
Ternyata selama Andriani dan kakaknya keluar tadi, mama dan papanya baru saja tiba dari luar kota.
"Kalian berdua tadi siang kemana? Mama dan papa sudah pulang, rumah ini kosong. Dicari-cari sampai mama teriak kalian berdua tidak menyahut nanti lagi kasih pesan kek," kata Mama mereka sambil meletakkan banyak oleh-oleh di meja keluarga.
Kakaknya menyambut oleh-oleh tersebut ada makanan, baju, hiasan rambut semuanya sudah pasti diborong. Andriani yang sudah sholat kemudian turun ke bawah melihat pemandangan penuh bawaan orang tuanya.
"Wah, ada apa saja nih?" Tanya Andriani mulai membuka semua bungkusan.
"Duduk dong masa begitu di depan papa," kata Mamanya pada Andriani.
Andriani lalu duduk sambil membuka beberapa bungkusan. Dia mendapatkan baju pendek dan sendal dengan hiasan yang menarik. Makanan juga dia makan.
"Hati-hati kamu kegendutan," kata kakaknya.
"Tidak dong kan bisa olahraga. Tadi adek sama kak Sarah pergi keluar jalan-jalan," kata Andriani.
"Kamu kok jarang kelihatan lagi sama David. Kemana dia?" Tanya Mama yang juga ikut makan cemilan.
"Tuh kan, banyak yang bertanya," kata kakaknya sambil memainkan ponselnya.
"Tidak tahu Ma, sudah ditelepon tidak diangkat, sms juga sama saja," kata Andriani cemberut.
"Ya sudah dia juga kan sedang menyiapkan bahan untuk skripsi sama dengan kamu. Bersabar saja lalu kapan kamu juga mulai pindah ke pembuatan skripsi?" Tanya Mamanya tertawa.
"Aaah Mama mulai deh ceramah soal skripsi lagi. Masih jauh Ma banyak tugas dari dosen bagaimana bisa menyusun skripsi?" Tanya Andriani dirinya kan semester 5 masih jauh untuk membuat skripsi.
"Kamu jangan kebanyakan main deh, Dria nanti ketinggalan kuliah," kata Mamanya.
"Lah siapa juga yang banyak main? Tuh kakak yang banyak dengan pacarnya juga kan rencana mau pergi kemana tuh? Hongkong," kata Andriani membeberkan rahasianya.
Kakaknya yang mendengar langsung melemparkan bantal ke adiknya.
"Tidak ada ya kalian pergi-pergi tanpa kami apalagi pacar dia itu bukan suami kalian. Mama tidak mau kalian pulang, sambil perut membesar. Sudah sampai mana kamu pacaran dengan Leon? Apa perlu Mama putusin kalian berdua?" Tanya Mamanya dengan galak.
"Bukan kok Ma... Adek! Itu hanya bercanda," jawab kakaknya agak menundukkan kepala.
Setelah itu Andriani berlari ke lantai atas memasuki kamarnya sedangkan kakaknya di ceramahi panjang lebar oleh Mama. Andriani tertawa mendengar kakaknya dimarahi apalagi ketahuan deh sekarang kalau kakaknya akan bertamasya berdua.
Andriani memeriksa ponselnya masih saja tidak ada balasan pesannya dari David.
Banny: "Beb, kamu lagi apa? Kok jarang sms telepon lagi sih? Kamu mau kita putus?"
Ditunggu selama 5 menit tetap saja tidak ada balasan apalagi chatnya ceklis abu-abu. Andriani semakin cemberut apa kata kakaknya teringat, apa benar dia terlalu cuek dan egois? Menginginkan segalanya David yang memulai.
"Kemana sih dia ini? Apa benar sibuk dengan kuliah sampai semua usahaku tidak dia gubris. Memang sih sekarang sudah semester 7 mungkin yang dikatakan Mama ada benarnya aku harus lebih sabar," kata Andriani menghela nafas.
Ponselnya berbunyi ternyata notif dari ketua kelas di kampusnya.
"Guys, jangan lupa 3 hari lagi kampus kita mengadakan acara Baju Unik. Jadi kalian dari sekarang bersiap-siap membuat baju unik uang cantik dan menarik. Nanti ada hadiahnya," kata Ketua kelas.
