Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
6


__ADS_3

"Ternyata kamu punya kekurangan juga ya. Aku pikir kamu selalu sempurna," kata Sia menatap langit.


"Enak saja! Ya pastilah aku punya kekurangan tidak seperti keluargamu yang utuh apalagi mereka berdua dari keluarga baik-baik. Sebenarnya aku yang iri sama kamu," kata Sehan memukul punggung Sia.


Sia terbatuk-batuk dan menatap galak kepadanya. Sehan hanya tertawa melihatnya.


"Awas yaaa..." kata Sia yang mengepalkan tangannya akan memukul Sehan.


"Ampun ampun hahaha kamu ini tunggal kan ya aku yakin kamu tidak bisa berjalan kaki ke sekolah kan," kata Sehan menantang.


"Siapa bilang? Aku bisa!" Kata Sia melipatkan kedua tangan di dadanya.


"Sungguh? Ayo kita taruhan," ajak Sehan.


"Siapa takut. Kalau aku bisa melakukannya, aku akan merias wajah kamu di festival nanti. Bagaimana?" Tanya Sia. Tentulah meski Sehan gadis paling cantik tapi dirinya sama sekali tidak suka memakai riasan.


Sehan terdiam kaget lalu berpikir. "Baiklah! Aku siap apa boleh buat tapi kalau aku menang... kamu harus menyatakan cinta pada Aegis. Dare?" Tanya Sehan.


Sia tercengang, dia harus bersiap mengatakan perasaannya pada Aegis. "Tunggu tunggu tantangan itu berlaku kapan? Dan ketentuan menangnya?" Tanya Sia agak panik.


Sehan tertawa melihat gelagat temannya itu lalu berdiri. "Tantangan dimulai besok hari, aku tunggu kamu di depan gerbang sekolah. Kalau kamu bisa mencapai sekolah dengan berjalan kaki, berarti kamu menang. Tapi kalau tidak, siapkan saja dirimu ya! HAHAHAHA," kata Sehan kemudian berlari.


"Tunggguuuuuuu beri aku waktuuuu," teriak Sia mengejar Sehan.


Sepergiannya mereka berdua, tanpa disadari Adelia mendengarkan setiap percakapan mereka dari balik semak-semak dan terkejut dengan penjelasan Sehan lalu bergegas kembali ke kelas sebelum mereka menyadari bahwa dia tidak ada.


Sekarang Adelia bisa membalas Sia karena tubuhnya yang mengerikan itu sudah kembali normal, kekasihnya pun memutuskan Adelia. Dan sekarang dia mendendam kepadanya. Siapa sangka kertas mantra itu pun sulit dia dapatkan lagi karena tidak mungkin dia buat sendiri.


Dalam kelas, mereka berdua masih sedikit berantem lalu Adelia menghampiri.


"Anu, Sia ada yang mau aku tanyakan tapi kalau kamu tidak mau menjawabnya, tidak apa," kata Adelia.


Sia menatap Adelia dengan pandangan lurusnya. "Apa itu? Mau bertanya soal apa?" Tanyanya agak angkuh.


"Apa kamu akan memakai sabunnya sampai habis?" Tanya Adelia ingin tahu.


"Tentu saja tidak aku masih memakainya hanya sampai kulitku mengering dan mengelupas saja. Kenapa?" Tanya Sia.


Adelia melihat kulit Sia yang saat datang ke sekolah setiap paginya, sekarang sudah mengelupas hampir semuanya. Dari hari ke hari selalu ada saja kulitnya yang mulai sembuh. Semakin membuat Adelia merasa terancam.


"Oh tidak ada apa-apa sih. Bagaimana kalau kamu berikan untukku? Jangan berpikir macam-macam ya aku juga ingin kulitku glowing," kata Adelia memperlihatkan kulitnya berwarna cokelat sawo itu.


"Kamu itu cantik adanya, Lia. Untuk apa menginginkan glowing? Syukuri apa yang ada di diri kamu jangan hanya merasa kurang percaya diri karena kecantikan ku, kamu merasa lebih rendah," kata Sia yang bertingkah angkuh.


"Kamu ini," kata Sehan memukul kepalanya dengan buku.


