
"Itu... itu bukan pedang kertas buatan aku. ITU SUNGGUHAN!" Tunjuk Adrian ke arah pedang yang menancap di dada Sely.
"Mana mungkin! Siapa dari kalian yang bertingkah jahil begini!?" Tanya Xin pada semua anggotanya.
Tidak ada yang mengaku mereka semua ketakutan dengan apa yang dilihat.
"Ketua, kita semua kan tidak ada yang diam. Kecuali..." kata salah seorang anggota menatap Yuri dan kedua temannya.
"Kalau Yuri tidak mungkin, kedua temannya juga sama sekali tdiak beranjak dari dia. Yuri terus menonton kan," kata Xin yang menangkap tatapan curiga.
"Kita harus menutup panggungnya," kata Yuri dengan suara gemetaran.
"TIRAI! TURUNKAN TIRAI, BUBARKAN SEMUA ORANG!" Teriak Xin lalu semuanya menjadi kacau. Para dosen pun membantu para penonton keluar dengan tertib ke luar aula.
"Ada apa ini?"
"Bukannya belum selesai?"
"Padahal aku ingin melihat akhirnya,"
Suara hiruk pikuk itu tampak kecewa sekali. Setelah agak sepi, para pemain keluar dari belakang layar dan terkejut menatap Sely yang sudah memucat.
Thanatos kemudian menarik bola kehidupan Sely dan menunjukkan pada Aphro lalu mereka menghilang.
Sely yang akhirnya telah meninggal dunia meninggalkan isak tangis begitu juga dengan Yuri. Kalau saja Sely tidak mengganggunya mungkin dialah yang memang akan mati.
"SELY! SELY!" Teriak para dosen memeriksa nadinya namun tidak tertolong lagi.
Wajah Sely memucat karena darah keluar banyak sekali. Adrian dan dosen lain menggotong tubuh Sely keluar aula dan memanggil taksi menuju Rumah Sakit.
Tinggallah mereka yang masih tersisa dalam aula menatap genangan darah dari Sely. Thanatos menampakkan diri lagi berupa asap dan Yuri menatap sosok hitam itu.
Thanatos memandanginya lalu melambaikan tangan dan menghilang. Yuri terduduk lemas di atas lantai dingin itu memandangi panggung drama.
"Yuri, kamu baik-baik saja?" Tanya Isak memegang tangannya.
"Thanatos," ucap Yuri dengan suara bisikkan.
Bukan Eris yang memiliki rencana penggantian ternyata Thanatos tapi bagaimana caranya dia bisa membujuk Sely melakukan hal kotor? Yuri lalu menatap jam sudah pukul 8 malam artinya, dia selamat.
Semua anggota membereskan peralatan dengan kedua mata yang sedih dan habis menangis. Setelah semuanya selesai, Yuri dan kedua temannya pamit.
"Aku pulang duluan ya," kata Ria dengan wajah sendu.
"Aku juga. Sebelum itu kami berdua akan menyelesaikan soal foto dan video dramanya," kata Isak memamerkan kameranya.
Yuri mengangguk mengerti dan keduanya pergi bersama. Yuri menatap langit dan memejamkan kedua matanya, meski dia selamat sayang sekali Sely yang menjadi korbannya. Lalu saat Yuri hendak melewati kelas lain, dia melihat Eris di lapangan.
Yuri lalu berlari menghampirinya. Kenapa Eris berada di sana?
"Eris. Eris, apa kamu..." kata Yuri dengan nafas terengah-engah.
Eris berbalik. "Bukan. Itu bukan aku yang urus," katanya dengan suara dingin seperti biasanya.
"Hah hah.. Lalu... bagaimana bisa... Sely," kata Yuri yang berusaha meredam nafas lelahnya setelah berlari.
Eris terdiam sudah pasti pamannya bekerjasama dengan seseorang. Tapi siapa? "Pukul enam dia benar-benar datang. Sely tidak bisa memainkan perannya karena itu dia harus memakai wig untuk menyerupai diri kamu," jelasnya.
