
"Bayarannya nanti saja. Saat keinginanmu sudah terpenuhi, aku akan menagih," kata Eris memejamkan kedua matanya lalu pintu toko pun tertutup.
Di dalam rumahnya, Kirika menelepon Anemoi dengan bahagia. Suara Anemoi yang keheranan pun terdengar.
"Kirika! Malam sekali kamu meneleponku. Apa kamu mau ... " kata Anemoi dengan girang.
"Hush! Jangan berpikir macam-macam ya aku hanya sedang senang kita akan selalu bersama sampai kapanpun," kata Kirika bersyukur meneteskan air matanya.
"Ah maksudmu soal uang yang aku tabung. Ya tenang saja sebagai idola, uang yang kudapatkan lumayan dan juga saat aku bekerja sebagai pelayan," kata Anemoi menenangkan kekasihnya.
"Bukan, bukan itu tenang saja sial uang kamu tidak perlu terlalu berusaha keras. Aku menemukan cara yang lebih mudah," kata Kirika dengan riang.
"Bagaimana?" Tanya Anemoi menggarukkan kepalanya.
"Aku baru mendapatkan barang dari temanku yah meminjam sih tepatnya," kata Kirika tertawa geli.
"Hei hei, kamu habis meminjam barang apa? Teman yang mana? Ina? Tania atau Haikal?" Tanya Anemoi penasaran.
"Aku dapat teman baru. Dia pemilik toko ajaib dan dia memberi pinjam lonceng pasangan," katanya membuat Anemoi tidak percaya.
Lalu Kirika menceritakan semuanya, awalnya Anemoi menganggap Kirika membuat karangan sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu nanti dimana mobil pengangkut barang juga akan datang.
Seminggu terlewati akhirnya waktu perpisahan tiba. Saat itu hari minggu ketiga teman dan Anemoi datang untuk menyemangati Kirika. Kedua orang tuanya berangkat duluan Kirika akan menyusul bersama pamannya yang menunggu dalam mobil.
Kirika menangis dan mereka berkata bahwa ini bukanlah akhir hari kesenangan mereka. Anemoi memeluknya dengan hangat, petualangan jarak jauh akan segera datang. Anemoi memberinya janji mereka akan selalu bersama sampai maut memisahkan.
Kemudian ketiga temannya memberikan kesempatan pada Anemoi untuk berbicara berdua. Kirika memberikan bungkusan kotak kecil pada Anemoi.
"Ini untuk kamu seperti yang dijanjikan," kata Kirika yang telah menghapus kesedihannya dengan tertawa.
Anemoi menerimanya kotak putih dengan untaian tali berwarna krem emas. "Apa ini?" Tanyanya.
"Buka saja," kata Kirika.
"WOH! Lonceng? Yang kamu minggu kemarin ceritakan? Untuk aku?" Tanya Anemoi takjub melihat cantiknya lonceng tersebut.
Kirika tersenyum lalu mengambilkan miliknya yang sama dengannya. "Aku punya pasangannya. Lonceng milikmu tidak ada suara tapi meskipun begitu, kamu akan tahu saat lonceng ini berdentang," kata Kirika memperlihatkan.
Anemoi tertawa. "Lalu bagaimana bisa kamu..." kata Anemoi yang memegang lonceng itu dengan lembut.
"Coba kamu goyangkan," kata Kirika yang meletakkan miliknya dalam telapak tangannya. Meski aneh, Anemoi mencobanya dan... TING!
"Wow! Milikmu berbunyi. Bagaimana bisa?" Tanya Anemoi yang terkesan dengan keanehan lonceng itu.
"Aku tidak tahu inilah kenapa lonceng ini hanya ada satu di tokonya. Aku beruntung membuat aku tidak akan kehilangan dirimu," kata Kirika.
"Dasar bodoh," kata Anemoi membelai kepala Kirika dengan sadis.
"Hei! Karena mendengar masalahku, dia meminjamkannya. Barang berharga ini akan selalu aku simpan sampai nanti kita tidak memerlukannya," kata Kirika.
"Sampai kapan tuh?" Tanya Anemoi iseng.
"Tidak ada batasnya. Jadi kita bisa tahu kabar kita masing-masing dan kamu tidak perlu datang setiap hari. Sebulan sekali juga tidak apa," kata Kirika memegang baju Anemoi.
"Tentu saja apapun," kata Anemoi menatap Kirika dengan lembut.
"Ada syaratnya," kata Kirika lagi.
"Oh ya? Aku kira tidak apa-apa lagi selain hanya mendentangkannya," kata Anemoi penasaran.
