Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
12


__ADS_3

"Ada banyak kejadian yang terjadi, yang saya ceritakan itu hanya beberapa. Lebihnya ada banyak termasuk salah satu cerita dari ayah pemilik vila ini" kata Yoshi mulai bercerita.


"Sampai kapan kita harus mendengarkan kisahnya?" Bisik Olive pada Anita.


"Sst diam lah. Ini bisa menjadi sebuah info sebelum kita melaksanakan tugas," balas Anita.


"Sang ayah menceritakan kengerian di dalam vila ini ya g tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Sang Ayah memang melakukan penambahan ruangan hanya di beberapa tempat saja," kata Yoshi meminum teh lagi.


Semua orang berfokus pada Yoshi tidak memperhatikan Eris yang menambahkan teh pada teko. Membuat Yuri tidak perlu bersusah payah membuatnya.


"Untuk apa ya," kata Mila merenung.


"Nona tidak setuju tapi melihat ketakutan pada Ayahnya, dia membiarkannya. Fungsinya aku pun tidak tahu," kata Yoshi.


"Apa setiap tahun ruangan itu akan diperbarui?" Tanya Rio menyadari buku-buku yang tampak masih baru.


"Benar. Termasuk buku-buku yang kalian baca," kata Yoshi.


"Sudah kuduga memang masih baru. Tintanya masih bagus serta halaman setiap buku," kata Eris yang sudah membaca semuanya.


Kay membuka buku yang dia baca dan membauinya. Benar apa kata Eris, dan menutupnya tanpa dia baca kembali.


"Setelah itu apa Ayahnya masih tinggal? Apakah anaknya pernah menginap disini?" Tanya Ares.


".... Pernah dan dia juga mengalami hal yang sama. Kami menemukannya dia bersembunyi di dalam bak mandi," kata Yoshi.


"Wah akhirnya seleb muda itu juga mengalami hal yang sama ya. Kalau sidah tahu kenapa tidak dihancurkan saja?" Tanya Sisna tidak mengerti.


"Tentu saja sudah kami lakukan tapi berbalik yang melakukannya tiba-tiba mati mengemaskan. Kami sudah angkat tangan sudah lebih dari 10 orang," kata Yoshi berkaca-kaca.


"Karena itulah dia membuat permainan menantang maut ya?" Tanya Dani.


Yoshi mengangguk pelan. "Yang bisa mencari tahu ada apa dengan vila ini, dia akan mendapatkan 10 juta. Awalnya," kata Yoshi.


Sani, Fuji, Dio dan Dani bersorak pelan tentu saja mereka akan memilih bertahan meskipun keadaannya menakutkan.


"Kalau begitu kalau kami menyelidiki juga dan mampu bertahan seminggu..." kata Dio menebak.


"Akan diberi bonus 10 juta dan uang menantang 10 juta. Total 20 juta per se orang," kata Yoshi.


Mereka bersorak inikah yang membuat beberapa orang gelap mata, hanya karena uang nyawa mereka menjadi taruhannya.


Yang lain berpikir keras sedangkan tim Olive pun sama, kecuali Olive sendiri yang tampak tegang ketakutan.


Eris bahkan Chris pun tampak tegang, ini sudah bukan permainan biasa.


"Kalian! Bagaimana bisa masih memikirkan soal 10 juta! Nyawa kalian lho taruhannya!" Kata Mila kesal.

__ADS_1


"Apa Anda bisa menceritakan mengenai iblis itu seperti apa?" Tanya Yuri dengan suara bergetar.


Takut namun penasaran. Eris menatap Yuri, apakah dia menyangka mungkin teman Eris atau Arae? Atau iblis yang mungkin dikenal mereka berdua.


"Saya tidak begitu jelas seperti apa sosoknya. Ya bila memang ada," kata Yoshi dengan wajah menampakkan sesuatu.


Semakin membuat penasaran karena informasinya semakin tidak jelas.


"Apa ada denah tempat ini?" Tanya Ares.


"Hmmm setahu saya Nona tidak pernah memberitahukan denahnya tapi akan saya coba tanyakan," kata Yoshi menatap Ares.


Mereka semua merasa sudah cukup bertanya. Ares berjalan ke arah Yoshi dan mengulurkan tangannya.


"Terima kasih atas waktunya," kata Ares.


Yoshi menatap Ares dan menyalaminya. Tangan Yoshi dingin sekali, Ares kaget.


"Tangan Anda dingin sekali," kata Ares.


