Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
20


__ADS_3

Sebelum plastik darah itu ditemukan, tubuh Anita diproses untuk diambil darahnya.


Anita telah termutilasi dengan mengemaskan dan diperas menggunakan alat sampai darah dalam tubuhnya mengering.


Sesosok makhluk tertawa lalu meminum darah itu segera saja dengan deras keluar dari tubuhnya lagi.


Makhluk itu hanya tertawa keras sambil menari. Kemudian sosok hitam itu memasukkan darah Anita dan Olive menuju tabung air pancuran.


Sosok hitam menari-nari dengan senang saat darah itu mengenai tubuhnya.


Tambah lagi lebih banyak! Tambah tambaaaaah!!


Sepuluh menit kemudian sosok itu tampak mengeluarkan asap dari seluruh tubuhnya, seperti terbakar.


Dia berjalan menuju lorong dengan terlihat ceceran darah yang menetes. Badannya kurus memiliki jari tangan yang panjang.


Nafasnya memburu, senyum dengan menakutkan. Dia menyeret kepala entah siapa dan dia lempar ke dalam ruangan.


Seseorang dalam ruangan itu membawanya dan memasukkan ke dalam sebuah lemari lalu ditutup kembali.


Dia tahu ada berapa orang baru yang menerima permainan maut. Alasan vila ini dibuat ruangan dan jendela yang posisinya aneh, agar sosok ini tidak bisa keluar.


Tapi karena sudah terlalu lama dan dia kolaborasi dengan para setan, bisa mengubahnya menjadi siapapun.


Untuk menyeret mangsanya masuk ke dalam lorong kegelapan. Cahaya matahari, dia tidak menyukainya karena bisa mengungkapkan sosok asli.


Dia menunggu, para peserta berdatangan ke suatu ruangan dengan menunggu kode dari sang kepala pelayan. Yoshi.


Di aula dimana akan diadakan pemanggilan arwah, Yoshi sudah menyiapkan segalanya. Kemudian pamit undur diri.


Eris berpesan pada Ares dan Yuri untuk mengulur waktu sepanjang mungkin dan mereka mengerti. Jangan sampai Chris curiga.


"Baiklah, duplikat ini akan tidak akan kami banyak tanya. Setidaknya dia bisa berjalan dan berdiri kan," kata Ares.


"Iya hanya itu gunanya saat aku selesai, dia akan menghilang tanpa kalian ketahui," kata Eris.


"Eris," kata Arae yang datang dari atas atap.


"Arae, berhati-hatilah," kata Yuri memeluknya.


"Tentu saja. Toko dikelola oleh Raven dan Aio, banyak pembeli berdatangan karena mereka berdua," kata Arae senang.


"Bagus. Baiklah, mulai dari sini kita akan berpencar," kata Eris.


Yuri, Ares dan duplikat Eris berjalan menuju aula. Yuri tidak bisa memegang tangannya karena hanya hologram.


Mereka membuat orang lain melupakan keberadaan Eris dan mengobrol soal persiapan.


Eris dan Arae menuju arah yang menjadi sumber masalah. Lorong Kegelapan yang belum tersentuh siapapun, setidaknya hanya Chris, Eris dan Olive.


Tampaknya siapapun yang tahu, akan menemui ajalnya. Arae menceritakan pengalamannya selama menyelidiki beberapa tempat.


"Pelayan itu sudah lama tidak ada bukan?" Tanya Eris menebak.


"Ya. Menurutku ada yang menahan roh mereka di sini tapi siapa?" Tanya Arae merenung.


"Kita harus bergerak cepat dan menyelesaikan semuanya. Aku juga hampir menunjukkan sosok asli pada Chris," kata Eris dengan wajah serius.


"Yah, aroma darah membuat kita berubah menjadi yang seharusnya bukan. Aku sudah lima kali berubah," kata Arae menghela nafas.


Mereka berjalan dan menuruni tangga, kegelapan itu benar-benar pekat. Semakin dalam cahaya semakin hilang, Eris mengeluarkan bola bercahaya biru yang menerangi lorong itu.


"UGH! BAU SEKALI," kata Arae menutup hidungnya.

__ADS_1


"Ini bau bangkai tapi bisa se pekat ini kita harus cari tahu. Ada kemungkinan kita akan menemukan yang lain," kata Eris membuat pelindung.


"Kalian pernah sampai sini kan? Apa sebau ini?" Tanya Arae yang melayang di dalam gelembung.


"Tidak ada bau. Saat itu belum ada yang hilang," kata Eris.


Mereka saling bertatapan. Mereka tahu ini ada kaitannya dengan dua peserta yang menghilang.


"Eris! Apa itu?" Tanya Arae.


"Rumah? Serius?" Tanya Eris turun dan gelembung pun hilang.


"Ini," kata Arae memberikan permen merah.


Bau bangkai itu hilang bersamaan mereka memakan cairan berbentuk bulat. Mirip yang Eris berikan pada orang-orang.


"Aku dan Chris menemukan rumah ini. Dan satu peserta yang diam-diam mengikuti," kata Eris berjalan.


"Dan siapapun yang menemukan tempat ini akan terbunuh kan," kata Arae memeriksa sesuatu.


"Tapi satunya lagi? Dia sama sekali tidak pernah ke arah ini," kata Eris.


"Berantakan sekali sampai ada baku segala," kata Arae memperlihatkan.


