
Sia : "Kalau begitu kok bisa mereka sekarang jadi sepasang kekasih?"
Sehan : "Aku juga aneh. Oh ya sabun garam kamu bawa tidak hari ini?"
Sia : "Ada. Jangan bilang..."
Sehan : "Aku mau coba dong siapa tahu bisa secantik dewi Venus hehehe ya ya ya?"
Sia : "😤😤 Tidak boleh! Cukup yang lebih cantik itu aku, kalau kamu sampai ikut lebih cantik, Dunia Kecantikan akan hancur,"
Sia tertawa sambil menuliskan tugas yang sudah dia kerjakan.
Adelia penasaran apa saja yang mereka bicarakan, dia sangat gelisah karena hari ini Sia akan mengembalikan sabunnya. Kalau dia ke kelas makan akan lebih dicurigai karena sering ada pengawas disana.
Sehan : "Kita kan temaaaaan,"
Sia : "Bukaaaan,"
Sehan : "Lalu? Kamu simpan sabun itu di kelas? Nanti ada yang mengambil lho banyak yang iri dengan kesempurnaan kita,"
Sia : "Kalau pun ada yang mengambil, pasti geng basket kamu. Sudah ah ada yang mengajak aku mengobrol orang asing. Daaah,"
Sehan : "Hei, hei!!"
Sehan mendengus, Sia selalu saja langsung mengalihkan perhatian ke yang lain. Sama dengan Sia, tugas Sehan pun sudah banyak yang dikerjakan.
Sia : "EHEM EHEM! Kamu mau ikut tidak menemaniku ke toko itu? Aku akan membayar sabun garam yang ku pinjam dari toko itu. Kalau kamu mau sabun itu, kamu mungkin bisa meminjamnya dari sana. Sepulang sekolah aku dan yang lain mau pergi. Kamu bagaimana?"
Sehan : "IKUUUUTT!!"
Sia kemudian mengobrol dengan orang asing selama beberapa menit lalu ijin menuju toilet. Lalu saat itu, Adelia berdiri berpura-pura ingin melihat pekerjaan Sia dan duduk di kursinya. Dia membuat obrolan dengan Sehan dan membacanya.
"Hah!? Dia mau mengembalikan sabun garamnya hari ini. Jadi dia serius berarti penyakitnya itu sudah sembuh total. Kalau begitu daripada dikembalikan bukankah lebih baik diberikan saja untukku. Sehan tertarik? Tidak! Hanya aku yang boleh memakainya!" Pikir Adelia mengepalkan tangannya lalu dia kembali ke tempat duduknya setelah meminimalkan percakapan itu.
Adelia kemudian menemukan caranya tentu dia sudah menyiapkan sabun pengganti. Berpikir semua sabun itu sama, dia membeli lewat online shop kemarin malam.
Selesai pelajaran komputer, Sia tidak langsung kembali ke kelas tapi dia menuju kantin untuk membeli beberapa roti dimakannya nanti. Tentu Sehan yang tiba-tiba mencekiknya lalu Dia menendang.
Merasa banyak kesempatan, Adelia melesat masuk ke kelasnya dan tampak hanya ada beberapa murid siswi yang sedang diskusi. Adelia lalu berdiri di sebelah meja Ambrosia dan tangan kirinya masuk ke tas temannya itu.
Di rasa tidak ada, dia berpura-pura kehilangan barangnya dalam laci Sia. Ternyata ada! Dengan cepat dia tukarkan dalamnya tanpa seorang pun melihatnya lalu pergi ke luar kelas.
Mereka melihatnya tapi merasa Sia yang menyuruh tidak mereka pedulikan.
Sehan dan Sia datang dengan tangan Sehan yang bergantung di sekeliling leher Sia.
"Wah, jarang sekali aku lihat kalian bisa akur," kata Adelia yang baru saja kembali entah dari mana di depan pintu kelas.
"Tentu saja kita ini sebenarnya akrab kamu tidak tahu kan," kata Sehan yang menyeret Sia masuk kelas.
