Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
7


__ADS_3

"Aku akan mengikutinya tapi aku juga harus waspada," kata Yuri mutuskan untuk mengambil resiko bila harus ketahuan lagi.


Teman-teman Lira sudah tentu sedang berpesta tanpa kehadirannya. Uang yang diberikan kembali oleh mantan Lira, mereka bagi sesuai perjanjian awal.


Yuri kemudian memandangi sekelilingnya dan memasuki tempat kerja Laundry. Yuri berpura-pura mencari bajunya disana sambil mencuri dengar obrolan para pegawai.


"Hei hei yang tadi itu pegawai lama di sini?" Tanya A mencolek senior yang lain.


"Iya, tapi kamu jangan dekat-dekat sama dia deh," kata Senior mengibaskan telapak tangannya.


"Kenapa? Ah ya tadi aku tanya kapan dia ulang tahun untuk pengingat. Apa benar bulan September?" Tanya A memastikan sebelum dia masukkan ke dalam kalender digitalnya.


"Hah? Bukan bukan dia kelahiran bulan Januari kok. Lalu dia bicara apa pagi?" Tanya D penasaran.


Yuri kemudian membuat tali sepatunya lepas dan dia berjongkok merapihkan sepatu. Obrolan masih terdengar seru mengenai Lira.


"Apa benar usianya 19 tahun? Memang masih muda sih penampilannya," kata C ikut bertanya.


"Astaga! Hahaha kamu tertipu. Tahun ini usianya 37 tahun," kata Z tertawa keras. Yang mengingatkannya jangan terlalu keras karena ada pembeli.


"Apa!? Sungguh?" Tanya C terkejut sekali.


"Memang sih terlihat masih muda dan dia pegawai yang paling lama di sini daripada kami. Ya sudah pasti lebih senior," kata yang lainnya.


Semakin lama, pegawai Laundry berkumpul di satu titik membicarakan Lira. Yuri lalu berpindah memindahkan satu per satu paket ke meja yang lainnya.


"Wajahnya, apa dia operasi untuk kecantikan atau alami? Dia pernah bicara padaku wajahnya cantik karena rajin memakai masker buah jeruk. Apa benar?" Tanya B membuat para senior semakin heboh.


Yuri teringat itu yang Lira katakan padanya juga lalu menunggu jawaban dari pegawai senior.


"Hasil operasi. Dulu dia sangat sederhana entah apa yang membuatnya berubah dan banyak berbohong. Semua gajinya habis untuk perawatan, kalau kamu tahu wajah aslinya yang dulu sangat jauh," jelas senior lainnya.


"Wah, kalau aku tidak bertanya, aku akan tertipu selama kenal dia. Kenapa dia jadi seperti itu?" Tanya A kebingungan. Apakah karena malu bekerja di tempat Laundry? Lantas kenapa tidak cari yang lain?


"Itulah kebiasaannya yang selalu berbohong soal usia, pekerjaan, bahkan kekasih juga. Dulu dia berbohong soal uang lalu entah kenapa jadi semakin membesar," jelas D.


"Padahal memang manis dan cantik sekali. Tidak ada kekasih? Lalu aku pernah melihat dia jalan dengan 4 laki-laki," kata C dengan heboh.


"Tidak ada. Mereka itu semuanya teman sekolah tapi kabarnya semua dikeluarkan karena ketahuan mencuri uang guru," kata D membuat semuanya menganga.


"Maaf," kata Yuri yang sudah semakin penasaran akhirnya memotong pembicaraan mereka.


Mereka semua memandang Yuri lalu bubar jalan dan wajahnya sangat malu.


"Ada pembeli. Ayo bekerja, maaf ya kalau tidak ada pembeli memang begini. Ada yang bisa kami bantu? Apa bajunya ada?" Tanya D dengan wajah memerah.


"Hehehe aku jadi mendengar obrolannya dan ingin bertanya," kata Yuri.

__ADS_1


"Oh, silakan. Soal apa?" Tanya D.


"Aku mau tanya soal orang yang kalian bicarakan, apa benar namanya Lira?" Tanya Yuri kepadanya.


Semua pegawai mendengarnya dan mulut mereka kaget, sebagian tidak menyangka.


"Lira? Ya ampun! Sampai nama juga dia palsukan? Bukan, Nak. Nama aslinya Neneng Komasih," jawab senior lain.


"HAH!?" Tanya Yuri lebih menganga karena na aslinya Sunda sekali.


"Aih, ternyata bukan soal usia ya dia memang selalu begitu sudah jadi kebiasaannya memang," kata D menggelengkan kepalanya.


"Kebiasaan," gumam Yuri. Lalu dia permisi karena bajunya tidak ada disana. Yuri keluar dan berlari menuju jalanan ke toko Eris lalu melihat Lira secara tidak sengaja yang sedang menunggu, di wawancara oleh seorang sales kecantikan.


"Maaf, boleh minta waktunya?" Tanya Sales.


"Boleh," kata Lira tersenyum.


"Berapa usianya, Kak?" Tanya Sales itu.


Lira tersenyum manis. "18 tahun,"


Yuri membuka mulutnya menganga lebar lalu bersembunyi di belakang tembok.


"Apa!? Masih muda sekali ya," kata sales itu mengira penampakannya.


"Banyak yang bilang begitu sih," kata Lira bangga.


"Stylish Hair," jawab Lira tersenyum ramah.