"Siap, Pak!"
"Oke, Komandan!"
"Aku sudah siap untuk memenangkan hadiahnya,"
Beraneka ragam jawabannya dari 40 mahasiswi dan mahasiswa termasuk Andriani meski dia belum mendapatkan bajunya.
"Bagaimana ini? Masa hanya aku saja yang harus pakai baju biasa? Seandainya waktu itu aku ingat dimana letak toko anak itu pasti sekarang sudah siap. Semoga saja aku cepat bisa bertemu lagi dengannya kali ini Aku harus berhasil!" Kata Andriani dengan yakin mengepalkan kedua tangannya.
Ponselnya berbunyi lagi kali ini pesan dari teman-temannya.
"Andriani, besok pulang dari kampus kita ke toko buku yuk," ajak salah satu temannya.
"Buku? Wah, benar juga ya sudah lama tidak membaca Novel. Boleh-boleh," jawab Andriani dalam chatnya.
__ADS_1
Pindah ke ruang keluarga, Mamanya sudah tidak menceramahi lagi tapi kepo kemana saja mereka pergi dari pagi sampai menjelang malam.
"Betul kamu jalan-jalan?" Tanya Mamanya. Memang Mama mereka agak sedikit ketat soal jam malam karena keadaan keluarga mereka yang di kelas menengah atas, banyak orang yang berusaha menjatuhkan.
"Iya Ma, betul kok. Kita tidak kemana-mana yang haram. Adek cerita katanya kemarin waktu jalan ke taman kota dia bertemu dengan anak kecil berpakaian gothic. Terus, sepertinya adek mulai suka lagi deh. Dia tertarik dengan baju yang dipakai anak itu," jelas Sarah.
"Aduh! Mulai lagi deh tuh anak. Lalu kalian bertemu?" Tanya Mama yang menepuk dahinya.
"Kita ke tempat yang adek kemarin datangin. Kita berdua menunggu sampai malam anak yang kemarin tidak datang lagi. Jadi yaa kita baru bisa pulang deh," kata Sarah menjelaskan.
Mamanya percaya tidak percaya juga tapi takut karena menurutnya anak kecil itu tidak seperti anak pada umumnya. "Dia sendirian?" Tanyanya.
"Menurut cerita adek sih, iya. Aneh kan masa orang tuanya membiarkan anaknya berkeliaran," kata Sarah.
"Iyalah. Kamu coba dong kasih tahu Dria jangan tertarik lagi deh sama baju aneh begitu. Baju yang lain kek kan banyak. Mama punya perasaan tidak enak soal yang diceritakan Dria," kata Mamanya yang memegang dadanya.
"Sudah Ma, kakak sarankan tapi Mama juga tahu sendiri anak keduanya seperti apa. Firasat tidak enak bagaimana sih Ma?" Tanya Sarah.
"Pokoknya tidak enak saja dari cerita kamu yang anak kecil itu juga misterius. Kamu harus bawa Andriani menjauh dari anak itu, paham? Mama tidak mau kalian sampai kenapa-kenapa," kata Mamanya yang cemas.
Mama mereka memang terlalu takut pada banyak hal yah maklumlah keluarganya terbilang super kaya dengan rumah mewah banyak yang menjadi musuh. Termasuk para saudara juga.
"Memang aneh juga sih pakaian seperti itu kalau jadi trend di Indonesia. Berbeda dengan negara Sakura kan, Ma. Tapi katanya dia butuh baju itu hanya untuk acara di kampus nanti. Mama kan tahu bagaimana kalau keinginannya tidak mau dituruti, bisa nekat lagi seperti dulu," kata Sarah memandangi Namanya.
"Haaah ya begitulah," kata Mamanya yang menyerah juga.
Papa mereka lalu datang setelah membuat kopi. "Ada apa sih kalian? Sedang membicarakan soal apa?" Tanya Papa mereka yang duduk bersama.
Mama dan Sarah saling berpandangan. "Itu lho soal Andriani, Pa. Tahu juga lah kesukaannya dia kambuh lagi," kata Mamanya.