"Hah mana mau aku akrab dengan orang sepertimu! Singkirkan tanganmu! Kamu itu rival aku," kata Sia menghempaskan tangan Sehan lalu duduk sambil menyisir rambutnya.
Adelia melihat rambut panjang Sia yang terurai dan memang indah. Rambutnya itulah yang menarik kekasihnya lalu memutuskannya. Gelombangnya membuat menjadi lebih cantik begitu juga Sehan meski tidak terlalu senang banyak disisir.
"Hei, Adelia apa sih rahasianya wajah kamu bisa semulus itu?" Tanya yang lain menghampirinya.
"Sebenarnya sih tidak jauh berbeda dengan yang dipakai oleh Sia. Aku juga memakai sabun garam untuk menghaluskan kulitku," kata Adelia dengan bangga.
"Oh ya? Kamu bawa sabunnya? Aku mau lihat dong," kata Sia.
Adelia dengan senang memperlihatkannya yang dia masukkan ke dalam kantung kecil. Mereka membukanya dan sangat terkejut.
"KYAAAA!!" Sebagian teman mereka menjerit.
"Kenapa sih?" Tanya Sehan melihat Sia dan yang lainnya agak ketakutan.
Saat melihatnya, Sehan pun mundur. "I...itu jantung?" Tanya Sehan merinding.
"Bukan ini sabun. Kalian kenapa sih? Coba deh pegang," katanya menawari mereka tapi tidak ada yang berani menyentuhnya.
Dengan perasaan takut Sia lalu memegangnya dengan hati-hati. "Ini sabun? Tapi kok bentuknya.." kata Sia tidak yakin.
"Iya. Keras kan. Ini sabun memang berbeda kalau kamu warnanya cerah, aku memang diberinya merah," jelas Adelia.
"Sia, serius itu sabun?" Tanya Sehan memegangi bahunya ketakutan.
Sia terdiam dia mencoba menyerut lalu menciumi baunya. Memang keluar bau bunga meski tidak semerbak miliknya. Serutannya memang sabun, Sia mengangguk. Perasaannya buruk mengenai sabun itu.
"Coba peganglah. Ini sabun," kata Adelia lagi. Akhirnya mereka berani memegangnya dan ya keras.
"Kamu tidak merasa heran dengan bentuknya? Mirip... Jantung sesuatu," kata Sehan.
"Apa? Masa? Tidak kok bentuknya bagus seperti kristal begitu kan," kata Adelia menatap mereka lalu memasukkannya ke dalam kantungnya.
Mereka semua saling berpandangan. Agak ekstrim penampakannya tapi entah kenapa hanya Adelia yang kelihatannya berbeda apa yang mereka lihat.
"Menurutku sih lebih baik jangan terlalu sering kamu memakainya. Kamu itu harusnya bersyukur dengan level kecantikanmu yang alami. Seperti aku dari lahir saja sudah cantik ini sama sekali tidak pernah aku ubah seperti apapun," kata Sia memperhatikan Adelia dari punggungnya.
"Waaaah, kamu memang sudah berubah ya," peluk Sehan.
__ADS_1
"Hentikan! Rambutku baru di sisir nih. Sini giliran kamu, ingat ya aku menang," kata Sia menarik rambut panjangnya.
Akhirnya Sehan pun diurus oleh Sia dan diberi karet olehnya. Adelia mendengarnya dia agak terlena dengan perkataannya tapi dia juga ingin mengikuti kontes itu dan harus mengalahkan dewi kelas. Mana mungkin!
Akhirnya waktu pulang tiba juga dan Sia tidak lupa memeriksa dulu sabun itu lalu memasukkannya dalam kotak dan bergegas keluar kelas. Berenam menaiki mobil Sia dan menuju toko sedangkan Adelia yang berada di kelas sendirian, mengeluarkan 2 buah sabun milik Sia dan tertawa keras.
Kemudian sampailah mereka semua di tempat toko itu. Mereka keluar dan menyukai suasananya.
"Ini tempatnya? Wah!" Kata yang lain.
"Yuk," kata Sia memasuki toko itu.
