
...This is my Darkness...
...Nothing anyone says can console me......
...Despair and Hope......
...Light and Dark......
...Happy and Sad......
...Hard and Easy......
...Good and Evil......
...Fall and Rise......
...Near and Fall......
...Group and Invidual...
...Everyone in life is gonna hurt you...
...You just have to figure out...
...Which people are worth the pain...
Baju episode ini :
Eris memikirkan saat dirinya bertemu dengan Ares. Penampilan sama hanya... Eris tidak yakin. Saat bertemu itu, ada jeda dimana Ares tampak tidak mengenalinya namun tiba-tiba saja dia berteriak begitu.
Eris menjadi ingat akan kenangan di masa lalu. "Kenapa dia bisa ingat ya? Apa waktu itu ingatannya pergi ke masa sekarang?" Gumam Eris merasa aneh.
Untuk mengetahuinya, Eris pulang dengan sengaja ke dimensinya. Dia keluar dari portal waktu dan merasakan angin dari dunianya yang dia rindukan.
Negerinya agak berantakan setelah beberapa abad terjadi peperangan, hutan para peri dan hewan agak terbengkalai.
Saat tengah memandangi pemandangan, kakaknya Demos turun untuk memastikan.
"Eris?" Tanyanya agak bimbang.
"Kakak," jawab Eris.
Demos lalu memeluknya karena rindu. "Dik, kenapa kamu kemari? Apa tugas mu sudah selesai?" Tanyanya secara beruntun.
"Tugasku masih jauh. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan. Kakak bisa antar kan aku ke kuburan abadi?" Tanya Eris dengan serius.
Demos mengangguk lalu membawa Eris kesana dengan menggendongnya. Kuburan Abadi adalah tempat dimana tujuh ksatria tertidur termasuk orang yang disukai Eris.
"Semuanya baik-baik saja. Kenapa?" Tanya Demos mengikuti adiknya.
Eris memeriksa semuanya tubuh ketujuh ksatria memang masih utuh dan mereka belum bangun. Karena bola kehidupan mereka pun terpisah.
"Kak, bagaimana dengan bola kehidupan mereka?" Tanya Eris.
Demos tidak mengerti, dia menggaruk kepalanya. Tapi untuk memeriksanya dia menuju altar yang terdapat sebuah kotak berhias banyak batu permata.
"Kamu ini kenapa? Tentu saja itu juga aman bola mereka kan disimpan dalam kotak kuat ini. Jadi..." kata Demos membuka kotaknya dan terdiam mematung.
Eris menatap gerak gerik kakaknya yang berhenti setelah melihat ke dalam kotak itu.
"Ada apa, Kak?" Tanya Eris.
Demos tidak mampu berkata apapun dan memperlihatkan isinya. Eris berhenti melangkah ke arahnya, benar saja bola kehidupan milik Ares dan Poseidon tidak ada.
"Begitu ternyata dugaan ku tepat. Mereka mengambil tubuh reinkarnasi kedua ksatria yang ada di dunia manusia dan menukar ingatan," kata Eris memandang tajam dalam kotak itu.
"Apa!? Kamu yakin?" Tanya Demos kaget.
"Kemarin saat aku sedang jalan-jalan, aku terkejut bertemu dengan seseorang yang mirip dengannya. Saat itu aku sudah bersiap tapi entah sengaja atau tidak, dia menyapa orang lain," kata Eris agak muram.
"Hmm, apa mungkin orang yang sama dengan ingatan yang berbeda? Lalu setelah itu ada yang terjadi lagi?" Tanya Demos berjongkok di hadapan Eris.
Eris melepaskan kontak lensa putih yang dia pakai dan menampakkan kedua mata aslinya. Kedua matanya mengeluarkan air mata lalu Demos memeluknya.
"Dia bilang saat mulai jauh, dia senang aku baik-baik saja. Ada apa dengannya, Kak? Kalau dia orang yang berbeda kenapa... dia senang melihatku baik-baik saja?" Tanya Eris memeluk Demos dengan pedih.
"Tenanglah Eris, Kakak yakin itu orang yang berbeda. Haruskah aku memberitahu Raja dan Ratu?" Tanya Demos setelah melepaskan pelukannya.
