Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

Ana semakin curiga terhadap kelakuan Tabiko dan soal kulitnya yang semakin hari semakin kencang dan glowing.


"Si Tabiko menyebalkan sekali sih," kata A menjulurkan lidah padanya yang keluar kelas.


"Ya wajarlah dia kan yang paling cantik di semua kelas. Apalagi semua murid laki-laki memujanya termasuk pacar aku. Eh eh kalian merasa aneh tidak sih dengan kulitnya?" Tanya B bertanya sambil berbisik.


"Kita juga merasa heran kalau kita perhatikan ya kulitnya menjadi berbeda. Tidak seperti kulit anak SMP pada umumnya," kata C.


Hal itu didengar oleh Sari, sebenarnya Sari memperhatikan gelagat Ana yang selalu terlihat curiga kepada Tabiko.


"Tampak seperti usia 17 tahun tapi kan mana mungkin ya," kata yang lainnya.


Ana juga berpikiran yang sama apalagi Tabiko semakin aneh saat dirinya sembuh dari kecelakaan yang lalu dialami oleh mereka berdua.


"Apa peristiwa pembunuhan karena vampir ini terjadi karena Tabiko? Meditasi macam apa yang dia lakukan? Setelah dia sembuh dari kecelakaan mengenaskan itu, segalanya semakin aneh. Banyak berita soal pembunuhan yang darahnya habis," pikir Ana yang keluar kelas dan memperhatikan Tabiko dari belakangnya.


*Setahun lalu kejadiannya saat Ana sedang menunggu angkot, kebetulan ada juga Tabiko yang berdiri di sebelah Ana. Mereka tidak mengobrol karena tahu Tabiko tidak pernah mau berbicara dengan murid biasa.


Lalu kecelakaan itu pun terjadi. Ada angkot yang tampak supirnya mabuk lalu motor menabraknya dan angkot itu malah oleng ke arah mereka berdua.


Nahasnya saat sedikit sadar, Tabiko mengalami luka pada wajahnya dan juga leher sedangkan Ana pada satu tangan dan satu kakinya.


Mereka kemudian dibawa ke Rumah sakit dan dirawat di tempat yang sama. Ana selalu mendengar rintihan Tabiko yang kesakitan. Tidak ada kedua orang tuanya yang menjenguk, hanya beberapa pembantu yang menemaninya.


Beberapa bulan kemudian Ana duluan yang pertama keluar dari Rumah Sakit. Ana bermaksud ingin memberikan perpisahan sementara karena akan rawat inap di rumahnya.


"Tabiko, hari ini aku akan pulang. Kamu cepat sembuh ya," kata Ana pamit sambil meletakkan beberapa bingkisan di mejanya.


"Pergilah! Setidaknya kamu terluka di bagian yang cepat sembuh. Tidak seperti aku!" Kata Tabiko memperlihatkan wajahnya dililit perban.


"Jangan begitu, aku juga sulit berjalan dan tangan masih belum bisa dipakai dengan baik. Aku yakin wajah kamu akan kembali normal lagi," kata Ana*.

__ADS_1


"*Aku ini hanya bernasib buruk bisa mengalami kecelakaan bersama kamu! Dan anehnya kamu masih bisa beruntung sedangkan aku... apa sih salahku bisa mendapat yang terparah!?" Seru Tabiko memandangi Ana.


Ana menundukkan kepalanya, dia menatap dirinya juga yang masih belum sembuh dan terkadang kesakitan*.


"Tabiko, aku..." kata Ana berusaha menjelaskan.


"SUDAH CUKUP jangan banyak basa basi deh di depan aku! Bilang saja kamu senang kan melihat aku seperti ini. Sakit atau tidak, aku sendiri yang merasakannya! PERGI SANA!!" Teriaknya melemparkan bingkisan yang Ana taruh tadi.


Pembantunya hanya terkejut dengan kelakuan Nona mudanya dan mengambil bingkisan tersebut. Dalam bingkisan itu terdapat sebuah boneka yang cantik khusus untuk Tabiko.


"Boneka ini dari teman-teman sekelas mereka mendoakan kamu untuk cepat sembuh," kata Ana menyerahkan boneka itu.


"Boneka?" Tanya Tabiko lalu melihatnya. Dia geram sekali lalu menatap pisau buah yang ada di sebelah kanannya. Dia hantam kan pisau itu ke wajah, perut, tangan dan semua bagian boneka dengan liar.


Ana terkejut. "Kenapa kamu lakukan itu!? HENTIKAN!" Teriak Ana tapi sayangnya dia tidak bisa berlari karena luka kakinya masih belum mengering.


