
"Aaaa jadi bagaimanapun caranya kita harus selesaikan ceritanya?" Tanya Anemoi.
"Ya, baru kita bisa keluar," kata Eris.
"Baiklah... ayo kita semua bisa bertahan sampai akhir. Lanjutkan ceritanya," kata Ares yang menghela nafas.
"Baiklah," kata Eris kemudian membuka kedua matanya, kedua bola matanya berubah menjadi emas kemerahan.
"Bayangan apa yang kalian lihat tepat di belakangku? Ada yang tahu?" Tanya Eris.
Mereka semua memandangi belakang Eris.
"Hm? Tidak ada apapun kok," jawab Poi merasa aneh.
"Tunggu saja sebentar," kata Arae tertawa.
Perlahan ada bayangan hitam yang agak pudar. Mereka mengusap wajah lalu dengan fokus bayangan itu kini semakin mendekat.
Nyx dan Aiolos mundur. "I-itu..." kata mereka berdua ke belakang Ares.
"Hmm? Ada ap...A!!!" Teriak Apollo saat tahu bayangan apa itu. Dia kini berdiri dan berlari berkumpul dengan semua di tengah.
Bayangan itu kini jelas terlihat. Itu adalah tentara yang ternyata para warga mengirimkannya ke kuil ini.
Eris dan Arae berdiri, tentara itu mengetuk pintu dengan sangat keras dengan suara yang menyeramkan.
"T-tunggu!" Kata Artemis yang juga ketakutan.
"Ceritaku belum selesai," kata Arae.
"Haduuuhhh cepat dong. Cerita kalian itu tentang bayangan di belakang?" Tanya Nyx merinding.
Eris tersenyum dingin, mereka bertujuh mulai gemetaran disko. Lalu bayangan tentara itu menampakkan kepalanya yang jatuh. Sontak mereka semua berteriak sekerasnya.
"HUWAAA KEPALANYA LEPAS!!" Teriak Aiolos agak menangis.
"Kamu yakin memiliki teman bernama Teran?" Tanya Arae melirik Teran di pojok.
"Tentu sajaaa! Kenapa sih terus bertanya? Kami sekelas dengannya," kata Ares menahan rasa cemas dan takut.
Teran terdiam dia menundukkan kepalanya.
"Sewaktu kami masuk ke ruangan, apa kamu melihat ke arah mana Biksu memandang?" Tanya Eris yang berjalan ke arah mereka bertujuh.
Ares dan Poi terdiam. Eris dan Arae berdiri di tengah dekat dengan mereka semua.
"Teran siapa sih?" Tanya Apollo kebingungan.
"OH! Biksu itu kan memandangi... kamu," kata Anemoi yang selalu memperhatikan menunjuk ke Poi.
"Aku?" Tanya Poi yang ternyata tidak menyadarinya.
"Hah? Kalau begitu..." kata Ares menelan ludah lalu memandangi pojokan dimana anak itu berada.
Eris kemudian dengan kilat berlari menuju peralatan berburu dan melemparkan semua senjata ke mereka bertujuh.
"Ini," kata Nyx.
"Gunakan senjata itu dan bunuh semua makhluk yang menembus pelindung!" Perintah Eris.
"Hah!? Tapi aku belum pernah memanah," kata Aiolos dan Anemoi.
"Kalian terlahir sebagai pemanah hebat," kata Eris.
"Benarkah!?" Tanya mereka berdua.
"Pedang? Aku hanya pernah mencoba mengayunkan saat saudaraku memakai cosplay," kata Nyx agak gugup.
"Tenang saja, darahmu adalah seorang ksatria," kata Arae.
Nyx, Ares dan Artemis menggunakan pedang sisanya busur dan panah ada juga tombak.
"Oh ya, Nyx apa kamu masih perjaka?" Tanya Arae.
Nyx yang mendengarnya langsung berwajah sangat merah. "Ke-kenapa?" Tanya.
"Jangan salah sangka. Air mani mu bisa kamu gunakan sebagai senjata juga," kata Arae.
"Apa!?" Teriak mereka.
"Hanya bila kalian masih perjaka ya. Kalian bisa celupkan ujung panah dan tembakkan ke arah roh jahat. Mereka akan musnah menjadi asap itu cara meng bumi hanguskan mereka," jelas Eris.
__ADS_1
Semuanya bermuka merah.
"Ah, kalian masih perjaka ya," kata Arae dengan centil.
"MEMANGNYA SALAH!?" Teriak mereka bersamaan.
"Aku kan biasa bicaranya. Mana mungkin aku minat tidur bersama kalian," kata Arae dengan polosnya. Eris menghela nafas.
Mereka semua tambah memerah wajahnya, karena malu sekali. sangaaaatttt merah.
