Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
7


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Arae melihat wajah pucat Eris.


"Tidak apa," jawabnya kembali dingin.


Arae yang penasaran akhirnya hanya terdiam, apa yang diketahui oleh Eris mengenai para dewa yang telah meninggal dalam perang termasuk kecelakaan yang tragis.


Eris teringat sesuatu yang dia ingin lupakan soal ketujuh dewa tersebut. Ingatannya kembali mereka bertujuh menghalangi jalan pasukan Zeus untuk membunuh Eris yang terluka parah.


Dewa yang memang tidak menyukainya membantunya untuk lari dan entah bagaimana nasib mereka selanjutnya. Ada sesuatu yang Ares dan Poseidon ucapkan kepadanya, saat dirinya melihat arah belakang.


Ucapan mereka tidak jelas tapi itu membuatnya terkejut lalu memutuskan pergi dengan awan hitam menjauh dari medan perang.


Dia ingin melupakannya entah apakah memang takdir ternyata ketujuh dewa itu bereinkarnasi menjadi manusia di tempat dirinya memiliki misi. Haruskah dia melakukan apa yang diminta oleh Ares dan Poseidon? Untuk membunuh mereka di dunia manusia.


Eris terdiam menatap Mamanya Rui menjalankan tujuannya. Arae yang sebenarnya diperintahkan oleh Raja dan Ratu Kegelapan untuk menyelidiki apa yang Eris ketahui.


Keesokan harinya, Eris yang duduk memandangi jendela melihat Rui yang sedang gelisah. Tentu saja dia tahu penyebabnya.


Rui jalan sendiri sambil bergumam, soal dirinya yang teringat dengan kenangan Mamanya waktu dia duduk di Sekolah Dasar. Ada kesan dia merindukan Mamanya tapi malu mengakui.


Tangan di dalam saku kantungnya memegang untaian gelang yang diberikan oleh Eris. Kadang dia memandangi Eris yang duduk memandangi pemandangan luar toko.


Dia sayang sekali kepada Eris meski agak kurang ekspresif, sarapan yang dibuatnya dimakan sampai tak bersisa. Meskipun respon katanya hanya "Enak," dengan wajah dingin dan datar.


"Anu, Eris," kata Rui akhirnya mendatangi Eris.


Eris membalikkan wajahnya dan menatap Rui.


"Begini, hmmm hari kemarin saat kalian semua tidak ada aku seperti mendengar suara Mamaku. Lalu ada juga suara teman-temanku lalu aku melihat siluet Mamaku yang seakan berbicara denganku. Ada beberapa kejadian yang aku alami saat masih duduk bangku Sekolah Dasar. Sampai otomatis aku seakan mengobrol dengannya soal kue juga," kata Rui menangis.


Eris menghela nafas. "Sebenci apapun kamu terhadap orang tua atau bahkan sahabat, tapi merekalah yang paling tahu tentang dirimu. Sering bertengkar atau bermusuhan, tetap saja mereka ada di hatimu," katanya.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" Tanya Rui masih menangis.

__ADS_1


"Aku yakin kamu sudah mengerti kenapa dan apa jawabannya, kamu sudah melihatnya di hari lain. Sekarang ini kamu adalah roh, tubuhmu ada di masamu. Tubuhmu mengingatkan bahwa kamu belum mati. Kamu harus pulang," kata Eris melayang mendekatinya.


"Roh?" Tanya Rui melihat Eris yang berdiri melayang di hadapannya.


"Kamu lupa ya. Pastilah kamu sudah merasa nyaman di sini tapi ini bukanlah duniamu," kata Eris menyilang kan kedua tangannya di dada.


Rui bangun, melihat kedua mata Eris memerah. "Apa kamu akan memakanku? Kau akan menyatukan aku dengan roh-roh itu?" Tanyanya ketakutan.


"Mataku memerah kalau terkena matahari bukan artinya akan memakan mu kecuali kamu memang ingin menghilang," kata Eris menunjuk ke arah mentari.


Rui lega sekali. "Lalu tubuhku?" Tanya Rui.