Semua murid menertawai mereka berdua yang kembali saling memukul.


"Hiyaa hiyaa buat afah jadhi glowhing. Begihu sudhah canfik," kata Sehan yang pipinya ditarik Sia karena rambutnya kini berantakan.


"Sudah, sudah hentikan. Kalian somplak sekali ya," kata ketua kelas menengahi.


Adelia memandangi mereka dan mendengar apa yang mereka katakan tapi tetap saja dia sudah kepalang sebal dengannya.


"Ehem! Bagaimana ya aku sudah janji mau mengembalikannya dan akan bercerita juga," kata Sia membereskan rambutnya.


"Besok mau kamu kembalikan?" Tanya Adelia.


"Bagaimana kalau kamu ikut saja menemui pemiliknya? Rencananya besok sepulang sekolah mau kesana," kata Sia.


"Aku baru tahu kalau sabun garam ada fungsi untuk menyembuhkan penyakit juga," kata ketua kelas yang sempat melihat sabun itu.


"Bisa juga untuk menghilangkan guna-guna dan sihir lho kalau kamu tumbuk lalu sebarkan di pojok kamar," kata yang lainnya.


Adelia mendengarkannya lalu menuju kursinya, dia tampak tegang mendengarkan penjelasan ketua kelas dan teman lainnya.


"Ahhhhhh benar juga anak itu berkata kalau ada yang mengirimkan kutukan kepadaku makanya penyakitku tidak kunjung sembuh," kata Sia membuat Sehan dan yang lain ketakutan.


"Kamu terlalu sombong sih karena wajah cantik. Tidak heran," kata Sehan.


"Iya aku tahu itu. Norak sekali ya caranya sampai mengirim begituan segala kenapa sih tidak langsing dibicarakan saja?" Tanya Sia dengan marah.


Lalu ekskul sore hari Sehan menuju gedung olahraga bersama dengan Sia yang akan menontonnya berlatih. Adelia juga keluar dari kelas untuk menonton latihan temannya dan masih terdengar obrolan mereka.

__ADS_1


"Aku pantas menjadi Dewi Aphrodite, lihatlah rambutku yang cantik dan lembut ini. Apalagi wajahku mulus natural," kata Sia bergaya cantik dengan mahkota yang klub Drama buat mirip dengan yang pernah dipakai oleh artis Venus.


"Aku ini yang paling cocok. Kami jadi Athena saja nih," kata Sehan menyerahkan gelang Athena buatan klub Drama.


"Enak saja! Kamu yang lebih cocok menjadi Artemis, dia kan tomboi," kata Sia membalas memukul dan mereka berkejaran.


Adelia sempat memeriksa kolong meja Sia tapi sabun itu tidak ada. Dia kecewa besok pasti Sia bawa karena akan dikembalikan. Rencananya dia akan menukarkannya dengan yang palsu. Dia mencari ke toko online dengan barang yang sama.


Pukul lima sore mereka semua berhamburan untuk pulang dalam perjalanan menuju mobilnya, Sehan bertanya mengenai toko tersebut. Adelia tentu saja bergabung dengan mereka.


"Bagaimana sistem pembayarannya?" Tanya Sehan.


"Ah ya bagian itu aneh juga sih dia tidak memerlukan uang sama sekali," katanya berpikir.


"Haaah? Aneh! Lalu pakai apa? Tubuh?" Tanya Sehan memperhatikan Sia.


Sia memukul bahunya. "Bukan! Anak itu bilang dibayarnya dengan aku menceritakan setiap penyakitku hilang," kata Sia dengan wajah aneh.


"Hanya itu? Jadi setiap kamu datang ambil yang baru, kamu cerita?" Tanya Adelia tidak percaya.


"Iya hanya begitu. Saat bercerita ada banyak yang mendengarkan yah, tidak masalah sih," kata Sia tertawa senang.


"Bahkan saat kamu berpenyakit saja semua orang masih mau datang mendengarkan," pikir Adelia semakin merasa tidak adil. "Kalau sabunnya masin ada berarti kamu masih punya bahan cerita yang belum rampung kan," kata Adelia menebak.


