Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
9


__ADS_3

"Giliran aku yang bertanya. Siapakah di antara kami berenam yang bisa menjadi kekasih Kak Artemis dan Kak Apollo?" Tanya Arika dengan semangat.


Eris berpikir siapakah kiranya?? Lalu memikirkan siapapun dan mencoba menjawab.


T-I-D-A-K A-D-A.


Apollo menghela nafas sudah biasa kalau gadis usia remaja begini menanyakan hal macam itu. Sudah berapa banyak perempuan yang bertanya bahkan waria pun ada.


Inilah alasannya Apollo malas sekali menemani Artemis. Artemis sendiri hanya menikmatinya saja tapi tidak tertarik untuk mengikuti.


"Apaan nih. Masa dari kita tidak ada yang bisa merebut hati mereka sih," kata Saka agak kesal.


"Justru bagus coba bayangkan kalau papan ini menjawab dua dari kita berenam yang diperkirakan bisa jadi dengan mereka. Akan ada perkelahian dan aku tidak mau itu terjadi," kata Anta.


Mereka berpikir dan akhirnya setuju juga. Eris tersenyum meskipun dirinya memang butuh banyak bola kehidupan, tapi membuat persahabatan merek hancur bukanlah tujuannya.


"Arwah, apa kamu tahu siapa yang pantas menjadi kekasih mereka?" Tanya Linda.


"Coba lebih dipersempit lagi. Pantas ke siapanya," kata Nemesis.


"Benar juga. Maksudku Kedua lelaki ini," kata Linda melanjutkan. Tapi lonceng tidak berbunyi dan papan Ouija pun tidak menampakkan huruf.


"Sepertinya itu misteri Ilahi deh," jawab Arika.


"Man, teman sekarang sudah jam 1 pas nih," kata Ringu melirik jam tangannya.


"Sebentar lagi, Ring ini sedang seru," kata Nemesis dan ketiga teman lainnya.


Ringu lalu membereskan tasnya dan berdiri lalu hendak melewati Apollo dan Artemis.


"Eh, mau kemana?" Tanya Apollo menghalangi jalan.


"Saya mau pulang, kak. Ini sudah jam 1 teng, saya memang keluar tidak bilang kalau terlalu lama ada kemungkinan orang tua tahu kalau saya kabur kan," jelas Ringu.


"Tumben Ringu tidak biasanya kamu ribut soal waktu," kata Arika keheranan.


"Sis, hari ini sudah dulu deh. Aku juga jadi merasa tidak enak apalagi sedari tadi udara semakin panas. Ini kan di luar sekolah kan aneh," kata Anta agak merinding.


"Kalau tahu seperti ini aku menolak datang," kata Ringu.


"Ya sudah deh kita akhiri sampai disini. Hei, kita harus menutup acaranya dulu. Masa pulang begitu saja," kata Nemesis.


Akhirnya mereka berenam menyanyikan lagu penutup dan arwah pun bubar jalan. Menyisakan makhluk besar yang sekarang tepat di samping mereka semua. Makhluk itu tidak pergi dan mengikuti mereka semua.


"Jadi kita sudahi?" Tanya Artemis berdiri. "Saputangannya aku cuci dulu," katanya.


"Tidak usah, kak bawa saja," kata Saka menolak, mau diterima saja sudah membuatnya senang.


"Terima kasih," katanya lalu berjalan duluan.


Mereka juga ternyata lelah ternyata memanggil arwah itu membutuhkan energi juga.


"Kalian tidak heran tadi pertanyaan Anta sama sekali tidak ada jawabannya?" Tanya Linda pada Arika dan Saka.


"Tenang saja mungkin mereka memang benar-benar tidak memiliki jawabannya," kata Saka.


"Memangnya setelah kalian menyanyikan lagu penutup tadi sudah bisa diyakinkan, para arwah bubar? Kalian kan tidak bisa melihat mereka," kata Apollo berjalan terakhir untuk memastikan mereka baik-baik saja.


"Yakin kok karena setiap selesai acara ini, kami tidak mengalami apapun. Tenang saja kak kami selalu beruntung," kata Arika dengan percaya diri.


"Semoga saja," kata Apollo memandang temannya di depan.


