Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
19


__ADS_3

"Kalau memang dia sudah mati, aku mau menyerah saja! Aku tidak mau kehilangan nyawa hanya karena uang!" Kata Fuji yang bergegas menuju kamarnya.


Sani menyusul dan mengingatkan, "Kalau begitu kamu sudah siap membayar hutangmu padaku? Tiga puluh juta kontan," kata Sani.


Fuji berhenti berjalan, dia lupa memiliki hutang pada Sani agar dapat membeli rumah idaman. Artinya, dia harus meneruskan permainan ini.


"Sial!" Desis Fuji dan berbalik menuju aula.


Sani tertawa keras mendengarnya dan bergabung dengan yang lain.


Tiga hari pencarian Anita masih dilakukan meskipun semakin minim keyakinan dia masih hidup. Apapun usahanya, mereka tidak menemukan apapun.


Dan benar saja di hari keempat, terdapat dua buah plastik besar berisi cairan berwarna merah.


Kemungkinan milik Olive dan Anita yang ditemukan oleh para pelayan dalam semak-semak.


Semua peserta histeris dan para perempuan menangis dengan keras. Mereka tidak ingin berakhir seperti mereka.


Yoshi menelepon polisi dan mereka tiba dalam tiga jam. Bergegas memeriksa plastik tersebut dan dibawa untuk diselidiki


"Aku mau pulang!"


"Aku menyerah! Yoshi, aku mau mundur!"


"Aku tidak mau mati di sini!"


Teriakan-teriakan seperti itu kini memenuhi vila. Yoshi menenangkan satu persatu.


"Tenang dulu! Kemungkinan itu milik korban yang lain," kata Rio meski dia agak syok melihatnya.


"Tapi tapi," kata Rika sudah panik.


"Ada kemungkinan begitu," kata Eris sambil merenung.


"Benarkah?" Tanya para peserta lain.


"Darah yang polisi bawa sudah berwarna hitam mengental. Olive dan Anita baru beberapa hari hilang bukan bulan," kata Eris yang memang agak aneh.


Peserta lega sekali mendengarnya, Chris juga setuju. Ada kemungkinan darah itu korban tahun lalu. Tapi bagaimana bisa?


"Eris, kamu tidak bisa menyelidikinya lebih jauh?" Tanya Yuri dengan suara sangat ketakutan.


Eris mengeluarkan satu toples bulatan mirip kelereng. Berwarna kebiruan dan terdapat bintang kecil.


"Makanlah," kata Eris. Dia mencium aroma pekat darah yang hebat, takutnya Yuri akan bisa membauinya.


Yuri menurut dan memakannya, rasanya mirip permen yupi, kenyal namun sangat enak.

__ADS_1


"Apa itu? Bo-boleh aku minta?" Tanya Ara yang habis menangis.


Eris membuka toples dan akhirnya satu per satu peserta memakannya.


"Enak! Kenapa tidak dikeluarkan sejak kemarin? Wangi kopi," kata Kei.


"Ada waktunya," kata Eris dan toples itu dia simpan kembali.


Chris dan lainnya merasa aneh bagaimana bisa Eris membawa stoples begitu besar dalam kantongnya?


Yuri menjelaskan memang Eris membawa tas yang besar dan berbagai macam makanan disimpan di dalamnya.


"Kamu tidak sempat lihat ya? Mau ku perlihatkan?" Tanya Eris.


"Tentu. Tapi nanti saja, hmmm rasa Blueberry kesukaanku. Kalau masih ada, aku minta lagi," kata Chris tertawa.


"Tentu," kata Eris.


Permen tersebut mampu membuat rasa yang memang disukai oleh orang yang memakannya. Dan mood mereka kini jadi lebih bahagia.


Mereka kembali ke dalam aula, Yuri dan Eris berada paling depan.


"Aku tidak bisa leluasa menyelidiki semuanya. Aku diawasi oleh kehadiran pendeta itu," kata Eris dengan pelan.


"Apa Chris tahu siapa kamu?" Tanya Yuri pelan.


"Kalau ada waktu, aku yang akan mengulur," kata Ares mendengarkan mereka.


