
"Wah, kode tuh!" Kata Ekok gembira sambil bertepuk tangan.
"Iya, aku juga tahu itu tapi kan temannya banyak juga yang mengobrol denganku. Jadi ya tidak enak," kata Diega memerah.
"Wohhh manisnya sayang kelihatannya sudah punya pacar deh," kata staf.
"Lalu dia bagaimana?" Tanya Ekok.
"Ya terus menatap tangan aku kadang seperti sengaja jatuh padahal jalanan rata Kang. Batu saja tidak ada atau kesenggol karena ranting, apalah. Terus sengaja memegang lengan aku," kata Diega.
"Kamu merasa terganggu tidak sih sebenarnya? Ternyata dia agresif ya," kata Ekok.
"Ya pastinya aku kan lebih suka perempuan bertingkah biasa saja deh. Tapi yaaa karena aku juga suka sama dia jadi..." kata Diega ketawa mengenang kejadian itu.
"**Aduh!" Teriak Keling yang kepleset.
"Kamu kenapa sih jatuh terus? Padahal tidak ada halangan apapun lho," kata Diega mencari batu yang menyebabkan Keling jatuh.
Keling yang mendengar langsung malu sekali, dia memang sengaja agar tidak ada yang mendapatkan perhatian Diega.
"Maaf deh, Kang memang jalanan nya licin**," **kata Keling.
"Mana? Ini jalanan nya lumayan keras kok. Tidak hujan juga," kata Diega memeriksa cuaca.
Keling mengutuk cuaca cerah hari itu. Beberapa perempuan dari grup lain tentu saja menatap Diega. Siapa sih yang bisa tahan melihat tangan berotot?
Diega kadang mendapati Keling marah sendirian lalu cemberut. Atau mengusir beberapa perempuan yang bermaksud jatuh juga di depan Diega.
"Kalau mau pegang tangan aku, jujur saja bilang. Jangan pura-pura jatuh begitu nanti aku tinggal lho," kata Diega berbisik di telinganya.
Keling kaget menyadari lelaki yang dia sukai menyadari semuanya. "Malu," kata Keling.
"Daripada pura-pura jatuh, bilang jalanan licin padahal ini tanah semua. Kalau mau pegang, nih aku kasih tanganku. Ayo," kata Diega mengulurkan tangannya pada Keling.
Keling lalu menatap Diega dan perlahan menggenggam tangannya. Mereka berdua sangat malu, mereka disoraki oleh semuanya.
Beberapa grup perempuan alhasil menyingkir kecewa ternyata Diega menyukai Keling**.
"Serius dia pegang tangan kamu?" Tanya Ekok agak takjub.
"Lah iya dipegang sampai ke jemari aku segala. Aku sih tertawa dan malu juga lalu dia lepas dan lari sambil memegang wajahnya. Ya aku juga sama," kata Diega tertawa malu.
__ADS_1
"Ya ampuuun. Lalu bagaimana ceritanya sekarang kamu sendirian? Memangnya tidak jadi?" Tanya Ekok. Dia memberikan kode agar mereka mencari tahu nama Keling ini.
"Dengan maksud itu juga itulah kenapa aku mau bercerita disini karena ada yang aneh sih soal perempuan itu," kata Diega yang penuh makna di wajahnya.
"Aneh bagaimana?" Tanya Ekok dengan serius.
Ares dan ibunya yang mendengar tentu saja penasaran. Ares teringat bahwa Pamannya yang hilang itu bercerita istrinya bernama Keling. Ares kemudian turun ke bawah dan melihat ibunya memakai earphone. Ares mengambil album lama di rak dekat dapur lalu ke atas kamar lagi.
Dia masuk kamarnya dan mulai membuka, ada sebuah foto Paman dan Bibinya yang cantik sekali. Dia hanya ingat Bibinya itu sangat harum dan selalu ada untuknya tapi setelah itu dia tidak ingat kenapa Bibinya itu meninggal.
"Paman, Bibi meninggal karena apa? Kau tidak pernah menceritakan itu padaku atau keluarga yang lain," bisik Ares saat dia memejamkan mata, terlihat wajah Bibinya. Ares kaget, albumnya jatuh.
Eris berada di samping rumah itu dan terdiam. Haruskah dia memberitahukan siapa sebenarnya makhluk itu? Eris menggelengkan kepalanya toh Diega akan menceritakannya. Eris lalu melayang pergi dan menghilang.
