
"Setelah itu kami ditinggalkan," kata Diega.
Ekok yang mengenal dagunya pun berpikir. "Itu talinya memang lepas sendiri atau sengaja lepas?" Tanyanya.
"Lepas sendirilah aku kan lihat sendiri. Lalu aku tunggu dia, Keling duduk menghadap bukit pojok yang batunya ada yang datar," jelas Diega.
"Dia pakai baju apa sih?" Tanya Ekok agak aneh.
"Bajunya kaos tapi yah, MC tahulah kalau perempuan pakai baju aurat kelihatan, ya begitu. Kalau sadar ada yang terlihat dia secepatnya ditutup," kata Diega.
"Hah, ribet sekali kenapa kamu tidak menutupi dia dengan jaket? Apa kamu tidak mau ketinggalan momen?" Tanya Ekok menebak.
"Sudah aku tawari tapi jaketnya kan kutung Kang mau ditutup juga tetap terlihat. Setelah itu akhirnya dia memutuskan ganti sepatu pakai olahraga gitu," kara Diega mengingat kenangan itu.
"Kalau lepas sepatu berarti kelihatan kan kakinya?" Tanya Ekok agak merinding soalnya.
"Ya eyyalaah.. dia manusia kok kakinya muluuus putih deh," kata Diega tertawa.
"Kamu tidak pegang siapa tahu itu tembus," kata Ekok tertawa keras.
"Wah parah nih. Mau itu hantu sekalipun ya lihat wajahnya yang lembut dan tutur kata baik. Mana ada aku memainkannya mana di gunung pula. Itu kan keramat," tegas Diega.
"Ya kali banyak orang yang memang niatnya iseng kan," kata Ekok.
"Yuk, sudah nih Kang maaf ya jadi terhambat," kata Keling dengan suara lembutnya yang ceria.
"Tidak apa-apa tenang saja. Yakin tidak ada yang mau diganti lagi?" Tanya Diega memperhatikan.
"Yakin sih... hmmm," kata Keling agak ragu.
Diega menghela nafas. "Kenapa?" Tanyanya sudah menjadi kodrat perempuan kalau ada yang bisa diganti pasti lama.
Keling memperlihatkan gerak gerik yang aneh. Dia seperti mengangkat bahunya bersamaan lalu menarik sesuatu.
__ADS_1
"Ada... yang lepas... sih," kata Keling dengan suara pelan dan malu.
Diega menggosokkan tangan kirinya ke wajah. "Ya sudah sana perbaiki dulu. Aku tunggu disini," kata Diega sambil duduk di batu besar.
"Akang duluan saja. Aku biasa kok ditinggal sendirian," kata Keling merasa tidak enak.
"Tidak, aku akan menunggu. Memangnya apa sih yang lepas lagi?" Tanya Diega melihatnya.
"Hmmm itu..." kata Keling lalu menunjukkan ke arah dadanya dan Diega mengerti.
"Oh! Tali bra?" Tanya Diega dengan keras.
Wajah Keling super merah dan menyadari itu, Diega menutup mulutnya.
"Lihat ke sana dulu Kang. Kalau begitu tunggu aku hanya sebentar," kata Keling meninggalkan Diega melompat layaknya ninja Hatori.
"Oke oke," jawab Diega dengan wajah yang juga memerah.
Tidak ada satu detik, Diega hanya melongo. Ada firasat pendugaan Keling adalah ... penunggu gunung itu tapi ditepisnya.
"Yuk, jalan lagi," kata Diega agak cepat. Keling pun berjalan di sisi Diega sambil tertawa kecil.
"Sopan sekali ya," goda Ekok.
"Harus dong kesan pertama harus jadi anak baik-baik. Masih ada kisahnya nih," kata Diega membuat yang lainnya tenggelam dalam ceritanya.
Tentu Eris pun hadir dalam stasiun Radio tersebut, dia teringat akan perempuan manis yang meminta pertolongan kepadanya. Selama ini Diega sama sekali tidak tahu sosok asli dari Keling. Memang dia penunggu gunung, sosoknya memang cantik.
"Duuh rese sekali sih!" Kata Keling menggerutu sendiri.
"Kenapa lagiii?" Tanya Diega yang masih bisa bersabar. Namanya juga perempuan.
"Tadi tali sepatu lepas aku ganti sepatu olahraga, terus lepas itu sekarang... apa aku salah memakainya ya?" Tanya Keling ke diri sendiri.
__ADS_1
"Eh? Apa?" Tanya Diega yang tidak menangkap.
"Sebentar ya Kang," kata Keling berlari ke dalam bebatuan lagi.
Diega lalu melihat ke depan beberapa grupnya masih terlihat. "Yahhh, mereka masih bisa terlihat sih. Aduuuh, begini ya repotnya jalan dengan perempuan," kata Diega duduk kembali.
Beberapa menit terlewati tapi Keling masih belum muncul. Diega berdiri dan mondar mandir lalu melihat sekeliling.
"Keling? Sudah?" Tanyanya tapi tidak ada jawaban sama sekali. Dirasa dia hanya seorang diri, Diega bangkit dan mencari.
Tiba-tiba ...
"Kang?" Tanya Keling yang sudah berdiri di belakangnya.
"Ya ampun! Aku kaget sekali. Bukannya tadi kamu di belakang batu ini? Kok sudah ada di belakang saya? Kapan pindahnya?" Tanya Diega keheranan, masalahnya hanya ada satu jalur.
"Hehehe tadi ngompol dulu sebentar. Yuk kita jalan lagi," kata Keling sambil menuruni bukit bebatuan.
Diega yang kebingungan hanya garuk kepalanya saja lalu ikut menyusul, melihat Keling dengan serius.
"Sudah? Sekalian kalau ada lagi biar aku bantu," kata Diega kalau harus menunggu lagi.
Mana udaranya dingin pula, Diega sudah ingin berdiam diri di dalam tenda nanti.
"Kamu bantu dia?" Tanta Ekok kaget tapi senang. Maklum laki-laki.
"Tidak, dia benar-benar menolak sama sekali jadi ya sudah. Ya hanya aneh saja sih itu kan di atas gunung kenapa dia berani pakai baju atasan yang memperlihatkan punggungnya?" Tanya Diega heran.
"Memangnya sangat dingin?" Tanya Ekok.
Diega mengangguk. "Lalu kami berdua kembali berjalan lagi, kita mengobrol akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Dia kembali dengan grupnya begitu juga dengan aku," kata Diega dengan mantap.
Bersambung ...
__ADS_1