"Tentu saja! Dia itu kan suka... UMPH!" kata Sehan yang lalu ditutup mulutnya. Beberapa teman lainnya keheranan.


"Suka apa? Ayolah ceritakan," kata teman lainnya tapi Sia dan Sehan menggelengkan kepalanya.


"Kamu suka seseorang ya?" Tanya Adelia sengaja.


"Apa!? Siapa!? Serius!? Nona besar ini bisa juga menyukai murid lelaki. Siapa siapa siapa? Adelia, kamu tahu?" Tanya teman lain.


"Aku tidak tahu hanya menebak," kata Adelia senyum tipis.


"Kaliaaaan..." kata Sehan kesal.


"Nona!" Teriak supirnya.


"Hahaha boleh aku akan menunggu kamu besok," kata Sehan. Dia kemudian menceritakannya pada mereka dan antusias akan datang lebih pagi juga.


Sepergiannya Sia, mereka semua heboh.


"Serius dia mau jalan kaki dari rumahnya?" Tanya yang lain. Adelia hanya diam saja mendengarkan.


"Iya, dia merasa tertantang waktu aku bilang tidak akan bisa datang ke sekolah tanpa mobil," kata Sehan tertawa.


"Tapi masalahnya Sehan, rumah dia kan memang jauh kalau besok dia jalan kaki pun sampai ke sekolah sore kali," kata yang lain mengingatkan.


Sehan yang tertawa bangga lalu terdiam. Kedua matanya mengecil lalu menepuk dahinya. "Hhhhhh nanti deh di rumah aku ubah sedikit," katanya.


"Iya lebih baik begitu," kata mereka lalu mereka berjalan berbeda arah. Adelia pergi tanpa mengatakan apapun.


Di rumahnya Adelia memakai lagi sabun itu tapi lebih banyak takarannya. Lama kelamaan menjadi lengket dan memoleskan ke wajahnya. Dia merasa wajahnya seperti meneguk bahan yang ada di sabunnya lalu dia mencucinya.


Wajahnya menjadi lebih cantik dari biasanya dan Adelia sangat puas. Lalu dia kenakan ke tangan, kaki dan leher agak tampak lebih putih.


Di rumah Sehan, dia sedang menelepon Sia untuk mengubah rute karena dia baru ingat kalau rumahnya memang jauh. Akhirnya diputuskan dia mulai berjalan kaki dari stasiun kereta api A. Yang jaraknya lumayan cukup jauh ke sekolahnya. Sia setuju dan menyiapkan banyak botol air.


Keesokan paginya Sehan dan empat orang teman yang lain sudah berada di sekolah menunggu kedatangan Sia. Adelia juga ada namun berbeda tempat dia ada di depan kelas Aegis sambil melihat kedatangan Sia dari jauh.


Lima belas menit kemudian mereka melihat Sia yang benar jalan kaki didampingi supirnya yang mengenakan mobil. Sia memakai ikat kepala putih bertuliskan "Aku bisa!" dan sampai dengan langsung rebahan di tanah.


"HOREEEE KAMU BERHASIL!!" Teriak mereka bertepuk tangan menyambut Sia yang kelelahan.


"Luar biasa," kata A tertawa.


"Ini... pertama... kalinya..." kata Sia kelelahan. Dia memakai baju olahraga yang bawahnya setengah lutut. Teman-temannya mengipasi nya yang bercucuran keringat.


Pak supir memberikan Pocari kepadanya yang langsung habis dia minum lalu berdiri dengan sombong.


"Lihat! Aku keren kan," katanya bangga. "Aku menang," kata Sia.


"Iya iya kamu menang. Festival nanti tolong rias aku ya," kata Sehan mengaku kalah.

__ADS_1


"Tentu saja, ayo kita ke kelas," kata Sia dengan semangat setelah mengucapkan salam pada supirnya.


Dalam kelas ada keramaian Sehan dan Sia penasaran ada apa ya? Saat mereka berjalan, beberapa murid melewati mereka.


"Kamu yakin!? Adelia kelas 2-2 itu?" Tanya A.


"Iya dia, dia ditembak oleh Aegis yang keren itu. Beruntung sekali kan," kata yang lainnya.