Eris mendekat itu baju yang sudah usang termakan usia. Api berwarna kuning muncul dan menampilkan pemilik dari baju itu.


Roh itu sedih kemudian menghilang bersamaan baju yang menjadi debu. Bola arwah muncul dan mendatangi Eria, banyak sekali.


"Tanpa disangka-sangka tidak perlu susah mencari, kamu mendapatkan banyak bola arwah," kata Arae.


Eris menutup kedua matanya dan melafalkan sesuatu, bola arwah dari tempat yang tersembunyi keluar.


"Sebanyak ini!? Astaga, Eris semuanya berjumlah tujuh puluh!" Teriak Arae kaget.


"Manusia macam apa yang gila membunuh?" Tanya Eris.


Tidak semua bola roh diambil oleh Eris, sebagian dia kirimkan pada langit, dan sebagian ke dalam toko.


"Monster yang berkolaborasi dengan iblis," kata Eris kemudian berjalan menuju ruangan sesuai petunjuk dari para roh.


Dia menemukan sebuah gudang dengan pintu yang masih kokoh. Arae penasaran, dia berusaha membuka.


"Gudang? Menyimpan apa ya?" Tanya Arae penasaran.


Saat bisa dibuka, Arae langsung muntah, kedua matanya berputar. Eris menarik Arae dan menempatkan sebuah segel bulan di bawah telapak kakinya.


Arae bangun dan melihat kakinya dipasangi sinar bulan yang Eris ciptakan.


Bau bangkai super dahsyat keluar dengan hebatnya serta tetesan darah dimana-mana.


Kedua mata Eris menjadi merah dan gigi taringnya keluar lalu sayap hitamnya.


Arae membuat pelindung yang sama dan Eris kembali ke wujud manusia.


"Aku pakaikan kamu pelindung tapi lupa untuk aku sendiri. Terima kasih sahabatku," kata Eris yang bernafas lega.


"Ya. Tapi ini sangat gawat. Kita harus bagaimana?" Tanya Arae tidak berani kalau terlalu jauh.


Sebuah dupa muncul dalam tangan Eris. "Kita akan letakkan dupa ini, dan aroma pekat akan terserap," kata Eris.


Arae mengangguk lalu meletakkannya, Eris yakin inilah kenapa kekuatannya terhalangi dan tidak bisa keluar.


Arae bagaikan menyelam ke dalam air, dia pun keluar dari pelindung dan menahan nafasnya.

__ADS_1


Dia letakkan Dupa di tengah ruangan keluar lari dengan kilat. Dupa mengeluarkan asap biru putih dan menyebar.


Bau bangkai berubah menjadi bau ruangan biasa, lidah keluar dari dupa membuat Arae kaget.


Lidah-lidah itu seakan mencuci noda yang ada pada ruangan.


"Aaah Dupa Kristal Merah. Pantaslah," kata Arae melihat cara kerja mereka.



"Menarik bukan cara mereka membersihkan noda dan bau," kata Eris.


"Hmm cara mereka bekerja juga cepat tapi kan mereka langka. Masa kamu suruh bersihkan tempat ini," kata Arae.


"Siapa lagi yang bisa? Dupa ini berisikan bermacam-macam lidah dari monster ter sadis. Mereka sangat menyukai bau bangkai dan darah apapun," kata Eris.


Arae melihat dan agak muntah karena lidah itu bisa melahap apapun yang hidup atau mati.


"Aku tutup pintunya," kata Arae.


"Untung belum aku buang," kata Eris.


"Kamu dapat dari mana sih?" Tanya Arae.


"Seseorang sebagai bayaran. Tapi sangat buruk sekali lidah itu sangat rakus," kata Eris.


Beberapa menit asap menghilang dan lidah itu keropos berubah menjadi debu. Arae dan Eris masuk.


"Yah, mereka langsung mati. Bagaimana ini?" Tanya Arae.


"Tenanglah masih ada yang tersisa dari mereka," kata Eris mengambil dupa emas yang kosong.


Dupa Eris kirim ke dalam toko dan diisi oleh Ella berupa darah merah dan pergi.


"Eris! Gudang ini menyimpan.." kata Arae yang belum Eris datangi sudah terdengar suara langkah kaki yang berat.


DUG DUG DUG


Mereka bergegas keluar dan tepat saat itu juga berhadapan dengan sosok hitam yang mengerikan.


Sosok itu pun kaget memandangi Eris dan Arae yang menatapnya.


"Jadi memang ada penghuninya," kata Arae.


"Bau busuk!" Kata Eris.


HAHAHA! Tidak disangka ada makhluk kecil yang memasuki rumahku. Kalian salah arah?


Sosok itu tertawa memperlihatkan mulutnya yang mengalirkan cairan kental.


"Aku yakin yang keluar dari mulutnya adalah darah," kata Arae berbisik.


"Dia tampak seperti habis memakan sesuatu," kata Eris.


"Mengerikan. Semua badannya bersimbah darah. Apa dia mandi menggunakan darah korban?" Tanya Arae.


Eris memperhatikan, badannya tampak terlihat bolong-bolong kecil. Darah keluar dari semua bolong itu.


"Eris, makhluk apa itu?" Tanya Arae ketakutan.


"Perjanjian macam apa yang kamu berikan sehingga membuat tubuhmu memiliki bolong-bolong kecil?" Tanya Eris dengan wajah yang bersiap menghabisi.


bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2