Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

"Pakai di pergelangan tanganmu yang sedang bermasalah," kata Eris menunjukkan tangan Lira.


"Ahhh, baiklah. Ini cantik sekali, apa pergelangan tanganku akan sembuh?" Tanya Lira sambil mengamati gelang tersebut.


Sudah bukan rahasia umum lagi bila manusia sangat tertarik dengan barang bernama Emas. Dunia Kegelapan dimana Eris tinggal, memiliki gunung Emas. Kalau itu ada di dalam dunia manusia sudah pasti habis digali dalam sehari.


Di dunianya, gunung itu sangat sedikit sekali digali karena mata uang mereka adalah permata. Tidak ada lembaran uang kertas, hanya permata kecil sampai yang besar. Dunianya juga sangat makmur apalagi berdampingan dengan dunia Dewa.


Perang telah usai menyisakan bangunan yang dijadikan bukti peperangan antara kaum mereka di jaman dahulu. Kini mereka saling berdampingan, meskipun beberapa wilayah tidak mengijinkan warga kegelapan datang atau sekedar lewat.


"Tergantung," jawab Eris dengan dingin.


Lira menatap Eris. "Kok?" Tanyanya agak kecewa.


"Bila menurutmu agak aneh, kamu bisa melepaskannya. Tapi coba pikirkan baik-baik apa tujuanmu yang selalu berkata penuh kepalsuan," kata Eris menatap Lira.


Lira tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Eris, dirinya merasa tidak ada kepalsuan dalam keberadaan atau lainnya. Karena merasa semakin aneh, Lira pamit untuk pulang.


Mereka berdiri, Eris masih berada di hadapannya. "Kamu bekerja?" Tanyanya ingin tahu.


Lira berbalik dan tersenyum. "Iya," jawabnya tidak ada asap karena memang sudah punya pekerjaan.


"Dimana?" Tanya Eris.


"Seorang insinyur," jawab Lira dengan senyum malaikatnya namun asap hitam menyembur keluar.


Arae menutup mulut dan hidungnya, Yuri memasang wajah agak cemas sepertinya semakin parah.


"Ada apa? Ada apa?" Tanya Yuri dari belakang mencolek pinggang Arae.


"Parah, setiap kali dia berbohong asap itu semakin tebal sekarang hampir memenuhi toko ini," bisik Arae.


"Apa tidak bisa disembuhkan?" Tanya Yuri meskipun dirinya tidak bisa melihat, melihat reaksi Arae sudah cukup membuatnya panik.


"Tentu saja bisa tapi memerlukan tekad dan kemauan yang sangat kuat. Perempuan ini tampaknya sering berbohong pada semua orang. Kamu dengar kan jawaban dia tentang pekerjaannya?" Tanya Arae memasang pelindung.


Yuri mengangguk. Setiap kali Eris bertanya, jawabannya tidak sama.


"Baiklah," kata Eris tetap tidak bergerak di tempatnya.


Dirasa tidak ada pertanyaan dan kepentingan lagi, Lira melangkah menuju pintu toko dan menatap gelang emas yang berada di pergelangan tangannya. Tanpa disadari asap hitam tersedot masuk dan sebagian menghitam.


Raven kemudian masuk kembali setelah bersembunyi di antara bunga mawar. Dia membawa Ella yang berubah menjadi boneka kertas, lalu memberikannya pada Eris.


"Asapnya lebih menyeramkan saat terakhir kali aku melihat," kata Raven memegang dadanya dengan lega.


"Wanita itu sama sekali tidak menyadarinya bila kebiasaannya adalah senang berbohong," ucap Eris memberikan suatu mantra lalu kertas boneka iyu terbang, dan... POOF! Ella hadir dengan lega.


"Terima kasih, Nona," kata Ella kembali ke mejanya.


Yuri juga keluar dan bisa bernafas bebas. "Anu, kalau asap hitamnya semakin tebal lalu apa yang akan terjadi?" Tanya Yuri menanyakan pada semuanya.


Arae, Raven, Eris dan Ella hanya terdiam mendengarnya. Tentu Yuri sama sekali tidak tahu efeknya.


"Kalau wanita itu datang lagi, aku lebih baik berubah menjadi kertas saja," kata Ella.

