
Setelah mendengar penuturan sejumlah pelanggan, siang harinya Aiolos dan Nyx meminta ijin untuk keluar. Mereka bergegas menuju rumah Eria dengan rumah yang masih penuh dengan coretan dan sampah.
"ERIA! ERIA!" Teriak Aiolos sambil mengetuk pintu dengan keras.
Nyx berlari ke samping rumah tapi tidak ada siapapun di dalam. "Tampaknya belum ada yang pulang,"
"Kemana kita harus mencarinya?" Tanya Aiolos dengan cemas.
Nyx berpikir lalu mendapatkan sesuatu. "Hmm kalau tidak salah, satu dari penggemarnya di Cafe berkata bahwa dia masih berada di stasiun siaran TV. Tandanya dia masih ada syuting di sana," kata Nyx menjentikkan jari.
"Kita harus kesana sekarang, aku tidak mau terjadi sesuatu yang lebih parah kepadanya. Ayo!" Kata Aiolos berlari.
Nyx langsung menyalakan motor dan Aiolos duduk di belakang. Mereka menuju stasiun TV tempat dimana Eria berada. Sesampainya Aiolos turun dan hendak berlari.
"Tunggu! Aku ikut!" Teriak Nyx menyimpan helmnya.
"Tidak perlu," kata Aiolos.
"Tidak, aku harus ikut. Ibunya pasti ada di sana juga kan dan dia terlihat penuh dendam padamu. Aku akan tetap ikut," kata Nyx memandangi dengan serius ke arah Aiolos.
Aiolos mengerti dan mereka memasuki gedung megah itu. Setelah bertanya pada resepsionis ternyata Eria berada di atas gedung. Dimana terdapat taman yang terbuka.
"Hei, Nyx," kata Aiolos sambil berlari.
"Ya?" Tanya Nyx tanpa melihat temannya.
"Bila nanti ibunya melakukan sesuatu padaku biarkan. Dan kamu jagalah Eria jangan sampai dia terluka," kata Aiolos dengan tegas.
"Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Nyx.
"Aku akan hadapi ibunya kali ini tidak akan kalah!" Kata Aiolos.
Berpindah pada suatu tempat dengan ruangan yang agak sempit sebelum Eria syuting. Eria tengah duduk sambil menyisir rambut panjangnya. Ibunya merasa kesal dan jijik dengan ruangan itu.
"Tempat apa ini!? Mengapa mereka menempatkan kita di ruangan sempit yang berbeda dengan paranormal lain?" Tanya Ibunya sambil marah.
"Setidaknya kita dapat tempat," kata Eria.
Ibunya sama sekali tidak mendengar dan semakin marah. "Yang lebih parah tidak ada seorang pun yang menyambut kita! Awalnya sebelum kamu diketahui memiliki kekuatan, mereka yang memohon kita untuk ikut acara! Sekarang kita tidak dipedulikan!" Kata ibunya.
Eria tidak peduli apa kata ibunya dan berdiri mengambil air.
"APA YANG KAMU LAKUKAN!?" Teriak ibunya menepis tangan Eria dari galon air.
"Aku haus ingin ambil air," jawab Eria.
"JANGAN BOHONG!" Teriak ibunya.
"Ibu mau buat aku kehausan? Setelah ibu hanya menonton melihat artis itu menghajar ku," kata Eria memandangi ibunya dengan datar.
Sang ibu terdiam dan membiarkan Eria minum. Lalu selesainya Eria memandangi ibunya.
"Ada apa?" Tanya ibunya enggan menatap Eria anaknya sendiri.
"Bu, aku ingin bertanya," kata Eria.
"Apa?" Tanya ibunya memandangi jendela.
__ADS_1
"Kenapa Ibu tak pernah menanyakan apa impianku?" Tanya Eria membuat ibunya agak kaget.
"Bersiaplah sebentar lagi kamu akan tampil," kata ibunya merapihkan dandanan dirinya.
Eris yang menghilang kembali ke dalam toko. Kekuatannya bersinar begitu juga pintu toko. Kekuatan alam menyambutnya dan mengeluarkan cahaya kekuningan kecil.
"Bu, impianku adalah..." kata Eria menatap Ibunya tidak peduli.
"Apa? Anak sekecil kamu punya impian?" Konyol," kata Ibunya.
"Ingin kekuatan ini hilang dan aku menjadi anak biasa," kata Eria membuat kedua matanya berkaca-kaca.
"Apa yang kamu katakan?" Tanya ibunya meyakinkan bahwa dia salah dengar.
"AKU INGIN KEKUATAN INI MENGHILANG!" Seru Eria.
Ibunya menjatuhkan lipstik dan cermin yang dipegangnya. Seakan tidak percaya apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Ibunya merasa familiar mendengar jawaban itu dan membeku.
Kata-kata dari Eria membuat suatu aliran aura dan benang semacam pita berputar-putar di sekitarnya. Ibunya marah sekali.
Eris terbangun dalam toko, portal berubah warna menjadi biru seperti biasanya. Membuat Arae terpana.
"Eris!" Katanya kaget. Dia merasakan getaran kekuatan temannya yang bangkit. Arae terbang menuju portal di depan rumah Yuri, begitu juga dengan Yuri dan Raven.
"Bersiaplah," kata Eris yang berdiri di tengah ruangan toko.
Arae memeluknya dan Yuri pun dipanggil serta Raven berubah menjadi manusia dalam toko itu. Sebelum mereka pergi ke toko, Ibu dan Ayah Yuri merasa kehilangan.