"Jangan sampai ada orang yang membunyikannya selain kamu. Begitu pesan Eris, aneh kan?" Tanya Kirika yang tidak mengerti.
"Hahaha aku mengerti kenapa. Baiklah. Kamu disana baik-baik ya, jangan lupa jaga kesehatan," kata Anemoi mengecup kelapanya membuat Kirika memerah.
"Pokoknya kalau kamu kangen, bunyikan loncengnya ya.Jadi nanti aku saja yang menelepon kamu," kata Kirika.
"Oke. Dan ini hadiah dariku agar kamu selalu semangat disana," kata Anemoi menyerahkan kotak kecil berwarna ungu.
__ADS_1
"Ini.. Cincin!" Kata Kirika terpesona. Cincin emas bermahkota kan bunga-bunga kecil berwarna hijau.
"Jaga agar nanti bisa berubah menjadi cincin pernikahan," kata Anemoi menggarukkan kepalanya dan Kirika langsung memeluk erat.
Lalu mereka pun terpisah, Kirika melambaikan tangannya sambil mengenakan cincin itu dengan rasa yang bahagia.
Enam bulan kemudian kegiatan Kirika dan Anemoi masing-masing berlanjut. Dentingan lonceng keduanya memenuhi kegiatan mereka sshari-hari. Siana hampir tidak punya kesempatan sama sekali untuk mendekati Anemoi. Menelepon pun selalu saja dalam keadaan saluran sibuk sampai datang kerumahnya, ternyata Anemoi menuju Surabaya.
Bersama ketiga temannya, mereka berjalan-jalan. Siana tidak mau ketinggalan meskipun bosnya melarang tapi tetap nekat. Benar saja Siana menjadi nyamuk disana, dia kesal sekali Anemoi benar-benar nempel dengan Kirika.
Apalagi Anemoi menginap di dekat rumah Kirika dengan ketiga temannya, lebih tekor lagi dia. Akhirnya pulang karena tidak ada celah baginya mendekat.
Pada suatu hari selama 2 bulan, Kirika tidak mendengar dentingan lonceng dari Anemoi, apalagi tidak ada telepon sama sekali. Toh Kirika pun sibuk dengan kegiatan sekolahnya dan banyak menolak mahasiswa di kampusnya. Termasuk idola kampus.
"Sudah 2 bulan kemana gerangan Anemoi? Tidak ada kabar apapun. Hari ini juga tidak ada jawaban, loncengnya juga tidak berbunyi sama sekali. Sayangnya kenapa lonceng dariku yang tidak bisa berbunyi saat mencoba menghubungi Anemoi? Seharusnya aku menanyakannya pada Eris. Bodoh!" Kirika menjitak dahinya dan mulai khawatir.
Kirika mengingat penampakan Siana saat dia menyusul ke Surabaya. Dan Kirika berhasil membuat Anemoi sibuk. Tapi Kirika tidak mau berpikiran jauh mungkin Anemoi sibuk apalagi dia memutuskan untuk menjadi idola sepenuhnya.
"Tidak mungkin Anemoi dengan Siana! Dia sedang sibuk menjadi seorang idola lalu pekerjaan sampingannya pun dipindahkan. Aku harus bersabar lagi," kata Kirika kepada dirinya sendiri.
Di Bandung tepatnya dalam rumahnya, Anemoi baru saja tiba dengan cepat menaiki kasurnya dan rebahan sejenak.
"Lelahnyaaa sudah 2 bulan aku tidak menghubungi Kirika. Dia pasti sangat cemas tapi ini semua untuk dirinya. Aku berusaha mencari pekerjaan lain untuk nanti mendatangi rumahnya dan melamar. Rasanya sudah tidak tahan tapi bersabarlah," katanya sambil memandang lonceng putih yang tidak bergeming.
Lalu di lantai bawah terdengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kemudian ada seseorang menaiki tangga menuju kamarnya.
"Bu? Aku makan siangnya nanti saja sekalian dengan malam. Hari ini rasanya lelah sekali aku mau tidur dulu," kata Anemoi yang hampir saja tertidur.
"Tadaaa," kata Siana dengan ceria.
Anemoi kaget sekagetnya melihat Siana yang berbaju serba mini. Tahu lah maksudnya doa sengaja begitu.
"Siana? Kamu kok seenaknya masuk rumah orang sih," kata Anemoi kesal.
Semenjak Kirika tidak ada, dia semakin berani apalagi sekarang masuk begitu saja ke kamarnya.