"Hentikan. Kalau kalian ingin buang air kecil lakukan sekarang. Kumpulkan lalu basuh senjata kalian dengan itu. Mereka akan mudah dimusnahkan hanya sekali tebas. Ayo Arae berhentilah menggoda mereka," kata Eris menariknya ke arah yang lain.
"Tapi aku sedang tidak mau pipis," kata Anemoi dan Apollo. Mereka semua masih sama-sama malu.
Akhirnya mereka meminta punya Nyx anehnya tidak berbau saat mengenai senjata, senjata mereka agak terlihat berbeda.
Dengan sigap mereka bersiap entah bagaimana, gaya mereka pun sangat mirip dengan ketujuh ksatria. Belakang punggung mereka muncul aura yang berwarna warni terang, muncullah siluet ksatria dewa dengan senjata mereka.
"Sudah kuduga mereka semua bangkit saat genting begini," bisik Eris.
"Mereka benar-benar..." kata Arae yang kagum melihat mereka bertujuh.
Arae lalu mengeluarkan cambuknya dan Eris mengeluarkan tongkatnya. Mereka semua dalam posisi menyerang. semua pintu, lantai dan alat-alat mulai mengeluarkan suara berisik dan hentakkan.
Tiba-tiba pintu terbuka dan biksu masuk. "Jam pemakaian sudah habis. Lho?" Tanyanya melihat ruangan itu kosong melompong.
Eris dan yang lain ternyata berada di dalam dimensi lain yang dibawa oleh Teran, mengetahui itu Eris mengganti garam biasa menjadi garam hijau buatannya. Lalu lilin yang sudah ditiup oleh Arae menjadi pelindung tidak kasat mata oleh Teran.
Garam itu berguna untuk menekan aura jahat yang bermaksud membawa mereka ke dunia roh. Pantas saja Eris melarang mereka semua keluar karena saat itu, keadaan sekeliling berada dalam dimensi.
Dalam waktu yang asli, biksu kebingungan. "Dimana mereka? Apa aku salah datang ke ruangan ya? Hmmm aneh. Eh? MAYATNYA!" Biksu melihat peti berisi mayat sudah terbuka dan mayatnya tidak ada.
Biksu itu bergegas lari ke kuil utama untuk melaporkan kejadian ini.
Kembali ke dimensi lain, mereka bersiap setelah suara semakin keras dan pintu tidak dapat menahan. Lalu berbagai macam suara terdengar membuat mereka kebingungan.
"Terdengar suara dari semua ruangan," kata Ares.
"Oh ya?" Tanya Eris dengan tenang.
"Ada 6 jenis suara yang keluar," kata Poi.
"Oh ya?" Tanya Eris.
"Mungkin," jawab Arae.
Lilin-lilin kemudian terjatuh satu per satu dan ruangan menjadi agak buram abu-abu. Lalu suara gebrakan dan gertakan terdengar.
"Gempa?" Tanya Aiolos.
"Benarkah?" Tanya Eris.
"Kita bisa lihat dari air dalam wadah kan," kata Apollo lalu berlari dan dia terdiam.
"Kenapa?" Tanya Anemoi dia juga terdiam.
Air dalam wadah sama sekali tidak tumpah ataupun bergoyang. Eris dan Arae tersenyum.
"Halusinasi yang dibuat oleh seseorang sejak awal dia menjadi teman kalian di sekolah. Lalu membuat ilusi pada semua orang dengan keberadaannya," mata Eris.
"Lalu mengarahkan kalian ke kuil ini," lanjut Arae.
"Pelindung sudah menipis bersiaplah kalian untuk yang terburuk," kata Eris.
Aura hitam yang pekat masuk lewat celah jendela dan pintu. Semua roh jahat mendobrak pintu dan mereka semua masuk berlari ke arah mereka semua.
"SERAAAANG!!" Perintah Eris.
Mereka semua siap atau tidak langsung menghunuskan senjata. Arae melayangkan cambuknya dan membunuh 1 dan 3 roh jahat.
"Mereka ini apa!?" Tanya Aiolos sambil memanah.
"Hasil dari cerita kalian," kata Eris membakar.
Ares menebas dengan pedang bersamaan dengan Artemis. Selama setengah jam mereka semua berjuang berperang, tampaknya tidak asing selama mereka memasang kuda-kuda.
Roh jahat yang besar berhasil melumpuhkan 4 orang dan mereka terpental membentuk dinding.
Eris menciptakan bola pelindung yang melindungi ketujuh pemuda itu. Takdir tidak boleh terulang kembali.
Dirasa semakin sedikit, para roh yang tersisa bergabung menjadi makhluk yang sangat besar. 7 pemuda tersebut mundur dengan penuh keringat. Eris menggantikan posisi mereka dan membacakan mantra.
__ADS_1
Arae memasangkan lingkaran dengan kalimat sesuatu. "Kalian semua cepat masuk kemari!!!" Teriak Arae.