"Oooh... Terus?" Tanya Papa menyeruput kopinya.
"Dia mau beli lagi baju yang bolong-bolong itu lho warna hitam. Apa namanya kak?" Tanya Mamanya.
"Gothic, Ma. Papa juga tahu memangnya ada toko yang jualan? Jarang deh Papa lihat," katanya sambil berpikir.
"Yah, kalau kita bilang memang nanti Andrianinya yang kalap. Turuti sajalah jangan mikir yang susah. Hanya kamu kasih tahu saja kalau nanti tidak terpakai, jangan digunting simpan saja siapa tahu dia bisa jual ke orang lain," kata Papa mereka menyalakan televisi.
"Iya sudah. Beli baju itu kan pakai uang bukan daun. Sudah Sarah beritahu dan dia menyesal," kata Sarah memakan manisan.
Lalu mereka menyaksikan siaran berita dalam televisi dikabarkan ada seorang lelaki yang tewas mengenaskan di tempat pembuangan sampah dengan kondisi yang sangat mengerikan. Sadar tidak sadar, Eris memperhatikan berita itu dari tempatnya melalui bola kristalnya.
Dalam layar besar itu diungkapkan belum ada informasi lain mengenai siapa sosok mayat lelaki yang ditemukan dalam tempat tersebut. Jasad itu ditemukan oleh seorang pengemis yang sedang mencari makanan dan terkejut.
"Ah, seram sekali beritanya," kata Sarah fokus.
"Iya jaman sekarang dunia sudah edan. Makanya Mama khawatir," kata Mamanya sambil memeluk bantal.
Keadaannya sulit dikenali karena hampir semua tubuhnya hangus terbakar api. Mungkin api yang sangat besar tapi siapa pelakunya? Polisi masih mencari tahu kasus yang aneh itu. Anehnya lagi, lelaki itu sedang mendekap erat koper hitam yang dibuka, isinya beberapa batang sabun yang sebagian sudah meleleh.
"Dia pegang apa?" Tanya Mama.
"Sabun, Ma. Kok aneh ya biasanya koper isinya uang lah ini sabun," jawab suaminya sambil tertawa.
"Sabun nya ada emas kali, Pa," kata Sarah tepuk dahinya.
Ah ya produk sabun uang ada di cerita sebelumnya sudah dihentikan produksi karena warga takut kalau sabun nya hasil pertukaran dengan Jin. Lalu dari manakah lelaki itu bisa mendapatkannya? Eris tersenyum, dia tahu siapa yang bisa memberikan. Hanya Arae dan sudah pasti untuk mendapatkan makanannya yaitu Bola Kehidupan.
Keesokan paginya Andriani sudah siap-siap berangkat menuju kampusnya begitu juga dengan kakaknya. Beberapa buku dia masukkan ke dalam tasnya lalu keluar kamar untuk sarapan. Dilihatnya kakak sudah sarapan duluan, hari ini dia tidak boleh sampai telat!
Mamanya datang membawakan seteko jus mangga yang lezat karena dicampur susu. "Duh, buru-buru sekali makannya. Tenang saja masih banyak waktu kan," kata Mamanya melihat Andriani makan dengan lahap.
"Iya takut telat terus kan kakak kalau makan cepat nanti tidak bisa bareng ke kampus pakai mobil," jawab Andriani meminum jus itu.
"Makanya belajar mobil sana," kata kakaknya yang sudah selesai sarapan.
__ADS_1
"Nih roti bakar kejunya Mama sudah buatkan mau dibekal saja?" Tanyanya. Andriani mengangguk mulutnya penuh dengan nasi goreng.
"Kak, nanti pulang dari kampus aku mau ke toko buku. Mau ikut tidak?" Tanya Andriani yang bersiap masuk ke mobil kakaknya.
"Oke," katanya singkat. Membuka mobil dan mereka duduk di dalam lalu pergi
Sesampai di kampus, Andriani langsung mencari pacarnya dengan datang ke kelasnya. Dilihat teman-temannya datang satu per satu tapi David masih belum tampak. Andriani agak cemas karena lama tidak bisa menemukannya dia kembali berjalan dengan lemas sambil menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba.... BRUKK!
