
Kelas tampak riuh karena sebentar lagi jam menunjukkan waktu istirahat kemudian guru tadi kembali dan mengumumkan informasi.
"Anak-anak, coba kalian duduk dahulu. Ibu akan mengumumkan kabar duka," katanya dengan sedih.
Anak-anak kembali duduk dengan tenang mereka semua saling bertanya ada apa gerangan. Termasuk Nemesis dan kawan lainnya.
"Hari ini kami para guru dan pihak sekolah turut berduka cita. Teman kalian yang satu kelas telah diinformasikan oleh pihak Rumah Sakit yaitu Saka, telah berpulang," kata Ibu guru sambil menangis.
"Hah, serius!? Dia sakit apa sih?"
"Saka orangnya ceria sih tidak terlihat kalau punya penyakit parah,"
Nemesis serta grup lainnya membeku di bangku mereka masing-masing. Nemesis masih belum bisa percaya, toh permainan mereka biasa saja apa benar kata Artemis? Bahwa sebenarnya arwah itu tidak bisa diusir begitu saja.
"Hei, yang dekat dengan Saka kan grupnya Nemesis," salah seorang murid.
Lalu mereka semua memandangi Nemesis, mereka berpura-pura.
"Kami juga tidak tahu Saka kenapa," kata Nemesis agak canggung.
"Bu, penyebab Saka meninggal karena apa?" Tanya A.
"Belum ada yang tahu tapi apapun itu kini sedang diselidiki oleh pihak Rumah Sakit serta Polisi. Baiklah, kalian boleh istirahat," kata guru itu lalu keluar kelas.
Seluruh siswa siswi masih belum bisa percaya apa yang terjadi pada Saka.
"Di kelas kita ada apa sih? Heboh sekali," kata yang lainnya.
"Apa Saka menyembunyikan sakitnya selama ini? Bukankah grup Nemesis yang paling dekat? Seharusnya mereka tahu apa yang Saka sembunyikan," kata murid lelaki.
Nemesis berdiri dan berjalan ke arah laci kelas untuk mengambil buku pelajaran lain dan menaruh buki tadi. Diikuti oleh yang lainnya, Arika masih mimisan, kepalanya mulai berdenyut. Dan tiba-tiba...
BRUKK
Siswi lain langsung berlari ke arah Arika. "Arika! Hei, panggilkan guru siapa saja! Arika pingsan!" Teriak mereka.
Nemesis membeku di depan loker begitu juga dengan yang lainnya. Anta, Ringu dan Linda membantu menyadarkan Arika.
Lagi-lagi Arika mimisan dengan darah yang banyak sekali. Banyak guru berdatangan lagi dan mereka menghubungi ambulans kembali.
"Hei! Kalian perbuat apa sih?!" Tanya A pada Nemesis dan kawannya.
"Maksudnya?" Tanya Anta tidak tahu.
"Yang meninggal itu Saka teman satu grup kalian, sekarang Arika. Persamaannya mereka mengeluarkan darah dengan jumlah yang sama. Kalian pasti memanggil sesuatu kan. Ngaku!" Cecar A marah.
Teman lainnya juga berpendapat ini kemungkinan ulah grup mistis mereka. Mereka berpikiran kalau sengaja menanamkan sesuatu pada kedua temannya.
"Kalau Arika sampai meninggal tandanya grup kalian masalahnya," kata murid lain.
Arika dibawa menuju ambulans kali ini Artemis dan Apollo yang menawarkan, dengan mengaku bahwa mereka kenal Arika.
"Mereka... teman...saya," kata Arika dalam setengah sadar karena kehilangan banyak darah.
__ADS_1
Para guru menitipkan Arika pada mereka berdua dan melaju ke Rumah Sakit. Kali ini mereka harus mendukung dan menyemangati Arika jangan sampai terjadi lagi pada Saka.
Di taman tidak ada yang mengobrol masing-masing memikirkan kedua teman mereka yang gawat. Nemesis berlinangan air mata, bukan ini yang dia harapkan. Sambil makan mereka semua menangis.
Dalam ambulans terlihat Arika masih sadar, dia menangis ketakutan. "Kak, aku belum siap untuk mati," katanya.
Artemis dan Apollo memegang tangan Arika masing-masing.
"Jangan berpikir begitu, banyak berdoa ya. Kami juga akan mendoakan kamu," kata Apollo. Artemis mengangguk menepuk lembut tangan Arika.
Arika menurut dan perbanyak berdoa berharap apapun yabg terjadi padanya segera sembuh dan dihilangkan. Apa gunanya sholat kalau masih melakukan hal mistis?
Arika membaca ayat Kursi sebanyak tiga kali dengan hati yang mantap. Roh jahat yang mengikuti dan menempel teriak kesakitan lalu menghilang.
Seketika wajahnya Arika sedikit cerah, tapi efek dari darah yang keluar banyak membuatnya harus transfusi darah.
Sesampainya di Rumah Sakit kondisi Arika diperiksa, dokter menyarankan Arika harus dirawat.
"Di tempat ini Saka meninggal. Ya Allah maafkan kelalaian ku semoga Saka tenang di sampingMu," tangis Arika mengingat Saka yang meminta tolong.
"Kirim Al Fatihah untuk Saka agar dia tenang ada yang masih memperdulikannya ya," kata Artemis.
"Iya, Kak," kata Arika.
"Aku tadi pinjam ponsel kamu dan menghubungi orang tuamu. Mereka dalam perjalanan menuju ke sini," kata Apollo dengan suara penuh perhatian.