Anemoi loncat menghindarinya. "Maksud ibuku ya masuk dan kamu tunggu di ruang tamu. Mana mungkin ibuku menyuruh kamu ke kamar," kata Anemoi memandanginya.
"Aku bosan sih lalu mana mau juga kamu turun kan. Aku dengar apa yang kamu bilang jadi aku langsung saja kesini. Nih, aku bawakan makanan untuk kamu. Coba deh," kata Siana mengambilkan sebuah diberikan pada Anemoi.
Tidak perlu. Keluar sana sebelum ibuku pulang," kata Anemoi mendorong keluar Siana.
"Galak sekali sih. Iya iya aku keluar, tapi makananku kamu makan ya," katanya memaksa.
"Simpan saja di dapur nanti ibuku yang pindahkan. Ahhhh! Kalau Kirika tahu bisa dibanting nih," kata Anemoi yang terpaksa turun ke bawah.
Bukannya pergi, Siana malah menata hasil masakannya di piring. "Nih coba dong dimakan, aku sudah susah buatnya hanya untuk kamu," pintanya.
"Kamu kan tidak bisa masak, paling itu buatan bos," kata Anemoi tepat sasaran.
"Ini kan termasuk usaha juga. Usaha membawakan. Nih coba aaaaa," kata Siana tidak mau tahu.
"Tidak usah aku bisa makan sendiri, hanya Kirika yang aku perbolehkan menyuapi aku," kata Anemoi memakan satu.
"Kirika terus dia kan tidak ada disini lagi bisa tidak sih kamu beri aku kesempatan?" Tanya Siana kesal.
"Sudah pulang ya," kata Anemoi cuek. Mempersilakan dia pergi.
"HUH? Kamu jahat sudah jauh-jauh aku datang eh malahan kamu usir," kata Siana berjalan dengan menghentakkan kedua kakinya.
"Iya aku makan tapi kamu juga makan ya. Ini kebanyakan, aku kan tidak kos," kata Anemoi akhirnya membuat Siana senang.
"Tentu saja. Ini aku sudah simpan untuk kedua orang tua kamu. Oh iya akhir-akhir ini kamu menambah pekerjaan sambilan ya. Kapan-kapan kita main yuk berdua, Kirika kan sudah tidak bisa menemani kamu jadi dengan aku saja," kata Siana dengan genit.
"Tidak usah, memang aku sibuk. Aku memutuskan untuk menjadi idola saja sepenuhnya agar aku bisa melamar Kirika nantinya," kata Anemoi membuat Siana kaget bukan main.
"Melamar? Maksudnya kamu mau menikah sama dia?" Tanya Siana tidak yakin mendengarnya.
__ADS_1
"Makanya kamu cari lelaki lain saja, mau sampai kapan pun kamu menunggu. Hatiku hanya untuk satu orang bukan dua," kata Anemoi tidak memandangi mimik wajah Siana yang berubah.
Siana mendengus kesal kalau Anemoi sampai menikah sih tidak ada kesempatan lagi. Siana lalu pergi dari dapur meninggalkan Anemoi yang makan dengan lahap. Siana pergi ke kamarnya lagi mencari sesuatu untuk menghalangi hubungannya dengan Kirika.
Mengendap-endap perlahan Siana masuk lagi dan mulai mencari. Kenapa setiap kali dia mau menelepon selalu diganggu. Saat sedang melihat-lihat, dia menatap kagum pada sebuah lonceng.
"Aih, cantik sekali! Ini milik Anemoi? Tidak menduga dia menyukai benda secantik ini. Aku ingin dengar suaranya," Siana memegangnya lalu digoyangkan sekali.
"Aneh kok tidak ada suaranya? Coba lagi," katanya kali ini lebih keras tapi tidak ada suara yang keluar. Lagi-lagi tidak ada suara akhirnya Siana banting ke lantai dengan kesal.
"Lonceng rusak begini dia jaga? Mengesalkan!" Katanya sebal.
Anemoi yang sedang makan sekarang merasa sendirian. Benar saja Siana tidak ada bersamanya dan intuisinya berkata dia ada di kamar. Lalu bergegas ke atas dan ... melihat loncengnya sedang dipungut Siana.
"KAMU! BERANI SEKALI MASUK KE KAMARKU!" Teriaknya geram sekali membuat Siana kaget.
"Aku... aku melihat loncengnya tadi jatuh makanya..." kata Siana membuat alasan.