"HUWAAAA!" Seru yang lain termasuk Sehan.
"Selamat datang," ucap Ela dan Eris bersamaan.
"Kalian lihat-lihat saja dulu. Aku mau kembalikan sabun," kata Sia menunjuk ke kasir.
Mereka mengangguk. Sehan juga sibuk melihat boneka antik yang dipajang dengan menarik, lalu ada gitar dan dia mencobanya.
Eris berhadapan dengan Sia yang mengambil sabunnya. Tapi wajah Eris tampak tidak senang. Hera melihatnya bingung lalu menatap Sia.
"Ini sabunnya," kata Sia dengan senang.
Eris mengambilnya dia tidak yakin. "Kamu senang?" Tanyanya.
"Lihat! Aku sembuh. Dan yah, aku juga akan mengubah perilaku jelekku dan mereka teman-temanku," kata Sia memandang ke belakang.
"Eris, ada apa?" Tanya Hera cemas.
"Tidak apa. Lalu pembayarannya," kata Eris.
"Ah ya, aku akan bercerita," kata Sia. Lalu dia mulai duduk dan menceritakan semuanya. Hera mendengarkan dan Eris membuka kotak itu.
Benar saja itu bukan sabun miliknya. Dia sangat marah temannya menukarkannya dengan sabun biasa. Eris membakarnya dengan api berwarna ungunya sampai habis.
"Sayang sekali tanpa disadari anak itulah yang akan menjadi mangsaku kali ini," kata Eris dalam hati.
Kemudian beberapa jam mereka akhirnya pulang sambil membeli sesuatu dari toko tersebut dengan gembira.
"Kenapa? Wajahmu tadi seperti marah," kata Hera.
"Itu bukan sabun buatan ku tapi dia membelinya di toko lain dan mencari yang sama. Ternyata manusia itu pintar juga," kata Eris membereskan.
"Apa!? Lalu bagaimana?" Tanya Hera.
"Tidak apa, dia akan menjadi mangsaku. Hanya itu," kata Eris senyum dingin.
"Tidak perlu. Tidak ada yang penting," katanya.
Malam menjelang di rumah Adelia, dia bersorak senang. Dia menari seolah dunia sudah berada di genggamannya. Dia membuka bungkusan yang telah dia tukarkan, dua buah sabun cerah milik Sia lalu dia buka miliknya berwarna merah darah.
"Coba dia menurut memberikan sabunnya padaku tidak akan aku tukar. Lagipula dia tidak sadar kalau sabun itu terdapat perbedaan. Beruntungnya aku akhirnya AKULAH YANG AKAN MENJADI DEWI APHRODITE!" Teriak Adelia dengan gembira.
Di luar Eris dan Arae memperhatikan. "Ya ampuuun dia sampai berani mencurinya," kata Arae dengan nada yang manis.
"Serakah. Kedua matanya sudah buta dengan keinginannya menjadi paling cantik. Ayo pulang," kata Eris yang menghilang.
Kemudian dia mencuci wajahnya alhasil dua kali berpikir sabun Sia bisa menjadi pelembab. Adelia senang sekali meskipun tersisa sedikit saja.
Besoknya sekolah tidak mengadakan pembelajaran karena sehari lagi festival akan dilaksanakan. Semua murid saat itu bersiap memasang papan dan lainnya. Sia membantu kepanitiaan begitupula Sehan yang sibuk membantu mengecat.
Adelia juga sudah datang dengan percaya diri. Dia mendaftarkan dirinya menjadi calon dewi di acara itu. Lalu membantu yang lainnya membuat dekorasi.
"Hmmm... Adelia harum sekali. Pakai parfum apa?" Tanya A.
"Hohoho rahasia dong," katanya dengan gembira.
"Kamu ikut kontes?" Tanya A pada Adelia.
"Iya," jawabnya.
"Baguslah. Semoga berhasil ya," katanya.
Sia dan Sehan sudah tentu dicantumkan juga. Dan saat voting ternyata Adelia hanya ada 5 yang memilihnya sedangkan Sia dan Sehan sudah ada 2000 orang.
