
Kay menangkap tatapan itu dan memandangi Yuri, dia mendengus kesal karena dia yang pertama menyukai Yuri.
"Baik, silakan memperkenalkan diri kalian supaya saya bisa merekam dan memberikan laporan," kata Yoshi menyalakan kamera perekam.
Ares lalu maju dan memperkenalkan anggotanya masing-masing. "Nama saya Ares, saya ketua dari tim ini," kayanya dengan wajah malu-malu.
Semuanya bersorak memandangi perawakan Ares yang maskulin apalagi para perempuan menyukainya.
"Wah, ternyata masih muda ya ketua kalian," kata Yoshi tertawa seadanya.
"Terima kasih Pak. Saya kenalkan nona muda ini bernama Sani, lalu Fuji, ini Dani, Kay, Dio, Yuri dan Eris," kata Ares kemudian tersenyum.
Yoshi mengangguk, "Apa kalian semua ada yang berprofesi sebagai pengusir hantu atau Exorsist?" Tanya Yoshi.
"Nona Eris," jawab Ares.
Eris menatap Yoshi dengan aneh dan mengangguk.
"Hanya satu?" Tanya Yoshi bingung.
"Kenapa? Anda berharap banyak yang bisa mengusir hantu?" Tanya Eris dengan suara dingin.
"Oh, tidak tidak. Hanya saja disyaratkan memiliki anggota seperti Anda setidaknya 2 orang," kata Yoshi berpikir.
"Kami tidak membaca ada persyaratan seperti itu," kata Dio memandangi semuanya. Mereka setuju.
Eris masih menatap Yoshi dengan pandangan sesuatu dan Ares serta Yuri tahu tatapan apa itu.
"Apa hanya dengan saya kurang? Haruskah saya memperlihatkan kemampuan saya di depan Anda?" Tanya Eris.
Mereka semua memandangi Eris yang terkejut. Seseorang laki-laki muda berdehem dan maju.
"Kami bisa membantu mereka. Kenalkan nama saya Chris, ketua dari kelompok yang datang belakangan," kata Chris membuat mereka semua memandanginya.
Chris sendiri adalah pendeta kelas atas, Mila seorang miko dan Rio seorang biksu. Sisna adalah seorang Exorsist.
"Anda biksu? Tapi..." kata Ares memandangi dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Rio tertawa sudah tahu pemikiran itu. "Hahaha sekarang jaman sudah berubah. Aku berpenampilan begini kalau ada tugas di luar kuil,"
Mereka semua mengangguk, meski terkesan aneh.
"Bukankah itu artinya dia biksu nakal?" Bisik Fuji pada Kay. Kay hanya menyengir saja.
__ADS_1
Ara, Kei dan Iran adalah warga biasa jadi mereka datang untuk menyelidiki rumah tersebut. Bukan sebagai peserta, tapi itu tidak mereka jelaskan.
Chris sendiri selain pendeta atas juga sebagai Onmyouji, beberapa orang serta Yoshi juga sangat terkejut. Wajahnya tampan sama dengan Ares, perawakannya pun tinggi dengan sedikit luka di bawah matanya.
"Sayang sekali setampan itu ternyata pendeta," kata Sani menyayangkan.
"Tampannya mirip Cha Eun Woo," kata Yuri yang juga mengaguminya.
"Haha terima kasih banyak sekali yang bilang saya mirip dia. Tapi tentu saja berbeda," kata Chris yang agak mendengarkan ucapan Yuri.
"Baiklah, kalau begitu saya harap kalian semua dapat bekerja sama," kata Yoshi kemudian mempersilakan mereka mengikutinya untuk masuk ke dalam rumah.
Pintu tertutup, semuanya mengobrol. Sani mencoba mendekati Chris tentu yang berusaha di blok oleh Sisna.
Eris hendak berjalan tiba-tiba selintas dia mencium bau amis ke pintu yang tertutup.
"Ada apa?" Tanya Fuji yang menangkap tatapan Eris ke arah pintu.
"Apa kamu mencium aroma darah?" Tanya Eris berbalik memandanginya.
Fuji keheranan dan mendekati pintu yang tertutup. "Darah? Tidak ada. Mungkin efek obat itu sudah tidak ada ya," kata Fuji memiringkan kepalanya.
Yuri menatap mereka berdua dan berlari menghampiri Eris. Ares melihatnya dan memilih menunggu meski yang lain telah berjalan agak jauh.