Keluar dari taman itu, mereka semua merasa lega dapat menghirup udara malam yang dingin. Artemis terus berjalan menuju mobil, dia membuka kotak P3K dan mengoleskan krim luka ke semua goresan.


"Kalian kami antar sudah malam begini, bahaya kalau jalan sendirian," kata Artemis memandang mereka berenam.


"Boleh," jawab Arika dan Ringu bersamaan sambil tertawa.


"Tidak ada yang terluka?" Tanya Apollo memperhatikan mereka.


"Aku terluka," jawab Anta.


"Dimana? Kenapa kamu tidak bilang tadi," kata Apollo cemas.


"Terluka di hati karena tidak bisa menggapai kakak," kata Anta yang langsung di jitak oleh kelima teman-temannya.


"Dasar gadis," gumam Artemis sambil menggelengkan kepala.


"Bisa-bisanya," kata Nemesis tertawa.


"Kalau masih cemas besok kakak datang saja ke sekolah lihat apakah kami masih hidup atau tidak," kata Linda tertawa.


"Itu bukan sesuatu yang lucu," kata Artemis dengan suara dingin dan agak marah.


Mereka berenam lalu berhenti tertawa.


"Permainan seperti ini bukan soal kalian hoki atau Pro. Apapun itu pemanggilan arwah sangat berbahaya kalian pro kalau dua atau tiga orang bisa melihat mereka, masalahnya tidak ada kan. Lalu darimana kalian tahu mereka pergi? Tidak ada yang menjamin," jelas Apollo membukakan pintu mobil Artemis.

__ADS_1


"Maaf, Kak," kata mereka semua lalu masuk semuanya ke dalam mobil.


Dalam mobil mereka semua memutuskan untuk diam sesekali tempat yang rumahnya dekat menunjukkan arah.


"Besok kami akan memastikan apa kalian baik-baik saja," kata Artemis sambil menyetir.


Apa yang dikatakan Artemis terasa seperti air hangat mengguyur mereka semua. Tidak ada yang berkata mengenai hal mistis lagi, mereka tidak mau merusak rencana Artemis yang akan datang ke sekolah.


Satu persatu mereka diantar pulang ke rumah masing-masing. Terakhir Nemesis lalu mereka kembali pulang.


Dalam mobil raut wajah Artemis masih tegang, apa yang baru dia lihat tadi di taman sana membuatnya tidak percaya.


"Kamu masih penasaran dengan tadi? Kamu melihat sesuatu?" Tanya Apollo yang kini dia bertugas menjadi supir.


"Ya. Kamu akan percaya atau tidak, aku merasa permainan ini sangat berbahaya. Mana bisa orang normal seperti mereka memainkannya secara sembarangan," kata Artemis menggantungkan kedua tangannya ke sandaran kursi.


"Aku juga penasaran tapi mau bagaimana lagi. Kita sudah berjanji pada mereka besok kan, semoga tidak apa-apa," kata Apollo yang fokus menyetir.


"Tadi aku melihat ada anak kecil perempuan dia punya tanduk dan menyerang ku. Inilah hasilnya," kata Artemis membuka kembali kedua tangannya.


"Aku percaya apa yang kamu katakan, karena kamu sejak kecil memang memiliki intuisi yang tajam. Kamu punya bakat lain yang terpendam. Kita pulang saja nih? Aku ikut menginap ya hehehe," kata Apollo sudah berbekal baju.


"Yok," kata Artemis tertawa.


Untunglah keluarga Artemis sudah asyik di alam mimpi, jadi kedatangan mereka sama sekali tidak diketahui. Dengan lega, mereka masuk dan mengunci pintu. Artemis memeriksa meja makan dan ada tulisan, "Untuk Sugaku dan Jhope tercintah. Makan dan habiskan. Emak dan Abah tidur duluan."


Artemis tersenyum dan Apollo membantu membawakan banyak makanan ke atas kamar Artemis. Mereka bergantian mandi lalu makan bersama, lalu tidur.


Karena tidak enak, Artemis tidur juga di lantai dengan membawa kasur lain. dan mereka tidur dengan nyenyak.


Di rumah lain ternyata beberapa orang dari keenamnya, ada yang masih belum bisa melupakan hari tadi. Arika, Nemesis, Linda, Saka dan Anta akhirnya menelepon grup. Ringu tidak membalas entah mungkin sudah tidur.