"Tidak perlu," kata Raja yang tiba-tiba muncul. Eris dan Demos memberikan penghormatan, Raja terharu melihat Eris.
__ADS_1
"Ayah, dua bola kehidupan ksatria Ares dan Poseidon telah menghilang," lapor Demos ketakutan.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa?" Tanya Raja langsung memeriksa kotak.
"Keinginan mereka berdua sangat kuat mungkin kotak seperti ini pun tidak bisa membuat mereka tinggal," kata Eris dengan wajah sedih. Dia ingin mereka berdua tetap beristirahat di dunia keabadian.
"Eris, bila kamu bertemu lagi dengannya, Bunuh!" Perintah Raja berbalik menatap Eris.
Eris terkejut begitu juga Demos.
"Raja, itu terlalu..." kata Demos yang ingin menolak perintahnya.
"Apa boleh buat, bola kehidupan dari dimensi lain memasuki tubuh manusia di masa sekarang, akan membuat hidupnya menderita. Mereka akan selalu mengingatkan pada tubuh lain mengenai kenangan terburuk itu. Apalagi mereka juga telah melihat wujud aslimu," kata Raja berjongkok di hadapan Eris.
Eris memejamkan kedua matanya dan berhenti menangis tentu dia ingat bagaimana pesan Ares kepadanya di masa peperangan.
"Bila kau bertemu dengan kami lagi, bunuh lah kami agar takdir dapat berubah,"
Demos mengetahui kenangan terindah Eris bersama Aiolos dan sulit baginya untuk melenyapkannya.
"Raja, biar aku saja yang melakukannya," kata Demos menawarkan diri.
Eris kemudian memakai lagi kontak lensanya, kali ini sosok Eris yang dingin muncul kembali. "Tidak, Kak biar aku saja. Aku yang harus membunuh mereka, itu pesan Ares terdahulu," kata Eris mengangguk akan menuruti perintah Ayahnya.
Raja memantapkan hati dan muncullah sebilah pisau belati berwarna hitam kelam, dengan ukiran sesuatu.
"Tusuk mereka dengan pisau ini menggunakan darahmu agar bola kehidupan mereka bisa keluar," kata Raja menyerahkan pisau itu pada Eris.
"Eris," kata Demos simpati sekali pada adiknya.
"Aku bisa melakukannya jangan cemas," kata Eris menatap Demos lalu menghilang.
"Ayah, apa Eris yang harus melakukannya? Aku juga bisa," Tanya Demos keberatan. Berpendapat bahwa Ayahnya sengaja membuat Eris menderita.
"Karena Eris lah yang membuat ingatan Ares bergerak. Sepertinya ksatria ini masih memiliki hal yang belum terpenuhi. Ares, Poseidon apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Raja berdiri di depan kotak nisan mereka.
Kembali pada tokonya, pisau itu Eris simpan di kotak berharganya bahkan Arae dan Raven tidak akan mampu membukanya. Dia kemudian menghampiri bola kristal dan melihat penampakan Ares dan Poseidon yang sedang berbicara serius.
Di dalam teras rumah Poseidon, mereka mengobrol sambil memakan cilok dari toko Sawa dengan sedih.
"Kasihan sekali hidup Sawa harus berakhir mengenaskan," kata Ares menghela nafas.
"Lalu soal Eris. Kamu serius bertemu dengannya? Kapan dan dimana?" Tanya Ares menjilat bibir bawahnya.
"Di sini. Saat aku sedang makan cilok ini, aku melihat dia secara tidak sengaja," kata Poi menunjukkan arah Eris pergi melayang di langit.
Ares bengong dan berpikir lalu menatap Poi. "Sebenarnya aku juga bertemu dia secara tidak sengaja," kata Ares memakan cilok satu sendok.
"APA!? KAPAN!? Lalu??" Tanya Poi yang sangat terkejut. Intinya mereka berdua bertemu dengan Eris yang mengira sudah tidak ada.
"Aku kebetulan memang sedang ada janji bertemu dengan anggota kelompok sekolah dan hanya melewatinya. Tapi itu memang Eris hanya... agak lebih dingin dari yang kita kenal," kata Ares.
