
Mia kemudian memutuskan untuk datang lagi ke toko Eris. Dia masuk tanpa memperhatikan Ela.
"Selamat da..." sambut Ela dengan ramah tentu saja Mia hanya melewatinya saja.
"Kamu kembali lagi. Masih belum puas?" Tanya Eris. Tokonya pun memang masih bisa dilihat oleh Mia.
"Ya, masih ada yang kurang. Aku belum puas! Ngomong-ngomong kenapa cermin ini agak menghitam?" Tanya Mia yang memperhatikan sisi cermin tersebut.
Eris kemudian menyadarinya dan membawanya ke suatu tempat lalu memasukkan cermin bulat itu ke dalam air. Diangkatnya cermin itu yang kembali bersih.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?" Tanya Eris menaruh cermin itu di hadapannya.
"Aku meminta 'Cinta' yang akan diberikan kepada Kudo," kata Mia.
Cermin itu menampakkan Mokona yang sedang bersama Kudo. Ada sesuatu yang membakar dalam diri Mia.
"Kamu masih saja membencinya? Setelah membuat tangan berharganya tidak bisa digerakkan," kata Eris menatap dingin Mia.
Mia terdiam mendengarnya.
"Penderitaannya sudah setara bukan denganmu," kata Eris menunjukkan tangan kanannya yang masih belum sembuh.
Di sekolah, Mokona mendatangi Kudo berada.
"Eh, Mokona. Ada apa? Hari ini kamu tidak perlu datang ke Klub. Kata Pak Guru sementara waktu diliburkan," kata Kudo yang sedang mengerjakan sesuatu di buku melukisnya.
"Kak Kudo, aku... aku sebenarnya..." kata Mokona yang memantapkan hati.
Di toko Eris.
"AKU BENCI DIA! Aku sangat benci! Akan ku rampas semua yang dia sayangi! Buatlah dia selalu gagal dalam cinta!" Kata Mia dengan tanpa sadar air matanya jatuh ke lantai.
Di Klub kesenian.
"Kak, aku selama ini selalu menyukai Kakak," kata Mokona membuat Kudo agak kaget.
"Hmmm bagaimana ya," kata Kudo tertawa garing.
Toko Eris.
"Tidak apa-apakah? Kalau kamu lakukan, anak yang menyatakan cinta padanya akan terkena kutukan begitu juga dengan teman laki-lakimu," kata Eris yang hendak mengabulkan keinginan Mia.
Raven tahu meskipun Eris penampilannya datar dan dingin tapi dia yakin, Eris memiliki hati yang hangat.
"Akan ku buat dia lebih menderita!" Kata Mia sambil memegang cermin itu, kedua tangannya gemetaran. Sanggupkah dia melakukannya?
Saat cermin itu bersinar untuk memakan keinginan Mia yang terakhir, tiba-tiba Mia teringat bagaimana Kudo memperlakukannya sama seperti biasa. Apalagi dia senang melihat Mia tertawa, malu-malu sampai membantunya mengambilkan tas.
__ADS_1
Cermin itu kemudian menghilang membuat Mia tersungkur di lantai. "Padahal aku sangat membencinya, padahal aku sangat bersemangat untuk membuat dia lebih menderita. Tapi kenapa..." kata Mia memandang kedua tangannya.
Eris lalu menghancurkan cermin itu dengan api ungu kebiruan nya. "Karena kamu menyukainya," kata Eris berjongkok di hadapan Mia.
Mia tersentak, "Aku? Suka sama dia? Yang benar saja! Dia kan sudah membuat..." kata Mia masih terdiam.
"Jadi tidak ada keinginan lagi untuk membuatnya menderita ya. Cermin nya juga sudah pada batas waktunya," kata Eris.
Mia tidak mengerti tapi karena toko itu memang ajaib, dia mengangguk.
"Kamu menyayangi. Dalam lubuk hati kecilmu merasa bersalah kan. Dia membuat kakimu luka karena ketidaksengajaan, sedangkan dirimu sudah tentu dengan niat membalas," kata Eris menarik tangan Mia dan membimbingnya untuk duduk.
Menyajikan teh diambil alih oleh Ela. Meskipun sebal tapi dia sajikan teh Merah dengan kue cokelat yang menggiurkan.
Mia meminumnya dan aromanya membuatnya tenang. Dia juga memakan kue itu meski takut tapi karena lapar, dia memakannya.
"Kuenya enak! Apa kamu menjualnya?" Tanya Mia dengan malu-malu.
Eris menyuruh Ela untuk membawakan 1 pack bungkus besar kue itu.
"Kamu bisa membelinya. Harganya juga murah," kara Eris.
Mia senang sekali. Dia membelinya.