__ADS_1


"Tenang saja," kata Eris.


"Hei, kalian tidak menjawab pertanyaan ku. Apa yang akan terjadi, Eris?" Tanya Yuri memegang bahu Eris.


Eris menghela nafas. "Dia tidak akan selamat," katanya membuat Yuri terkejut.


Setelah selesai dengan Eris, Lira kembali ke suatu tempat bukan tempat dimana dia bekerja tapi Cafe. Seorang pria menunggunya disana dan mereka mengobrol.


"Sudah lama menungguku?" Tanya Lira duduk di depan pria itu.


"Tentu saja tidak, sayang. Berapa lama pun aku akan tetap menunggumu disini. Oh ya, kamu suka gaun yang mana untuk pernikahan kita nanti?" Tanya pria itu memberikan katalog baju pengantin.


Kali ini Lira tidak berprofesi sebagai Penipu Pernikahan, dia benar-benar memutuskan akan menikah. "Sayang, aku senang yang agak terbuka. Ini saja ya," pilihnya ke gaun pengantin yang super mahal.


"Mahal sekali. Harganya cukup untuk menyewa sebuah mobil limosin dan gedung pernikahan. Yang lain saja ya," kata pria itu tersenyum.


"Menikah kan sekali seumur hidup. Mengenakan gaun ini juga hanya sekali. Ayolah," rayu Lira kepadanya.


Pria itu menyandarkan punggungnya dan seperti sedang berpikir. "Oke, tapi tidak akan ada mobil limosin. Bagaimana?" Tanyanya.


Lira senyum. "Baiklah tidak masalah," katanya tertawa.


"Lira, gelang ini kamu beli?" Tanya pria itu agak curiga


"Gelang ini dikasih oleh tanteku. Katanya warisan. Bagaimana? Cantik kan?" Tanya Lira memperlihatkannya. Asap hitam terlihat keluar dari cafe tersebut.


"Ah! Maaf aku pikir kamu ada pria lain. Oh iya kapan kamu memperkenalkan aku ke keluargamu? Kita akan menikah masa mereka tidak akan datang?" Tanya pria itu menggenggam tangannya yang putih.


"Sayang sekali mereka baru saja berlibur ke Korea. Aku ditinggal karena harus bekerja kan," kata Lira. Mulutnya keluar asap dan dia terbatuk-batuk.


"Kamu tidak apa-apa? Kamu habis makan apa sih? Agak bau," kata pria itu.


"Astaga! Maaf sayang, aku sedang sariawan," kata Lira memberikan alasan.


"Kenapa tidak bilang? Nih, aku pesankan salad buah ya bagus untuk sariawan. Oh iya katanya kamu bekerja sebagai perawat kan, di mana? Nanti aku antar kamu ke sana ya," kata pria itu sangat senang.


"Jangan. Jangan. Sepertinya hari ini aku akan ijin, sariawannya mengganggu," kata Lira menolak.


Pria itu agak sedikit kecewa dan sedih, sudah beberapa kali selalu ditolak. Dia agak curiga kepada Lira soal pekerjaan, keluarga, atau pun dirinya.


"Ya sudah. Nih makan dulu," kata pria itu akhirnya menyerah dan berdoa semoga pilihannya tidak salah.


Keesokan harinya Lira melakukan kegiatan seperti biasanya, dalam rumah yang kecil dia bersih-bersih rumah, menyapu lalu memasak. Dia tidak bisa masak jadi hanya menghangatkan beberapa makanan.


Bajunya banyak dalam rumah tersebut yang dia dapatkan dari memeras banyak pria. Sengaja dia tidak pindah ke rumah yang lebih besar untuk membuat para pria iba kepadanya.


Lalu Lira sudah siap dengan setelan baju santainya dan mengikat rambutnya kebelakang. Saat menunggu di persimpangan jalan, secara tidak sengaja bertemu dengan Yuri.


Yuri kaget lalu menatap Lira secara dekat. Ternyata wanita itu adalah pasien yang masuk ke dalam toko Eris. Yuri tampak terpesona dengan penampilan Lira yang begitu bergaya dan cantik.


"Kamu mengenalku?" Tanya Lira menatap Yuri dengan pandangan menyelidiki.