Yuri tidak bisa melihat asap hitam kemudian Raven datang dan menepuk bahunya, lalu menempelkan jari telunjuk di depan mulut Raven.


"Raven," kata Yuri agak kaget.


"Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Raven berkacak pinggang.


"Ih! Raven, kamu kan bisa melihat ya. Itu tuh," kata Yuri menunjuk ke arah Lira.


Raven lalu ikut melihat juga dan dia tampak ngeri melihatnya. "Asapnya semakin parah setiap kali wanita itu berkata bohong, asapnya mulai menutupi wajahnya!" Kata Raven.


Yuri juga sama mengerikan wajahnya. Percaya tidak percaya, Raven memiliki sedikit kekuatan hasil dari pemberian Eris.


Setelah itu lalu sales tersebut pergi setelah pamit dan Lira memijat bahunya. "Aneh, kenapa bahuku terasa berat ya?" Tanyanya mengurut.


"Ada apa? Wanita itu jalannya agak pelan," kata Yuri agak khawatir wajahnya.


"Asapnya sudah menggunung kalau kamu bisa lihat, sangat gila sekali," kata Raven ketakutan.

__ADS_1


"Ayo," kata Yuri menarik Raven karena penasaran.


"Jangan! Lebih baik kita ke toko Eris, Nona sedang menunggu kedatangan mu. Aku merasakan firasat buruk mengenai wanita itu," kata Raven menahan tangan Yuri.


"Sebentar saja. Kamu tinggal jelaskan apa yang terjadi. Ya? Ya? Ya?" Tanya Yuri belum menjawab, Raven sudah Yuri tarik sekuatnya ke arah Lira berjalan.


Kali ini Yuri tidak takut lagi bila wanita itu bertatap muka dengannya. Hanya saja Lira berjalan dengan tertatih sekarang.


Raven yang terpaksa mengikuti, melihat gelang wanita itu dan sudah setengahnya penuh asap hitam. Manusia biasa hanya terlihat warna emas saja tapi kalau audah tebal, paling terlihat seperti karatan.


"Gelangnya... sudah setengah menghitam," kata Raven menelan ludahnya.


Yuri berhenti menatap Raven di belakangnya. "Hah!? Bahayakah!?" Tanyanya.


Raven mengangguk. "Iya dan sudah hampir memenuhi gelang itu,"


Lira merasa lebih kaku lagi punggung dan salah satu kakinya, dia kesusahan berjalan. "UGH, kenapa sih badanku hari ini?" Tanyanya mengurut semua badannya.


Lira yang terus memegang tidak secara sengaja melihat gelangnya yang agak berkarat hitam. "Lho lho? Gelangnya kok jadi berkarat begini?" Tanyanya sambil masih berjalan tanpa melihat arah.


Dirinya tidak sadar kalau sedang menyeberangi lintasan dan terus melihat ke arah gelangnya. Dia berusaha membersihkan karatan itu menggunakan tangan kirinya.


Lira menekan bagian hitam lalu berusaha merontokkan nya tapi bukannya lepas atau bersih, dia melihat kepingan gelang itu mulai berjatuhan.


"Apa ini!? Gelang kuuu, aku lepaskan dulu deh supaya mudah dibersihkan nya," kata Lira sambil terus berjalan sampai tengah.


Raven melihat itu dan berteriak sekeras mungkin.


"Eh? Jangan, JANGAN DILEPASKAN!!" Teriak Raven membuat Yuri menutup kedua telinganya.


"Hah? Siapa itu? Eh, leher ku. Tidak...bi..sa dige...rak kan," kata Lira dengan suaranya yang juga tiba-tiba menghilang. Dan akhirnya semua badannya tidak ada yang bisa digerakkan.


Banyak orang yang melihatnya kemudian... sebuah mobil yang kehilangan kendali menabrak dirinya. Mobil tersebut terguling dan terbakar, gelang yang dipakai Lira kemudian terlempar ke sudut kursi di taman, menyisakan bagian 5 cm yang belum dihabiskan oleh asap hitam.


Raven sempat mengirim Yuri menuju toko sebelum dia melihat kecelakaan mengerikan itu. Setelah terjadi dan semua orang berhamburan menatap Lira, Raven menuju taman kemudian berubah menjadi burung dan membawa gelang itu.


Sebelum terbang beberapa orang kebingungan, mereka yakin mobil itu menabrak seorang wanita. Namun setelah di periksa, tidak ada wanita melainkan boneka manekin dengan rambut keemasan yang hancur berantakan.


Yuri yang berada dalam toko keheranan. "Kok aku sudah di sini?" Tanyanya.


"Raven mengirim mu kemari," kata Eris lalu menatap jendela.


Raven masuk ke dalam toko dan menyerahkan gelang tersebut. Yuri menaruh tasnya yang berat dan mengeluarkan semua kotak makanan. Arae yang melihatnya tentu saja sangat senang dan menatap semuanya.


Yuri menghampiri Eris untuk melihat gelang itu. "Apa gelang itu masih bisa dipakai?" Tanyanya.


"Tidak," kata Eris memperlihatkan gelang tersebut lalu dia sentuh sedikit, gelang itu rontok dan hancur menjadi debu lalu menghilang.

__ADS_1


"Lalu Lira?" Tanya Yuri dengan hati yang kosong.


Raven menatap Yuri dan menggelengkan kepala lalu berubah menjadi manusia. "Meninggal dalam keadaan semua tubuhnya menjadi patung manekin," kata Raven.


__ADS_2