Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
6


__ADS_3

Beberapa hari dan seterusnya waktu demi waktu bergulir. Segala kecemasan Rui telah menghilang lagi, dia disibukkan dengan tugasnya sebagai pelayan dan juga kasir.


Barang antik untuk mengambil bola kehidupan manusia tidak Eris keluarkan. Biarlah untuk waktu ini mereka libur sesaat. Kadang Eris melihat sebelah kaki Rui seakan menghilang, tandanya dia sedang berusaha di sadarkan.


Ada beberapa bagian badannya yang menghilang lalu muncul kembali saat Rui tengah berjalan atau melakukan sesuatu. Eris hanya diam toh efek yang lebih besar akan datang kalau dia tetap ingin bersamanya.


"Saat nanti kamu tertarik untuk keluar dari tokoku berbelanja atau berjalan-jalan, ingatlah orang-orang yang masuk ke dalam toko ini akan merata mengerti semua bahasa. Namun saat kamu keluar, mereka tidak bisa mengerti bahasa mu. Gunakan ini," kata Eris menyerahkan bola berwarna bening seukuran kecil.


Mereka melompat-lompat dan sepasang. Rui mengambilnya dia terkesan dengan benda bulat itu.


"Apa ini? Lucu sekali," kata Rui memegang mereka. Jumlahnya ada empat dengan warna yang sama.


"Penerjemah bahasa. Kami memilikinya sama seperti manusia hanya berbeda bentuk saja," kata Eris.


"Bagaimana cara memakainya? Apa langsung dimasukkan ke telinga?" Tanya Rui penasaran.


"Mereka akan masuk ke dalam telingamu saat kamu keluar nanti," kata Eris lalu beranjak pergi ke suatu ruangan.


Tentu saja Rui sangat senang dia bisa berbelanja tanpa harus cemas Mamanya memarahinya. Saat dia tengah merencanakan barang apa yang akan dibelinya, Eris datang kembali sambil membawakan gelang.


"Ini untukmu agar kamu bisa kembali dengan selamat. Meskipun kamu berkata tidak ingin kembali simpanlah untuk pegangan. Bila kau merindukan rumah, kamu bisa memakainya. Sehari lagi akan ada kumpulan meteor yang jatuh menembus atmosfer bumi," kata Eris lalu meninggalkan Rui yang terdiam menatap gelang itu.


Eris memberikan sebuah gelang dengan satu mutiara di tengah berwarna hijau terang. Rui memandangi gelang itu sesaat dan menyimpannya dalam saku. Saat ini sepertinya dia masih belum memerlukannya dan tidak berminat untuk pulang.


Tapi siapalah yang tahu segalaknya seorang Ibu, tetap saja pasti merindukan belaian lembutnya meski galak.


Setiap jam berjalan seperti biasanya, dalam dunianya dokter menambahkan semacam cairan dan juga oksigen.


Di sisi lain, Rui keluar dari toko, alat bukatan kecil tadi langsung masuk ke telinganya. Semua orang berbincang kepadanya, Rui sangat menikmati hari-hari itu. Dengan ditemani oleh Raven, mereka memasuki toko satu per satu.


Pukul tiga sore Rui kembali membawa banyak barang yang dibeli, dia simpan dalam kamarnya. Dia juga membeli makanan untuk ditaruh dalam kulkas. Setelahnya dia kembali ke kamar, lalu meletakkan barangnya.


"Huf, capek sekali," kata Rui menyeka keringatnya lalu melihat kedua tangannya.


Kedua tangannya sesaat menghilang, dia sangat terkejut dan menangis tapi kembali terlihat lagi. Dia lupa kalau dirinya adalah roh. Lalu memeriksa yang lainnya. Utuh.


"Hahhh syukurlah. Oh iya aku harus mencoba beberapa kosmetik yang aku beli," kata Rui lalu melewati cermin. Sesaat dia berhenti dengan ketakutan dia berbalik dan menatap cermin.


Rui terduduk lemas, dalam cermin tidak ada dirinya tentu saja. Karena penasaran, Rui bermaksud memasuki kamar Eris.


"Masuk saja," kata Eris yang sudah ada di depan pintu kamarnya lalu menghilang.


Rui lalu berlari dia ingin tahu kenapa tubuhnya tidak terpantul dalam cermin. Minggu lalu dia masih bisa.


Dalam cermin besar itu terlihat dokter dan beberapa perawat berusaha membuatnya sadar karena hampir berupa titik.


"Jangan..." kata Rui memandanginya. Ternyata mereka berusaha membuatnya sadar.

__ADS_1


Kini setengah badannya menghilang. "JANGAN GANGGU AKU!!!" Teriak Rui.


Tiba-tiba dokter kaget karena tubuh Rui dialiri oleh semacam listrik biru. Mama dan serta yang lain juga melihat sendiri.


"Anak aku kenapa, Dok? Lalu aliran apa itu?" Tanya Ayahnya ketakutan.


Dokter tidak mampu berkata apapun, dia pernah melihat hal semacam ini lalu menatap kedua orang tuanya.


"Bu, Pak. Saya pernah mengalami hal seperti ini juga. Apa mungkin Ibu atau Bapak pernah membuat putri Anda sangat kecewa?" Tanya Dokternya.


Mereka berdua terdiam, ketiga temannya Rui keluar ruangan.


"Memangnya kenapa, Dok? Apa hubungannya?" Tanya Ayahnya.


"Ini berhubungan dengan alam bawah sadarnya. Aku pikir anak kalian menolak untuk kembali, pasti ada yang terjadi sampai membuatnya seperti itu," kata Dokter.