"Anta kemana?" Tanya Nemesis.


"Sepertinya sudah tidur. Moodnya sedang turun," kata Arika.


"Tumben," kata yang lainnya.


"Tadi itu menyenangkan sekali!" Kata Arika kesenangan.


"Kalian belum tidur?" Tanya Linda yang menguap.


"Mana bisa tidur kita semua bertemu dua pangeran Korea," kata Saka sambil perlahan menuju kamarnya dan berganti baju.


"Hahaha mereka aslinya dari Semarang dan Yogya lho," kata Nemesis tertawa.


"Besok kita ajak mereka jalan-jalan yuk," kata Arika antusias.


"Mereka datangnya saat kita sekolah? Kalau sepulang sekolah sih pasti bisa diajak jalan," kata Nemesis.


"Tidak ada yang bertanya kan tadi mereka datangnya pukul berapa," kata Saka.


Semuanya terdiam lalu memukul kepala masing-masing.


"Kita terlalu lupa untuk bertanya," kata Nemesis menghela nafas.


Dalam grup terlihat Saka yang terdiam lalu melirik ke arah kanannya.


"Kenapa, Saka?" Tanya yang lain bersamaan.


"Sssst," kata Saka menyuruh mereka semua diam. "Guys, sepertinya ibu atau bapakku ada di depan kamar deh," katanya berbisik menggunakan earphone nya.


"Jam segini? Kamu yakin?" Tanya Nemesis.


Mereka semua kemudian diperlihatkan keadaan pintu bawah kamar Saka. Terlihat ada bayangan yang memang berdiri depan pintu kamarnya. Saka lalu berpura-pura tidur dengan selimut di bawahnya, mematikan lampu ponselnya menaruhkan di depan kepalanya.


Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Saka yang berpura tertidur, masih menggunakan earphone. Mereka semua bisa melihat apa yang terjadi, meskipun lampu ponsel dimatikan mereka bisa melihat jelas siapa yang datang.


Hanya bayangan lelaki besar lalu dia keluar lagi dan pintu tertutup. Saka bangun, "Huff sudah pergi," katanya berbisik.


"Itu ayahmu? Kenapa perawakannya beda ya," kata Arika merasa aneh.


Saka kemudian keluar dari kamarnya, Lorong kamar masih terang dan melihat sosok itu menuruni tangga. Perlahan Saka melihat tidak jelas rupanya tapi mirip ayahnya.


"Ayah rupanya," lalu Saka kembali ke dalam kamar. "Tidak apa-apa itu ayahku mungkin dia memeriksa aku," kata Saka.


"Oke deh, tidurlah. Besok kita mulai sekolah kan," kata Linda.


Saka lalu mematikan ponselnya dan melepas earphone saat hendak tidur, dia mendengar kamar depannya terbuka. Lalu terdengarlah pembicaraan kedua orang tuanya.


"Ayah, tolong ambilkan buku yang di atas meja dapur ya," kata suara Ibunya.


Saka yang mau memejamkan matanya kembali terbuka lalu mendengarkan lebih jelas lagi. "Ayah? Bukannya tadi..." pikir Saka agak tegang.


"Oke. Mau aku ambilkan air juga?" Tanya Ayahnya yang sudah di lorong.


"Bolehkah, Ibu ada tugas hati-hati jangan sampai membangunkan Saka," kata Ibunya.

__ADS_1


Karena penasaran, Saka langsung berlari ke luar kamar. Dan dilihatnya tidak ada siapapun, suara kamar terbuka pun tidak ada. Dia ketakutan lalu mengetuk kamar orang tuanya.


"Ibu! Ayah!" Kata Saka.


Pintu terbuka. "Lho, Saka? Ada apa? Kamu kenapa?" Tanya Ayahnya memandang Saka yang menangis.


"Aku mau tidur bersama malam ini saja boleh kan," kata Saka lalu menangis memeluk Ayahnya.


"Kamu mimpi buruk ya," kata Ibunya.


Saka mengangguk. Yang tadi membuka kamarnya lalu mendengar percakapan siapa dong?


Akhirnya Saka tidur dengan mereka berdua. Anehnya Ibunya tidak mengerjakan apapun, buku yang selalu Ibunya bawa ada di dalam kamarnya.


