Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
13


__ADS_3

"Hah? Arika serius keluar dari grup?! Jadi sekarang hanya kita berempat dong?" Tanya Linda agak kaget.


Tempat Eris bola kehidupan Saka memasuki toko dan langsung masuk ke dalam cermin. Eris keluar dan mengamati bola Saka kini berubah menjadi gelap bersinar.


"Sepertinya masih ada yang lainnya. Jangan cemas kau tidak akan sendiri. Saat ini mereka masih saja menggunakan papan itu," kata Eris lalu berjalan menuju ruangan tengah.


Terlihat lonceng itu telah kembali kepadanya dalam keadaan kusam, bernoda hitam. Eris menyentuh loncengnya dan mendadak lonceng itu berkilau kembali warnanya menjadi terang.


"Sepertinya mereka banyak memanggil arwah kalau papan itu dipakai sekali lagi..." kata Eris.


Lonceng itu lalu melayang dan Eris memusnahkannya menggunakan api miliknya. Lonceng itu terbakar habis menjadi butiran emas dan setelah itu muncullah gelas cawan dengan warna yang sama.


"Aku sudah memperingatkannya selanjutnya biar mereka yang hadapi sendiri," kata Eris menaruh gelas cawan itu di lemari paling atas.


Arae muncul membawakan beberapa kue yang diberikan dari nenek. "Kue," katanya dengan nada yang riang.


Eris menyiapkan teh dengan aroma mint untuk Arae. Dia lalu memakan kue itu. "Enak," katanya dengan canggung.


"Yang namanya Arika sayang sekali bisa selamat," kata Arae memandangi cermin tangannya.


"Jangan melakukan apapun lagi. Kali ini kamu sudah melukai orang yang salah," kata Eris menatap Arae.


"Dia mirip sekali dengan musuh bebuyutan ku. Maafkan, Hmm aku akan pulang sementara waktu," kata Arae menundukkan kepala lalu bersiap menghilang.


"Lalu toko bagaimana? Kamu mau berhenti bertanggung jawab? Cupid juga tidak datang lagi mengantarkan paket karena pekerjaannya kamu ambil. Toko ini pindah kemanapun sesuai keinginan kamu kan,l. Dan sekarang kamu pergi begitu saja," kata Eris dengan wajah datar.


Arae lalu memeluk Eris langsung dan mencium pipinya dengan gembira. Sedangkan Eris tidak ada reaksi apapun hanya bertahan dengan keceriaan Arae.


Hari masih agak siang pukul 3 Artemis dan Apollo menunggu di seberang sekolah Nemesis. Mereka melihat murid-murid telah keluar gerbang dan menanti kehadiran teman-teman Arika.


"Eh, lihat! Mereka ada disini," kata Anta bersorak senang.


Nemesis dan ketiganya kaget lalu benar saja Apollo melambaikan tangannya pada mereka berempat.


"Ayo ayo!" Tarik Ringu dan Linda ke Nemesis dan Anta.


"Wah, kalian datang ke sekolah kami. Sudah lama menunggu?" Tanya Anta yang semangat.


Artemis menyapa mereka dengan sekenanya. Nemesis dan Anta memandanginya dengan malu.


"Sudah lumayan. Katanya Arika masuk Rumah Sakit. Kalian mau menjenguknya?" Tanya Artemis sambil merokok.


"Ah iya ya nanti kami akan kesana bersama-sama," jawab Ringu yang malu-malu.


"Lalu kalian juga pasti tahu kalau Saka meninggal?" Tanya Apollo.


Mereka semua hening lalu mengangguk. Nemesis lalu memecahkan keheningan dengan percaya diri.


"Ini bukan efek dari permainan malam kok mereka sakit karena kebetulan saja. Pulang terlalu malam," kata Nemesis.

__ADS_1


"Yakin?" Tanya Apollo menyelidiki Nemesis.


Artemis nyengir lalu sibuk menghisap rokok sampai habis. Ketiga temannya tidak ada yang berani menyanggahnya juga karena Nemesis adalah sosok anak yang tidak mau kalah.


"Kami memeriksa catatan medis kalau Saka maupun Arika tidak punya riwayat penyakit berbahaya. Apa kamu bisa menjelaskannya?" Tanya Artemis tanpa melihat mereka semua.


"Udara sekarang kan memang kurang bersahabat ya apalagi karena dulu ada Corona. Apalagi ada berita juga kan soal virus yang lain memasuki Indonesia. Jadi ya menang banyak kekhawatiran," kata Nemesis tidak mau kalah.


"Kalau kamu sudah tahu berita soal begitu kenapa masih saja menantang bahaya? Bukannya lebih baik di rumah melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat daripada mengganggu dunia asing?" Tanya Artemis lagi tanpa memandangi Nemesis.


"Apa kakak... bisa lihat hantu?" Tanya Linda agak hati-hati.


"Sahabat saya ini sejak kecil bisa melihat begituan. Waktu kemarin dia terluka pun sebenarnya... ada iblis perempuan yang mendatanginya," jelas Apollo sambil menepuk bahu sahabatnya itu.


Nemesis kaget mendengarnya dan menatap Artemis. "Kalau begitu kenapa kakak tidak bilang?" Tanyanya.


