Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

"Toko ini banyak sekali barang antiknya. Darimana dia mendapatkannya? Gelas ini indah sekali," kata Rui memegang sebuah cawan berbentuk piala.



Kaki cawan tersebut terbuat dari emas dan di dalamnya semacam ada batu berwarna keunguan. Lalu Rui menatap Eris yang tengah sibuk membuat sabun berwarna warni.


"Anu..." kata Rui mengetuk pintu.


Eris berbalik menatap Rui, tidak ada pertanyaan atau mengenai apapun.


"Maaf aku tidak sopan mengambil sekotak perhiasan dan bekerjasama dengan temanmu yang itu," kata Rui menunjuk pada Arae yang sedang menjadi kasir.


"Oh... dia sangat menyukai keramaian," kata Arae lalu menumbuk sebuah permata berwarna hijau.


"Hmmm, maaf juga aku seenaknya saja menjual semua barang disini padahal aku tidak tahu sistem penjualannya," kata Rui menunduk.


Eris menghentikan pekerjaannya dan menghela nafas. Lalu berbalik mendekati Rui dan berdiri 10cm di depannya.


"Aku bukanlah manusia, kamu sudah tahu itu kan. Aku tidak membutuhkan apapun termasuk uang yang kamu terima. Aku mendapatkan pembayaran ku dari jiwa pembeli yang sudah mendapatkan permohonannya," kata Eris menatap Rui.


"Ji-jiwa? Jadi..." kata Rui agak mundur.


"Bila tujuan mereka sudah tercapai, aku akan menarik pembayarannya. Apapun itu," kata Eris dengan datar.


"Itu artinya... meminta jiwa itu... kau membunuh mereka?" Tanya Rui yang ketakutan. Sekarang dia tahu kenapa Eris menolaknya untuk hidup bersamanya.


"Bisa juga seperti itu atau ada juga yang mengalami kejadian karena ulah mereka sendiri. Meski aku sudah memperingatkan, kebanyakan dari mereka sama sekali tidak mematuhinya," kata Eris menatap Rui.


Rui menundukkan kepalanya, yah Eris tentu saja menyindir dirinya.


"Begitulah manusia, apapun yang dilarang pasti akan dilakukan. Bukan begitu?" Tanya Eris lalu mengerjakan pekerjaannya lagi. Kali ini dia memakai kekuatannya agar ramuannya menjadi cair.


"I-itu bukan salahmu. Kau sudah memperingatkan mereka, itu salah mereka karena tidak mau mendengarkan. Kau orang yang baik meski dingin, tapi aku merasakan kau memiliki kehangatan hati," kata Rui membuat Eris tersentak.


"Hati?" Tanyanya tanpa memalingkan wajahnya pada Rui.


"Iya. Buktinya kamu menolong aku yang tersesat berbeda dengan orang dengan wajah tua yang mengusirku dengan kejam. Entah siapa namanya, orangnya sangat sombong sekali. Pokoknya aku ingin tetap disini denganmu!" Kata Rui.


"Hmmm wajah tua mungkin maksudnya Thanatos," pikir Eris lalu tertawa kecil.


"Kalau kamu terus bersamaku suatu saat kau akan bisa melihat kejadian yang mengerikan. Apa kau sanggup?" Tanya Eris memegang belati.


"Kejadian yang mengerikan itu seperti apa?" Tanya Rui agak menelan ludah.


"Menyaksikan aku melahap manusia," kata Ara dari belakang Rui.

__ADS_1


Rui terkejut, tanduk Arae keluar tapi bukan karena emosi. Kedua matanya memerah menatap Rui.


"Ap... bohong! Kalian pasti bohong kan," kata Rui memandangi Eris dan Arae, jantungnya berdegup kencang sekali.


"Kami adalah iblis. Jika kau benar-benar ingin disini seterusnya, ada kemungkinan kau benar-benar tidak akan bisa kembali," kata Eris lalu membelah beberapa binatang.