Semua memandanginya termasuk Eris dengan wajah yang tidak biasa.


"Ah, saya tengah mengangkut es balok jadi mungkin sarung tangannya menjadi tipis," kata Yoshi kemudian pergi.


Ares menutup pintu dan menatap semuanya yang termenung dengan pikiran masing-masing.


"Rumah ini dikutuk. Pendeta Anda masih berminat menyelidikinya? Menurutku sudah tentu gadis bernama Olive itu bukanlah murid Profesor," kata Eris menunjuk ke arah Olive yang ketakutan.


Chris mengangguk setuju karena Olive terlalu banyak yang mencurigakan.


"Kalau kamu masih belum percaya, lihatlah cara dia menyelidiki tempat ini," kata Eris tanpa ekspresi.


Udara semakin dingin dan tengah malam akhirnya tiba. Dari intercom mereka semua mendengar pengumuman bahwa makan malam akan disediakan sebentar lagi.


Semuanya lega dan menuju kamar masing-masing, Sisna memanggil Chris dan menunggunya. Olive juga membuat mereka saling bersaing.


"Ah ya, panggil saja namaku Chris. Usiaku masih 17 tahun. Eris," kata Chris senyum lalu pergi menuju kamarnya bersama Sisna, Mila, Rio dan Olive yang ingin mengobrol.


"Eris, bukankah ini semakin berbahaya?" Tanya Ares.


"Jangan pernah kalian sendirian dimanapun kalian berada. Penghuni sini selalu menyerang orang yang sendirian," kata Eris memperingatkan. Ares mengangguk dan Yuri mengerti.


Sebelum makan malam, beberapa anggota mandi dan bersiap. Panca, Rika dan Tora datang ke ruangan tim Ares, mereka menjelaskan sangat takut mendengarkan cerita dari tim Chris.


"Kami ingin kesana bersama kalian saja," kata Rika.


"Boleh," kata Sani dengan senang.

__ADS_1


Eris memperhatikan Sani dan ketiganya tampaknya mereka juga sudah merencanakan sesuatu.


"Ruang makan itu lumayan jauh," kata Tora memperlihatkan jarak dari ruangan mereka ke depan.


"Yang lainnya sudah pergi meninggalkan kami saat mandi. Syukurlah kalian masih ada disini," kata Rika lega.


"Hahaha kami berencana pergi bersama semuanya," kata Fuji yang selesai berdandan.


Iran dan Ara juga muncul karena mereka tidak menyukai Olive yang mengajak Chris pergi duluan.


"Mila dan Sisna bagaimana?" Tanya Yuri.


"Mereka berdua mengikuti Chris takutnya Olive mengajak hal-hal yang buruk. Anak itu kelihatannya naksir pada pendeta," kata Ara tertawa.


"Wajar Chris tampan sih," kata Yuri kagum membuat Iran agak cemburu.


Setelah selesai mereka semua bersama-sama berjalan menuju ruangan makan yang memang jauh.


"Haa jadi berasa masuk rumah hantu ya," kata Fuji memandangi berkeliling.


"Iya sih vila ini bergaya barat klasik. Besar dan luas," kata Fuji.


"Apalagi banyak tonjolan aneh dan meja yang terbalik. Untunglah kita bersama-sama perginya," kata Rika.


Eris masih termenung mengingat kisah Yoshi, wajahnya tidak menyukai ada sesuatu pada orang itu.


"Ada apa, Eris?" Tanya Yuri.


Para laki-laki berada di belakang atas ide Ares agar para perempuan terjaga.


"Aku tidak suka dengan cerita yang tadi," kata Eris dengan pelan.


"Soal iblis itu?" Tanya Yuri.


"Bukan. Iblis yang sesungguhnya memang benar ada. Arae telah menyelidiki rumah ini," bisik Eris.


Ares sudah tentu bisa mendengarnya karena Iran tengah mengobrol dengan Panca. Tora memfoto semua yang ada sambil mereka melewatinya.


Setelah keluar dari sana, dia akan membuat artikel untuk Otubernya.


"Lalu? Apa yang Arae katakan?" Tanya Yuri.


"Dia mengirimkan tanda bahaya. Kalau kamu penasaran, gali lah lubang yang ada di dinding. Ruangan mana saja," kata Eris.


Wajah Yuri sudah pucat dan mengangguk. "Gali bagaimana?"


"Cakar dengan kuku mu. Kamu akan lihat apa yang keluar dari dalamnya," kata Eria dengan tenang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2