Yuri dan Eris mengangguk, Yuri enggan Eris dibasmi oleh Chris. Meskipun dalam penglihatannya, Chris pendeta yang baik.


"Tapi kalau dibicarakan mungkin..." kata Yuri merenung.


"Chris menyembunyikan kekuatan yang menakutkan. Bila kekuatannya harus keluar, aku juga ada kemungkinan menghilang," kata Eris.


Mereka semua memasuki ruangan masing-masing. Chris tampaknya cukup merenung dengan serius jadi mungkin tidak akan sempat mendengar apa kata Eris.


Enam jam mereka melakukan aktifitas dengan biasa, Dani menemukan permainan ular tangga yang cukup... besar dan semua peserta ikut bermain.


Kemudian terdengarlah suara ketukan yang berirama. Tandanya itu manusia, Yuri membukakan.


"Hai semua! Tim kami akan melakukan pemanggilan arwah. Apa kalian mau ikut?" Tanya Rika gembira tidak seperti tadi.


"Pemanggilan arwah?" Tanya semuanya.


Eris tersenyum, inilah kesempatan yang dibicarakan dan memberikan kode pada Yuri dan Ares.


"Apa kalian sudah meminta ijin pada Pak Yoshi?" Tanya Fuji.

__ADS_1


"Sudah dan dipersilahkan, asalkan semua orang ikut. Karena tidak boleh sendirian kan," kata Panca.


"Apa kalian akan memanggil Olive dan Anita?" Tanya Rio yang datang dari arah lain.


"Iya, pendeta Chris dan Sisna akan membantu," kata Rika.


"Aah benar juga Sisna tidak terlihat sedari tadi, aku pikir dia diculik juga," kata Fuji tertawa.


"Mereka sedang mempersiapkannya, aku tadi berkeliling. Kalian ikut juga kan?" Tanya Rio ke arah Yuri, Ares dan Eris.


"Tentu," jawab Eris yang akan membuat duplikat lagi.


Kali ini dia harus menyelidiki penuh kemana makhluk itu membawa pergi Anita, dan bagaimana caranya?


Sore harinya semua telah siap termasuk lembaran kertas jimat yang tertempel di setiap dinding.


Arae yang berada di luar secara diam-diam masuk tanpa ketahuan Yoshi.


Sebenarnya Arae pernah memasuki suatu ruangan dan ketahuan oleh seorang pelayan.


Dia hendak menjelaskan, namun anehnya sang pelayan terus berjalan tanpa melirik ke arahnya.


Arae heran karena siapapun yang melihat ada orang asing masuk, pasti akan di teriaki atau di usir tapi ini tidak.


Bahkan Arae bertanya pun sang pelayan hanya diam dengan pandangan mata yang kosong.


Arae bertindak lain, dia memegang tangan pelayan itu dan kaget, tangan pelayan sangat keras mirip tangan yang sudah lama terkena cairan pembeku.


Pelayan itu menyentuh tangannya dan dia merasakan kehangatan dan seakan mencari keberadaan Arae.


Arae melambaikan tangan di depan wajah pelayan, dia tidak bisa melihatnya. Kenapa? Pelayan itu membuka mulutnya dengan matanya yang putih.


Berkata, "Lepaskan aku." Arae terdiam mendengarnya dan mengeluarkan api yang membuatnya dan pelayan itu memasuki kegelapan.


Sang pelayan dapat menatap Arae dan bersimpuh memohon untuk memusnahkan dirinya dari tempat itu.


"Kamu sudah mati sejak lama," kata Arae menyadari tidak ada aura yang tertinggal.


Pelayan itu mengangguk dengan air mata darah. "Tempat ini menakutkan. Dia terus menahan kami, tolong. Tolong musnahkan aku." pinta pelayan memohon.


Arae mengeluarkan bola api dan membakarnya langsung. Dia tidak bisa memakannya karena tubuhnya telah lama hancur, entah dari sepuluh tahun yang lalu.


Dalam api itu sang pelayan menutup mata dan tersenyum menikmati api yang melahap rohnya.


Di tempat lain yang gelap, di kedalaman rumah yang sedikit cahaya terdapat sebuah kolam kecil dengan berisi air yang mencurigakan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2