Tabiko lalu menghempaskan boneka yang telah rusak itu dan menangis. "Kalau sudah sembuh lalu bagaimana? Seperti inilah wajahku yang asli sama dengan boneka ini! Daripada harus hidup dengan wajah monster ini, aku memilih mati!" Kata Tabiko menangis.


Pembantunya menguatkan nona mudanya dan terus mendukungnya. Ana tidak bisa berkata apapun lagi, kondisinya memang termasuk ke dalam terparah.


"HUAAAAAAAAAA!!" Teriaknya.


Suara Tabiko terdengar jelas ke luar para pembantunya hanya bisa menghela nafas. Sangat nahas sekali majikan mereka setelah lama ayahnya tidak pernah menjenguk, kini dalam musibah berat pun Tabiko harus sendirian.


Wajahnya hancur dengan buruk. Tabiko terus menangis kenapa hidupnya begini menyedihkan. Saat merasa tidak ada lagi harapan wajahnya kembali cantik, Tabiko mengambil pisau dan berkata menyeramkan.


"Wajahku menakutkan bahkan lebih mengerikan daripada hantu. Bila ada sesuatu yang bisa mengubah wajahku kembali cantik, aku akan serahkan jiwa ini kepada iblis sekalipun," kata Tabiko sambil menangis.


Di luar kamar, muncullah Thanatos yang tertarik dengan keinginan Tabiko. Dia mengubah sosoknya menjadi dokter tampan dengan rambut yang pirang.


"Merepotkan juga manusia yang mengalami luka berat yang membekas. Sedikit perbedaan tempat, depan dan belakang, untung dan malang terbagi," kata Thanatos sambil merapikan rambutnya.

__ADS_1


Kemudian muncul Tartarus dengan tanduk yang lurus dan tipis. "Karena itulah anak malang itu membenci temannya yang menurutnya lebih beruntung. Kamu mau membantunya?"


Thanatos geli sekali mendengar anak buahnya berkata begitu. "Hahaha! Membantu? Akan ku buat wajah anak itu kembali cantik seperti semula. Tentu saja ada syaratnya," kata Thanatos dengan senyuman yang jahat.


"Apakah itu?" Tanya Tartarus penasaran.


"Dia harus mencari darah yang langka. Anak yang bergolongan darah Rhesus," kata Thanatos.


"Tidak ada tipe lain? Rhesus kan ada negatif dan positif," kata Tartarus yang bengong.


"Apapun pokoknya Rhesus! Hah! Kamu ini mengganggu saja, pergi sana!" Usir Thanatos.


"Yayaya," kata Tartarus dengan sebal.


Lalu Thanatos menemui Tabiko dan memberikan perjanjian supaya dirinya bisa mendapatkan wajah yang cantik lagi.


Ana kemudian mengikuti Tabiko di lain hari saat dirinya lagi-lagi ijin untuk keluar kelas. Berita mengenai pembunuhan vampir pun mereda selama seminggu. Tidak ada lagi murid yang membicarakan mengenai darah Rhesus.


Tabiko lalu merasa tidak enak badan setelah dirinya gelisah karena tidak mendapatkan info mengenai darah Rhesus lagi. Lalu dia membawa tas kecil berwarna pink dan meminta ijin untuk ke toilet.


Beberapa menit kemudian Ana juga meminta ijin dengan alasan mau mengganti pembalut. Sari memandangi Ana dan Tabiko yang keluar tadi, mana mungkin dirinya ikut seperti Ana.


Ponsel adiknya masih selalu dia bawa karena belum ikhlas mengantarkan kepergian adiknya. Entah siapa yang menyuruh adiknya janji bertemu di taman kota K.


Setelah pemakaman, Sari menelepon semua anggota drama dan bertanya kemana mereka saat pukul 9 malam. Kebanyakan di rumahnya sedangkan Ana sedang membeli corndog di persimpangan.


Lalu Tabiko. Belum pulang. Sari mencurigai Ana dan Tabiko tapi juga curiga dengan pandangan Ana pada Tabiko.


Di luar kelas Ana berjalan pelan agar tidak ketahuan Tabiko. Dia yakin gadis vampir yang dicari semua orang adalah Tabiko.


Sampai di taman belakang sekolah. Ana mencari keberadaan Tabiko tentu saja dia menemukannya dan bersembunyi. Tabiko memandangi sekitar lalu mengeluarkan semacam botol plastik ukuran kecil yang isinya berwarna merah lalu meminumnya.

__ADS_1


Ana melihat semuanya dengan jelas, dia menutup mulutnya. Semenit kemudian Tabiko terlihat bercahaya dan membuang botol itu kedalam tong sampah.


Bersambung ...


__ADS_2