Rui tidak ingin melihatnya.


"Kamu tidak akan bisa kembali ke dunia manusia. Kalau kamu mau, aku akan membawakan obat yang bisa mengubahmu menjadi seperti kami," kata Arae menghilangkan tanduknya dan memeluk Rui.


"Menjadi iblis?" Tanya Rui dengan buliran air mata.


"Pilihan ada padamu, toh kamu tidak bisa ikut kami kalau masih menjadi setengah roh. Tenang saja prosesnya tidak akan sakit kok," kata Arae lalu pergi dengan ceria.


Rui masih membeku di luar kamar dan menatap Eris yang mengeluarkan isi perut binatang. Lalu berlari ke depan.


Eris menghela nafas, yang dipegangnya hanyalah mainan binatang termasuk isi perutnya. Mana mau meskipun dia iblis, harus mengotori tangannya dengan darah hewan dan lainnya.


Rui membayangkan yang dilakukan oleh Eris dan juga perkataan Arae. Dipikirnya tidak ada tempatnya lagi dimanapun dia menangis. Samar-samar Rui mendengar suara, dia mengikuti sumbernya dan sampailah di kamar Eris.


Dia melihat bola kristal yang indah tapi tidak masuk karena tidak sopan.


"Sayang, bangunlah! Maafkan Mama, Nak. Semua itu demi kebaikan Mama. Maafkan Mama, Nak!" Seru Mamanya di dunia.


Rui berbalik dan melangkah masuk tiba-tiba saja dia berada di dalam kamar Rumah Sakit dan memandangi dirinya yang penuh perban. Teman dekatnya, Mari juga hadir, kekasihnya juga Suga! Ayah dan Mamanya juga menangis histeris.


Arae datang karena Eris harus mengatasi pembeli yang membludak di tokonya.


"Sudahlah, untuk apa menangis? Kamu senang kan sesuai harapan kamu bisa bebas dari orang tua hihihi," kata Arae menepuk bahu Rui.


Rui menangis terisak-isak tidak menyangka kalau separah itu dia kecelakaan. "Tapi semuanya... Suga," kata Rui berjalan ke arah Suga dan berusaha memegangnya.


"Untuk apa. Kalau kamu menjadi kami, lelaki itu tidak ada harganya. Di dunia kami, kamu bisa menikah dengan Pangeran apalagi dewa," kata Arae memperlihatkan ketampanan 7 dewa sebagai idola di dunianya.


Rui menggelengkan kepalanya terutama saat melihat Mamanya histeris dan menangis lalu meminta maaf.


Suasana mendadak kembali ke dalam toko Eris, Rui terkejut dan melihat Eris menggenggam botol cantik. "Letakkan ini di depan etalase. Pembelinya sangat banyak," katanya berlalu.


Rui menyeka air matanya kini dia berada di antara dua pilihan. Haruskah tinggal dan bebas ataukah kembali dan menerima segalanya?


Eris memperhatikan pekerjaan Rui yang memang cekatan tapi sedikit bimbang sekarang.


"Aku tidak keberatan kamu ada disini meskipun ingin bebas dari Mama kamu. Peringatan aku hanya satu, jangan pernah sekali-kali kau melangkahkan kakimu keluar toko," kata Eris dengan tajam.


Rui tentu sempat hampir melangkahkan kakinya kalau tidak melihat sekuntum mawar merah yang mekar di samping kolam.

__ADS_1


"Ma-maaf! Aku tidak... memangnya kenapa?" Tanya Rui.


"Keberadaan kita sebenarnya tidak tampak di manapun, hanya mereka yang membutuhkan bantuan toko ini akan terlihat. Kalau kamu keluar, apalagi bukan di jaman kamu, mereka akan mengeroyok mu. Lalu, tempat ini bisa mengambil posisi dimana saja. Bukankah aneh bila mereka melihatmu keluar dari tempat yang katakan tidak wajar?" Tanya Eris memberikan pengertian.