"Buat apa? Saat itu di antara yang lain, hanya kamu yang paling semangat. Kalau kita beritahu pun aku yakin, kamu tidak akan peduli. Sekarang ada kejadian juga, kamu masih mempertahankan egoisnya kamu," kata Artemis membuat Nemesis merasa terpukul.


Karena merasa akan ada pertengkaran, Anta lalu menengahi. "Intinya kami baik-baik saja. Kita jalan-jalan, yuk," ajaknya.


"Bagaimana?" Tanya Apollo menatap sahabatnya sebal.


"Terserah. Aku yang menyetir," kata Artemis menuju mobilnya dan masuk.


Kemudian mereka semua jalan-jalan menggunakan mobil Artemis. Mengobrol, bercanda, bertukar pikiran, apa saja mereka mencari tahu soal informasi mereka berdua.


Entah mereka sadari atau tidak, Artemis melihat kondisi mereka berempat pun agak tidak jauh berbeda. Artemis berpikir kenapa mereka menjadi seperti itu.


"Pucat?" Tanya Ringu.


Nemesis lalu membuka cermin. Agak. Pucat tapi tidak separah Arika dan Saka.


"Mungkin karena udara panas," kata Apollo melihat langit.


"Kamu lebih pucat Nemesis," kata Artemis tanpa melihat.


Nemesis yang disebut dia agak kaget bagaimana Artemis tahu namanya?


"Aku? Ah, lipbalm pinknya sudah habis. Mungkin karena itu," kata Nemesis lalu menambahkan lipbalm pada bibirnya.


Ketiga temannya memandangi Nemesis dengan tatapan sebal. Kenapa hanya nama dirinya yang diingat oleh Artemis.


Nemesis malu karena Artemis memanggil namanya.


"Aku jadi panas ya mendengar kak Artemis hafal nama kamu," kata Anta.


"Iya. Kita saja pasti tidak tahu kan," kata Ringu.


"Dari tadi yang dilihatnya hanya Nemesis saja padahal kan kita semua ada," kata Linda cemberut.

__ADS_1


"Nemesis, sebelahnya Anta, lalu Ringu dan Linda kan. Aku hafal Nemesis karena kakak perempuannya adalah teman di kampus aku juga," kata Artemis dengan nada biasa.


Semuanya jelas dan Nemesis agak kecewa ternyata Artemis mengetahui namanya dari kakaknya yang berkuliah di Jakarta.


"Kami berdua sudah tahu kok nama kalian dan kami berdua sangat mencemaskan soal kejadian sebelumnya," kata Apollo memandangi ke belakang.


Beberapa saat kemudian ketika mereka mengobrol satu sama lain, Ringu mengantuk dan tidur sebentar. Saat itulah Eris berkesempatan untuk masuk ke alam mimpinya.


Di dalam mimpinya Eris memasuki gerbang dunia mimpi dimana perempuan yang menjaga dunia itu itu berada dan mengajaknya memasuki mimpi Ringu.


Eris mendekati Ringu yang sedang duduk menanti sesuatu. Ringu lalu melihatnya dan berdiri.


"Siapa?" Tanyanya.


Ringu memandangi anak itu ya g berambut putih panjang terurai dengan baju hitam, yang memegang papan Ouija. Lalu memperhatikan bibir Eris,


"Jangan pernah memainkannya lagi," kata Eris sambil menyodorkan papan itu agar Ringu melihatnya.


Ringu lalu terbangun kaget, mobil Artemis sudah terparkir si suatu cafe. Kebetulan Linda bermaksud membangunkannya.


"Aduh, kamu mengagetkan aku," kata Linda memegang dadanya.


"Ini dimana?" Tanya Ringu kebingungan.


"Kita akan makan di Cafe ini. Ayo," ajak Apollo turun dari mobil lalu membukakan pintu.


Ringu merenggangkan pinggangnya dan turun sambil membawa tasnya.


"Tas simpan saja, kan nanti pulangnya kami antar," kata Apollo.


Ringu berjalan agak lemas. Nemesis melihat itu dan mendekatinya. "Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya.


"Iya, maaf aku lemas karena belum makan lagi," kata Ringu memegang pundaknya.


"Ada yang berat?" Tanya Nemesis dia takut apa yang Saka pernah alami, terjadi pada Ringu.


"Sedikit tapi karena lapar sih. Ayo," ajak Ringu menggenggam tangan Nemesis.


Di dalam cafe, suasana yang hening kini menjadi ramai saat mereka berdua masuk. Artemis dan Apollo dikerubungi langsung oleh penggemar dan pelanggan cafe itu.


Nemesis dan yang lainnya duduk di dalam dan memandangi mereka berdua.


"Kesannya seperti artis ya," kata Anta.


"Lain kali sepertinya kita harus menyewa penjaga deh," kata Apollo sambil berbisik pada Artemis.


"Setuju," kata Artemis yang berusaha menolak para gadis untuk memeluknya.


Lalu para waitress lain mengusir kerumunan itu. "Kalau kalian mau makan, makanlah. Jangan mengganggu pengunjung lain. Atau saya usir kalian semua!" Teriak A dengan galak.

__ADS_1


Karena takut, mereka bubar. Ada yang keluar cafe ada juga yang akhirnya melanjutkan makan mereka.


Bersambung ...


__ADS_2