"Lonceng ini tidak mengeluarkan suara bagaimana bisa kamu mendengar suaranya? Aku berterima kasih kamu membawakan makanan dari bos dan selalu ada di saat aku jauh dari Kirika. Tapi itu bukan kemauan aku," kata Anemoi yang sudah marah sekali. Terutama Siana memegang loncengnya dan Anemoi rebut dengan kasar.
"Kenapa kamu punya lonceng rusak itu?" Tanya Siana agak takut.
"Bukan urusan kamu! Kamu sudah mulai berani saat Kirika tidak ada. KELUAR!" Hardik Anemoi membuat Siana secepatnya keluar dari pintu kamarnya.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya penasaran menemukan lonceng yang cantik tidak menduga kamu suka barang antik," kata Siana menjelaskan.
"Aku memaklumi kamu tapi lebih dari ini..." kata Anemoi meletakkan loncengnya lagi dan syukurlah tidak ada yang bengkok.
"Itu dari siapa sih? Kenapa kamu menjaganya sepenuh hati?" Tanya Siana agak cemburu.
"Itu dari Kirika dan aku tidak suka ya kamu sembarangan memegang barang aku," kata Anemoi yang mulai kesal sekali.
"Aku tidak punya maksud apa-apa tumben sekali pacar kamu memberikan kamu barang antik. Oke aku keluar dan aku sangat minta maaf," kata Siana dalam hatinya kesal juga tahu begitu, di buang saja loncengnya tadi.
"Sudah sudah apapun yang kamu perbuat aku maafkan ini terakhir kalinya aku lihat kamu seenaknya masuk rumah orang. Keluar deh," kata Anemoi kali ini kamarnya dia kunci supaya aman.
"Huh, berlebihan sekali sih. Lagipula hanya lonceng cacat saja pakai dijaga," pikir Siana yang kemudian tidak jadi pulang.
"Aku keluar sebentar awas ya kalau kamu mulai berusaha seenaknya. Tunggu disini takutnya ibumu datang, aku mau beli air dulu," kata Anemoi mengancam.
"Iya aku tunggu disini," kata Siana sebal. Tapi tidak janji juga memang dia sering ingkar janji.
Di tempat Kirika, tengah menonton acara televisi dikagetkan dengan suara loncengnya yang berisik sekali. Tidak sekali tapi beberapa kali membuatnya bergegas lari ke kamarnya. Dan memegangnya lalu lonceng itu terdiam lalu menuju ruang telepon.
Siana menunggu sambil membaca majalah dan mendengar deringan telepon. Dengan penasaran dia mengangkatnya baru saja mau bicara dia mendengarkan siapa orang itu.
"Anemoi, tadi loncengnya berbunyi. Aku rindu sekali! Kamu sedang apa? Kenapa selama 2 bukan ini kamu tidak ada kabarnya?" Tanya Kirika dengan cemas.
Siana langsung memberikan tanggapan yang membuat Kirika terkejut. "Ya ampun Kirika, kamu masih saja menunggu Anemoi? Hahaha kamu tidak penasaran kenapa dia tidak ada kabar?" Tanya Siana dengan nada mengejek.
"Siana!? Sedang apa kamu di rumah Anemoi?" Tanya Kirika was-was.
"Tentu saja aku mendatangi rumah kekasihku. Anemoi tidak cerita? Kasihan kamu, kami kan baru saja jadian sekarang dia sedang keluar membeli kue untuk merayakan," kata Siana berhasil membuat Kirika Down.
"Kamu bohong. Dia berjanji akan menikah denganku. Kamu kan sudah sering kena tolak," kata Kirika.
Siana yang mendengarnya tertohok sekali karena benar. "Apa kubilang, lelaki yang ditinggal pergi pacarnya dan hanya bisa mendengat suara saja tidak akan bertahan lama. Sekarang, justru lebih baik kamu yang mencari pengganti lain. Anemoi sudah tidak mencintai kamu lagi," kata Siana langsung menutup teleponnya dan menjulurkan lidah ke arah teleponnya.
Anemoi datang bergegas Siana duduk kembali dan membuka majalah. Anemoi menghampiri Siana lalu meletakkan belanjaannya dan ke dapur.
Siana tertawa pelan tanpa suara. "Rasakan! Diapa suruh kamu meremehkan soal aku. Aku yakin Kirika pasti sedang menangis," dalam hatinya lalu meminum airnya.
"Tadi ada telepon tidak?" Tanya Anemoi.
"Tidak ada. Oh iya, aku pulang dulu ya jangan lupa dimakan," setelah Siana ijin pulang, Anemoi kembali rebahan di kamarnya.
Bersambung ...
__ADS_1