"Menurutmu bagaimana? Apa dia memang Eris yang kita kenal?" Tanya Poi.
"Aku tidak merasakan aura yang sama seperti yang pernah kita temui. Kali ini dia sangat dingin, kejam dan menginginkan sesuatu. Eris yang kita kenal seperti sudah tidak ada," jelas Ares.
"Ngomong-ngomong kapan kamu ingat tentang kejadian itu?" Tanya Poi terlihat agak meragukan.
"Setelah aku mengalami kecelakaan tenggelam di kolam bebek. Kamu?" Tanya Ares mengingat kejadian memalukan itu.
"Mengalami kecelakaan kepentok mainan Cosplay pedang yang dibuat sungguhan oleh kakak paling tua," kata Poi. Itu adalah hal yang memalukan juga hanya karena tidak sengaja terbentur langsung melihat sesuatu.
Mereka berdua terdiam, tentu Eris berada di sana menguping pembicaraan mereka.
"Jadi dulu," kata Ares tengah mengingat sesuatu.
"Kita ini," gumam Poi.
"Ksatria?" Tanya mereka berdua bersamaan.
"Tapi bagiku rasanya aneh bisa memiliki ingatan seperti itu," kata Poi.
"Benar juga. Aku merasa ingatan ini bukan milik ku tapi aku kadang melihat diriku sendiri memakai baju perang. Terasa seperti ada ingatan orang lain yang masuk," kata Ares.
Poi setuju, lagipula sekarang kan jaman mereka sudah terbebas dari perang. Eris terkejut akan kesadaran mereka yang memang aneh, karena bola kehidupan ksatria Ares dan Poseidon memang merasuki tubuh mereka.
Ada kemungkinan roh Ares dan Poseidon secara kebetulan mencari tubuh mereka di dunia manusia. Intinya bola kehidupan mereka salah masuk ke dalam tubuh orang lain.
Ares menjentikkan jemarinya membuat Poi menatapnya.
"Aku sekilas melihat sesuatu yang besar, panjang dan berkelok-kelok di hadapan kita. Itu apa ya?" Tanya Poi berpikir keras. Dalam ingatan itu, dia merasa bermimpi buruk, sampai terbangun dan ingat belum sempat berdoa saat mau tidur.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan kita dulu mati karena di genggam ular besar?" Tanya Ares yang juga bermimpi hal yang sama.
Mereka berdua terdiam lagi dan meneruskan memakan cilok nya sampai habis. Mereka saat itu sedang menunggu para anggota kelompok yang akan mengerjakan tugas dari sekolahnya.
"Menurutmu... itu naga bukan? Tapi naga apa itu ya? Tampaknya seperti memandangi kita lalu membawa kita pergi jauh," kata Ares.
Eris yang berada di belakang mereka memejamkan kedua matanya dan bernafas dengan tenang. Mana mungkin dia mampu membunuh mereka berdua, setidaknya dia harus memperlambat ingatan mereka siapa dirinya.
Malam harinya rumah Poi ramai oleh empat anggota kelompok sekolahnya. Mereka merencanakan kerja kelompok dan tidur bersama, Ares bernyanyi dan Poi dengan agak ng-rap. Teman-temannya memukul apa saja untuk menghasilkan bunyi.
Orang tua Poi juga bersenang ria dengan membuat Barbeque di halaman.
Suasana malam itu sangat berisik dan seru, untungnya rumah Poi bukanlah komplek perumahan jadi mereka mau bernyanyi sekeras pun, tidak akan mengganggu tetangga.
Tugas selesai hanya tinggal membuat catatan dan itu tugas Ares. Poi dan yang lainnya sudah tertidur tengah malam itu. Eris lalu memasuki rumah Poi tanpa menyentuh, dan tanpa suara.
Ares yang sedang mengetik di layar komputer ternyata tertidur yang tangan kanan memegang mouse. Tangan kirinya bertopang dagu, sepertinya dia tengah memikirkan kalimat yang akan dijadikan laporan.
Eris menunjuk pada kepala Ares dan Poseidon, sebuah energi berwarna hijau plus kilauan seperti glitter keluar. Energi itu memasuki kepala mereka berdua dengan maksud menahan ingatan siapa Eris sebenarnya keluar.