Ibu Rui menangis histeris. Dia teringat banyak sekali membuat anaknya memaksakan untuk mengikuti sarannya dan menolak segala yang tidak Ibunya suka.


"Salah saya Dokter," kata Ibunya jatuh ke lantai.


Dokter berlutut. "Bu, satu-satunya cara membuat dia mau kembali bicarakan dari hati ke hati. Jangan terlalu keras apalagi mengurungnya," kata Dokter memberi saran.


"Kalau Rui masih tidak mau kembali, bagaimana?" Tanya Ibu Rui berlinang air mata.


"Ikhlaskan," kata Dokter lalu pamit untuk pergi.


"Kamu akan menyesal memilih untuk pergi," kata Eris dari depan pintu lalu menghilang.


Rui memejamkan kedua matanya dan tertidur di kasurnya.


Malamnya dia bangun jantungnya seperti sakit sekali, dia mondar mandir dan Eris tidak mengomentarinya. Dia sibuk mengatur bajunya dan membersihkannya.


Tidak ada kejadian aneh saat itu dan Eris pergi untuk urusannya. Dalam toko hanya ada Rui sendiri, Arae membagikan brosur toko Zalaam. Raven entah pergi kemana.


Rui bangun dan mengambil gelas tiba-tiba dia mendengar suara Mamanya yang memanggil.


"Rui,"


Rui kaget dan memecahkan gelas itu menyangka mamanya ada dalam toko tersebut. "Mama?"


Tidak ada jawaban lagi. Rui menghela nafas lalu membereskan pecahan gelas. Rui kemudian merapihkan boneka lalu jatuh satu ke lantai.


"Rui, kamu ceroboh. Nanti bonekanya kotor,"


Suara Mamanya kembali terdengar. Secara otomatis Rui berbalik dan melihat siluet Mamanya menyerahkan boneka.


"Hehehe iya Ma," saat Rui hendak mengambilnya dia tersadar boneka itu masih berada di lantai.

__ADS_1


Itu hanya imajinasinya lalu dia menggelengkan kepalanya dan memgambil boneka sambil masih memperhatikan.


Selesai, Rui duduk menghela. Eris entah pergi kemana, Arae dan Raven juga tidak kelihatan. "Aah... aku ingin Black Forest. Coba aku lihat ada tidak ya?"


Rui bergegas ke dapur dan melihat kulkas besar. Ada! Rui lalu mengambil dan memotongnya menjadi beberapa. Dia menempatkan potongan besar dan hendak melahapnya.


"Jangan makan terlalu banyak, Nak. Nanti gendut lho. Katanya kamu mau jadi seorang artis,"


Suara Mamanya datang lagi dan menepuk bahunya Rui.


"Hmmm Mama, nanti aku diet kok tenang saja," kata Rui lalu melahap kue. "Enak! Mama mau?" Tanya Rui menawarkan 1 sendok ke samping.


Mama Rui tersenyum, begitu juga Rui. Mamanya lalu memeluk Rui dan berkata, "Pulanglah Nak, kami semua merindukan kamu,"


Rui lalu tersadar saat berdiri siluet itu menghilang begitu saja. Air matanya jatuh berlinang ternyata Rui memang merindukan Mamanya yang menyebalkan!


Di luar toko Eris melayang bersama sosok Mamanya Rui. Ternyata Eris pergi mendatangi toko Zalaam yang dia ubah menjadi beberapa duplikat. Di antara tokonya masuklah Mamanya Rui dan menceritakan bagaimana kondisi anaknya.


Eris memberikan sebuah botol bubuk yang pernah dia buat dan memajangnya. "Bubuk ini bisa membuat Anda menuju alam lain dimana Putrimu berada," Eris memberikan botol itu.


"Lalu dengan apa aku harus membayarnya?" Tanya Mamanya Rui yang membaca peraturan.


Eris memberikan botol kecil berbentuk butiran air mata. "Saya ambil air mata Anda," kata Eris.


Mama Eris setuju tetapi caranya hanya Eris saja yang tahu. Setelah itu Mamanya memakai bubuk saat malam hari tiba dan menuju suatu tempat dimana Eris menunggunya.


"Berikan kenangan yang selalu membuatnya ingat kepada Anda. Waktunya sampai pukul 4 subuh," kata Eris mempersilakan Mama Rui mendatangi toko.


Arae dan Raven menunggu di luar toko. "Kamu yakin dia harus kembali? Padahal aku suka masakannya," kata Arae.


"Dia masih hidup kalau Zeus tahu kita mencabut paksa bola kehidupannya. Entah apa yang akan dilakukan sebagai hukuman," kata Eris.


Arae teringat pada penguasa dunia sana meskipun Zeus adalah Raja dewa tetap saja dia juga menangani sebagian dunia kegelapan. Berkat dia juga mereka masih bisa hidup berkat pertolongan ketiga temannya disana.


"Oh iya, aku penasaran apa yang terjadi pada ketiga temanmu?" Tanya Arae.


"Mati. Karena berusaha melindungiku," kata Eris lalu menghilang.


"Begitu. Hmmm..." kata Arae memainkan tangannya.


"Apa?" Tanya Eris.


"Aku bertemu dengan Anemoi dan melihat Aiolos serta Apollo, tapi mereka bukan dewa. Manusia biasa kamu tidak ingin menemui mereka?" Tanya Arae.


Eris membelalakkan kedua matanya menatap Arae dengan kedua mata yang kaget. "Mereka... disini?" Tanya Eris tidak percaya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2