"Saka tidur, Anta tidur, Ringu juga tidur. Sisanya kita nih," kata Arika.


"Kalian lihat tidak tadi saat Saka pura-pura tidur? Sosok Ayahnya kan tidak sebesar itu," kata Arika agak aneh.


"Masa sih? Jangan bicara sembarangan deh!" Kata Linda.


"Keadaan kamar kalian masih terang begitu. Heran," kata Nemesis melihat situasi disana.


"Kalau aku ternyata masih ada tamu di bawah tadi aku turun ke bawah, kata Mama mereka teman-teman Papa saat SMA," kata Arika cengengesan.


"Pantas. Kamu Linda?" Tanya Nemesis.


"Aku lagi belum mengantuk jadi ayo deh kalau mau begadang," kata Linda cekikikan.


Saat mereka sedang seru mengobrol, tiba-tiba ada yang bergabung dengan mereka. Ketiganya kebingungan, saling berpikir salah satu mereka mengundang masuk orang lain.


"Siapa nih?" Tanya mereka.


Sejenak, tiba-tiba tampak Ringu memandangi mereka.


"Ya Allah, kamu mengagetkan kita saja. Bukannya kamu sudah tidur?" Tanya Arika sebal.


"Mimpi buruk?" Tanya Nemesis.


Tidak ada jawaban dari Ringu. Dia hanya memandang mereka bertiga lalu terbatuk.


"Kamu kenapa?" Tanya Linda.


"Ma...af... en..tah... ke...na...pa... uhuk uhuk!" Kata Ringu. Suaranya serak sekali lalu dia mematikan ponselnya.


"Hei, besok kita cek Ringu kelihatannya dia sakit," kata Arika.


"Ini bukan karena pemanggilan arwah yang kita lakukan bukan?" Tanya Arika agak cemas.


"Hei, kita sudah lakukan itu berapa kali? Tidak ada yang aneh kan. Paling juga karena masuk angin kita tidak ada yang pakai jaket sih," kata Nemesis.


"Kita harus bisa merebut hati mereka berdua. Masa iya dari kita tidak tidak ada yang berhasil?" Tanya Linda.


"Jangan percaya apa yang kita lihat. Ingat ya yang atur jodoh dan kematian itu hanyaAllah semata," Kata Arika dengan semangat membara.


"Iya Bu Arika. Lho?" Tanya Nemesis melihat ada jendela hitam lagi.


"Guys, pundak aku kok berat ya? Lalu suaraku juga tidak enak begini," kata Ringu tapi tidak ada penampakannya dalam grup telepon.


"Ringu, kamu tidak apa-apa?" Tanya seseorang yang ternyata kakaknya.


"Tidak tahu ini rasanya tenggorokanku tidak enak dan bahuku berat," kata Ringu.


Mereka bertiga diam mendengarkan percakapan mereka.


"Besok ke dokter ya. Hari ini..." kata seseorang itu. Lalu layar ponsel Ringu bergoyang dan tiba-tiba...


"ISTIRAHAT," Kata kakaknya muncul tiba-tiba di layar ponsel.


"KYAAAA!!" Mereka bertiga menjerit dan kakak Ringu tertawa keras.


"Hahahaha jam segini belum tidur. Ayo tidur tidur besok kalian harus sekolah kan," kata kakak Ringu, Susan masih tertawa. Tidak ada penampakan Ringu saat itu.


"Kak! Jangan mengagetkan dong," kata Arika menenangkan pikirannya.


"Kalau tidak begini, kalian akan terus mengobrol kan. Ringu juga sudah istirahat sedari tadi. Sudah ya saya matikan," kata Susan.


"Fiuuuh! Kageeeeet. Tiba-tiba saja muncul," kata Arika.


"Hei, Susan bukannya ada di luar negeri?" Tanya Nemesis.


Hening.


"Bisa jadi dia pulang karena kangen kan," kata Linda. Segala kemungkinan bisa saja.


"Oh iya ya kenapa jadi berpikiran yang tidak-tidak sih. Kita bicarakan lagi besok deh ya. Met tidur semua," kata Arika.


Semuanya kembali ke kamar mereka. Linda akhirnya tertidur di meja, Nemesis dan Arika di tempat tidur.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2