Gambaran soal Eris berubah menjadi naga diubahnya menjadi beruang. Eris tersenyum lalu pergi.
Seketika itu juga Ares terbangun dan memandangi sekelilingnya lalu menggaruk kepalanya dan menguap.
"Aneh, aku merasa ada yang berdiri di sampingku tadi. HOAAAA lanjut besok deh," kara Ares lalu berbaring bersama teman-temannya.
Burung-burung bernyanyi dan Raven bergabung dengan mereka lalu bernyanyi. Raven sambil memperhatikan manusia yang berjalan di bawahnya. Ternyata mereka sedang membicarakan toko ajaib Eris.
Tersebar lah sudah mengenai toko Eris yang ajaib yang katanya mampu mengabulkan banyak keinginan.
"Kamu tahu? Ada toko ajaib lho," kata siswi A kepada temannya.
Raven berpikir, "Ini pasti kerjaannya Nona Arae," katanya lalu terbang menuju tempat kerjanya.
Raven tiba di toko Eris namun ada banyak sekali pengunjung, dan melihat Arae yang membuat sepuluh bayangan duplikat dirinya.
"Hah? Ternyata dia sedang sibuk mana pakai Kage Bunshin No Jutsu pula," pikir Raven meng garukkan kepalanya. Lalu dari mana kabar itu beredar?
Raven lalu terbang kembali ke jalanan yang tadi dia sedang enak berjemur. Sekarang dia bertemu dengan siswi yang membicarakan toko Eris.
"Ah! Aku pernah masuk kesana, setelah kita beli atau meminjam sesuatu besoknya toko itu menghilang bagaikan angin," kara siswi B menimpali.
Teman-temannya agak penasaran. "Lalu?" Tanya mereka.
"Akan muncul lagi 2 tahun kemudian, aku pernah menemukannya," kata siswi A dengan semangat.
Mereka semua kagum. Raven berpikir sepertinya Nona Eris tidak menghapus ingatan mereka, hanya orang tertentu yang ingatannya dihapus. Termasuk orang-orang nakal yang tidak menepati janji untuk mengembalikan barang yang telah mereka pinjam.
"Apa kamu melihat penjaga tokonya? Maniiiiis sekali," kata siswi B kepada A.
"Iya iya. Penjaganya anak kecil yang berambut panjang dan warna putih. Apa itu penyakit albino* ya?"
*Adalah kondisi kelainan sejak lahir yang menyebabkan pengidapnya mengalami kekurangan melanin atau bahkan sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut.
Oleh sebab itu warna kulit, rambut dan mata pada pengidap albinisme berwarna pucat dan cenderung berwarna putih.
"Entahlah tapi memang cantik sekali. Kulitnya juga bersih putih. Wah, kalau bisa bertemu lagi kita harus menanyakan padanya di pakai skincare jenis apa," kata siswi B tertawa. Mereka semua setuju.
Lalu berlanjut di sebuah sekolah SMP dalam sebuah ruangan kelas.
"Mia, hari ini kamu ada klub lagi?" Tanya temannya.
"Iya nih. Aku lewat ya piket nya hehehe," kata Mia yang bersiap-siap untuk pergi dari kelas.
"Enaknya. Ya sudah kamu harus memenangkan pertandingan nanti ya," kata Icha memberikan syarat kalau piket nya mau mereka kerjakan.
Mia tertawa. "Oke deh," katanya kemudian beranjank dari kursinya.
Lalu beberapa murid membicarakan sesuatu saat sedang merapihkan mrja dan kursi. "Eh, kalian sudah dengar soal toko ajaib?" Tanya A.
Mia mendengarkan cerita teman sekelasnya yang sangat bersemangat saat itu.
"Toko ajaib? Memangnya ada?" Tanya Mia.
"Iya, Mia ada kok. Toko itu hanya bisa dimasuki oleh orang yang memiliki keinginan. Mau baik atau buruk, atau juga yang membituhkan pertolongan," jelas anak itu yang bernama Tari.
"Kamu percaya soal begituan?" Tanya Mia agak mengejek.
"Banyak kok orang yang pernah masuk kesana. Mau coba?" Tanya Tari agak menantang.
Bersambung ...
__ADS_1