
Semua orang menciumnya bukan bau tapi wangi meski tipis asapnya. Olive tetap bersikukuh dalam ruangan tim Ares ada yang aneh.
"Hen'na ora ya nioi wa arimasen. Koko wa daijoubu. moshika shitara sono nioi wa anata no taishu kamo shirenai
( Tidak ada aura dan bau aneh yang ada disini baik-baik saja, mungkin bau itu adalah bau badan kamu )," kata Eris menatap tajam.
Yang lain terkejut bahasa Jepang Eris sangat lancar mereka menatap Olive yang berwajah merah. Tim Chris dan Ares menahan tawa mendengarnya lagi-lagi Sisna menerjemahkan untuk yang lainnya.
Merasa tidak menerima apa kata Eris, Olive menghampirinya sambil menahan malu dengan wajah yang kesal.
"Kiitekudasai, watashi wa yori takai dairokkan noryoku o motte imasu. Anata no yona chisana otokonoko wa shitte imasu
( Dengar ya, aku ini punya kemampuan sixth sense yang lebih tinggi. Anak kecil seperti kamu mana tahu )," kata Olive dengan memandang remeh.
"Itu kasar sekali," bisik yang lainnya.
Eris berjalan mendekatinya membuat Olive agak takut. Kedua mata Eris yang dingin dan sorotnya yang bisa membuat beku siapapun. Kemudian Eris melihat sesuatu keluar dari tubuh Olive dan memegangnya.
Olive keheranan dan menatap kedua temannya yang mengangkat bahu. Dan melihat Eris tersenyum dingin.
"Kimi wa... Koko ni kita toki ni shawa o abinakatta nda ne
( Kamu... belum mandi saat menuju kemari ya )," kata Eris berbisik membuat Olive berjalan mundur dan terjatuh.
Yang lain keheranan, Yuri bertanya apa yang dikatakannya. Eris menyunggingkan senyuman khasnya dan berkata,
"Seelah menuju kemari dengan perjalanan yang cukup lama, bisa tahan juga kamu tidak mandi. Mandilah dengan sabun gel beraroma buah yang kamu bawa," kata Eris kemudian duduk dan membaca buku lagi.
Semua orang menatap takjub dan memandangi Olive yang berwajah merah padam lalu keluar ruangan dengan wajah yang menunduk. Semua orang tertawa keras melihat kejadian itu dan mendengar penjelasan Eris.
"Sungguh!? Dia belum mandi atau bagaimana?" Tanya peserta lain tertawa.
"Aku hanya menebak. Kalau benar dia mandi, ya memang begitu keadaannya," kata Eris sambil serius membaca.
Keadaan kembali normal beberapa menit kemudian lalu Chris datang dengan memakai baju pendetanya membuat semua orang histeris menatapnya.
Hanya Eris yang tidak memperhatikannya bahkan tidak menyapanya. Chris menatap Eris, laku Rio, Mila, dan Sisna. Mereka mengangguk dan Chris membuka baju kebesarannya.
Tampang Chris mirip Cha Eun Woo sudah tentu membuat beberapa perempuan mencuri perhatiannya membuat Sisna sebal.
"Huwaa! Sepertinya ada kejadian yang seru," kata Chris tersenyum dan mengambil minum dan kue.
"Waaah, kita punya idola baru nih ada Ares lalu sekarang Chris," kata Yuri dengan semangat. Para perempuan sudah tentu setuju.
__ADS_1
"Chris memang paling tampan di tempat kuliahnya juga. Penggemarnya juga sangat banyak termasuk gadis itu," kata Iran menunjuk ke arah Sisna.
"Jadi dia penggemar?" Tanya Yuri menerima kopi dari Iran.
"Iya meski selalu mengatakan bahwa dia telah dijodohkan dengan Chris," kata Iran cekikikan.
"Bukannya tidak boleh menikah?" Tanya Yuri bingung. Dan mereka berdua mengobrol dengan seru.
Tim Chris tahu siapa sebenarnya Eris namun mereka tidak ingin mengusiknya. Karena Eris membawa dua orang manusia bersamanya dan terlihat sangat dekat. Jadi Eris bukanlah ancaman bagi mereka.
Mereka menceritakan apa yang telah terjadi dan Chris tertawa dengan keras.