Di sisi lain saat Poseidon tengah memakan cilok goang di halaman dan memandang ke langit. Dia melihat Eris yang terbang ke atas. Piring cilok dia letakkan keras di teras dan berdiri memandang memicingkan matanya.
"I-itu..." kata Poseidon tidak percaya.
Eris kemudian menghilang. Poseidon masih berdiri, dia yakin anak yang dia lihat itu adalah anak yang dia lihat dalam mimpinya. Yang menangis saat perang nahas itu.
"Eris. Jadi kamu memang selamat," kata Poseidon dengan tatapan tajam ke langit.
Kembali ke stasiun Radio ceritanya makin seru. Ares pun kembali mendengarkan cerita orang itu, jantungnya berdebar dia samar mengingat suara pamannya itu.
"Hentikan kebiasaan kamu yang selalu menarik korban," kata Eris di luar.
Keling yang mendengar lalu tersentak dan melihat siluet Eris lalu keluar. "Kamu siapa?" Tanya Keling aneh.
"Dia hanya penyintas tidak akan mau tinggal disini denganmu," ucap Eris dengan dingin.
Keling terdiam, dia menatap sosok Eris dengan takut tapi tidak mau terlihat. "Anak kecil diam saja," katanya yang mau masuk tenda lagi.
"Kamu bukanlah makhluk yang seharusnya hidup berdampingan dengan manusia. Pergilah ke duniamu dan tinggalkan dia," kata Eris membuat Keling berjongkok dengan diam.
Keling membeku lalu membalikkan badan dan Eris sudah tidak ada di sana. "Kenapa dia tahu siapa aku?" Tanyanya kebingungan.
Saat Keling tengah memikirkan perkataan Eris, Diega diam-diam dengan jahil mendekatinya sambil membawa makanan dalam piring**.
"Keling," kata Diega tertawa.
**Keling kaget dan membalikkan badannya melihat Diega berdiri di belakang lalu memukulnya. "Ih, kamu!" Kata Keling terus memukul.
__ADS_1
"Hahaha kaget ya," kata Diega tertawa menahan piringnya.
"Aku kan kaget. Ada apa?" Tanya Keling berhenti memukul.
"Kamu bicara dengan siapa?" Tanya Diega mencari orang.
"Tadi ada anak kecil disini, aku sedang mencari dia terus kami datang," kata Keling dengan polos.
"Hah? Anak kecil?" Tanya Diega menatap Keling. Diega berpikir Keling bisa melihat hantu.
"Iya tadi dia berdiri disini," kata Keling menunjuk.
"Ini kan gunung mana ada anak kecil yang tahan dibawa kesini, cuaca sedingin ini. Ah sudahlah lupakan, aku yakin kamu salah lihat karena lapar," kata Diega lalu mengajak Keling duduk.
Keling terdiam dia lupa Diega anak manusia tidak seperti dirinya. "Apa ini?" Tanya Keling.
"Ini ada sosis aku buat mirip gurita nih. Ada kentang dan burger juga. Saosnya aku pisah takutnya kamu kurang suka. Nih makan," kata Diega memberikan piring itu pada Keling.
Keling menyambut dan sangat senang lalu otomatis mencium pipi Diega. "Terima kasih ya," kata Keling lalu mencobanya.
Makanan manusia memang bukan makanannya tapi untuk menghargai apa yang Diega lakukan untuknya dia makan sedikit. Diega senang mendapatkan kejutan tadi dan membalasnya.
Mereka saling bertatapan lalu**...
"Kamu kiss dia!?" Tanya Ekok bengong.
"Hehehe otomatis sih habis imut sekali," kata Diega menggarukkan kepalanya.
Alhasil beberapa staf perempuan harus patah hati saat itu juga.
"Berapa lama tuh?" Tanya Ekok tertawa.
"Lima belas menit," kata Diega tertawa.
"Eh buset! Tidak ada yang curiga?" Tanya Ekok agak aneh.
"Tenda dia paling belakang aku juga heran sih," kata Diega memegang dagunya.
"Kenapa kamu tidak bertanya?" Tanya Ekok.
"Aku lupa karena dicium pipi sama dia," kata Diega lalu cengengesan.
__ADS_1
Bersambung ...