"Jangan kecewa kan masih banyak waktu sampai kontesnya selesai," kata Sehan menepuk Adelia.
Adelia kecewa kenapa sabun itu tidak bereaksi apakah karena sudah setengah efeknya menjadi sabun biasa? Dia kembali ke kelas lalu mengeluarkannya diam-diam. Sabun itu menjadi kecil lalu dia menuju kamar mandi dan memakainya sampai habis. Toh masih ada satu lagi.
Dia menggosok sabun itu ke wajahnya setelah itu sabun miliknya yang juga sama menjadi mengecil.
"Dengan begini aku yakin, akan banyak yang memilih," katanya memegangi wajahnya yabg kinclong lalu keluar.
"Wahhh cantiknya," kata murid lelaki yang lewat di hadapan Adelia.
Benar saja votingnya bertambah menjadi 500 orang. Sia dan Sehan memandanginya mereka juga memvoting Adelia. Mereka berdua sama-sama memberinya semangat dan Adelia sangat bangga.
"Hei, Adelia kamu tak apa?" Tanya Sia yang menatap wajahnya penuh keringat.
__ADS_1
"Eh," katanya Adelia tidak sadar.
Lalu Sia mengelap wajahnya dengan saputangannya.
"Kamu berkeringat banyak," kata Sia memberikan saputangan kepadanya lalu membantu yang lain.
Adelia memegangnya dan memang dia merasa sangat panas sekali lalu mengelapnya. Dan melihat keringatnya berwarna merah.
"KYAAAA!!" Jeritnya mundur dekat jendela.
"Ada apa? Ada apa? Kamu kenapa?" Tanya guru seni menenangkan Adelia.
"Saputangannya... ada darah. Keringatku berdarah," kata Adelia panik.
Dengan aneh guru itu mengambil saputangan putih. "Adelia, tidak ada darah dan ini memang keringat kamu. Basah karena keringat, dan kamu juga tidak berdarah. Hari ini memang panas sih, mungkin kamu harus rehat dulu," kata guru itu menyerahkan saputangannya.
Adelia yang kaget melihatnya tidak ada darah. Dia menyeka keringatnya itu putih bening bukan merah. Dia merasa panas menyengat punggungnya menjalar sampai wajahnya. Kemudian dia rehat di ruang perawat yang ada Ac-nya.
"Aneh sekali. Sepertinya memang aku terlalu berlebihan," kemudian dia menuju Vending Machine sekolahnya dan meminum minuman berwarna merah alias Fanta.
"Menurutku kamu harus mengembalikan sabun yang pernah dipakai Sia kalau tidak... wajahmu akan menjadi taruhannya," kata Arae mengagetkannya.
"Kamu siapa ya? Jangan sok tahu," kata Adelia melemparkan kaleng itu ke tempat sampah lalu menabrak Arae.
"Kamu akan menyesal tidak mendengarkan ku," kata Arae menghilang.
Adelia berhenti jalan dan berbalik badan tapi Arae sudah tidak ada. Dia lalu berlari menuju kelasnya dan mencari tahu soal Arae tapi semua kelas tidak ada foto dirinya. Kedua tangannya gemetaran lalu ke kelasnya.
Adelia membuka kantungnya dan sabun milik Sia satunya lagi menjadi bubuk, dia terkejut bagaimana caranya memakai itu nanti? Dia duduk termenung.
"Duh, gatal," katanya menggaruk wajahnya sedikit.
Lalu membuka jendela dan merasakan angin yang berhembus lalu duduk lagi.
"Adelia, wajah kamu..." kata yang lain melewatinya.
"Kenapa?" Tanya Adelia heran.
"Mengelupas?" Tanyanya keheranan.
Adelia bingung lalu dia merasa pipi kanannya seperti mengeluarkan suara Sreeek. Agak seram juga dia agak deg-degan mengambilnya. Perlahan dia merasakan sendiri kulitnya memang mengelupas.