"Kalau kamu memilih aku makan, artinya tubuhmu akan membusuk. Kalau kamu tidak mau tubuhmu busuk, Arae bisa memakannya. Bagaimana? Tanpa ada sisa darah sedikitpun, itulah makanannya. Sebenarnya," kata Eris turun lalu beranjak pergi.


"APA!?" Seru Rui melongo mendengarnya. Pantas Arae tidak mengatakan apapun ternyata...


"Dia bisa makan apa saja. Memang suka yang manis juga," kata Eris menyimpan akuarium yang bulat berisi cairan hitam dalam botol kecil.


"Eris, kamu suka makan apa?" Tanya Rui penasaran.


"APA!?" Seru Rui lagi.


"Aku memberikan gelang pemintas waktu agar kau bisa kembali kapan saja. Mereka memanggilmu karena kau tidak sadar selama 4 bulan. Dan entah bagaimana caranya roh mu terperangkap di ruang waktu ini. Waktu disini berbeda dengan waktu di dunia mu," jelas Eris.


"Hah?" Tanya Rui terdiam.


"Kamu disini hanya seminggu, tapi di duniamu sudah sudah cukup lama. Usiamu disini jauh dari yang seharusnya, makanya dengan kamu yang masih roh jelas akan menjadi makanan enak untuk kami," kata Eris membersihkan etalase.


Rui menghitung berarti sekarang dirinya kembali ke bulan dimana dia belum mengenal Suga. Pantas Mamanya datang karena sudah berjalan komanya 4 bulan.


"Kalau aku pulang, bagaimana denganmu? Kau akan bekerja sendiri dalam toko sebesar ini," kata Rui.


"Aku terbiasa sendiri. Ada Raven yang selalu datang setiap pagi," kata Eris.

__ADS_1


Raven masuk dan menyambut Rui dengan wujud burungnya.


"Pagi," kata Rui menyambut Raven.


Raven menatap sedih Rui, dia mengangguk Rui harus pulang meskipun mereka akan sedih.


"Arae mana?" Tanya Rui mencari.


Raven turun dari tangan Rui dan berubah wujud. "Dia sedih kalau harus melihatmu kembali.. ke tubuhmu," katanya menunduk.


"Dalam waktu yang lama kau akan merasakan efek karena roh mu terlalu lama berjauhan dengan tubuh," kata Eris.


Rui terduduk di sofa kecil yang muat untuknya dia mengeluarkan gelang itu. Gelang tersebut berkilau terang terkena cahaya, dia juga sedih merasa nyaman dalam toko ini.


Setelah dengan mantap, Rui berjalan ke hadapan Eris. "Aku putuskan untuk pulang," katanya.


Eris mengangguk.


"Kamu tidak merasakan sesuatu selama aku berada di sini?" Tanya Rui mengharap.


"Apa itu?" Tanya Eris tidak mengerti.


"Aku akan pulang, Eris. Kamu hanya mengucapkan itu saja?" Tanya Rui heran.


"Aku kira apa. Rui, malam ini akan datang sekelompok meteor jika gelang itu dipantulkan pada cahaya meteor yang melintas, akan terbentuk sebuah lingkaran mirip portal. Berwarna hijau terang, masuklah dan kamu akan sampai rumah," jelas Eris.


Rui menatap Eris dengan heran. Kenapa Eris terlihat biasa saja padahal dirinya begitu berat pulang.


Eris pergi dengan wajah yang biasanya meninggalkan Rui yang kesal. lalu muncul sebuah bola yang terdapat suara Arae.


"Rui, Eris tidak memiliki perasaan seperti kamu ataupun aku dan Raven. Dia adalah makhluk kegelapan yang memiliki kekurangan pada Hati. tidak ada rasa sedih, senang, kesal atau apapun yang bisa kami miliki atau makhluk lain miliki. Soal mantra dia yang paling bisa apapun tapi yah... jangan berharap dia akan memiliki rasa rindu," kata Arae lalu menghilang.


"Saya burung yang selalu datang melihatnya pun sudah tahu. Ada sedikit kehilangan tapi sayangnya rasa sedih tidak mungkin. Kami ingin kamu kembali ke duniamu meski kami berdua akan kesepian," kata Raven dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2