Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

Pukul empat sore harinya, waktu pulang. Semua murid membereskan buku pelajaran mereka dan memasukkannya ke dalam tas dan berdoa kemudian memberi salam pada guru. Semuanya termasuk grup Nemesis menyebar ke arah pulang yang berbeda.


Perjalanan pulang sendirian, Nemesis tengah memikirkan kira-kira benda apa yang cocok dijadikan alat pemanggilan arwah. Koin sudah beberapa kali mereka gunakan, gunting juga sama tapi kurang seru.


Sambil berpikir keras, dia tidak sadar kemana arah kedua kakinya melangkah karena terlalu fokus. Sebuah portal dimensi berada di depannya dan dia memasuki sambil terus memikirkan masalahnya.


Beberapa menit tibalah dirinya di depan toko Eris. Pemandangan rerumputan yang luas serta bunga yang bermekaran menyambutnya.


Saat Nemesis memutuskan untuk berhenti, dia memandangi sekelilingnya. "Lho? Lho? Kok bisa sampai di sini?!" Tanya Nemesis kebingungan.


Dia melihat sekelilingnya tidak ada perumahan atau bangunan lain selain yang ada di hadapannya sekarang. Dia menggarukkan kepalanya.


"Perasaan aku belum pernah lihat gang ini. Ini tempat apa, ya? Duh, gara-gara terlalu fokus malah kesasar ke tempat lain. Kelihatannya bukan sembarang rumah. Toko Zalaam, hmmm coba masuk dulu deh," kata Nemesis membuka gerbang.


Dia melihat gagang pintu dengan aneh, agak sulit bagaimana mengetuknya namun pintu itu seakan tahu dan terbuka begitu saja. Dan melihat isi toko itu dengan mulut menganga.


"Selamat datang," kata Ela dan Eris bersamaan.


Eris berdiri di samping meja sambil membaca sebuah buku berwarna hitam. Nemesis menyadari kehadiran Eris namun tidak tertarik untuk mengobrol. Dirinya kagum dengan seluruh toko itu bagaikan di negeri lain. Kemudian saat kepalanya melihat-lihat badannya bergerak menuju etalase dimana Eris berada.


"Anu, aku memerlukan benda," kata Nemesis masih mencari.


"Silakan," kata Eris menatap Nemesis.


Nemesis menatap Eris tampilannya kini bukanlah sosok anak kecil lagi tapi tetap saja masih kurang bisa dianggap seorang gadis.


"Mungkin kamu tidak mengerti karena masih kecil," kata Nemesis menganalisa usia Eris.


"Silakan katakan saja," Eris tidak ambil pusing apa yang dikatakan oleh Nemesis.


"Baiklah, kamu tahu pemanggilan arwah? Aku butuh suatu benda untuk menggantikan koin. Menurutmu apa yang bagus ya?" Tanya Nemesis agak kurang yakin.


Eris lalu melangkahkan kakinya ke luar dari belakang etalase. "Bagaimana kalau ini?" Tanya Eris menunjukkan sebuah lonceng dan papan.


"Huwaaaa! Lonceng ini bagus sekali! Apa sudah satu paket dengan papannya?" Tanya Nemesis memegang lonceng itu.


"Iya," kata Eris singkat.


"Berapa harganya? Atau boleh di cicil? Aku masih sekolah soalnya," kata Nemesis tertawa tipis.


"Kami tidak menerima pembayaran uang," kata Eris memandang dingin kepada Nemesis.

__ADS_1


Nemesis mencoba mendentangkannya dan suaranya sangat jernih membuat Nemesis menyukainya. "Bukan dengan uang? Lalu dengan apa? Saya suka loncengnya," katanya dengan gembira.


"Lonceng ini sayangnya tidak diperjualbelikan. Tapi bila kamu berminat, bisa meminjamnya," kata Eris kembali ke mejanya.


"Eh? Di pinjam? Seperti buku saja apa ada masa tenggangnya?" Tanya Nemesis kembali sambil membawa sebuah papan.


"Tentu, tergantung dari keadaan yang aku lihat bisa juga kamu meminjamnya selama 10 tahun," kata Eris.


Nemesis menganga mana ada orang meminjam benda sampai 10 tahun? "Bagaimana cara peminjaman di sini?" Tanya Nemesis menyimpan kedua benda di hadapan Eris.


"Bila nanti tujuanmu sudah tercapai, kau bisa mengembalikannya kemari. Aku menyarankan kamu tidak memakai kedua benda ini dalam waktu yang lama," jelas Eris membuat Nemesis keheranan.


"Lonceng ini tampaknya bukan benda sembarangan ya?" Tanya Nemesis karena curiga dengan ukiran yang tidak biasa.


Eris tertawa pelan. "Ini lonceng khusus memanggil arwah. Bisa untuk tingkatan kecil atau besar tergantung kamu niatnya bagaimana. Kalau besar tentu akan ada syaratnya tapi aku peringatkan untuk tidak melakukannya," kata Eris.


"Serius!? Apa syaratnya? Pasti akan aku lakukan," kata Nemesis semakin tertarik.


"Apa kamu yakin bisa melakukannya? Tidak ada siapapun yang berani memanggil arwah level tinggi," kata Eris.


"Aaah kalau kami sih tidak akan apa-apa. Tenang saja kami sudah melakukan pemanggilan sampai 10x tidak ada yang terjadi kok. Kami ini sudah Pro," kata Nemesis membanggakan dirinya.


