kamu tidak bisa mengantarkan nenek itu ke dunia kita?" Tanya Arae.
"Tidak bisa. Nenek itu tidak memiliki hati lagi, semuanya sudah habis," kata Eris memandangi dari spion mobil.
Beberapa tahun kemudian, Eris mendatangi tempat dimana nenek dan anak itu berada. Rumah sederhana yang dikelilingi tumpukan salju dan tanaman berbunga yang indah.
Anak tersebut keluar menuju sekolah kini usianya memasuki 14 tahun dan dia sangat senang sekali. Sang nenek yang dahulu tiba di rumah tersebut terlihat kosong.
Eris memasukkan sebuah bola kehidupan kepadanya dan kini hidupnya menjadi lebih baik. Eris memperhatikannya dari pohon pinus.
Anak itu bertumbuh besar dengan kecepatan yang menyeramkan beberapa bulan, usianya sudah 17 tahun. Sang nenek yang sudah tidak mengkonsumsi persembahan mulai terlihat mengurus kering.
Eris muncul di hadapannya sang nenek sudah tidak terbentuk dan berlinang air mata mengatakan rasa terima kasihnya.
Eris menarik bola kehidupan itu dengan disaksikan oleh sang anak yang beranjak remaja. Api muncul di tubuh nenek renta itu dan menghabiskan segalanya sekejap.
Bola kehidupan berwarna hitam terbang ke arahnya kemudian dihancurkan menjadi debu.
"Tidak layak ya," kata anak itu.
"Tidak ada manfaat apapun untuk kebutuhanku. Kotor. Lalu apa rencana mu?" Tanya Eris dengan mudah membuatnya menghilang.
Dia menyisir rambutnya yang lurus bergelombang, sangat tampan dengan wajah yang mulus tidak berjerawat. Dia mengeluarkan paspor dan beberapa tabungan simpanan dari kakek psikopat itu.
"Aku akan pergi ke Korea, aku mendapatkan kabar bahwa ada sepasang suami istri yang akan mengadopsi ku. Sampai jumpa Eris," katanya berbalik lalu pergi.
"Kita akan bertemu lagi dimanapun kamu berada, aku pasti akan datang untuk mengembalikan mu," kata Eris bersiap menghilang.
Anak itu menghentikan langkahnya. "Bisakah kamu melepaskan aku sekali ini saja?" Tanyanya tanpa menatapnya.
"Akulah dewi kegelapan, kau yang tidak memiliki identitas dan Bumi bukanlah tempatmu, jangan berharap aku akan mengasihani. Tapi biarlah kamu akan kembali dengan sendirinya saat kesenangan itu berakhir," kata Eris lalu menghilang.
Sang anak memiliki tanda bintang hitam di dahinya. Dan tersenyum sinis menyembunyikan dengan kekuatannya lalu pergi menghilang.
__ADS_1