"Terima kasih ya, Kak. Kami tidak mengira akan seperti ini jadinya," kata Arika menunduk masih tersedu.
"Hentikan permainan itu. Kamu tahu penyebab aku penuh luka?" Tanya Artemis duduk di sisinya.
Bayangkan saja Suga yang memberi saran dan wajahnya lembut, menghadeuh!
Arika menggelengkan kepala.
"Artemis melihat iblis perempuan," kata Apollo yang tengah berdiri menyandar ke tembok.
Apollo pun tampak memukau bagai Pangeran, membuat Arika semakin bersemangat untuk bisa pulih.
"Hah? Iblis perempuan? Jangan-jangan yang dilihat Nemesis itu adalah dia, kak. Yah, Arika juga sadar kalau sudah terlalu jauh dari Tuhan sendiri," kata Arika.
"Nah, kalau sudah sadar coba sarankan pada Nemesis untuk mengubah grupnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat," saran Apollo lalu duduk karena pegal.
Arika mengerti. "Hmmmm kak," kata Arika ragu.
"Ya?" Tanya mereka berdua bersamaan.
"Apa aku ada kesempatan menjadi kekasih kalian? Antara kak Artemis atau kak Apollo," kata Arika mengaku.
Mereka berdua tertawa dan membelai kepala Arika.
"Maaf ya, masih terlalu jauh. Kamu masih harus banyak belajar, perjuangan kamu masih terlalu jauh juga. Usianya juga sangat jauh," kata Artemis sambil senyum jahil.
Arika kecewa tapi sudah tahu jawaban dari mereka. Dia tertawa setidaknya bisa dibelai dua pemuda setampan BTS, bolehlaaah.
__ADS_1
Orang tua Arika datang dan melihat keadaan putri mereka. Arika memperkenalkan si
oal mereka sebagai teman chatting.
"Terima kasih telah menemani Arika. Aduuh kamu yakin hanya teman? Ganteng sekali ya Pah," kata Ibunya menatap Artemis dan Apollo.
Artemis dan Apollo lalu pamit untuk pergi. Arika sekali lagi mengucapkan terima kasih lalu menangis. Karena ketakutan dan juga karena ditolak hehehe.
"Kamu istirahat dulu selama seminggu. Mimisan kamu sudah berhenti tapi masih pucat. Bagaimana sekarang rasanya?" Tanya ibunya menarik selimut sampai dadanya.
"Alhamdulillah sudah baik, Ma. Arika sadar mungkin ini teguran karena Arika percaya hal mistis," katanya menunduk.
"Kamu keluar malam lagi ya? Jujur," kata Papanya.
Arika lalu menceritakan semuanya soal grup yang selaku dia sembunyikan juga soal dirinya kena tolak Artemis dan Apollo.
"Hahaha anak Papa sudah besar tapi bagus menurut Papa, kamu masih kecil. Banyak yang harus dipelajari, siapa tahu nanti kalau kamu sudah agak dewasa dan mandiri salah satu dari mereka bisa menerima. Iya kan," kata Papanya mendukung putrinya.
Arika memerah dan dengan yakin akan memantapkan pilihannya untuk lebih dewasa lagi. Dan soal grup...
"Arika bagaimana kabarmu? Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Anta.
"Alhamdulillah sudah baik," jawab Arika yang saat itu sedang duduk santai.
"Syukurlah, kamu masih mimisan?" Tanya Nemesis yang cemas juga.
"Seharusnya kita seperti ini saat Saka mengeluh sakit. Aku sudah tidak mimisan tapi karena darahnya keluar banyak, aku harus transfusi dan di rawat dulu," kata Arika menghela nafas.
Arika melihat tulisan bahwa dirinya akan ditransfusi darah sebanyak 3 pak.
Mereka semua tidak ada yang membalas. Mereka menyesal berpikir Saka hanya berlebihan.
"Kalau nanti kamu sembuh, kita akan menjadwalkan kegiatan pemanggilan..." kata Nemesis lagi kemudian dipotong.
"Maaf semuanya. Aku akan keluar grup, aku tidak mau lagi menjadi musyrik dengan menyekutukan Allah. Dengan kejadian tadi itu aku sadar telah berjalan terlalu jauh. Aku sampai mimisan sepertinya ada jin yang menempel. Apa yang dikatakan Artemis waktu itu aku pikir benar adanya," kata Arika.
"Maksudnya? Soal pengusiran?" Tanya Ringu.
"Iya, kalau sebenarnya kita itu sama sekali tidak bisa mengusir mereka begitu saja. Dari awal seharusnya kita tidak terlalu banyak mempraktekkan hal ghaib," kata Arika.
Mereka semua yang membacanya hanya terdiam.
"Oh iya aku tadi ditemani oleh Artemis dan Apollo. Dan aku juga sudah menyatakan cinta ke mereka hehehe," kata Arika agak malu.
"HAH!? SERIUS!?" Tanya Anta dan Linda kaget.
Nemesis kaget juga, dia berdebar. "Lalu?" Tanyanya.
"Aku ditolak hehehe," kata Arika.
Mereka semua lega apalagi Nemesis. Dia yakin Artemis menyukainya bukan Arika. Jadi yakin pasti kena tolak.
"Istirahat deh ya Arika, kami juga akan mendoakan Saka dan kesembuhan mu. soal grup tidak usah kamu pikirkan," kata Nemesis.
__ADS_1
Bersambung ...