"Iiihh sebeeel aku kan sudah takdir dia sejak awal kenal," katanya lalu mereka turun ke kelas bawah.


"Hei kalian tahu kabarnya? Adelia ternyata sudah lama menyukai Aegis sekarang mereka sudah jadian," kata salah satu teman mereka.


Sehan termenung sulit mempercayainya apalagi kenapa waktunya terlalu pas? Sehan menatap Sia yang membeku di tempatnya berdiri.


"Hei, Sia," kata Sehan dengan wajah sedih.


"Ayolah kita masuk. Aku lelah nih," kata Sia ketawa lalu menuju kursinya.


Sehan juga duduk sambil memandangi Sia yang rebahan di meja karena lelah. Sia sebenarnya sedih dia menangis tapi tidak bersuara. Dialah yang menyukai Aegis sejak dulu, Adelia sama sekali tidak menyukainya entah kenapa malah ada kabar seperti itu.


Lalu Adelia datang dengan wajah berseri-seri yang sebenarnya dia sengaja melakukannya. Saat masuk dan memandangi Adelia mereka semua terkejut dengan penampilannya.


"Adelia! Ini kamu? Waah wajah kamu cantik sekali," kata A dengan aneh.


Sia bangun lalu menatap Adelia, memang benar wajahnya jadi cantik putih sama seperti Sehan dan dirinya. Tangan dan kakinya pun mulus bukan cokelat sawo lagi. Rambut Adelia digerai dan dibuat gelombang keriting.


"Wah, kamu jadi terlihat berbeda. Apa rahasianya?" Tanya Sehan yang masih duduk di kursinya.


"Rahasia dong tapi sekarang aku senang akhirnya kedudukan aku bisa setara dengan kalian berdua," kata Adelia ceria sekali.


Sia menatap ke arah Sehan begitu juga Sehan. "Kamu punya sabun juga ya?" Tanya Sia.


Adelia tertahan lalu tersenyum. "Apa maksudmu? Ini kecantikan aku yang alami kok," katanya duduk di kursi.


"Ya baguslah kamu sekarang bisa senang," kata Sia tidak memikirkan lagi.


"Oh iya tadi pagi Aegis menyatakan cintanya sama aku lho! Aku senang sekali, dia juga memuji wajahku yang cantik," kata Adelia tertawa.


"Baguslah," kata Sia biasa saja dan membuat Adelia sebal.


"Baik, anak-anak sekarang kita akan mulai praktek komputer silakan kalian pindah kelas," kata guru.


Mereka semua membawa buku dan flashdisk dan bergegas ke ruang komputer. Sehan dan Sia berada di berbeda kursi. Sehan depan, Sia tengah sedangkan Adelia di pojok belakang.


Mereka mengerjakan tugas sambil mengobrol.


Sehan : "Hei, kamu tidak apa-apa?"


Sia : "Kenapa?"


Sia mengerjakan tugas yang diberikan guru.


Sehan : "Masalah yang tadi, aku kan tahu kalau kamu yang sudah lama menyukai adik tiriku bukan Adelia,"


Sia menghela nafasnya dia tidak memaksa kalau memang Aegis menyukai Adelia.


Sia : "Sudahlah. Aku ikhlas kok. Adelia kan orangnya baik dia malah tidak sombong seperti aku,"


Sehan menghela nafasnya dia masih belum terima kalau adiknya menyukai Adelia karena dia yang paling tahu.


Sehan : "Bukan begitu sebenarnya... bagaimana ya menjelaskannya,"


Sia : "Kenapa sih? Kenapa kamu jadi rudet?"


Mereka menghentikan percakapan saat guru mereka memeriksa setiap tugas yang diberikan. Semua anak-anak juga sama. Lalu guru itu kembali membuat tugas lagi.


Sehan : "Aegis pernah bertanya kepadaku soal seorang perempuan yang sedang sakit. Dia selalu bertanya bagaimana kabarnya,"


Sia membaca dan berpikir. "Apa maksudnya aku?" Pikir Sia.


Sehan : "Serius! Kamu tahu kan maksudnya? Iya dia selalu bertanya soal kamu. Dia suka kamu bukan Adelia, makanya aku merasa aneh,"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2