"Temanmu bilang dia mencium darah dari pintu itu tapi setelah aku dekati, tidak ada. Mungkin itu efek jetlag ya," kata Fuji berlalu.
"Benarkah?" Tanya Yuri.
"Aku sesaat mencium bau darah. Aneh ya tapi setelah aku periksa, pintu ini hanyalah pintu biasa," kata Eris yang menyentuhnya.
Yuri ingin menyentuh namun ditahan oleh Eria, dia takut pintu itu berubah. "Jangan sendirian di sini," kata Eris dengan nada peringatan.
Yuri mengangguk cepat dan pergi dari sana meski Eris menatap pintu itu dengan hati-hati. Yuri berjalan dengan Eris dan Area ikut bergabung dengan mereka. Para perempuan mengerubunginya dan sangat berisik penuh dengan pertanyaan.
Sesampainya di ruangan besar, mereka terkejut ternyata masih ada kelompok lain yang totalnya 8 orang hanya saja beberapa orang terlihat sudah tua.
Yoshi mempersilakan semuanya duduk, Dani dan yang lain sudah tentu sangat terkejut juga karena tampaknya pemilik yang asli sangat kaya sekali.
"Saya akan memperkenalkan kelompok yang sebenarnya sudah datang sejak kemarin," Yoshi menjelaskan semuanya dan mereka semua kaget saat ada seseorang, Olive sebagai murid Oliver Davis sang profesor peneliti roh halus.
"Ini serius?" Tanya Dani menutup mulutnya.
"Kamu benar-benar muridnya Profesor?" Tanya Kay menganga.
__ADS_1
Olive tersenyum dengan ramah namun Sisna dan Mila tidak menyukainya. "Benar, saya adalah murid Oliver Davis. Apa kabar?" Tanyanya dengan memberikan hormat.
Eria hanya menatap mereka semua termasuk Olive yang menurut mereka ramah. Eris senyum tipis padanya Yuri dan Ares menelan ludah.
"Memangnya kenapa sih?" Tanya Ara kebingungan.
"Kamu tidak tahu siapa Oliver Davis? Profesor itu sangat terkenal di kampusku dengan sebuah buku yang beliau buat. Penggemarnya banyak sekali termasuk aku," kata Dio sangat kagum .
Ara dan Ares hanya mengangguk-angguk, berbeda dengan beberapa lainnya.
"Kalau memang muridnya bisa kamu tunjukkan kemampuan Prof yang sudah kamu pelajari?" Tanya Eria membuat yang lain sangat antusias.
Chris, Iran dan Rio hanya terdiam memandangi Olive tanpa banyak bicara. Mereka juga sama dengan Eris kalau Olive ini sangat mencurigakan.
"Sayang itu tidak dapat dilakukan dalam keadaan biasa," kata olive dengan ramah. para anggota lain hanya tertawa mendengarnya.
"Kalau begitu apa kamu bisa menggunakan kemampuanmu bila situasinya genting?" Tanya Dio.
"Iya," kata Olive masih senyum.
"Wah, murid SPR bisa ikut juga," celetuk Sani.
"Paling juga penipu," kata Fuji yang tidak menyukainya.
Olive menatap Fuji dengan dengan tajam, dia hanya kembali duduk dengan kesal.
"Benar juga kalaupun kamu memang murid Profesor sudah pasti heboh kan? Dan... tidak seharusnya kamu bangga bisa hadir di sini," kata Mila.
"Prof ingin aku mengikuti acara ini sebagai pelatihan. Kalau iri katakan saja," kata Olive menahan marah.
"Sudah sudah," kata Rio menengahi.
"Eris, memangnya benar dia penipu?" Tanya Ares dengan berbisik.
Eris menatapnya dengan wajah yang misterius. "Kalau aku katakan yang sebenarnya tidak akan seru bukan. Lihat saja nanti," jawab Eris.
"Baiklah, semua peserta yang ada di sini akan menjadi anggota di kediaman ini. Pemilik sendiri memberikan aturan selama seminggu," kata Yoshi menatap para peserta.
"Wah, ini akan seru kan," kata Ara semangat.
"Seperti apakah aturannya?" Tanya Chris dengan suara tegas.
"Baik, kalian semua tidak diijinkan keluar dari rumah. Bila kalian tidak tahan, katakan kepada saya. Saya akan beri kunci untuk keluar dari wilayah ini, selain itu jangan ada yang berani keluar," kata Yoshi dengan tenang.
__ADS_1
Bersambung ...