Anemoi membantu Poi yang terpelanting dan angin hitam berusaha menghalangi mereka. Arae menahan serangan sampai semuanya masuk, yang terakhir hanya Eris yang harus hadapi.
Saat mereka masuk, Arae langsung membuat mereka semua tertidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 shubuh.
"TIDAK AKAN KUBIARKAN KALIAN SEENAKNYA!!!" Teriak Eris dan tanda di dahinya muncul sama seperti saat di dimensi lalu.
Kilat berwarna biru kehitaman muncul, segel yang dimiliki Eris terlepas dan tongkatnya berubah menjadi mahkota. Eris berubah menjadi naga hitam yang sangat besar dengan kedua mata yang berkilat, mengeluarkan cahaya yang membuat mata kesakitan.
Teran hendak menyerang Arae yang berfokus melindungi 7 pemuda. Namun Eris melihat lalu melahapnya sekaligus, membuat roh itu terbakar dan musnah.
Makhluk besar itu pun kalah dan Eris melahapnya menjadi bulatan hitam. "Mereka?" Tanyanya.
"Ku buat tidak sadarkan diri," jawab Arae memandangi 7 pemuda yang tertidur.
Senjata yang dipegang, menghilang melebur menjadi asap.
"Antar kan mereka ke dimensi semula," kata Eris membuka portal.
"Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Arae.
"Aku memerlukan waktu agar bisa kembali ke semula. Bila aku belum kembali, buatlah kloning ku," kata Eris.
"Baik," kata Arae membawa mereka semua melewati portal waktu.
Sesampainya, hari sudah agak muncul matahari dan Arae bernafas lega hanya tinggal menunggu Eris. Arae meminta sang biksu melantunkan doa sutra untuk Eris.
Cahaya mentari pagi memasuki ruangan itu dan perlahan beberapa orang terbangun dengan rambut yang acak-acakan.
"Kami di kuil?" Tanya Anemoi lalu menguap lebar.
"Kalian bercerita hantu lalu tertidur karena terlalu lelah. Sekarang sudah menjelang pagi," kata Arae. Beberapa biksu sudah menyediakan wadah berisi air untuk cuci muka mereka.
Satu per satu terbangun. "Haaa aku merasa seperti baru saja bertarung dengan sesuatu dan melihat naga hitam," kata Poi menggeliatkan badannya.
"Naga hitam? Mimpi kalian menyenangkan ya," kata Arae tertawa.
"Eris?" Tanya Ares yang sudah bangun juga.
Tepat saat itu Eris kembali ke dimensi manusia, Arae sangat lega. "Dia di luar berbicara dengan biksu," katanya.
Arae lalu datang membantu para biksu membawakan makanan dan buah yang segar untuk mereka.
"Makanlah di sini," kata biksu utama dengan senang.
"Mayatnya?" Tanya Apollo bergegas masuk.
"Sudah tenang. Roh mayat itu menceritakan bahwa pelaku pembunuhnya adalah pelatihnya. Dia sengaja dibunuh untuk mendapatkan asuransi," jelas Eris yang datang.
"Mereka bermimpi soal naga hitam. Bagaimana?" Tanya Arae berbisik.
"Biarlah. Biarkan mimpi itu tetap ada," kata Eris.
"Oh iya, maaf Anemoi aku sempat melihat foto Teran dalam ponselmu. Siapa dia?" Tanya Ares.
"Oh, ini ya," kata Anemoi memperlihatkan.
"Iya. Apa kamu kenal dia?" Tanya Poi.
Mereka juga penasaran dan melihatnya.
"Sebenarnya waktu aku datang ke sini ingin bertanya pada kalian. Kalian ini bicara dengan siapa? Karena kalian berhadapan dengan seseorang yang tak kasat mata," jelas Anemoi.
"Lho? Ya dengan anak ini," kata Ares.
"Ini adalah keponakan dari pacarku, dia sudah meninggal lama karena ikut tawuran dan berakhir ditusuk oleh lawan," jelas Anemoi.
"APA!?" Tanya mereka.
"Jadi kalian berdua bicara sama gadis ini? Semenjak dari sekolah?" Tanya Artemis aneh.
"Ya.. kami pikir dia murid di sekolah juga," kata Ares.
"Karena itulah kami bertanya dimana kalian kenal anak ini karena dia sama sekali tidak berada di dunia tempat kita berada," kata Arae.
"Lagipula namanya bukan Teran tapi Unira," kata Anemoi lagi.
"La-lalu ke-kenapa dia..." kata Poi.
"Wah wah ternyata roh jahat sekalipun tertarik pada wajah tampan kalian ya," kata Arae tertawa keras.
__ADS_1
Wajah Ares dan Poi memucat. "TIDAAAAAKKK!!!"