__ADS_1
"Ya aku tahu. Tapi..." kata Yuri yang kesulitan bertanya.
"Dan selanjutnya pasti kamu bisa menduganya," kata Eris kemudian berjalan menjauhi Yuri.
Yuri menangis duduk lemas di rerumputan. Raven tentu saja terbang ke arah Yuri dan saat mendarat dia berubah menjadi manusia.
"Dengan begini, kamu aman Yuri karena kak Aphro juga pergi begitu saja dari gedung pertunjukkan," kata Raven menenangkan.
"Aphrodite? Dia datang?" Tanya Yuri menatap Raven.
"Kamu tidak tahu? Kabar kedatangannya membuat dunia hewan heboh," kata Raven dengan kedua mata yang berlove-love.
Yuri terdiam. Dia sempat menonton Sely dan memandangi kursi penonton. Ada sosok yang baginya berbeda karena parasnya sangat cantik dan kesannya anggun.
"Ketahuilah Thanatos telah menarik bola kehidupan menipu kakak perempuan Eris. Supaya kamu juga selamat tidak ada makhluk apapun yang mau berhadapan dengan Eris," kata Raven menatap majikannya yang sudah menjauh lalu terbang.
Yuri lalu menangis lagi dan Raven menghela nafas dan memeluknya.
Di tempat lain, Ria dan Isak berjalan bersama membicarakan kejadian yang mengerikan itu. Jasad Sely sudah dibawa oleh kedua orang tuanya untuk di kebumikan.
"Rasanya aneh. Kok aku merasa ini bukan kebetulan ya?" Tanya Isak memegang lehernya.
"Seperti sudah direncanakan ya. Kita senang Yuri selamat tapi sebagai gantinya Sely," kata Ria menundukkan kepalanya.
"Iya. Oh iya apa kamera mu ini merekam semuanya?" Tanya Isak memperlihatkan kameranya.
Ria berhenti melangkah lalu memeriksa. Roll nya sudah habis dan dia teringat mungkin saja kamera ini bisa menangkap sesuatu laly menyeret Isak ke rumahnya.
"Ada apa sih? Sabar dong," kata Isak yang harus melepaskan sepatunya.
Dalam kamar gelap, mereka melepas roll kamera dan berusaha mencucinya. Lalu Ria berpindah ke video untuk mencari sesuatu. Dia menonton drama itu dengan perasaan sedih. Lalu...
"ISAK!! ISAAAK!!!" Teriak Ria yang kalap berlari ke ruang gelap.
"Duuuh, apa lagi sih?" Tanya Isak sebal.
"Sini sini sini. Ikut aku dulu," kata Ria yang panik.
"Huuh ini sih kapan selesainya kalau kamu terus..." kata Isak yang kemudian disuruh duduk paksa.
"Lihat apa yang kamera aku tangkap," kata Ria.
"Ya apaan? Fotonya belum selesai tuh. Masa harus nonton video dulu?" Tanya Isak.
"Lihat dulu deh baru kita putuskan akan mencuci roll nya apa tidak. Dan aku juga minta penjelasan dari yang kamu lihat sekarang," kata Ria mengulang video dari awal.
Isak lalu mau tidak mau melihat juga drama tadi sore dan dia tiba-tiba memajukan badannya dan memegang layar.
"I-ini..." kata Isak menatap Ria dengan wajah ketakutan.
"Ini. Kameranya terus On sampai kejadian Sely," kata Ria memundurkan kembali.
Mereka berdua melompat mundur ke belakang dan saling berpelukan. "Apa ini yang dilihat oleh Yuri?" Tanya mereka bersamaan. Apakah ya g mereka lihat?
Besok paginya dosen masuk ke dalam kelas dengan suasana berduka. Ria dan Isak juga masuk berpegangan tangan dan menatap Yuri. Yuri menatap mereka dengan pandangan aneh.
Sebelum kelas dimulai, Ria dan Isak menghadap dosen Sejarah.