Saat dirinya panik, masuklah Sia dan melihat Adelia. "Kulitmu mengelupas? Yah itu normal setiap menit kan kulit kita menggantikan kulit yang sudah usang. Kamu kenapa wajahnya tegang?" Tanya Sia yang meminum airnya lalu keluar lagi.
"Iya ya normal kan hahaha," katanya yang lega.
"Ya memang normal. Kamu kenapa sih? Sepertinya sakit ya. Besok acara terakhir kamu harus hadir siapa tahu menang," kata temannya duduk di kursinya.
Padahal itu adalah peringatan awal karena Adelia menggunakan produk yang fungsinya berbeda juga. Milik Sia hanya untuk mengobati kutukan sedangkan kini Adelia memakainya yang dimana efeknya akan berbalik menyerang pelakunya.
Sore harinya tiba, persiapan telah selesai. Sia dan Sehan juga kelelahan mereka harus masih tinggal di sekolah begitu juga dengan seluruh panitia. Adelia tentu saja pulang secepatnya dia merasa banyak kejadian aneh kepadanya.
"Eh eh kamu lihat tadi?" Tanya A saat Adelia lewat.
"Kulitnya agak tirus ya," kata yang lainnya.
"Sia, kata anak-anak Adelia kulit wajahnya mengelupas?" Tanya Sehan yang duduk sambil menyalakan kipas.
"Katanya begitu. Kalian lihat juga?" Tanya Sia ke ketua dan yang lainnya.
"Aku yang lihat sendiri. Wajahnya banyak mengelupas. Pokoknya mengerikan deh," katanya merinding.
"Apakah efek sabun yang dia pakai? Kalian lihat sendiri kan bentuknya itu lho," kata B.
"Ya aku juga merinding. Waktu aku sentuh memang sih layaknya sabun tapi bagaimana pokoknya tidak enak saja dilihatnya. Mau bagaimana pun itu adalah jantung dan warna merahnya itu. Coba deh kamu tusuk jari kamu, warna merah darah," kata Sia.
"Semoga tidak ada yang terjadi padanya," kata Sehan memandangi voting Adelia yang berkurang drastis.
Dalam rumah Adelia dia kemudian masuk kamarnya. Orang tuanya yang menyapa sama sekali tidak digubris. Dia langsung masuk kamar mandi dan melihat wajahnya mengelupas. Dia menangis menatapnya.
Perlahan dia menarik kulitnya sendiri sambil menangis. Selama 1 jam akhirnya selesai, dia lemas bukan main. Ternyata wajahnya baik-baik saja entah yang mengelupas itu apa. Saat energinya kembali, dia membuang itu semua dan membakarnya. Tapi agak tirus.
"Kenapa ya wajahku? Ah, sudahlah mungkin seharusnya aku tidak terlalu memakainya dalam waktu bersamaan," katanya lalu turun ke bawah untuk makan.
"Kamu kenapa? Wajah kamu kenapa tirus? Kamu sakit?" Tanya Mamanya cemas.
"Tidak apa-apa aku sehat hanya tidak enak saja. Ma, aku mau daging iga tapi agak merah ya," kata Adelia menunggu di ruang tamu.
Mamanya membuatkan. "Nak, kalau agak merah bukannya masih ada darahnya? Nak?" Tanya Mamanya lalu memeriksa.
Adelia tertidur di sofa dan Mamanya menyimpan daging yang belum dimasak itu. Papanya memberikan selimut dan menyalakan lampu ruang tamu. Adiknya tidur juga.
"Wajah kakak kok terlihat seperti nenek?" Tanyanya.
"Kamu ini," jitak Papanya.
Pukul 10 malam Adelia terbangun, perutnya sangat lapar. "Ah, mereka sudah tidur. Biarlah aku saja masak," kata Adelia berjalan.
Membuka lemari es dan melihat daging dalam tupperware yang belum dibersihkan masih penuh darah sapi. Tanpa dimasak, dia makan seluruhnya wajahnya berubah menjadi Ratu Bathory tertawa mengerikan. Kemudian Adelia menuju kamarnya tanpa menyadari keanehan terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Bersambung ...