Rui menutup mulutnya. Benar juga dia kadang melihat pemandangan luar toko agak berbeda. "Tapi mereka bisa masuk," katanya.


"Arae bertugas membuat portal yang terhubung dengan pintu toko ini. Kamu tidak akan pernah bisa tahu toko ini sebenarnya berada di mana. Kamu mau mencobanya?" Tanya Eris membuka jendela dan menyapu.


Rui menghampirinya dan dia terkejut wajahnya pucat. Toko Eris berada di atas tebing yang sangat curam sekali. Kemudian portal berwarna biru kehitaman, muncul di sekitar luar toko.


Beberapa pembeli datang dengan berjalan masuk ke dalam toko. Rui terkejut dan juga kagum tapi ketakutan.Wajah mereka tidak menampakkan ketakutan pada jarak jurang dan portal.


"Yang mereka lihat adalah jembatan atau jalan raya atau bisa apa saja. Kekuatanku akan menampakkan apa yang mereka bayangkan. Kalau kamu tidak percaya cobalah keluar menuju portal itu lalu kembali lagi," kata Eris.


"Bukannya tadi kamu bilang kalau aku keluar... Baiklah! Aku akan mencobanya," kata Rui memantapkan hati lalu melangkahkan kakinya ke luar.


Dia memejamkan kedua matanya dan takut melihat. Seketika itu desiran angin menyambutnya dia membuka mata, pemandangan alam lain lalu melihat kebelakangnya.


Rui melihat Eris yang masih berdiri di balik pintu lalu dia masuk kembali ke portal itu tanpa memejamkan kedua matanya.


Tepat di ujung portal itu akan habis, tiba-tiba Rui melihat jembatan putih dihiasi bunga-bunga kesukaannya. Dia terkesan sekali lalu ada bola kristal, beberapa orang menatap Rui dengan aneh.


"Bagaimana?" Tanya Eris menutup pintu toko.


"Hebat!" Kata Rui yang lega sekali dan bahagia.


"Itu adalah gambaran yang ada di dalam hatimu. Mungkin kamu merencanakan bisa melangkah dengan seseorang?" Tanya Eris berbalik menuju kasir.


Wajah Rui memerah. Dia memang membayangkannya berjalan di altar dengan Suga kalau mereka memang ditakdirkan. Rui kemudian bekerja dengan perasaan was-was takut mereka masuk ke dalam jurang.


"Toko ini dilindungi oleh kekuatan Eris. Jadi jangan cemas," kata Arae bertugas menjadir kasir.


"Hoo, syukurlah," kata Rui memandangi Eris yang menaruh sabun dan cairan lainnya ke lemari. "Kalau bersama dengannya, aku bisa melihat berbagai macam dunia tapi... bagaimana dengan orang tuaku?" Pikir Rui menghela nafas.


Siang harinya, toko akhirnya sedikit sepi. Rui kecapekan dan mengambil minum serta makanan yang tersedia. Dia agak takut memakan kue serta roti ataupun nasi yang ada disana berpikir apa yang dilakukan Eris.


"Tapi aku lapar. Semoga tidak apa-apa, pikirkan saja makanan ini asli," kata Rui memejamkan kedua matanya.


Arae tertawa melihat tingkah Rui yang lapar tapi takut. "Tenang saja makanan ini tidak ada campur tangan dengan hal yang dilakukan Eris. Karena kami memiliki urusan dengan manusia, semuanya kami setting termasuk makanan," katanya lalu pergi.


"Oh... tahu begitu aku makan lebih tenang," kata Rui melihat tangannya penuh remahan roti.


"Makan saja karena kamu yang makan. Kami tidak memakan makanan manusia," kata Arae sambil menghitung uang.


"Ini. Kamu bisa gunakan semua uang ini," kata Eris memberikan kantung besar berisi uang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2