"Olive sepertinya menyukai kamu, Chris," kata Fuji mendekati dan duduk di dekatnya.
"Hahaha," balas Chris menutup mulutnya, dia masih menatap Eris yang tidak terganggu.
"Untung kamu tadi tidak ada, kalau ada dia pasti akan lebih malu lagi," kata Mila mencari gelas yang bersih.
"Sayangnya untuk saat ini aku tidak ingin memiliki kekasih," kata Chris yang ditawari jus oleh Fuji.
"Lalu kamu sedang fokus apa?" Tanya Ares penasaran.
"Iblis," jawab Chris membuat Yuri dan Ares bersamaan melirik Eris sekilas.
Chris tersenyum ramah dan berdiri juga, dengan pose sopan memberikan penghormatan pada Eris.
"Memburu iblis jahat yang senang menyerang orang," katanya masih senyum.
Yuri merasa tegang dan ingin mengajak Eria kembali namun Eris menolak dengan kode tangannya.
"Iblis kan ada juga yang baik," kata Ara.
"Semua iblis sama tapi yah tergantung niat mereka juga sih. Kalau memang benar ada yang baik," kata Chris mengangguk ke arah Ara.
"Pendeta tingkat tinggi ya," kata Yuri mencoba berkomentar.
Chris menyisir rambutnya dan tertawa tidak enak. "Iya nih kepala gereja memerintahkan ku menyelidiki bangunan ini. Kamu?" Tanyanya ke arah Yuri.
"Mereka meminta kami bertiga ikut karena kekurangan anggota," jawab Ares.
Chris menatap Dani dan kawan-kawan dan mengangguk benar.
"Kita bekerja sama saja ya," kata Dani menyalami Chris.
__ADS_1
"Tentu," kata Chris yang kemudian pamit untuk pergi ke kamarnya.
"Eris, tadi..." kata Yuri agak cemas.
"Tidak apa-apa, tenanglah Yuri. Dia pendeta yang hebat," kata Eris menepuk tangan kanan Yuri. Yuri lega.
"Apa benar akan baik-baik saja? Chris sepertinya tahu siapa kamu," kata Ares yang ikut mengobrol.
"Memang. Yang lain juga sama," kata Eris memberikan kode.
"Hah!?" Seru mereka berdua menatap Eris.
Mila, Sisna dan Rio terlihat sedang bersantai dan mengobrol dengan anggota tim lainnya. Kedua mata Eris menutup, mereka berempat sudah mengetahui siapa dirinya entah apa yang akan terjadi nanti.
Chris datang lagi yang telah berganti baju dengan setelan remaja pada umumnya. Usianya ternyata seusia dengan Ares dan mereka saling tos satu sama lain.
Yuri masih cemas tapi melihat mereka semua tidak ada yang membuat Eris terancam, Yuri pun berusaha menenangkan pikirannya. Rio menawari Eria jus serta makanan lain namun ditolaknya karena sudah kenyang.
Tidak ingin menyerah, Rio mengajak Eris mengobrol. Yuri tertawa sedangkan Ares agak cemberut.
"Kamu terlalu dekat ya. Apa rencana mu," kata Mila yang memegang kerah belakang Rio.
"Penasaran tidak sih kalian, seberapa kuat kah kekuatan dia sampai bisa tahu Olive belum mandi," kata Rio semangat.
"Hentikan," kata Mila membuat Rio manyun.
"Dia tidak mengganggu kita kan. Lagipula mereka berdua manusia yang baik-baik saja dengannya," kata Sisna memakan kacang mede.
"Olive itu berasal dari negara mana ya?" Tanya Yuri pada Eris.
"Yang jelas bukan Indonesia, bahasanya jelas-jelas jelek," kata Mila yang mencoba bertanya dengan Bahasa.
"Jepang tapi berbeda," jawab Eris membuat mereka merasa bingung.
"Menurutmu apa Olive benar-benar muridnya Prof?" Tanya Kei yang sempat curiga.
Mereka tahu memang sangat aneh.
"Mungkin hanya teman atau penggemarnya saja yang mengaku-aku," kata Mila membereskan meja.
"Prof Davis itu memangnya berasal dari mana?" Tanya Dani ikut nimbrung.
Bersambung ...
__ADS_1