Dia menabrak seseorang. "Maaf! Saya tidak melihat ke depan," kata Andriani membungkuk.
"Ini aku, Hanny tumben datang ke kelas aku. Kangen yaaa," kata lelaki itu yang ternyata David!
"Suara ini... David! Kamu tuh ya kemana saja sih? Sudah jarang mengabari, ditelepon juga susah!" Kata Andriani sambil memukulnya dengan keras.
"Aduh, aduh, iya maaf Hanny aku banyak tugas lalu aku kan harus mulai membuat skripsi. Jangan marah ya ya ya nanti aku belikan kamu apa saja deh," goda David mencubit pinggang kekasihnya.
"Benar ya? Hari ini bisa pergi kan? Antar aku ke toko buku," kata Andriani dengan manja.
"Yahhh.. aku tidak bisa baru saja dapat tugas dari Pak Kilang hehehe lain kali saja ya," kata David menyenggol Andriani.
"Huh! Alasan bilang saja kamu sudah mulai bosan kan sama aku tidak perlu cari alasan lain, Vid. Terserah kamu deh tapi nanti kami jangan menyesal saja kalau ada yang suka sama aku. Selamat deh dengan kekasih barunya," kata Andriani dengan marah.
"Hei, aku benar sibuk tugas! Kamu cepat tua kalau marah terus," kata David yang tidak sadar ada perempuan di belakangnya.
"Terserah! Tuh kamu ditunggu oleh pacar baru kamu," kata Andriani melayangkan jari tengahnya pada David.
David lalu melihat kebelakang nya ada perempuan yang memandanginya. Agak cemberut lalu David memegang kepalanya dan memandangi Andriani. Tapi dia sudah berlalu pergi dengan kesal menuju kelasnya.
Dalam kelasnya, Andriani melemparkan tasnya dan menelungkup lalu datanglah teman-temannya.
"Kamu kenapa, Dri?" Tanya Hera yang menaruh yas di sampingnya.
"Pagi begini sudah cemberut," kata yang lain.
"Aku putus sama David," katanya dengan sedih.
Semua temannya memandangi yah, sudah pasti juga sih. "Ya kamu sih terlalu cuek jadinya dia merasa tidak dianggap ada," kata Yani dengan tenangnya.
Andriani bangkit dan memandangi semua temannya. Mereka semua berpendapat sama. "Tapi aku kemarin menelepon dia duluan kok," katanya membuktikan.
"Yaa... sudah telat kan," kata Hera.
Andriani sedih sudah terlambat. Ya sudahlah lagipula dia punya target ketua OSIS harus dia dapatkan.
"Hei, kalian sudah dapat untuk acara kampus? 2 hari lagi lho," kata Lira mengingatkan.
"Aku belum! Kamu bagaimana, Andriani?" Tanya Hera panik.
"Aku juga sama belum dapat. Yah, kalian semua sudah ya. Boleh deh mau cari kemana?" Tanya Andriani dengan Hera.
"Kemarin aku menemukan toko yang mewah sekali isinya banyak batang antik mungkin mereka punya baju juga. Pemilik tokonya perempuan cantik sekali!" Kata Hera dengan semangat.
"Perempuan? Cantik? Toko antik? Eh, apa perempuan itu anak kecil?" Tanya Andriani ingin tahu.
"Hmmm bukan, seusia kita tapi rambutnya putih. Dia bilang kalau butuh apapun, datang saja ke toko ini," kata Hera menyerahkan alamat toko itu pada Andriani.
Andriani membacanya dia tidak tahu alamat itu dimana apa mungkin perempuan yang dilihat Hera punya hubungan dengan anak kecil yang pernah dia temui?
"Hei jangan lupa ya kita kan mau ke toko buku masa dibatalkan?" Tanya teman lainnya.
"Oh iya ya kita kan bisa pergi setelah dari sana. Bagaimana? Kalian mau ikut?" Tanya Andriani kembali semangat.
Mereka semua berpikir toh urusan mereka sudah selesai. "Aku sih ikut ke toko buku saja katena kalau soal baju kan sudah ada," kata yang lainnya setuju.
__ADS_1
Bersambung ...