"Cobalah untuk membuka dirimu dan menerima dirinya. Dengarkan dulu apa yang akan dia katakan, jangan biarkan kesalahpahaman membuatmu lebih menderita lagi. Kamu tidak perlu datang lagi kemari," kata Eris.
Setelah itu Mia merasa mengantuk, dan Eris menutup kedua matanya. Gambaran tentang toko itu pun Eris hilangkan dalam ingatan Mia dan segalanya, menyisakan bungkusan kue yang cantik.
Setelah itu Mia membuka kedua matanya dan keheranan, kenapa dia berada di persimpangan jalan? Lalu melihat bungkusan cantik. "Ah ya, aku kan baru beli kue tapi dimana tokonya?" Tanyanya.
Mia kemudian menuju rumahnya dan entah kenapa merasa lega sekali. "Kalau Kudo menyetujuinya, apa hak aku membencinya? Baiklah, aku akan menikmati kue ini,"
Di Klub Kesenian.
Buku sketsa yang Kudo pegang tiba-tiba terjatuh membuatnya berjalan untuk mengambil tapi Mokona sudah duluan mengambilnya. Betapa terkejutnya an itu melihat gambar sketsa yang sedang Kudo kerjakan.
"Kak, orang ini kan yang kabarnya telah menampar Kakak," kata Mokona memandang pada Kudo.
"Iya, maaf ya. Aku tidak bisa menerimamu, aku ditampar karena membela semua temannya yang dia kasari," kata Kudo lalu mengambil buku itu dari tangannya.
"Tapi Kak, banyak yang bilang orang ini memang kasar," kata Mokona.
"Dia adalah perempuan yang paling ingin kulihat saat ini. Itulah kenapa aku sengaja memaksanya ikut terapi ini," kata Kudo.
Mokona lalu keluar meskipun sedih, tapi apa boleh buat. Mokona bisa melihat Kudo tersenyum ceria sudah cukup.
"Bagaimana? Di terima ya karena kamu senang," kata temannya semangat.
__ADS_1
Mokona menggelengkan kepala. "Aku ditolak hehe," kata Mokona.
"APA!? Kenapa?" Tanya mereka bersamaan.
Mokona tidak menjawab, dia melangkah dengan senang.
Besok paginya adalah hari terakhir dia bersekolah. Kakinya pun kini semakin membaik.Dia membawa beberapa kue untuk teman-temannya dan meminta maaf atas kelakuan kasarnya.
"Mia," kata Kudo mencegatnya.
Mia menatap Kudo dengan wajah yang malu.
"Ikut aku dulu yuk," kata Kudo. Kali ini dia tidak menyeret Mia.
Sampailah mereka di Klub Kesenian lalu Kudo mendorong Mia ke sebuah lukisan yang masih tertutup.
"Ada apa sih?" Tanya Mia heran.
"Bukalah," kata Kudo yang senang.
Mia lalu membuka tirai nya dan terkejut. Lukisan dirinya yang sedang latihan senam. "Ini..."
"Aku menyukaimu, Mia. Meskipun kamu kasar tapi aku tahu itu untuk menutupi kelemahan mu," kata Kudo yang memerah.
Mia pun sama lalu dia memberikan bungkusan kue pada Kudo. "U-untuk...mu," kata Mia menundukkan kepalanya.
"Wah! Aku makan ya," kata Kudo yang senang sekali.
Mereka berdua lalu berjalan bersama menuju kelas, semua murid sudah datang dan menatap mereka dengan aneh.
Mia tentu saja mendatangi Tari dan lainnya meminta maaf atas sikapnya yang kasar dahulu.
Mereka menyambut Mia, dan Mia membagikan kue yang telah dia bungkus dengan cantik. Tentu saja bungkusan untuk Kudo lebih istimewa.
Setelah itu Mia datang ke klub senam untuk memulai kembali dan memberikan selamat pada Marina dengan ramah.
"Terima kasih, Mia. Aku harap kamu bisa mulai lagi, kita akan bertanding secara berpasangan," kata Marina yang takut karena tidak percaya diri.
"Tentu," kata Mia menepuk bahu Marina.
Sepulangnya, Kudo dan Mia jalan bersama.
"Oh ya, kamu bisa melukis lagi?" Tanya Mia yang membawa lukisan dirinya.
"Sebenarnya ada yang aneh. Kemarin malam saat tidur aku didatangi anak berambut putih katanya aku bisa melukis lagi dan jaga perempuan yang menyukaimu. Hahaha setelah itu aku mencoba menyatakan perasaanku ke kamu," kata Kudo.
Mia terdiam, dia tidak ingat soal Eris tapi bersyukur kalau dirinya sekarang bisa lebih menerima.
__ADS_1