"Kamu benar-benar harus mengabulkannya setelah melakukan pemanggilan arwah tinggi, kalau tidak..." kata Eris tidak yakin.


Saat Nemesis berkata begitu, Eris melihat asap hitam keluar dari mulut Nemesis. Asap hitam itu kini mengelilingi Nemesis dan semakin menebal. Eris lalu memutarkan jemari di belakangnya dan asap itu menghilang.


"Baiklah aku akan meminjam lonceng ini setelah selesai dan berhasil nembuat kedua lelaki itu kagum, aku akan mengembalikannya. Aku tidak sabar menunggu nanti malam. Terima kasih ya," kata Nemesis berbalik dan menuju pintu.


"Jangan oernah meremehkan sesuatu meski hal itu kecil karena kamu tidak akan pernah tahu akibatnya. Dan satu lagi lonceng itu bisa dipakai perseorangan ataupun kelompok, tapi aku menyarankan jangan memakai papan itu terlalu sering," kata Eris menatap tajam ke arah Nemesis yang membelakanginya.


Nemesis menghela nafas menurutnya Eris terlalu berlebihan. Dia nenyisir poninya yang lurus ke atas belakang dan berlagak sombong.


"Aduuh tenang saja kalaupun aku pakai sering tidak akan terjadi apapun kok. Jangan cemas, aku-selalu-beruntung," kata Nemesis tersenyum manis di depan Eris.


Arae lalu datang tiba-tiba sambil berdecak menggelengkan kepalanya. "Anak itu tidak tahu apa yang dihadapinya. Apa dia tidak merasa seperti tubuhnya berat atau leher pegal?" Tanyanya.


Eris masih terdiam. Dia tidak mengurusi toh semua sarannya ditepis begitu saja.


Di tempat lain terlihat Apollo yang sedang memasukkan roll film 3 biji, kamera dan barang lainnya. Dia juga sudah rapi, ibu kos menghampirinya memeriksa sedang apa Apollo dalam kamarnya.


"Mau pergi?" Tanya ibu kos yang melihat Apollo keluar kamar.

__ADS_1


"Iys, Bu ada pekerjaan. Ada apa?" Tanya Apollo memandangi ibu kos yang tersenyum.


"Oh, ini ibu mau mengantarkan paket kue untuk kamu makan bersama Artemis," katanya sambil memberikan paket bermacam-macam kue.


"Wah, banyak sekali!" Seru Apollo senang.


"Hohoho anak ibu memaksa sekali menitipkan ini untuk kamu. Katanya malu kalau langsung bertemu. Ya sudah, hati-hati di jalan ya," kata ibu kos lalu menuju lantai atas.


"Alhamdulillah, rejeki mah tidak kemana. Bawa untuk bekal," kata Apollo sambil memasukkan bungkus paket itu ke dalam tasnya.


Apollo adalah lelaki yang sangat ceria. Dia disayang banyak orang dalam kosannya. Keluarga ibu kos juga menyayanginya seperti anak sendiri tapi putrinya tidak mengijinkannya menganggap anak karena dia menyukai Apollo.


"IBU, SAYA PERGI DULU YA!" Teriak Apollo di depan rumah itu.


Ibu kos dan ketiga anak perempuannya melambaikan tangan lalu menjerit gembira.


Artemis pun sedang mempersiapkan segaka sesuatunya, catatan juga sudah siap lalu mengambil kunci mobil. Artemis berada di rumahnya lalu menelepon Apollo.


Di tempat lain Aiolos yang sedang bermain game RPG bersama beberapa teman, mendapati kepalanya berdenyut.


Joystick yang dioegangnya terjatuh dan Aiolos memegang kepalanya yang berdengung.


"Aio, kamu tidak apa-apa?" Tanya teman yang lain menghentikan peemainannya.


Nys lalu masuk kamar Aiolos dan melihat sahabatnya sedang kesakitan. Dia panik lalu mengelus punggungnya.


"Hei, kamu baik-baik saja? Berikan Aio minum," kata Nyx meminta tolong.


"Ini," kata yang lainnya.


Aiolos meminum air itu lalu kepalanya berhenti berdengung. "Aku tidak apa-apa. Terima kasih," katanya lalu berdiri agak sempoyongan.


"Ada apa? Kambuh lagi ya?" Tanya A yang sudsh tahu kemampuan Aiolos.


"Iya. Aku melihat sebuah lonceng dan papan semacam ouija," kata Aiolos membuat yang lain tercengang.


Teman yang ada disana menatap Aiolos. "Kamu lihat siapa yang membelinya?" Tanya Nyx cemas.


"Perempuan sepertinya SMA dan... aku melihat seorang anak berambut putih tapi hanya seleher," kata Aiolos.


Mereka tak bisa melakukan banyak hal. Penyakit Aiolos ini terjadi saat kuliah tapi berkat Aiolos pula nyawa mereka bisa terselamatkan. Sejak itu mereka berenam selalu bermain bersama dengannya, bukan karena takut ada kecelakaan lagi tapi mereka mengagumi Aiolos.

__ADS_1


Badannya yang kecil ternyata memiliki kekuatan lain, banyak juga perempuan yang tertarik kepadanya namun dia selalu tidak yakin bisa menjalani kehidupan percintaan secara normal. Apalagi dirinya mampu melihat sesuatu yang tidak lazim.


Bersambung ...


__ADS_2