"Datanglah lagi, kamu selalu diterima di rumah ini," kata Ayah dan Ibu pada Arae dan Raven. Mereka memeluknya mengucapkan terima kasih.
Raven juga menangis, dan berjanji akan datang lagi. "Yuri, kami tunggu kedatangan mu untuk bekerja kembali," kata Raven melambaikan tangan lalu masuk portal.
Kembali dalam ruang tunggu, Eria kembali mengingatkan ibunya soal dahulu sebelum dirinya menjadi terkenal.
"Ibu bilang jangan pernah berbohong kepada siapapun. Tapi..." kata Eria tertunduk sedih.
"Apa? KATAKAN DENGAN SUARA LANTANG!" Seru ibunya tidak bisa bersabar.
"Ibu selalu berbohong pada siapapun agar aku mendapatkan banyak pekerjaan. Aku sedih sekali ibu berkata aku satu-satunya yang tidak boleh berbohong padamu kan," kata Eria.
"Tentu saja! Kamu lihat kan bagaimana ibu banyak berkorban? Itu semua untuk kamu, untuk kita!" kata ibunya membuat pengertian.
"Lalu saat aku kehausan dan hendak ambil air, ibu tidak percaya bukan? Dan mengatakan kalau aku berbohong. Kenapa, Ibu?" Tanya Eria menatap ibunya.
Lagi-lagi ibunya hanya memalingkan wajah.
"Ibu, aku..." kata Eria yang sedikit lagi bisa memegang tangan ibunya yang mulus.
"Eria! kamu harus siap ya 5 detik lagi giliran mu tampil," kata staf yang mengingatkan lalu pergi.
"Kamu harus bergegas ke atas gedung. Ingat, jangan buat aku marah dan jangan buat uangku hilang!" Ancam ibunya menarik baju Eria dengan kasar lalu dihempaskan.
"Ibu, aku ingin kau menyebut namaku sekali lagi," kata Eria berhasil menggenggam tangan ibunya.
Setelah itu ibunya mendorong dirinya untuk lepas dan mengelap tangannya dengan tisu. Eria tertunduk sedih, aura biru muncul keluar dari tubuhnya.
Eris yang berada dalam tokonya tentu saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibu Eria. Kini Eris tanu apa yang akan dia lakukan, mengambil kembali apa yang memang menjadi miliknya.
__ADS_1
Sebuah kartu terbentuk oleh api berwarna hitam dan merah muda. "Raven," ucap Eris dengan nada dingin.
"Ya, Nona," kata Raven langsung memberi hormat di depannya.
Eris memberikan kartu nama toko dan Raven mengerti apa maksudnya. Dia berubah menjadi gagak dan terbang dimana Eria berada.
Saat Eria bersiap dan membuka pintu, Raven terbang berkaok di jendela. Eria takjub melihatnya dan menghampiri.
"Gagak? Dia bawa sesuatu. Apa ini?" Tanya Eria.
Raven memberikan kartu itu padanya meminta Eria membacanya.
"Toko Zalaam. Dimana aku bisa ke tempat ini?" Tanyanya pada Raven.
Kemudian dia membalikkan kartu dan terkejut muncul sebuah kalimat berwarna ungu kehitaman.
..."Kami bisa membantu apapun masalahmu. Datanglah." ...
Eria merasa kartu ini unik dan dia memasukkannya ke dalam saku bajunya. Eria berjalan dari ruangan menuju taman.
"Itu dia," kata staf lain berbisik.
"Kamu yakin?" Tanya kru lain.
"Yang benar saja, aku merasakan firasat yang tidak enak kalau anak itu ada di acara ini," kata yang lainnya.
Sedangkan saat itu Aiolos dan Nyx sudah sampai di atas taman gedung.
"Di sini?" Tanya Nyx mencari.
"Eria akan syuting di taman ini. Ayo cari," kata Aiolos.
Eria berdiri menunggu kode dari para staf.
"Hei, kamu gila!? Masa kita harus undang anak itu lagi?!" Tanya A keberatan.
"Tenanglah, perannya sedikit kok. Hiasan saja," jawab asisten menenangkan.
"Oke tapi banyak penonton yang berkata anak itu selalu berbohong. Acara ini akan turun ratingnya," kata yang lain cemas.
"Ini adalah acara terakhirnya kita hanya cukup bekerjasama saja. Oke?" Tanya Asisten menepuk para kru dan staf.
"Aku tidak suka ibunya. Kalian tahu kan, dia sangat kasar bahkan pada anaknya sendiri," kata kru perempuan.
Mereka semua setuju, kalau saja tidak ada ibunya akan berbeda cerita.
Paranormal perempuan datang dengan wajah kesal melihat Eria dan ibunya. Apalagi miris menatap luka-luka Eria.
"Apa ibunya juga ada?" Tanya paranormal itu.
"Yah, ada," jawab asisten menunjuk.
"Huh! Keterlaluan tidak sih anaknya di aniaya sampai ditendang sama sekali tidak bertindak apa-apa," kata paranormal itu.
"Kami tahu. Makanya semua kru keberatan anak itu ada disini tapi karena ibunya memaksa, mau bagaimana lagi kan," kata Asisten mengajak paranormal itu memasuki panggung di taman.
Saat persiapan selesai, Ibunya Eria datang. "Kamu benar-benar harus bisa melihatnya. mengerti? Kamu masih bisa melihat hantu kan? Dengan satu mata yang tersisa. Ini semua salah mereka berdua gara-gara kamu memakan makanan mereka, kekuatan kamu menurun!" Kata ibunya marah.
__ADS_1
Bersambung ...