__ADS_1
"Ada apa? Kelas mau dimulai ayo duduk," kata Dosen.
"Pak, saya ada buktinya kalau Thanatos itu memang ada," kata Ria dengan tegas.
Isak mengangguk. Suara mereka juga jelas terdengar karena depan kelas dipasang mic pengeras suara.
Pak dosen serta mahasiswa lainnya mendengar dan mereka tertawa berjamaah.
"Kalian ini. Bapak kemarin hari hanya bercanda. Ayo duduk, ayo semuanya kembali ke bangku kalian!" Kata Dosen menepuk tangannya.
"Tidak, Pak. Kami serius. Kami berdua sudah melihatnya saat Sely sedang sakaratul maut," kata Isak menambahkan.
"THANATOS ITU MEMANG ADA!" Teriak Ria yang agak gemetaran
Yuri pun terkejut dan tegang. "Mereka bisa melihat Thanatos? Tapi bagaimana caranya?" Pikir Yuri.
Dosen akhirnya mengalah dan membiarkan mereka membuktikannya. "Baiklah, tidak ada salahnya kita melihat bersama-sama. Ayo tunjukkan, kamu tolong tutup tirai jendela," kata dosen.
Beberapa mahasiswa menutup sambil tertawa. Kemudian duduk kembali. Dosen juga duduk di antara mahasiswanya, Isak dan Ria lalu menyalakan video dan menayangkan drama yang tengah terjadi.
Eris mendatangi kampusnya karena Yuri berbisik bahwa kedua temannya menangkap Thanatos dengan kamera. Tanpa disadari pintu terbuka dan Eris masuk berdiri di belakang.
"Hei, kalian bukankah seharusnya memberikan bukti ini pada polisi?" Tanya mahasiswi lain.
"Lalu, kita jelaskan pelakunya hantu?" Tanya yang lainnya.
"Tenang. Kalian lihat saja dulu sampai akhir," kata Ria, setelahnya mereka berdua duduk bersama Yuri.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Yuri berbisik.
"Sama persis yang kamu lihat," jawab Isak.
Yuri menatap mereka dengan kaget. Dan... tampilan Thanatos dengan wujud asap bermata hijau muncul di belakang Sely. Kemudian menebas lehernya saat Sely menancapkan pedangnya ke arah dada.
Semuanya menahan nafas dan menutup mulut, sebagian mahasiswa berteriak histeris tidak percaya. Pak dosen terkejut bukan main, apa yang dilakukan Thanatos pun bisa mereka lihat.
Saat dirinya menarik bola kehidupan.
"Gila!" Teriak mereka sebagian menangis, sebagian ketakutan.
Kemudian saat semuanya menjadi kacau, waktu terhenti. Hanya Yuri yang bisa bergerak, Eris datang melewatinya.
"Eris," kata Yuri.
"Jangan bicara Yuri dan jangan bergerak," kata Eris mengisyaratkan menggunakan tangannya.
Eris menuju pemutaran video. Lalu memencet tombol Off, CD itu melayang di atas telapak tangannya.
Arae juga muncul melihat sekeliling Yuri terdapat lingkaran emas. Ya itu adalah sang Waktu.
"Ceroboh sekali pamanmu Eris. Tampaknya benar juga ya kalau Death bisa terkecoh," kata Arae tertawa.
Eris mengeluarkan sebuah jam dan menunjukkannya. "Jam ini akan menghapus ingatan mereka mengenai Thanatos. Sely akan dianggap terbunuh karena tidak sengaja menusuk dirinya dengan pedang kertas. Yang tahu kebenarannya hanya kamu seorang Yuri," kata Eris.
Jam itu melayang dan suara detik jamnya bergema ke seluruh dunia. Menghapus tentang sang dewa Death dari sejarah para manusia.
Yuri mengerti kemudian angin waktu membuatnya tertidur. Jam itu membuat waktu mundur dimana waktu kuliah berjalan tanpa kehadiran Sely.
__ADS_1