"E-eee... tidak. Hanya saja Anda sangat cantik," kata Yuri masih memandanginya. "Aneh. Padahal kesan wajahnya tampak keibuan lalu kenapa bisa sifatnya bobrok?" Pikir Yuri tidak mengerti.


"Ya ampun, terima kasih banyak ini semua karena aku merawat wajah dengan irisan buah jeruk," katanya dengan bangga menyentuh wajahnya.

__ADS_1


Yuri tidak tahu apakah ada asap hitam yang keluar, ataukah membesar. Tanpa disadarinya asap hitam yang berada di dekat Lira menjangkau wajahnya dan memeluknya.


"Apa Anda model?" Tanya Yuri terpesona.


"Hahaha iya," kata Lira tertawa dengan cantik.


Sekejap asap hitam itu menenggelamkan Yuri. Pandangannya tiba-tiba menjadi pening dan mulai batuk tersedak.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Lira agak kebingungan. Mirip dengan dirinya ketika bersama pria yang kemarin.


Yuri tidak bisa menjawab, dia terus batuk-batuk sambil memegang lehernya. Ada sesuatu yang mencekiknya entah apa.


"Aku... tidak...tahu uhuk uhuk," kata Yuri dengan susah payah.


Karena keadaannya semakin ramai dan Yuri terbatuk di hadapannya, sebelum orang-orang mengerubunginya Lira sudah menjauh.


Lira tidak sadar kalau itu terjadi akibat dirinya. Asap hitamnya pun langsung menghilang dari lehernya menyisakan semacam asap tipis.


"Nak, kamu tidak apa?" Tanya orang lain membantunya berdiri.


"Iya. Saya sudah tidak apa," kata Yuri terasa aneh. Rasa perih dan sakit itu menghilang saat Lira menjauh darinya.


"Jangan dekati wanita tadi," kata suara seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya.


Yuri melihat ke belakang, Aiolos berdiri sambil memberikan sebotol air padanya. Yuri menerima sambil berkata terima kasih lalu meminumnya.


"Kenapa, Kak?" Tanya Yuri menutup botolnya.


"Wanita itu dipenuhi asap hitam. Kamu tadi tercekik karena itu. Kamu tidak bisa lihat ya?" Tanya Aiolos.


"Eh!?" Tanya Yuri menatap Aiolos dengan menganga. Yuri melihat Lira yang sudah berada di kejauhan.


"Wanita itu bukan perempuan yang baik, dia itu kawanan perampok. Hati-hati," katanya lalu pergi meninggalkan Yuri.


"Terima kasih, Kak!" Seru Yuri.


Aiolos melambaikan tangannya dan berjalan dengan keren.


Barulah pukul 10 Yuri memasuki toko Eris dan otomatis waktu di luarnya terhenti. Aiolos menyadari itu tapi sudah biasa, saat yang lain berjalan pelan, dia bisa dengan mudah berjalan seperti biasanya. Namun tidak menyentuh apapun.


Eris lalu melayang ke arah Yuri dan Yuri kaget.


"Ya ampun, Eris," kata Yuri memegang dadanya.


"Kamu bertemu wanita itu ya? Makan ini," kata Eris yang masih melayang memberikan tablet putih kepada Yuri.


Yuri menurut dan memakannya tiba-tiba angin aneh menghampirinya dan setelah itu semuanya kembali seperti semula.


"Apa itu?" Tanya Yuri menatap sekitarnya.


"Tablet yang kamu makan berasal dari air suci, bila nanti kamu bertemu wanita itu lagi, lari dan menjauh," kata Eris membawakan makanan enak untuk dirinya.


Saat sedang perjalanan makan, Yuri menatap Eris yang tegang, Raven dan Arae lalu Yuri segera berlari tanpa diminta. Arae memasang pelindung karena tampaknya asap hitam itu sudah bisa menjangkau orang termasuk Yuri.


Benar saja Lira datang kembali dengan asap hitam yang hampir menenggelamkan dirinya sendiri. Eris menatap gelang yang diberikannya sudah setengah menghitam.

__ADS_1


"Selamat datang," kata Eris menyambutnya.


Bersambung ...


__ADS_2